Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 31 Mei 2017

Manggarjaya Intensifkan Pengawasan Mutu Gula Kristal

Kelompok Petani Gula Manggarjaya, Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, kini terus mengintensifkan mutu produk gula kristal petani. Hal ini untuk mendorong supaya produk lokal Banyumas tersebut tetap laris di pasar ekspor.
Ketua Kelompok Petani Gula Manggarjaya, Ahmad Sobirin mengatakan, internal control system (sistem pengawasan internal) untuk mutu produk gula ini dilaksanakan oleh kelompok. Hal ini penting untuk menjamin produk gula kristal anggota kelompok tetap berkualitas baik.
“Tiga bulan lalu sempat berhenti pemasaran gula kristal ke luar negeri. Hal itu karena ada yang menyebut kualitas gula kristal menurun. Makanya sampai sekarang kami tetap awasi kualitas produk gula dari petani,” jelas Sobirin, kemarin.
Dijelaskan Sobirin, melalui sistem pengawasan mutu internal inilah, kelompok mendorong pemasaran gula tetap berjalan lancar. Ia yakin dengan kualitas gula kristal yang baik, produksi petani asal Semedo juga akan tetap diterima oleh pasar ekspor. Hingga bulan Mei ini, Manggarjaya berhasil mengekspor sekitar 10 ton gula kristal ke luar negeri.
Diterima Pasar
“Kami bersyukur hingga saat ini produk gula kristal petani kami tetap diterima di pasar dalam maupun luar negeri. Kami berharap pemerintah juga turut mendorong masyarakat untuk memproduksi gula dengan baik sehingga tetap dipercaya pasar,” katanya.
Petani gula asal Pekuncen, Sono (60) mengatakan, pihaknya saat ini juga terus memproduksi gula merah cetak sebagaimana sebelumnya. Iapun menyayangkan oknum pedagang yang memproduksi gula merah palsu dari limbah kecap. Terkait hal itulah ia berharap pemerintah lebih tegas.
“Kami berharap ada pengawasan yang lebih ketat lagi sehingga tidak ada lagi orang yang memproduksi gula merah palsu sebagaimana ditemukan di wilayah Cilongok beberapa waktu lalu. Karena itu berdampak pada pemasaran gula secara umum,” katanya. Warga Ajibarang, Ramlan Kumbadi juga berharap pemerintah atau aparat terus mengintensifkan pemantauan produksi makanan di Banyumas termasuk gula kelapa.
Hal ini penting agar kasus produksi gula merah palsu dari limbah produk kecap yang berbahaya dan tak layak konsumsi tidak terjadi. “Kalau perlu berikan sanksi yang berat sehingga bisa menimbulkan efek jera. Jangan sampai mereka menerima keuntungan banyak, sementara konsumen dirugikan,” katanya.
sumber Suara Merdeka

Pesanan Beduk Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng Naik hingga 70 Persen

BEDUK PESANAN: Pekerja membuat bedug pesanan di Desa Keniten, Kedungbanteng, Banyumas, Senin (29/5)

MENDUNG menggelayut di langit Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng, siang itu. Munatik terlihat tergesa-gesa menyelesaikan pengecatan kayu yang digunakan untuk pegangan beduk sebelum hujan tiba.
Dengan sigap ia langsung menutup kayu-kayu yang berjajar di pinggir jalan itu menggunakan terpal. Proses pembuatan beduk tradisional siang itu sedikit terhambat karena hujan turun lebih awal. Di desa yang berada di sebelah selatan Gunung Slamet itu terdapat beberapa perajin beduk tradisional.
Secara turun temurun, sejak puluhan tahun lalu sebagian masyarakat memproduksi beduk yang biasa digunakan di masjid. Momentum Ramadan ini, jumlah pesanan beduk meningkat dibandingkan pada hari-hari biasa. Seperti yang diungkapkan salah seorang perajin beduk, Toufik Amin. Sejak sebulan sebelum Ramadan, pesanan mulai berdatangan.
Harga Variatif
”Alhamadulillah sejak menjelang Ramadan kemarin pesanan pembuatan beduk naik hingga 70 persen. Sampai sekarang saya sudah menerima pesanan sekitar 100 buah. Beduk yang dalam proses pengerjaan ini semaunya adalah pesanan,” kata dia. Menurut dia pesanan beduk karyanya datang dari berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Mulai dari Yogyakarta, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Brebes hingga Jakarta. Beberapa tahun lalu, dia juga mengerjakan pesanan dari Sumatera. Dia mengatakan pembuatan satu buah beduk ukuran kecil membutuhkan waktu antara tiga sampai satu minggu.
Untuk ukuran terkecil dengan diameter 40 cm hanya membutuhkan waktu tiga hari, sedangkan ukuran lebih dari satu meter membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Untuk harganya, lanjut dia, juga variatif bergantung ukuran yang diinginkan.
Harga yang ditawarkan mulai dari ukuran terkecil sebesar Rp 2,5 juta sampai yang terbesar hingga puluhan juta. Model beduk juga menentukan harganya, semakin sulit akan semakin mahal. ”Kemarin saya habis mengerjakan beduk dengan ukuran 1,5 meter, harganya Rp 40 juta.
Pembuatan beduk dengan ukuran sebesar itu memerlukan waktu hampir tiga bulan, kalau yang kecil paling dalam hitungan hari selesai,” ujar dia. Dia menjelaskan, tabung beduk hasil kreasinya terbuat dari bahan potongan kayu trembesi yang dirangkai menjadi bentuk silinder.
Sedangkan untuk bahan kulitnya dia memilih menggunakan kulit sapi karena lebih lebar dan tebal. Salah seorang pekerja yang membuat beduk, Munatik, mengatakan kayu trembesi dipilih karena relatif mudah didapat. Selain kemudahan dalam memperoleh bahan baku, penggunaan trembesi juga dipi
sumber suara merdeka

Sikap SSCI Purwokerto / Banyumas Raya



SSCI Purwokerto atau Skyscrapercity Regional Banyumas Raya memiliki 2 akun resmi yaitu  di facebook dan Instagram . Beberapa bulan ini kontroversi di media sosial kembali dipanaskan oleh tindakan yang bisa dikatakan city vs city baik dilakukan oleh fans atau admin skyscrapercity daerah tertentu . Mengenai hal ini Sikap resmi akun SSCI Purwokerto adalah menyatakan tidak terlibat terhadap perdebatan perdebatan atau perselisihan yang seperti itu . 
Oleh karena itu dalam berbagai kesempatan member SSCI Purwokerto yang sebenarnya berasal dari berbagai latar belakang baik anggota lama maupun baru atau istilah popularnya nubi harus menyamakan persepsi tekait isu city vs city baik sesama Forumer Banyumas raya maupun tehadap daerah lain. 

SSCI Banyumas Raya  tetap fokus pada info pembangunan baik infrastruktur vital maupun skyscraper atau vertikal building dengan tetap mengapresiasi kemajuan daerah lain. 
Selain dalam forum resmi di sub Forum Banyumas Raya , di media sosial yang ditangani admin resmi yang merupakan forumer skyscrapercity dalam setiap postingannya adalah info yang berdasarkan fakta di lapangan atau prediksi dengan analisis yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. 

Senin, 29 Mei 2017

Pusat Kuliner Ramadhan Karang Taruna DesaTinggarjaya



Langkah Karang Taruna Desa Tinggarjaya Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas ini patut diapresiasi dan ditiru oleh organisasi kepemudaan daerah lain. Karena bukan hanya teori semata tapi langsung mempraktekan di lapangan kegiatan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah Pusat Kuliner Ramadhan yang saat ini digelar di depan SPBU Tinggarjaya atau sebelah timur pasar tengok. Karena Pusat kuliner seperti ini adalah salah satu cara mengakomodasi dan memasarkan produk umkm lokal dan pada akhirnya ikut serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pusat Kuliner Ramadhan Desa Tinggarjaya ini menyajikan berbagai menu buka puasa dan mulai buka dari sore hari. Bukan hanya UKM lokal saja yang ikut berpartisipasi mengisi stand yang ada tetapi juga salah satu komunitas yaitu Bandafo ikut meramaikan acara ini. Yang lebih menarik lagi pengunjung juga dihibur band dari panitia dan diberi kupon berhadiah yang rencana akan diundi di akhir bulan Ramadhan.
Mari kita ramaikan pasar Ramadhan Desa Tinggarjaya karena kita juga secara tidak langsung ikut berpartisipasi meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menumbuhkan  UMKM  .

Produk Makanan dan Minuman Olahan Menyusut

Produk makanan dan minuman olahan yang dipajang di gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto terus berkurang akibat sepinya pengunjung.
Menurut Supervisor Gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok APurwokerto, Miko (33), jumlah pelaku usaha yang menitipkan produknya di gerai UMKM menyusut. Dari sebelumnya tercatat 50 UMKM, sekarang berkurang menjadi 29 UMKM.
Rendahnya minat pelaku usaha menitipkan karena perputaran transaksi lambat, padahal produk yang dititipkan batas kedaluarsanya tidak panjang. ”Sebagian pelaku UMKM menarik dan tidak mengisi produk baru di gerai UMKM saat produknya habis,” katanya, kemarin.
Ia menambahkan, saat ini produk olahan yang paling laku dibeli konsumen adalah sirup jahe, sedangkan produk makanan olahan lainnya kurang begitu laku. ”Dibutuhkan promosi berkelanjutan agar gerai UMKM banyak dikunjungi masyarakat,” katanya.
Produk Kerajinan
Meskipun produk makanan dan minuman berkurang, produk kerajinan masih cukup lengkap. Bahkan, koleksi produk kerajinan bertambah, seperti kerajinan tas keranjang, kain perca dan kerajinan tutup galon. Selain itu, sambung dia, sejumlah produk kerajinan lain yang dipajang di rak selalu diperbarui oleh pemilik produk.
”Di sini produk kerajinan yang dipajang banyak yang baru, seperti produk aksesori pakaian adat Banyumas dan sandal dan sepatu Banaran,” tuturnya. Pemilik usaha kerajinan tempurung Somagede, Kartam, mengatakan, pelaku usaha yang belum lama menggeluti bidang usahanya masih butuh fasilitas akses pasar.
Oleh karena itu, keberadaan gerai UMKM cukup membantu mengenalkan produk kepada masyarakat, meskipun tidak setiap hari produk yang dipajang laku terjual. ”Saya mencoba terus memperbarui produk kerajinan yang dipajang di gerai. Soal laku tidaknya urusan nanti. Yang penting produk yang saya buat bisa dikenalkan ke masyarakat,” ujarnya.
sumber suara merdeka

Festival Serayu Kembali Digelar

Festival Perahu Pasir atau yang disebut juga Festival Serayu Banyumas diprediksi kembali digelar tahun ini.
Acara garapan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, di kawasan Bendung Gerak Serayu, 29- 30 Juli. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Saptono mengatakan, seperti tahun sebelumnya, festival yang mempromosikan keeksotisan wisata Sungai Serayu ini digelar dengan dua agenda utama.
Pertama, karnaval perahu hias yang diikuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelaku usaha dan perangkat kecamatan maupun desa serta kedua lomba balap perahu pasir. “Tahun ini persiapan festival kami percepat. Sehingga persiapannya lebih matang,” kata dia, ketika dihubungi Minggu (28/5).
Menurut Saptono, tahun lalu, kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia. Namun, lantaran musim hujan lebih panjang, panitia menggeser event wisata itu pada awal musim kemarau. “Kendala tahun lalu itu masih musim hujan.
Arus Sungai Serayu sangat deras. Jadi tahun ini digeser saat musim kemarau,” ujarnya. Pada penyelenggaraan ke tujuh kalinya ini, Festival Serayu mengalami sejumlah perubahan jadwal. Setelah digelar secara rutin pada bulan September, ajang ini sempat diubah kemasannya menjadi Festival Bambu Serayu pada 2014 dengan konsep pawai jalanan.
Setelah menuai banyak kiritikan, event dikembalikan menjadi parade perahu hias dan lomba balap perahu pasir. Lokasi penyelenggaraan, sambung dia, tidak mengalami perubahan. Rute perahu hias diperpanjang dari kawasan Sentra Budaya Kota Lama Banyumas yaitu dermaga Desa Kedunguter menuju Bendung Gerak Serayu.
”Rute karnaval bakal menyusuri Sungai Serayu dari dermaga Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas menuju ke Bendung Gerak Serayu. Total perjalanan lebih dari 12 kilometer dengan waktu tempuh dua jam,” kata dia. Sementara untuk balap perahu, pihak panitia belum menentukan lokasinya. 
sumber suara merdeka

Pentas Likuran Pendapa Yudhanegara, Kecamatan Banyumas Dievaluasi

Atraksi budaya “Pentas Likuran” di komplek Pendapa Yudhanegara, Kecamatan Banyumas akan dievaluasi. Pasalnya, selain promosinya kurang menggigit kegiatan tersebut minim penonton.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengakui, pentas likuran yang sudah digelar sejak tahun 2014 lalu masih kurang dipromosikan. Dampaknya, acara rutin yang digelar pada minggu ketiga setiap bulan ini kurang dilirik oleh penonton.
“Anggarannya kan sangat minim. Untuk promosi kegiatannya juga tidak ada. Jadi nanti diubah menjadi setahun tiga kali pentas,” kata dia, kemarin. Menurut Deskart, sejatinya pentas tersebut bertujuan untuk mengangkat wilayah Kecamatan Banyumas sebagai kawasan Sentra Budaya Kota Lama.
Selain itu, pagelaran seni budaya tersebut diharapkan menjadi alternatif suguhan bagi wisatawan. Adapun para penampil pentas tersebut berasal dari kelompok seni dari 12 desa di wiilayah Kecamatan Banyumas. Tahun lalu kegiatan itu sempat dievaluasi lantaran pengunjungnya yang masih sedikit. “Nanti anggaran yang masih tersisa dimanfaatkan untuk mempromosikan pentas tersebut,” katanya.
Selain Pentas Likuran, kata Deskart, pihaknya juga akan mengevaluasi atraksi budaya “Mandala Ngibing”. Pasalnya, acara tersebut juga tidak lagi terdengar gaungnya. Sebagai informasi, acara di pendapa Mandalawisata Baturraden ini juga digelar sejak tahun 2014 lalu. Tujuannya untuk menarik minat wisatawan yang berkunjung di kawasan wisata lereng Gunung Slamet.
Deskart mengatakan, tahun ini bakal ada penambahan even atraksi budaya seperti Festival Gudril dan Festival Logawa. Keduanya masih dalam tahap pembahasan di intern pemerintah. “Kalau disetujui, akan dimasukkan kalender event wisata dan budaya,” ujarnya.
sumber suara merdeka

Jumat, 26 Mei 2017

Sampah di Desa Belum Tertangani

Rendahnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya kemampuan pemerintah, membuat permasalahan sampah di wilayah perdesaan belum berjalan secara maksimal.
Akibatnya sampah menjadi permasalahan yang tak terhindarkan. Warga Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Eko Yulianto (32) mengaku pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat terkecil belum menjadi kesadaran bersama. Akibatnya mayoritas warga menyerahkan pengelolaan sampah kepada pemerintah.
Apalagi sejak dalam rumah tangga, mayoritas sampah tak pernah dipilah apalagi dimanfaatkan secara ekologi dan ekonomi. “Jadi setelah memproduksi sampah, kami langsung membuangnya ke tempat sampah. Sayang, karena sering tak langsung terangkut petugas kebersihan pemerintah, sampah menumpuk dan menimbulkan masalah lagi,” jelasnya.
Eko mengatakan permasalahan sampah ini semakin terjadi, karena saat ini banyak rumah tangga yang tak mempunyai tempat pembuangan sampah di lingkungan rumah mereka. Terbatasnya lahan yang dimiliki membuat banyak rumah tangga lebih memilih membuang sampah di sungai atau tempat lainnya.
“Akibatnya permasalahan sampah ini menjadi tak pernah selesai dan menimbulkan permasalahan baru lagi. Dampaknya yang merasakan kita ataupun orang lain,” katanya. Warga Tinggarjaya lainnya, Fitrohatun mengatakan upaya pengelolaan sampah lingkungan pemukiman di pedesaan sebenarnya sudah mulai dilaksanakan melalui keberadaan bank sampah.
Sayang, setelah berjalan beberapa tahun, bank sampah yang ada kini berjalan tersendat. “Karena memang untuk mengelola permasalahan sampah ini perlu kekompakan dan komitmen semua pihak. Makanya kami terus berharap pemerintah melalui dinas terkait untuk terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk mengelola sampah,” jelasnya.
Bank Sampah
Sementara itu, di tengah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola dan mengolah sampah, kemampuan pemerintah menangani sampah juga terbatas. Keterbatasan personel petugas kebersihan, hingga armada dinilai tak sebanding dengan luas jangkauan wilayah dan jumlah produksi sampah yang diproduksi masyarakat.
Akibatnya permasalahan keterlambatan pengangkutan sampah sering terjadi. Sekretaris Desa Kedungwringin, Kecamatan Jatilawang, Munandar membenarkan terbatasnya jangkauan pemerintah dalam menangani permasalahan sampah di wilayah pedesaan. Selama ini permasalahan sampah di wilayah pedesaan juga masih diselesaikan secara apa adanya.
Akibatnya banyak sampah yang justru terbuang sembarangan dan tak terkelola dengan baik. “Makanya kami tengah dorong agar keberadaan bank sampah di salah satu RW dapat dioperasikan kembali sehingga bisa menjadi contoh dari wilayah lain untuk mengelola sampah,” katanya.
Sekretaris Desa Margasana, Kecamatan Jatilawang, Tohidin juga berharap ke depan, pemerintah semakin mendorong masyarakat pedesaan untuk memperhatikan permasalahan sampah di lingkungan pedesaan. Pasalnya permasalahan sampah adalah permasalahan umum yang dirasakan siapapun dan di manapun. “Selama masyarakat masih mengkonsumsi makanan, maka ia akan menghasilkan sampah.
Makanya selain pembangunan fisik, kami berharap ada gerakan terarah dari pemerintah kabupaten untuk mendorong pengelolaan sampah oleh masyarakat di Banyumas,” jelas Tohidin yang saat ini juga sedang mendorong tumbuhnya bank sampah di wilayah setempat. 
sumber suara merdeka

