Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 05 Agustus 2016

Robot Penyadap Nira

Alumni SMA 1 dan 2 Ciptakan Ayla Robot Penyadap Nira
Terinspirasi Banyak Kasus Penderes Jatuh

suaramerdeka
SEJUMLAH alumnus SMA 1 dan SMA 2 Purwokerto yang masih kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mampu menemukan dan menciptakan robot yang bekerja untuk penyadap nira kelapa.
Alat yang dinamai Ayla Robot Penyadap Nira ini diharapkan ke depan mampu membantu para penderes, tidak harus bersusah-payah menantang maut, saat memanjat pohon untuk menderes. Banyak kasus kematian penderes atau cacat permenan akibat terjatuh saat memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi.
Namun dengan alat sederhana tersebut, penderes nanti cukup mengendalikan dari bawah dan hasil sadapan tidak jauh beda saat penderes langsung mengambil di atas pohon. Para penemunya adalah Fariz Fadlilah Mufid (alumnus SMA 1) yang kini kuliah di Jurusan Elektronik Instrumentasi (Elins) angkatan 2014, sekaligus ketua tim penemu.
Anggota tim yakni Kharisma Husna Wirasti (TIP 2014), Vita Nurul Faizah (Agribisis 2014), keduanya juga alumni SMA 1. Satu lagi adalah Asriawan Pasca Ramadhan, alumnus SMA 2 (Elins 2014). Sistem kerja alat tersebut, menurut Fariz, pemakai atau penderes tidak perlu naik pohon.
Namun cukup menekan tombol HP berbasis Android, langsung bisa mendapatkan nira kelapa. Alat ini juga dirancang mampu mampu memotong manggar secara otomatis tanpa penderes naik ke atas pohon.
“Untuk memotong manggarnya, cukup dengan mengaktifkan gerinda yang sudah kita lengkapi dengan IP camera dan Tablet Android. Ini cukup dioperasionalkan dari bawah, tidak harus manjat pohon,” terang anak kedua pasangan Restiyanto dan Siti Kunarti ini.
Penampung Otomatis
Alat itu, lanjut dia, juga sudah dilengkapi pula dengan penampung otomatis untuk mengetahui berapa besar volume nira yang telah tersadap. Bahkan, alat tersebut juga akan memberi tahu saat tempat tampungan nira sudah penuh, dengan tanda berupa cahaya led dan ada bunyinya.
Meski baru temuan awal dan telah diujicobakan, berbagai kalangan terutama dari perusahaanperusahaan elektronik dan informasi teknologi maupun pembuat robot seperti dari Jepang mulai melirik. Fariz mengaku dari Pemkab Banyumas melalui Bappeda juga sudah mengundang untuk presentrasi dan mendorong agar menciptakan alat tersebut dalam jumlah banyak dan bisa dipatenkan sebagai karya kreatif warga Banyumas.
Dia bersama sejumlah rekannya terinspirasi untuk menciptakan alat tersebut, karena didasari rasa keprihatinan atas banyak kasus kecelakaan penderes di Banyumas, yang terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap. Di antaranya sampai meninggal dunia. Selain itu, orang tuanya kebetulan juga menggeluti bisnis gula kelapa.
“Banyak penderes yang tidak berani menderes lagi, karena takut jatuh. Kalau itu tidak ada solusi, lama-lama potensi gula kelapa asal Banyumas tidak bisa dikembangkan lagi atau produksinya akan turun. Padahal, permintaan pasar masih tinggi,” katanya yang banyak belajar soal bisnis gula kelapa dari ayahnya. Pengambilan nira kelapa umumnya pada malam hari untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Sementara sisi keamanan kadang-kadang diabaikan.
Selain itu, kasus penderes jatuh di antaranya karena kelelahan dan pohon licin serta tidak memakai alat pengaman. Fariz mengungkapkan, ide menciptakan alat tersebut yang utama adalah bisa memberi nilai manfaat besar untuk menyadap nira yang otomatis dan inovatif, efisien, dan praktis.
Ini semua demi mengurangi risiko kecelakaan penderes dan menyejahterakan hidup para penderes, serta meningkatkan potensi gula Jawa di Indonesia, bahkan di dunia, sehingga meningkatkan devisa negara. Gagasan tersebut tercetus setahun lalu saat mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM. Usulan proposalnya lolos didanai. Untuk menciptakan alat tersebut, hanya bermodal Rp 7,5 juta.
Setelah mampu membuktikan karyanya, Fariz dan timnya juga lolos menjadi salah satu delegasi mahasiswa UGM, untuk maju ke ajang PKM tingkat nasional di ITB dalam waktu dekat ini. Selama seminggu ini, dia bersama timnya sedang mengikuti pelatihan dan pematangan hasil karya tersebut, karena diharapkan Ayla Robot Penyadap Nira ini mampu menyabet emas.

2 komentar: