Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 30 Juni 2016

kongres Bahasa Panginyongan di Taman Budaya dan Eduwisata Karang Penginyongan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok

Peserta Kongres Disuguhi Seni Tradisi Lokal

suaramerdeka.com
PURWOKERTO - Peserta kongres Bahasa Panginyongan yang digelar 11-13 Oktober mendatang akan disuguhi sejumlah pementasan seni tradisi lokal. Hal itu sangat dimungkinkan, lantaran lokasi penyelenggaraan yaitu Taman Budaya dan Eduwisata Karang Penginyongan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, memenuhi syarat untuk pementasan seni budaya.
Itu disampaikan Wabup Banjarnegara, Hadi Supeno ketika mengecek persiapan lokasi kongres, Minggu (26/6). Menurut dia, obyek wisata yang sedang dibangun tersebut representatif bila digunakan untuk acara semacam diskusi, sarasehan maupun pentas kesenian.
“Peserta yang kebanyakan kalangan budayawan, pegiat, dan pelaku seni, tokoh hingga pejabat, nanti tidak hanya serius saat membahas tentang bahasa panginyongan, tapi juga bisa menikmati suasana alam desa pada masa lalu.
Panggung dan taman terbuka yang tersedia juga memungkinkan untuk menghadirkan pagelaran seni budaya,” ujarnya, kemarin. Menurut Hadi, pementasan kesenian Banyumasan tersebut sesuai dengan permintaan Bupati Banyumas, Achmad Husein pada rapat koordinasi, belum lama ini. Para peserta juga bisa ikut mempelajari jenis kesenian yang ditampilkan.
Pada pertemuan tersebut, juga disepakati bahwa kongres pertama bahasa panginyongan ini menggunakan istilah Konggres Pertama Basa Penginyongan. Istilah itu banyak disebutkan masyarakat mengenai corak bahasa yang digunakan masyarakat Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Cilacap, sebagian Brebes dan sebagian Wonosobo.
Selesai Tepat Waktu
Pemilik objek wisata Karang Penginyongan sekaligus pemrakarsa kongres, Lim Kuswintoro mengatakan, pihaknya siap untuk membantu para pemrakarsa kongres, yaitu Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, Budayawan Banyumas Achmad Tohari, Lim Kuswintoro Pengusaha Percetakan Kebumen, Akademisi dari Unes Semarang antara lain Prof Teguh Suprianto, Hadi Sucipto, dan Sabrina dan sejumlah budayawan lokal.
Dia menargetkan, objek wisata tersebut akan selesai tepat waktunya. “Saya optimistis pembangunan Karang Penginyongan bisa diselesaikan meski banyak cobaan. Nanti pembukaan objek wisata ini berbarengan dengan acara kongres bahasa pangiyongan,” katanya.
Seniman Padhepokan Cowongsewu, Titut Edi Purwanto mengatakan, bahasa Banyumas sebagai salah satu dialek penginyongan merupakan kekayaan leluhur yang harus dilestarikan. Saat ini, anak muda kurang percaya diri menggunakan bahasa daerah sendiri.
“Harapannya, nanti pada kongres ini akan ada pembahasan mengenai upaya mengenalkan dialek panginyongan kepada generasi muda. Mereka harus berkenalan dengan bahasa ibu lewat acara semacam ini, ada kongres ada pentas seni,” ucapanya pendesain dan penggarap obiek wisata itu.
Dia mengatakan, Karang Penginyongan di desain khusus untuk wisata keluarga, anak-anak, dan tempat terapi pembangunan karakter melalui permainan yang disediakan dengan konsep taman budaya dan wisata. Beberapa wahana diantaranya, bukit Punthuk Asmara dan Punggung Kamulyan, gazebo, pendapa, taman botani dan camp area masih dibenahi sebelum dibuka pada saat kongres mendatang.

Rabu, 29 Juni 2016

Juguran Pendopo Kecamatan Banyumas, Kenang Masa Lalu

Juguran-Banyumas-Kenang-Masa-Lalu

Radar Banyumas
Nuansa tradisional masih kental dalam juguran di Pendopo Kecamatan Banyumas Senin (27/6) kemarin. Sentir yang merupakan lampu tradisional masyarakat Banyumas tempo dulu terpajang di depan pendopo. Tidak hanya sentir, atap pendopo juga dikelilingi lampion yang melambangkan lampu ting, lampu masyarakat Jawa zaman dahulu. Ketua panitia, Hadi Mulyono Putro SE mengatakan, adanya lampu ting dan lampu sentir untuk mengingatkan masyarakat Banyumas terhadap suasana Banyumas pada zaman dulu. “Dulu lampunya pakai minyak tanah, sentir, atau ting,” ujarnya. Menurut dia, jaman kuno sengaja diusung. Sayangnya, kini dia kesulitan mencari lampu ting di pasaran. Meski ada harganya mahal. “Sekarang sulit mencari lampu yang bahan bakarnya pakai minyak tanah. Lampu ting malah adanya di restoran,” ungkapnya. Dia mengungkapkan, lampu ting dan sentir untuk mengundang masyarakat untuk datang ke pendopo Kecamatan Banyumas. “Event seperti ini bisa untuk pariwisata masyarakat Banyumas,” paparnya. Menurut dia, juguran merupakan obrolan santai masyarakat Banyumas untuk membicarakan Banyumas pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Juguran tersebut merupakan bagian dari acara jumenengan yaitu peringatan Adipati Mrapat, R Jaka Kahiman menjadi Bupati Banyumas. 



Rencana pembangunan jalan TOL Di Eks Karesidenan Banyumas


Peta di atas adalah rute Jalan TOL Trans Jawa dan memang sebagian akan ada yang melewati kawasan eks Karesidenan Banyumas , sumber Antara. Melengkapi Topik sebelumnya yaitu Rencana TOL Tegal - Cilacap dan TOL Ajibarang Wangon. Kawasan yang nantinya dilewati TOL ini diharapkan bisa berkembang pesat termasuk bagi Purwokerto yang tidak dilewati langsung.



Proyeksi rencana Jalan Tol berdasarkan pidato Bupati Banyumas saat peresmian kantor Otoritas Jasa Keuangan Purwokerto




Dinkes Banyumas Tidak Temukan Vaksin Palsu

Foto Humas Kabupaten Banyumas.
Humas Kabupaten Banyumas

BANYUMAS : Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyumas menelusuri kemungkinan peredaran vaksin palsu di wilayah Banyumas. Vaksin palsu diduga kuat telah beredar di wilayah Jateng menyusul tertangkapnya dua distributor, T dan M di Semarang, Senin (27/6).
Plt Kepala Dinkes, Sadiyanto, mengatakan sampai saat ini pihaknya tidak menemukan peredaran vaksin palsu, khususnya di fasilitas kesehatan milik pemerintah. “Kemungkinan peredaran vaksin palsu terjadi di rumah sakit swasta, praktik dokter swasta, atau praktik bidan,”katanya.
Sadiyanto menambahkan kalaupun ada (peredaran vaksin palsu) itu di luar fasilitas kesehatan pemerintah. “Kami akan mencoba menelusuri ke tempat praktik dokter dan klinik swasta untuk mengetahui vaksin itu berasal dari mana,” katanya, Selasa (28/6).
Menurutnya pengadaan vaksin di fasilitas kesehatan swasta bukan tanggungjawab dari Dinkes. Pengadaan vaksin di fasilitas kesehatan swasta biasanya dilakukan dari distributor atau rekanan. Sebagian di antaranya juga ada mengambil dari Dinkes.
Dia memastikan vaksin di fasilitas kesehatan pemerintah dijamin keasliannya. Pasalnya pengadaan vaksin itu langsug dari distributor resmi melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kemudian didistribusikan ke provinsi dan kabupaten.
IDI Banyumas Kecam Peredaran Vaksin Palsu
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Banyumas, mengecam adanya peredaran vaksin palsu yang terungkap di sejumlah daerah di Indonesia.
Ketua IDI Kabupaten Banyumas dr. Untung Gunarto menyatakan mengutuk kepada pelaku pembuat , penjual dan juga pembeli vaksin palsu, yang sudah berlangsung sejak tahun 2003.
“Untuk mencegah adanya peradaran vaksin palsu IDI Banyumas, telah melakukan kordinasi dengan seluruh dokter di Banyumas. Agar lebih mewaspadai adanya peredaran vaksin palsu, selain itu jika dokter saat akan membeli vaksin, harus melalui jalur resmi, yang telah direkomendasikan oleh Pemerintah,” kata Untung.
IDI Banyumas juga meminta kepada seluruh dokter yang ada di Banyumas, untuk ikut mengawasi peredaran vaksin palsu. Jika ditemui adanya vaksin palsu, untuk segera melaporkan kepada IDI, atau Dinas Kesehatan maupun Kepolisian. Namun sejauh ini, di Banyumas belum diketemukan adanya vaksin palsu.
“Dengan adanya penemuan vaksin palsu ini, IDI Banyumas meminta masyarakat agar melakukan vaksinasi kepada anaknya di klinik atau pusat pelayanan kesehatan milik Pemerintah, maupun dokter” tambahnya.


Selasa, 28 Juni 2016

Objek Wisata Banyumas bagian barat Dibenahi


suaramerdeka.com
BANYUMAS – Sejumlah pengelola wisata di wilayah Banyumas bagian barat terus berbenah untuk bersiap-siap menyambut liburan Lebaran 2016 ini. Selain pembenahan objek wisata, para pengelola wisata ini juga telah berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk pengamanan jalan dan tempat wisata.
Manajer Dream Land Park Ajibarang, Agus Suprihadi mengatakan, kemarin merupakan hari terakhir pembenahan fasilitas dan lingkungan di Dream Land Park. Sejak sepekan lalu, lokasi taman mata air ini ditutup oleh pengelola dalam rangka pembenahan dan pengecekan berbagai sarana prasarana wisata tersebut. “Selasa (28/6) ini kami buka kembali untuk umum.
Kami berharap dengan pembenahan pariwisata ini maka pengunjung akan mendapatkan kepuasan, kenyamanan dan keamanan saat berlibur,” katanya. Selain pembenahan sarana prasarana, Agus mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan aparat keamanan khususnya Jajaran Muspika Ajibarang untuk membantu proses pengamanan lalu lintas jalan dan tempat wisata.
Makanya selain 18 personel keamanan dari internal, dia juga melibatkan sekitar 19 personel keamanan dari pihak kepolisian, TNI dan Satpol Pamong Praja. “Kami berharap dengan keterlibatan aparat keamanan dari dalam dan luar maka berbagai hal yang tak diinginkan dapat diantisipasi.
Termasuk juga untuk pengaturan lalu lintas kendaraan di Jalur Pancasan yang biasa akan sangat padat jelang dan pasca lebaran nanti,” katanya. Ditanya soal target kunjungan wisata, Agus mengatakan untuk tahun 2016 ini, Dreamland Park mematok target kunjungan wisata di angka 90 ribu pengunjung.
Adapun selain wisatawan lokal, kunjungan ini biasanya juga berasal dari warga luar daerah dan Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah Desa Petahunan Kecamatan Pekuncen, juga terus mendorong pengelola wisata baru berupa air terjun Curug Nangga untuk terus membenahi fasilitas wisata yang baru tersebut.
Kepala Desa Petahuan, Rohmat Fadli mengatakan untuk akses jalan wisata saat ini sudah cukup bagus mulai dari arah Desa Cikawung, Semedo dan Petahunan. Rambu jalan dan petunjuk arah tempat wisata juga telah dipasang sepanjang jalan wisata.
“Kami berharap dengan kondisi alam yang masih alami ini, Curug Nangga bisa menjadi destinasi wisata baru warga pasca lebaran ini. Dengan adanya kunjungan wisata ini, berarti ada peluang ekonomi dan penghasilan bagi warga desa kami,” katanya.

Senin, 27 Juni 2016

Pemkab Banyumas Siagakan Alat Berat di Jalur Mudik

Radarbanyumas

PURWOKERTO – Selain fokus pada penanganan jalur-jalur mudik, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) juga menyiagakan alat berat di titik-titik rawan. Hal itu dilakukan sebagai sarana penunjang untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan selama arus mudik dan balik. Kepala Dinas SDABM Kabupaten Banyumas Irawadi menjelaskan, alat berat hanya difungsikan pada saat darurat saja. Untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas dari potensi longsor di beberapa ruas jalur mudik. “Selama arus mudik dan balik, alat berat kita siagakan terus. Alat berat sifatnya stand by, jadi hanya digunakan saat diperlukan saja,” katanya. Dijelaskan, sampai saat ini alat berat yang dimiliki Dinas SDABM masih digunakan membersihkan material longsor di Kecamatan Tambak. Irawadi menjelaskan, ada dua alat berat jenis eksavator yang diterjunkan untuk menangani longsor di lokasi tersebut, yaitu eksavator berukuran besar dan yang berukuran kecil. “Kita maksimalkan dulu penanganan longsor di Tambak, lalu nanti alat berat sepenuhnya akan kita stand by untuk jalur-jalur mudik yang masih rawan longsor,” katanya. Kasi Pelayanan Penunjang Unit Pelayanan Perhubungan (UPP) Wilayah Banyumas Sudarmadji S Kamil mengatakan, beberapa jalur utama mudik di Kabupaten Banyumas memiliki potensi kerawanan yang berbeda-beda, seperti tanah longsor maupun banjir. Untuk lokasi jalur yang dianggap rawan bencana antara lain di ruas Cikakak (Wangon), Lumbir, dan Pekuncen. “Wilayah Pekuncen merupakan wilayah yang rawan longsor, karena di kanan dan kiri jalan banyak tebing serta sungai. Untuk Lumbir merupakan lokasi rawan bencana banjir. Sementara di wilayah Cikakak juga rawan longsor, karena cukup banyak tebing di sisi jalan,” katanya. Seperti diketahui, Banyumas juga memiliki tiga ruas jalur mudik yang rawan kecelakaan seperti ruas jalan Margasana di Kecamatan Jatilawang dan ruas jalan Kedung Pring Kecamatan Kemranjen, serta jalur wisata Purwokerto-Baturraden. Untuk ruas jalan Margasana selalu menjadi titik yang rawan, karena lalu lintas yang padat tidak diimbangi dengan kondisi jalan yang lebar, sehingga memang sangat rawan kecelakaan. Sedangkan untuk ruas Kedung Pring juga perlu diwaspadai, karena kondisi jalan yang cukup lurus dan sempit. Selain itu, jalur tersebut juga merupakan pemukiman warga sehingga arus lalu lintas lokal juga sangat perlu diwaspadai. Selain itu, Jalur Purwokerto-Baturraden juga rawan. Pada musim libur lebaran mendatang, potensi kecelakaan di jalur menuju Baturraden baik jalur utamam jalur timur, maupun jalur barat, diprediksi bakal meningkat, akibat bertambahnya volume kendaraan.
 Diambil dari: http://radarbanyumas.co.id/pemkab-banyumas-siagakan-alat-berat-di-jalur-mudik/ 

H-10 Lebaran, Volume Kendaraan di Wilayah Purwokerto Naik 5 Persen

Volume-Kendaraan-Naik-5-Persen
Radarbanyumas

Masuk H-10 Lebaran, masyarakat mulai berbondong-bondong memenuhi kebutuhan lebaran. Hal itu menyebabkan kemacetan di beberapa titik di wilayah Perkotaan Purwokerto, khususnya di pusat-pusat perbelanjaan. Menurut Kabid LLAJ Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Achmad Riyanto, kemacetan disebabkan meningkatnya volume kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat di wilayah Perkotaan Purwokerto. “Dari catatan sementara, kenaikan volume kendaraan di wilayah Purwokerto mencapai 5 persen jika dibandingkan hari-hari biasa,” katanya. Dari pantauan Radarmas, sejak Sabtu (25/6) hingga Minggu (26/6) siang, kepadatan kendaraan terjadi di sejumlah persimpangan yang dekat dengan pusat perbelanjaan. Seperti Simpang Kebondalem, Simpang Pier Suman (Sri Ratu), Simpang Suto Suman (Srimaya), Simpang Palma, hingga Simpang Sawangan. Bahkan beberapa ruas jalan seperti Jalan Kampus, HR Bunyamin, hingga Jalan Suharso (Kompleks GOR Satria Purwokerto) juga tak luput dari titik-titik kepadatan lalu lintas. Achmad menjelaskan, pemasangan barikade di beberapa ruas jalan cukup efektif. Hanya saja, masih ada pengguna jalan yang nekat melanggar barikade sudah dipasang sejak pekan lalu tersebut. Tidak hanya itu, kondisi parkir sembarangan yang masih terlihat di beberapa titik juga menjadi salah satu kendala terjadinya kepadatan lalu lintas di dalam kota saat ini. “Pemantauan terus kita lakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengawasan di ruang kontrol ATCS juga menjadi salah satu solusi mengatasi kemacetan, terutama untuk mengatur dan menegur pengendara yang berpotensi menyebabkan kemacetan,” jelasnya. Kasi Keselamatan dan Penertiban Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas R Hermawan mengatakan, mulai pekan ini pihaknya akan memaksimalkan tim patroli untuk menertibkan parkir termasuk untuk melakukan pengawasan terhadap tarif parkir. Menurutnya, penertiban parkir dilakukan untuk memperlancar arus lalu lintas yang ada di wilayah kota, karena salah satu faktor yang mendorong terjadinya kemacetan adalah banyaknya parkir liar yang ada di wilayah kota, disamping peningkatan volume kendaraan. “Mulai Senin (27/6) kita akan mulai muter dengan tim patroli parkir. Tim nanti akan fokus pada penertiban pelanggaran parkir, termasuk parkir liar yang saat ini masih banyak terjadi. Yang terpenting pengawasan tarif parkir,” tegasnya. Berdasarkan evaluasi tahun lalu, kenaikan tarif parkir kerap terjadi mendekati lebaran, terutama di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Untuk itu Dinhukominfo bakal melakukan antisipasi dengan melakukan pantauan tarif parkir secara berkala. Hal itu dilakukan untuk memastikan pungutan tarif sesuai dengan aturan yang berlaku. Sesuai Perda Nomor 19 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum, tarif parkir di Banyumas yaitu Rp 1.000 untuk sepeda motor, Rp 2.000 untuk mobil, dan Rp 5.000 untuk bus sedang. “Yang tidak sesuai tarif nanti akan kita panggil, baik petugas dan koordinatornya,” ujarnya 
Diambil dari: http://radarbanyumas.co.id/h-10-lebaran-volume-kendaraan-di-wilayah-purwokerto-naik-5-persen/

Jumat, 24 Juni 2016

Gubenur Ganjar Serahkan Ijin Pendirian RSNU Sumpiuh.

Humas Kabupaten Banyumas



.
PURWOKERTO - Gubenur Jateng Ganjar Pranowo menyerahkan Ijin Pendirian Rumah Sakit Nahdatul Ulama (RSNU) sumpiuh dan meresmikan Bengkel Otomotif SMK Ma'arif NU Sumpiuh , Kamis (22/6) kemarin, peresmian ditandai dengan penandatangan Prasasti, pengguntingan pita dan peninjuan Gedung.
Bupati Achmad Husein dalam sambutan selamat datang mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi berdirinya rumah sakit dan merupakan kerja keras dari para kyai yang sudah sepuh tapi semangatnya sangat tinggi untuk mewujudkannya.
" Pak Gubenur Rumah Sakit ini memiliki perjalanan yang panjang, pertama beli tanah di dekat Rumah Makan Pring Sewu dan merupakan daerah hijau dan saya tidak menginjinkan karena memang aturan ngga boleh , dan tidak pantang menyerah beli lagi di sini kebetulan dekat dengan puskesmas, saya didatangi lagi oleh para kyai sepuh kurang lebih 8 orang, waktunya pagi-pagi habis subuh dan setelah saya konsultasikan dengan dinas, ternyata tidak masalah karena pelayanannya berbeda" jelasnya.
Husein juga menjelaskan, pendirian RSNU merupakan hasil gotong royong dari masyarakat yang begitu lama dan dapat diapresiasi karena komitmen dan keseriusannya " Pak Gubenur ini juga wujud gotong royong yang luar biasa begitu lama dan sangat komitmen dan serius walapun penggiatnya adalah kyai yang sudah sepuh tapi semangatnya sangat luar biasa, dan saya ucapkan selamat dan sukses" imbuhnya.
Sementara Gubenur Ganjar dalam sambutannya mengatakan, pendirian rumah sakit ini merupakan wujud dari spirit gotong royong yang luar biasa yang dapat ditiru dan dicontoh untuk mewujudkan banyak keinginan karena dengan gotong royong akan menjadi lebih mudah.
"Saya sangat mengapresiasi spirit gotong royong untuk mendirikan Rumah Sakit ini, dan berharap kiprah rumah sakit tidak hanya melayani kesehatan, tapi turut serta menciptakan prilaku sehat masyarakat dengan menggerakan masyarakat untuk hidup bersih, gerakan PSN dan menghimbau untuk tidak membuang kotoran disungai" terangnya

Terkait dengan keberadaan bengkel otomtif SMK Ma'arif, Ganjar mengatakan, Provinsi Jawa Tengah menjadi percontohan vokasi tingkat nasional karena jumlah SMK yang ada sangat banyak, yang akan mampu menciptakan tenaga yang siap pakai yang dibutuhkan dunia usaha saat ini,
Ganjar juga mencontohkan pendidikan di Jerman dimana siswa lebih banyak magang dari pada pendidikan teori sehingga setelah lulus akan memiliki dua sertifikat yaitu ijazah dan sertifikat keahlian " Saya pernah ke Jerman dan pendidikan disana sangat maju, siswa lebih banyak diarahkan ke magang, 3 hari pelajaran sisanya magang dalam satu minggunya dan setelah lulus dapat dua sertifikat yaitu ijazah dan sertifikat keahlian, coba kalau bisan ditiru" tambahnya.
Ditambahkannya pula bahwa Provinsi Jawa Tengah saat ini juga telah mendirikan SMK Jateng yaitu di Semarang dan Pati yang memberikan pendidikan gratis dan diperuntukan hanya untuk kaum duaafa " Provinsi Jateng saat ini sudah memiliki SMK Jateng di Semarang dan Pati, dikhususkan untuk siswa dari Keluarga miskin, tidak dipungut biaya apapun, dari sepatu, baju, buku, tas semua dibelikan, tinggal sekolah dan serius, dan tahun ini baru meluluskan siswanya" imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut Ganjar juga menitipkan agar para tokoh agama dan masyarakat bersama sama mengantisipasi ancaman bangsa saat ini yaitu narkoba dan terorisme " Pak Kyai di Indonesia saat ini setiap hari kurang lebih 30-40 orang meninggal karena narkoba, yang bisa menyelesaikan orang tua, guru dan para tokoh agama dan masyarakat, serta terororisme yang sudah sangat membayahakan untuk selalu diwaspadai" pintanya.
 

Rencana Jembatan Merah dan Jalan Lingkar Patikraja

2017 Pemkab Bangun Duplikat Jembatan Merah dan Jalan Lingkar Patikraja

Humas Kabupaten Banyumas
Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di wilayah Patikraja tepatnya sekitar pasar Patikraja Pemerintah Kabupaten Banyumas akan membangun duplikat Jembatan Merah yang menghubungkan Patikraja dan Mandirancan tepatnya pasar Patikraja ke arah keselatan dan membuat jalan lingkar sebidang Kedungrandu - Patikraja sepanjang 1,2 km.
Pembangunan duplikat Jembatan Merah akan ditempatkan disebelah kanan atau sebelah barat jembatan lama dengan panjang 110 m lebar 7 meter sedangkan jalan lingkar Patikraja sepanjang 1,2 m dan akan membuat jembatan baru dan berakhir disebelah barat lokasi pasar hewan Desa Notog Kecamatan Patikraja yang sekarang dalam tahap pembangunan.
Kepastian pembangunan kedua proyek disampaikan oleh Kepala Dinas Sumber Daya Mineral dan Bina Marga DR.Ir Irawadi CES pada saat mendampingi Bupati Banyumas melakukan cek lokasi di kedua calon lokasi proyek tersebut, Jum'at (24/6)
Irawadi menjelaskan , pembangunan kedua proyek tersebut akan dibiayai oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Kabupaten Banyumas " ini merupakan hasil dari pendekatan dan upaya Bupati Banyumas Achmad Husein kepada pemerintah pusat khusunya Kementrian Pekerjaan Umum yang siap menggelontorkan anggaran dengan ketentuan untuk pembebasan tanahnya dibiayai oleh Pemkab Banyumas" terangnya.
Irawadi merinci, untuk pembangunan duplikat jembatan Merah Pemkab Banyumas akan membiayai pembebasan tanah dan bangunan bawah jembatan, sedangkan untuk jalan lingkar patikraja Pemkab membiayai pembebasan tanahnya.
" kita akan menganggarkan pembebasan tanah untuk pembangunan duplikat jembatan merah di perubahan Anggaran 2016 juga untuk pembebasan tanah jalan lingkar Kedungrandu - Patikraja sedangkan pembangunan bawah jembatan akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2017, dan diharapkan 2017 seluruh pembangunan akan selesai" terangnya.
Bupati Achmad Husein disela kunjungannya mengatakan, kedua proyek ini bertujuan untuk mengurai kemacetan disekitar pasar Patikraja yang tidak hanya pada menjelang dan setelah lebaran tapi juga pada hari hari libur.
Husein berharap masyarakat untuk turut serta mensukseskan kegiatan ini karena dampaknya akan dinikmati oleh masyarakat itu sendiri."Nanti setelah kedua proyek ini rampung arus lalulintas dari arah Kebasen dan Banyumas dan sebaliknya dari Purwokerto maupun Patikraja menuju ke Kebasen, Banyumas dan Cilacap akan lancar, juga akan menumbuhkan perekonomian masyarakat di Kebasen, Banyumas bahkan sampai ke Sampang Cilacap, dan untuk pembangunan jalan lingkar Patikraja akan mengatasi kemacetan kendaraan dari Purwokerto menuju Bandung maupun dari luar kota menuju Purwokerto yang melalui jalur selatan" jelasnya

Kamis, 23 Juni 2016

Pemudik Diarahkan Melalui Jalan Lingkar Sumpiuh


Jalan Lingkar Sumpiuh Siap Dilalui Pemudik

Foto: suaramerdeka.com/ Fadlan M Zain
suaramerdeka.com 

Gubnernur Jateng Ganjar Pranowo mersemikan operasional Jalan Lingkar Sumpiuh (JLS), Rabu (22/6). Jalan sepnjjang kurang lebih lima kilometer itu siap digunakan pada saat arus mudik dan balik Lebaran mendatang.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat, I Ketut Darmawahana, mengatakan jalan itu digunakan untuk mengurai kemacetan di jalur selatan khususnya, ruas Buntu-Tambak. “Pembangunan jalan ini untuk menghindari adanya persimpangan Kereta Api. Untuk pengaturan lalu lintasnya telah dikoordinasikan dengan Dinas perhubungan dan kepolisian. Saat ini paling hanya kurang penerangan,” kata dia.
Kebutuhan rambu-rambu lalu lintas seperti lampu lalu lintas telah tersedia. rambu lalu lintas telah dopasang di pintu masuk bagian barat dan timur. Sedangkan lampu lalu lintas portabel dipasang di dua persimpangan jalan kabupaten dan JLS.

Sementara itu Gubernur Jateng, meminta masyarakat yang rumahnya di sekitar jalan lingkar untuk lebih berhati-hati. Pasalnya pada saat arus mudik-balik mendatang, jalan baru itu dipastikan akan padat kendaraan bermotor.

Pemudik Diarahkan Melalui Jalan Lingkar Sumpiuh


suaramerdeka.com 

 Seluruh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Sumpiuh diarakan untuk melalui jalan lingkar. Hal itu untuk menghindari kepadatan lalu lintas di jalan utama akibat aktivitas pasar dan perlintasan kereta api.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Banyumas, Santoso Eddy Prabowo, mengatakan tidak ada pengaturan lalu lintas secara khusus untuk menghadapi arus mudik dan balik Lebaran mendatang.
Pihaknya telah memasang Rambu Pendahulu Penunjuk Jalan (RPPJ) di jalan utama menjelang pintu masuk jalan lingkar sisi barat dan timur. Rambu itu berisi informasi adanya potensi kemacetan akibat pasar tradisonal di jalan utama, sehingga para pemudik diimbau melalui jalan lingkar.
“Pada saat arus mudik dan balik nanti tidak ada pengaturan lalu lintas khusus. Seluruh kendaraan, termasuk kendaraan berat kami lempar melalui jalan lingkar. Kendaraan berat juga akan lebih mudah lewat situ, karena tidak lewat tanjakan,” katanya, Kamis (23/6).
Sebelumnya, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, I Ketut Darmawahana, mengatakan jalan itu digunakan untuk mengurai kemacetan di jalur selatan, khususnya ruas Buntu-Tambak.


Rabu, 22 Juni 2016

Banjir dan longsor di Sumpiuh dan Tambak

Akses Jalan Masih Tertutup
Terdeteksi 42 Titik Longsor

suaramerdeka

Penanganan longsor di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak terkendala peralatan berat . Sampai kemarin, akses jalan menuju Dusun Karang Jambe, Siwarak Kulon, Plandi dan Kedung Eyang masih tertutup.
Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, titik terparah longsor berada di jalur Watuagung- Siwarak Kulon dan Siwarak Kulon-Plandi. Jalur Watuagung-Siwarak Kulon belum dapat dilalui kendaraan. Material longsor berupa tanah, batu dan pepohonan masih menutup jalur Watuagung- Siwarak Kulon.
Dari total 10 titik longsor di jalur itu, hingga kemarin baru dibuka sekitar enam titik menggunakan begu. Sementara jalur Siwarak Kulon-Plandi, Watuagung- Karangjambe dan Watuagung- Kedung Eyang sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail. Warga bersama sejumlah sukarelawan dan instansi terkait membersihkan material secara manual.
Kades Watuagung, Sugito, mengatakan, berdasarkan pendataan tercatat sebanyak 42 titik longsor yang menutup badan jalan. Di mana lebih dari separuhnya merupakan longsor besar. Pembersihan material longsor itu harus menggunakan alat berat, seperti begu.
”Kalau hanya dengan alat manual mungkin membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, karena sangat banyak. Saat ini alat berat yang tersedia batu ada satu unit untuk membersihkan material longsor di Watuagung-Siwarak Kulon,” jelas dia. Dia mengatakan, telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulngan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas.
Pihaknya berharap material seluruh material longsor yang menutup badan jalan dapat segera dibersihan, sehingga akses warga dapat dibuka kembali. Sementara itu, bantuan untuk warga di empat dusun itu telah mengalir sejak kemarin.
Pengiriman bantuan logositk berupa bahan-bahan makanan hanya dapat dikiim menggunakan kendaran roda dua jenis trail dan berjalan kaki. ”Yang dibutuhkan warga sekarang adalah bantuan bahanbahan makanan. Bantuan mulai dikirim sejak kemarin (Senin), hari ini (kemarin) pengiriman dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor trail,” ujar dia.
Seperti diberitakan sedikitnya 600 warga di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak masih terisolir pasca longsor yang terjadi, Sabtu (18/6) malam. Penyaluran bantuan untuk para korban terhambat karena material longsoran masih menutup akses jalan utama menuju wilayah itu.
Perisitwa itu longsor dan banjir bandang itu juga menyebabkan satu korban meninggal dunia. Korban, Sumini (60), warga Dusun Pelawetan RT 7 RW III ditemukan tertimbun material longsor, Minggu (19/6) siang.


Diterjang Banjir, SDN Siwarak Kulon Butuh Penanganan
suaramerdeka.com
Banjir dan longsor di Desa Watuagung mengakibatkan bangunan Sekolah Dasar (SD) Negeri Siwarak Kulon terendam dan rusak. Sejumlah peralatan seperti komputer dan buku-buku juga rusak karena terndam air.
Selasa (21/6) puluhan siswa-siswi, guru dan sukarelawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) serta Barisan Serabaguna Ansor (Banser) membersihkan materail lumpur yang masuk di dalam ruangan dengan ketinggian hingga 0,5 meter.
Kepala SD N Siwarak Kulon, Sutiyo, mengungkapkan ketinggian air pada saat mencapai 1,5 meter. Air itu berasal dari luapan Sungai Siwarak yang berada di depan sekolah. Seluruh bagian sekolah yang terdiri dari dua bangunan itu terendam.
“Hanya beberapa peralatan yang sempat diselamatkan seperti laptop. Kalau komputer, printer semuanya rusak. Buku induk siswa juga ikut terendam. Beruntung dokumen-doumen siswa kelas 6 yang baru lulus dapat diselamatkan,” katanya di sela-sela kegiatan.

Komanda Tagana, Ady Chandra mengatakan, pembersihan material banjir di sekolah menjadi prioritas. Pasalnya fasilitas itu merupakan salah satu fasilitas penting yang harus segera mendapatkan penanganan.

Penanganan Longsor Watuagung Terkendala Alat

TERTUTUP TOTAL: Jalan utama penghubung Watuagung-Siwarak Lulon masih tertutup total.(suaramerdeka.com/Fadlan M Zain)
suaramerdeka.com 
Penanganan longsor di Desa Watuagung, Kecamatan Tambak terkendala peralatan. Sampai siang ini, akses jalan menuju empat Dusun, masing-masing yakni Dusun Karang Jambe, Siwarak Kulon, Plandi dan Kedung Eyang masih tertutup.
Berdasarkan pantauan, titik terparah longsor berada di jalur Watuagung-Siwarak Kulon dan Siwarak Kulon-Plandi. Jalur Watuagung-Siwarak Kulon sama sekali belum dapat dilalui kendaraan.
Material longsor berupa tanah, batu dan pepohonan masih menutup jalur Watuagung-Siwarak Kulon.  Dari total lebih dari 10 titik longsor di jalur itu, hingga kemarin siang baru berhasil dibuka sekitar enam titik menggunakan alat berat.
Sementara jalur Siwarak Kulon-Plandi,  Watuagung-Karangjambe dan Watuagung-Kedung Eyang sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda dua jenis trail. Warga bersama sejumlah sukarelawan dan instansi terkait melakukan pembersihan material secara manual.
Kades Watuagung, Sugito, mengatakan berdasarkan pendataan tercatat sebanyak 42 titik longsor yang menutup badan jalan. Di mana lebih dari separuhnya merupakan longsor besar. Pembersihan material longsor itu harus menggunakan alat berat.

“Kalau hanya dengan alat manual mungkin membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, karena sangat banyak. Saat ini alat berat yang tersedia batu ada satu unit untuk membersihkan material longsor di Watuagung-Siwarak Kulon,” jelas dia.

Korban Banjir Ditangani dengan Dana Taktis

suaramerdeka.com
Penanganan bencana tanah longsor dan banjir di beberapa desa di Kecanatan Sumpiuh dan Tambak sampai kemarin masih menggunakan anggaran taktis yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Sedangkan usulan anggaran tanggap darurat dari pos bantuan tidak terduga (BTT) yang sudah dianggarkan di APBD 2016 ini, sejauh ini belum masuk ke Pejabat Pengelola Anggaran Daerah (PPAD) di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD).
Kepala DPPKAD, Irawati mengatakan, anggaran tanggap darurat bencana selalu siap dipakai sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Saat persyaratan pengajuan dari dinas teknis sudah masuk, maksimal dua hari sudah bisa dicairkan. ”Kalau persyaratan lengkap, standar operasional prosedur (SOP) di kami minimal dua hari dan tyidak ada kesulitan.
Kita lakukan ini agar tidak menimbuilkan permasalahan sehingga aturannya harus kita cermati dan dilakukan secara hati-hati. Niate nulungi orang malah bisa kepentung,” katanya. Sebenarnya prosedurnya tidak rumit. Setelah ada kejadian, dinas teknis langsung bisa mengajukan penggunaan BTT.
Dana ini hanya boleh dipakai untuk penanganan tanggap darurat, tidak boleh untuk alokasi kegiatan permanen. ”Tanggap darurat misalnya untuk menolong korban, pembelian sandang dan makanan, relokasi hunian sementara, jembatan sementara, menyambung jalan putus sementara. Untuk permanen yang tidak boleh, misalnya untuk membangun tembok pasar atau rumah warga yang jebol kena banjir.
Ini kan bukan darurat,” jelasnya. Kepala Bidang Perbendaharaan DPPKAD, Agustina Hernawati mengatakan, sesuai Pasal 17 Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan, anggaran tanggap darurat bencana masuk pos belanja tidak terduga.
Mekanisme permohonannya, setelah ada penetapan tanggap darurat, usulan kebutuhan anggaran diajukan oleh BPBD atau dinas teknis lain kepada Pejabata Pengelola Keuangan Daerah di DPPKAD. ”Pengajuan harus disertai rencana penggunaan anggaran, tidak perlu memakai dokumen penggunaan anggaran (DPA). Kalau DPA khusus untuk belanja langsung.
Khusus yang BTT, yang penting disertai rencana penggunaan anggaran seperti RAB,’’jelasnya. Dana BTT, di antaranya digunakan untuk penyelemanatan korban atau evakuasi korban bencana, kebutuhan sandang pangan, pelayanan kesehatan.
Anggaran yang diajukan tidak boleh lungsuran, namun harus disertai rincian rencana penggunaan. ”Kalau yang dikelola di BPBD itu masuk belanja langsung harus melalui DPA, belanja tidak terduga ada di DPPKAD. Untuk pencairannya pengajuan lewat dinas teknis,” jelasnya.
Sejauh ini, katanya, belum ada permohonan pengajuan penggunaan dana BTT untuk tanggap darurat bencana di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak. Pihaknya menangani paling terakhir setelah adminstrasi selesai, proses pencairan langsung diurus.
”Kalau ada pengajuan ke saya, ini yang terakhir setelah proses administrasi selesai, jadi saya belum tahu sudah mengajukan apa belum dari dinas teknis (BPBD-red),’’katanya. Menurutnya, anggaran BTT2016 ini dialokasikan sekitar Rp 5 miliar. Sedangkan yang sudah terpakai atau realisasi untuk penanggulangan Kejadian luar Biasa (KLB) Deman Berdarah Dengue Rp 1.462.820.600.
Dana itu dicairkan Maret lalu melalui Dinas Kesehatan. Kepala BPBD Kabupaten Banyumas, Prasetyo Budi Widodo mengakui, usulan dana tanggap darurat bencana baru dihitung rencana kebutuhan dari dinas teknis, khususnya SDABM dan Dinperindagkop. Setelah RAB selesai, pihaknya memberikan surat pengantar untuk permohonan pencairan ke PPAD di DPPKAD.
”Sementara ini untuk tanggap darurat memakai anggaran yang ada di BPBD dulu, termasuk persediaan logisltik yang ada. Kita masih punya stok, dari PMI ada bantuan beras, ada bantuan dari organisasi yang peduli. Ini yang kita manfaatkan dulu. Kita juga minta bantuan untuk selimu dan sarung dari Banjarnegara, karena banyak perabot rumah tangga yang kebawa banjir.
Ini dimintakan bantuan ke Banjar karena di sana bantuan melimpah,” ujarnya. Anggaran belanj langsung yang dikelola BPBD, kata dia, tahun ini hanya Rp 30 juta. Ini untuk kebutuhan makan sukarelawan dan korban bencana. Sebagian sudah digunakan. Untuk pencairannya tidak sulit karena melekat di DPA BPBD.
Selain itu, ada anggaran belanja barang dan jasa Rp 80 juta. Ini untuk logisltik. Usulan anggaran tanggap darurat, di antaranya, pembuatan jembatan sementara di Desa Bogangin Kecamatan Sumpiuh. Untuk makanan sudah mendirikan dapur umum di Purwodadi Kecamatan Tambak. Dapur umum ini melayanii 225 jiwa untuk Desa Purwodadi dan Desa Kamulyan.
”Untuk Gerumbul Karangjambe Desa Watu Agung Kecamatan Tambak yang sempat terisolasi 90 keluarga di RT5/RW3 dan RT4/RW 3, hari ini (kemarin) sudah bisa dibuka. Ada sekitar 100 orang relawan, dari TNI/Polri dan masyarakat dikerahkan ke lokasi. Untuk di Bogangin fokus menyingkirkan kayu-kayu yang menghalangi,” jelasnya. 