Teknologi Tepat Guna

MENYADARI permasalahan sampah di lingkungan masyarakat yang sering terabaikan, sejumlah warga di Banyumas terus berinovasi dalam menemukan teknologi tepat guna (TTG) dalam mengolah sampah. Mereka antara lain adalah Samsudin dari Desa Wangon Kecamatan Wangon dan Salimin dari Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas.
Samsudin selama beberapa tahun terakhir terus mengembangkan peralatan teknologi tepat guna berupa pengolah sampah anorganik. Melalui mekanisme pembakaran tanpa asap menggunakan teknologi peralatan tertentu, Samsudin mengolah sampah anorganik menjadi briket limbah plastik dan cairan penyemprot hama penyakit tanaman.
“Saya terus berupaya menyempurnakan inovasi TTG pengolah sampah an organik ini. Hal ini penting supaya permasalahan sampah dapat tertangani termasuk dari wilayah lingkungan RT,” kata Samsudin yang berulang kali melaksanakan demonstrasi TTG yang ia kembangkan. Sementara itu, Salimin, warga Babakan kini juga terus mengembangkan pengelolaan sampah menjadi hal yang berguna.
Dengan TTG pengelola sampah, Salimin mengubah atau mencetak sampah organik dan anorganik menjadi papan sekaligus tembok sintetis sebagai pengganti papan kayu ataupun batu bata.
Untuk membuat papan atau tembok sintetis dari sampah ini, Salimin mencetak berbagai jenis sampah dengan memfungsikan sampah plastik sebagai perekat. Meski saat ini masih disempurnakan, namun Salimin berharap penemuannya ini dapat menjadi solusi penanganan sampah di wilayah Banyumas.
“Kami berharap dengan pengolah sampah ini, permasalahan sampah yang selama ini harus dibuang dan menjadi masalah, justru bisa termanfaatkan oleh masyarakat. Karena ternyata dari merang, sampah plastik, pasir, dan sebagainya kita bisa membuat semacam papan dan tembok yang tahan jamur, kuat dan tahan bocor,” jelasnya. 
sumber suara merdeka

Rumah Tak Layak dan Masjid Diperbaiki Kolaborasi Semen Bima dan Banser NU

Semen Bima bersama Banser NU jelang Ramadan ini menggiatkan renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) warga miskin dan tempat ibadah di wilayah Banyumas. Kerjasama itu dilaksanakan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada masyarakat.
Manajer Humas Semen Bima, Irwan Triono mengatakan partisipasi program CSR Semen Bima itu dilaksanakan bersamaan dengan Kemah Bakti Banser NU di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang pertengahan Mei lalu. Semen Bima berharap kontribusi Semen Bima diharapkan bermanfaat bagi masyarakat. “Dalam rangkaian acara tersebut, kebetulan ada program renovasi RTLH dan renovasi tempat ibadah sehingga sangat sinkron dengan program CSR Semen Bima,” ujarnya.
Adapun kata Irwan, RTLH yang di renovasi adalah rumah milik Karwen (48) warga Desa Kotayasa RT 02 RW 03 dan Nalem (51) warga Desa Kotayasa RT 09 RW 06. Bersamaan dengan renovasi RTLH, pembenahan tempat ibadah yaitu Masjid Istigozah di Desa Kotayasa juga turut dilaksanakan.
“Kami berharap dengan bantuan CSR Semen Bima, keberadaan RTLH di Banyumas dapat sedikit demi sedikit terkurangi. Kami siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendorong penyelesaian permasalahan sosial yang ada di Banyumas,” jelasnya. Acara sosial tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (13-14/5).
Dengan kekompakan masyarakat dan anggota Banser NU wilayah Sumbang itulah kegiatan tersebut berhasil dilaksanakan. “Terima kasih kepada Semen Bima yang telah mendonasikan semen sehingga dapat merealisasikan program renovasi RTLH dan renovasi tempat ibadah dalam acara Kemah Bakti Banser,î kata Rashid salah satu anggota Banser NU Sumbang. 
sumber suara merdeka

Warga Diminta Tidak Memburu Kera di Desa Kemutud Kidul

Warga diminta jangan memburu dan melukai kera yang menyerang lahan pertanian di Desa Kemutug Kidul, Baturraden. Kera jenis ekor panjang (Macaca fascicularis) itu jangan dianggap sebagai hama. “Jika petani sudah berpikir kera tersebut sebagai hama maka akan terjadi pembantaian.
Untung warga masih menggunakan peralatan bunyi-bunyian untuk mengusir kera, itu masih wajar,” kata Koordinator Biodeversity Society Banyumas, Apris Nur Rakhmadani, kemarin. Menurut dia, serangan kawanan kera disebabkan sumber makanan di habitat aslinya telah habis. Keterbatsaan bahan makan itu bisa disebabkan karena pembukaan lahan atau penebangan pohon di habitat asli kera.
“Kawanan kera itu turun ke lahan pertanian warga karena kekurangan bahan makanan. Habitat asli kera-kera tersebut bisa jadi semakin menyempit karena pembukaan lahan atau penebangan pohon, sehingga sumber makanan mereka berkurang,” katanya. Untuk mengurangi serangan kera, dia mengusulkan agar para petani menanam buah-buahan. Buah-buahan ditanam di lahan antara habitat kera dan lahan pertanian warga, sehingga kawanan kera tidak sampai merusak tanaman warga.
“Kera jenis ekor panjang biasanya memakan buah-buahan dan biji-bijian. Kalau bisa petani menanaman buah-buahan sebelum lahan pertanian mereka, kalau ada sumber makanan kawanan kera tidak akan masuk ke lahan pertanian warga,” ujar dia.
Dia juga meminta pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan itu dan memberi edukasi kepada masyarakat mengenai keberadaan kera ekor panjang. Warga diimbau tidak membuka lahan atau menebang pohon di habitat kera. Seperti diberitakan, sejak beberapa pekan terakhir, petani di Desa Kemutug Kidul diresahkan dengan munculnya kawanan kera di lahan pertanian.
Puluhan kera itu memakan dan merusak lahan pertanian seluas kurang lebih enam hektare. Kepala Desa Kemutug Kidul, Kardi Daryanto, mengatakan kawanan kera itu memakan hasil pertanian warga seperti padi, pisang, ketela hingga cabai. Sebagian lahan pertanian juga rusak akibat serangan tersebut. 
sumber suara merdeka

Tugu Semar dan Eks Jembatan Gantung Karanglewas -Adisara Jatilawang


Beberapa tahun lalu jembatan ini merupakan jembatan gantung yang menyebrangi kali lopasir sekaligus merupakan pembatas alam bagi desa adisara dan karanglewas kecamatan Jatilawang.
Bagi pengemudi kendaraan yang tidak ingin terjebak macet arus mudik  dan arus balik maka jembatan ini akan bisa dijumpai terutama jika pengemudi kendaraan akan mengambil rute dari Jatilawang menuju Cilacap melalui desa Adisara dan Karanglewas dan menuju desa Menganti atau Losari di kecamatan Rawalo.
jembatan
di sisi selatan jembatan ini ada tugu merah putih dan ada patung semar di atasnya sebenarnya ini merupakan hal yang unik karena sebenarnya ikon kabupaten Banyumas adalah bawor mungkin ada cerita yang berasal dari keraifan lokal mengenai tokoh ini. Sekedar Info Jembatan ini merupakan salah satu infrastruktur desa yang penting terutama bagi desa Karanglewas karena menghubungkan dengan pusat kecamatan dan desa ini terisolir lokasinya dari jalan raya lintas antar daerah.
foto0716.jpg
foto0714.jpgfoto0717.jpgfoto0715.jpgfoto0718.jpgfoto0719.jpg

Taman Kota (RTH) Wangon

Sebenarnya nama resminya lapangan panggang tapi pemerintah Desa Wangon berinisiatif menjadikan Ruang Terbuka Hijau yang awalnya bagian tepi jalan raya merupakan pusat PKL pedagang buah yang buka selama 24 jam dengan harapan nantinya semakin ramai karena ada sisi lain lapangan yang digunakan untuk berjualan bukan hanya sisi tepi jalan raya barat saja. Di bagian pinggir lapangan dibuat pedestrian sebagai tempat santai atau lokasi berjualan dan juga lokasi untuk mengakomodasi panggung hiburan .
Beberapa tahun lalu saya sempat berdiskusi dengan seorang teman anak seorang budayawan Banyumas . Dia mengatakan rencana pembangunan  taman kota wangon itu salah lokasi dijamin tidak akan seramai Alun alun Jatilawang . Secara logika coba pikirkan dimanakah lokasi ramai di wangon yang bisa ditempuh orang tanpa harus membawa kendaraan pribadi dan bisa dijangkau angkutan umum dari berbagai jurusan selain jalan raya utara ? Tentu lokasi ideal adalah kantor kecamatan wangon saat ini dan seharusnya DED nya gedung kantor dibuat lebih ke timur sehingga menyisakan ruang yang cukup untuk membuat Ruang Terbuka Hijau.
3 tahun telah berlalu dan baru saat ini saya sempat berkunjung langsung ke lokasi ini dan semua persis dugaan kami pada waktu itu. Usulan saya seberang kecamatan wangon tanahnya dibebaskan dibeli saja kalau belum hak milik pemerintah lalu dibangun taman kota saya jamin akan lebih semarak suasananya.
foto0727.jpgfoto0726.jpgfoto0725.jpgfoto0728.jpg

Rabu, 24 Mei 2017

Agustus, Pembangunan Dimulai Jembatan Gantung di Desa Kracak

Mulai Agustus mendatang, jembatan gantung Sungai Tajum, Grumbul Kedunglongsir, Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang yang membentang sepanjang 50 meter dan lebar 1,5 meter akan dibangun kembali.
Diharapkan melalui pembangunan tersebut, jembatan yang dimanfaatkan ratusan kepala keluarga di RT 1,2 RW6 Grumbul Kedunglongsir, RT 5 RW 9 Grumbul Majingklak dan Grumbul Parduli tu lebih layak. Hal itu disampaikan Camat Ajibarang, Eko Heru Surono usai mendampingi tim survei pembangunan jembatan dengan Kepala Desa Kracak, Senin (22/5) kemarin.
Eko Heru mengatakan, dengan pembangunan jembatan gantung yang baru nanti diharapkan warga akan lebih aman saat melintas. “Diharapkan nanti bulan Agustus dapat dimulai dan berjalan lancar sampai rampung. Karena memang kondisi jembatan saat ini dalam kondisi yang membayakan,” katanya.
Minim Perawatan
Pejabat Kepala Desa Kracak, Admo S mengatakan, sejak dipasang 11 tahun lalu, perawatan jembatan ini terbilang minim karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman warga. Peran warga dalam memelihara jembatan ini terbatas hanya mengganti papan landasan jembatan sepanjang 50 dan lebar 1,5 meter.
“Sementara untuk perawatan komponen jembatan baik itu baut, tali seling dan sebagainya nyaris tak pernah dilakukan secara rutin atau berkala,” jelasnya. Sebelumnya, Rabu (29/3) silam, Bupati Banyumas, Achmad Husein juga sempat mengunjungi jembatan gantung tersebut.
Husein secara langsung melintasi jembatan yang bagian badan dan komponen lainnya telah rusak dan lapuk. Husein langsung datang bersama dengan anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Agus Supriyanto. Husein meminta masyarakat untuk tidak melintasi jembatan gantung tersebut dengan menggunakan kendaraan roda dua sebagaimana diimbau oleh pejabat dinas terkait beberapa waktu lalu.
Ia juga meminta kepada masyarakat untuk tidak lebih dari empat orang saat melintas jembatan tersebut. Terkait dengan kondisi tersebut, Bupati mengatakan, pihak Pemerintah Kabupaten Banyumas akan menggelontorkan bantuan untuk perbaikan jembatan dari APBD sebesar Rp 200 juta. Dana tersebut digunakan untuk perbaikan bagian jembatan yang sudah rusak seperti landasan dan komponen lainnya.
“Yang terpenting adalah jembatan tidak goyang-goyang dan landasannya diganti yang lebih baik. Karena untuk perbaikan secara total biayanya sampai Rp 3 miliar. Nantinya akan kami usahakan kedepan untuk perbaikan total dengan akses roda empat bisa masuk ke tiga grumbul tersebut terlebih jalan di grumbul sudah di aspal semua,” jelasnya.
sum ber suara merdeka

Penjualan Bibit Cabai Masih Ramai

Masih tingginya harga komoditas cabai mendorong penjualan bibit cabai. Di pelosok pedesaan Banyumas semakin banyak petani menanam cabai termasuk di pekarangan. Petani asal Desa Bantar, Suwari (50) hingga kemarin, masih membuat persemaian bibit tanaman cabai untuk dijual untuk petani.
Puluhan ribu bibit tanaman cabai ini disemai dan biasanya langsung dibeli oleh para pedagang dan petani setempat. “Selain petani, biasanya ada pedagang yang mengambil dengan mobil ke sini. Pada saat harga cabai masih tinggi sekarang ini, bibit cabai ini memang masih laris,” katanya.
Dijelaskan Suwari, jenis bibit cabai yang disemai itu antara lain jenis cabai rawit merah, cabai hijau, dan merah besar. Selain komoditas cabai, ia juga menyemai bibit tanaman teron dan tomat. Biasanya ketika umur semaian bibit cabai ini telah mencapai 20-30 hari, maka banyak pedagang akan datang membeli.
Tetap Laris
“Bisa dibilang tetap laris sampai sekarang. Karena di saat harga cabai tinggi, banyak petani menanam cabai baik di kebun maupun pekarangan,” jelasnya. Selain di Bantar, persemaian bibit cabai juga dibuat di wilayah Desa Pekuncen dan Kedungwringin Kecamatan Jatilawang.
Di Pekuncen, puluhan ribu bibit tanaman cabai yang merupakan bantuan dari Bank Indonesia disemai oleh kelompok tani desa setempat. “Bibit cabai ini nantinya dibagikan kepada warga untuk ditanam sehingga ketika berbuah nanti maka akan bisa meringankan beban keuangan keluarga.
Jika ini terlaksana, inflasi dapat ditekan sebagaimana harapan pemerintah melalui Bank Indonesia,” ujar Sumitro, ketua kelompok tani setempat. Petani asal Desa Kedungwringin, Munandar mengatakan, dengan adanya warga yang menyemai bibit cabai, maka membuat banyak petani mudah menanam cabai di sawah, kebun dan pekarangan. Menurutnya, dengan adanya tanaman cabai inilah, kebutuhan akan sayur dan bahan pokok dapat terkurangi.
“Sedikit banyak jika ada tanaman cabai yang tumbuh subur dan berbuah maka bisa menyokong perekonomian rumah tangga. Bayangkan kalau harga cabai mencapai Rp 100 ribu seperti beberapa waktu lalu, banyak ibu rumah tangga seperti menjerit,” katanya.
sumber suara merdeka

Permasalahan Arus Mudik Dipetakan

SM/Dian Aprilianingrum  RAMAI KENDARAAN : Arus lalu lintas di depan Pasar Kliwon, Karanglewas, Purwokerto tampak padat, Senin (23/5). Saat musim arus mudik dan arus balik lokasi tersebut kerap menjadi simpul kemacetan. (33)
SM/Dian Aprilianingrum
RAMAI KENDARAAN : Arus lalu lintas di depan Pasar Kliwon, Karanglewas, Purwokerto tampak padat, Senin (23/5). Saat musim arus mudik dan arus balik lokasi tersebut kerap menjadi simpul kemacetan. (33)


Momentum arus mudik, dan arus balik sudah menjadi rutinitas tahunan, namun demikian, ternyata berbagai permasalahan masih menghantui momentum yang bakal berlangsung dalam beberapa pekan kedepan itu.
Pemkab Banyumas telah memetakan permasalahan tersebut. Kepala Bidang Prasarana Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Banyumas Achmad Riyanto, kepada Suara Merdeka mengatakan, berdasarkan pengamatan tahun sebelumnya ada setidak-tidaknya lima permasalahan pada arus mudik.
Permasalahan itu, lanjutnya antara lain adanya kemacetan atau antrean pada persimpangan dan pusat perdagangan. Kondisi itu terjadi karena banyaknya pejalan kaki yang menyeberang, maupun kendaraan yang berbelok sehingga menimbulkan tundaan arus lalu lintas. Selain itu, permasalahan lain yakni pertemuan arus yang terjadi pada sejumlah simpang, seperti Simpang Menganti, Simpang Rawalo, dan Simpang Buntu.
Jalan Sempit
Dikatakan, bukan saja disebabkan kondisi yang terjadi di Banyumas, dampak kondisi di daerah lain ternyata juga dirasakan sampai di Banyumas. Salah satunya yaitu hambatan pada Exit Tol Brebes (Brexit) yang berdampak kemacetan hingga ruas Ajibarang – Wangon.
Di wilayah timur, pertemuan kendaraan dari arah Yogyakarta, Kemawi, dan Kemranjen di Simpang Kebokura, ternyata juga menimbulkan kemacetan. ”Pemudik dari arah Jakarta, lebih dominan melakukan perjalanan pada siang hari, sehingga bersamaan dengan aktivitas perdagangan di sejumlah pusat perdagangan, kondisi itu menyebabkan terjadinya hambatan lalu lintas,” tuturnya, kemarin.
Bukan saja arus mudik, pemilihan waktu perjalanan pada siang hari juga menjadi permasalahan pada arus balik karena bersamaan dengan aktivitas perdagangan di sejumlah pusat perdagangan. Selain itu, pertemuan arus di berbagai simpang yang ada di jalur selatan, ternyata juga menjadi hambatan yang kerap kali berujung kemacetan.
”Ruas jalur selatan, tepatnya di Jalan Margasana Jatilawang, juga menjadi salah satu lokasi rawan kecelakaan. Kondisi itu terjadi karena padat arus lalu lintas, jalan sempit, dan menjadi pertemuan arus dari Bandung – Jakarta menuju Yogyakarta,” ungkapnya. Guna mengatasi permasalahan tersebut, lanjutnya pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah.
Guna mengatasi kemacetan, menurutnya ada beberapa jalan alternatif yang disiapkan, namun demikian jalan alternatif baru akan dibuka ketika kondisi jalan utama mengalami kemacetan parah. ”Rambu, dan perlengkapan jalan tambahan juga sudah disiapkan, pengalihan arus lalu lintas melalui jalur alternatif, pembatasan operasi angkutan barang, termasuk pengaturan traffic light yang memprioritaskan jalur utama Lebaran,” jelasnya.
Sebelumnya, PTKAI Daop V Purwokerto juga telah melakukan beberapa persiapan jelang arus mudik dan arus balik Lebaran. Salah satu persiapannya dengan melakukan pemantauan dan pengawasan pekerjaan perbaikan jembatan bangunan hikmat (BH) 1650, dan pengeprasan tebing di sisi kanan dan kiri jalur kereta api antara Stasiun Gombong – Stasiun Ijo di Km 425+4/5 atau sepanjang 400 meter.
Manajer Humas Daop V Ixfan Hendriwintoko, mengatakan pekerjaan perbaikan jembatan bangunan hikmat (BH) 1650, dan pengeprasan tebing di sisi kanan dan kiri jalur kereta api antara Stasiun Gombong – Stasiun Ijo, mulai dilaksanakan pada Maret 2017 lalu. Pekerjaan perbaikan itu, ditargetkan selesai sebelum masa angkutan Lebaran 1437 H.
”Menghadapi angkutan Lebaran 1437 H pekerjaan itu ditargetkan sudah selesai, mengingat area tersebut merupakan titik rawan yang berpotensi bahaya bagi perjalanan kereta api, bahaya yang pernah terjadi seperti longsor, banjir yang berakibat terjadinya rintang jalan (rinja) sehingga beberapa kereta api terganggu perjalanannya,” jelasnya di Purwokerto. 
sumber suara merdeka