Jalur Utama Bergelombang, Jalur Alternatif Mulus

Jalur Mudik Ajibarang-Pekuncen
CEPAT RUSAK: Jalur utama Ajibarang-Bumiayu di wilayah Pekuncen yang ramai dilintasi pemudik saat arus mudik dan balik lebaran rawan berlubang dan bergelombang. (suaramerdeka.com/Susanto)

suaramerdeka.com:
 Kondisi jalur utama di perbatasan Brebes-Banyumas hingga Ajibarang saat ini terus mengalami perbaikan oleh pemerintah. Sayang, banyak jalan yang masih bergelombang sehingga para pemudik yang sebentar lagi akan melintas perlu hati-hati.
Warga Pekuncen, Fikri Akbar mengatakan jalur utama yang berada di wilayah Kecamatan Pekuncen merupakan jalur yang cepat mengalami kerusakan. Pasalnya selain sempit dan sering diguyur hujan, jalur ini juga merupakan kawasan lintasan seluruh kendaraan termasuk kendaraan bermuatan berat dari dan ke arah Jakarta. “Meski tak sebanyak tikungan arah jalan selatan Wangon-Lumbir, namun jalan Ajibarang-Bumiayu memang juga banyak tikungan tajam yang rawan kecelakaan. Makanya perlu perhatian khusus dan secepatnya ada peningkatan dan pelebaran jalan,” katanya, Senin (20/6).
Anggota DPRD Banyumas asal Pekuncen, Samsudin juga mendorong agar pemerintah daerah kabupaten Banyumas untuk mendesak pemerintah provinsi ataupun pusat untuk segera melebarkan jalur Ajibarang-Bumiayu terutama hingga perbatasan Brebes-Banyumas. Pasalnya jalan ini sejak beberapa tahun terakhir sering dirundung kepadatan dan kemacetan saat arus mudik dan arus balik lebaran tiba.
Sementara itu, Kapolsek Pekuncen, AKP Sutarno mengatakan berbeda dengan jalur utama yang masih banyak dikeluhkan warga, kondisi jalur alternatif arus mudik lebaran di wilayah Pekuncen terbilang cukup bagus dan mulus. Jalan alternatif arah Brebes menuju Banyumas bisa diakses mulai dari Desa Krajan, Kranggan, Pekuncen, Pasiraman Lor, Tumiyang dan Banjaranyar.
Jalur tersebut bisa mengantarkan para pemudik menuju arah Cilongok ataupun Ajibarang di tengah kepadatan kendaraan di jalur utama sepanjang delapan kilometer. “Kondisi jalur alternatif yang ada sudah terbilang bagus dan halus, namun kondisinya sempit dan minim penerangan sehingga harus hati-hati ketika melintasinya,” jelasnya.
Berbeda dengan jalur Ajibarang Pekuncen yang sempit, bergelombang dan cepat terjadi kerusakan, kualitas jala di jalur Wangon-Lumbir (perbatasan Banyumas Cilacap), Ajibarang Purwokerto dan Ajibarang-Wangon terbilang cukup bagus karena belum lama ini mengalami peningkatan, pelebaran jalan, perbaruan drainase dan penguatan tebing rawan longsor.
Kapolsek Ajibarang, I Putu B Krisna melalui Wakapolsek Ajibarang, Iptu Mujono mengimbau kepada warga untuk mewaspadai kepadatan kendaraan lalu lintas di Ajibarang-Wangon ketika puncak arus mudik dan arus lebaran. Makanya solusi efektif untuk mengurangi kepadatan kendaraan dari arah Jakarta menuju Yogyakarta lewat Wangon adalah pengalihan kendaraan menuju arah Kota Purwokerto. 

Warga Pekuncen Mulai Dirikan Warung Tiban Sepanjang Jalur Mudik



Warung-Tiban
Radar Banyumas:
PEKUNCEN-Memasuki hari ke 16 puasa Selasa (21/6) kemarin, sejumlah warga di Kecamatan Pekuncen, terutama yang berada didekat jalur utama Pekuncen-Purwokerto, mulai mendirikan kios tidak permanen atau lapak dan warung tiban di sepanjang jalur mudik. Pedagang warung dadakan, Ahmad Sujawin (49) warga Banjaranyar Pekuncen mengatakan, dirinya sengaja mendirikan warung untuk mengais keuntungan dengan menjaring pembeli dari kalangan pemudik yang melintas di jalan raya Pekuncen. Hal itu sudah dia lakukan sejak empat tahun yang lalu dengan mendirikan warung sederhana di tepi jalan raya. “Biasanya ramai setiap mudik dan arus balik, sehingga saya ikut-ikutan mendirikan warung. Saya harap nanti banyak pemudik yang mampir untuk membeli minuman dan makan,”ujarnya. Menurut Ahmad, biasanya setiap mendekati lebaran puluhan warung dadakan itu berderet di sepanjang jalan raya Pekuncen. Jarak antara satu warung dengan warung lainnya berkisar antara lima hingga 10 meter. Mereka menunggu pengguna jalan mampir dan membeli makanan kecil, seperti mie instan, kolak, susu, kopi, dan masih banyak yang lain. Makanan kecil itu untuk berbuka puasa. Namun, sampai H-14 lebaran, baru warung milik dia yang sudah berdiri dan siap menyambut pemudik. 


Warung dan Toilet Dadakan Mulai Didirikan
Sambut Arus Mudik dan Balik

suaramerdeka.com
MESKI arus mudik dan balik Lebaran kurang beberapa hari lagi, sejumlah warga yang tinggal di tepi jalur tengah Ajibarang- Bumiayu khususnya di wilayah Kecamatan Pekuncen mulai mendirikan warung tiban dan toilet dadakan.
Pada pertengahan Ramadan kemarin, mereka sudah mulai bersiap menyambut kedatangan pemudik dari arah Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Mereka rela mengeluarkan modal mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk bisa mendirikan warung dan toilet dadakan tersebut. Mereka berharap saat arus mudik dan balik Lebaran nanti bisa meraup untung sebanyak-banyaknya.
”Saya sudah menghabiskan sekitar Rp 3 juta untuk mendirikan warung makanan. Yang penting usaha dulu, masalah hasil diserahkan kepada Tuhan,” jelas Sugeng warga Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen yang tiap tahun membuka warung tiban.
Kemarin, bersama istrinya terus membenahi warung tiban beserta kelengkapannya termasuk meja kursi bagi para pemudik. Ukuran warung yang dibangun menggunakan bahan kayu, bambu, kalsibot, genteng itu 5 meter x 4 meter. Warung tak permanen itu dipersiapkan untuk menampung makanan bakso, mi ayam, soto dan berbagai makanan lainnya.
Rp 900 Ribu
Sementara untuk membuat toilet dadakan, dia mengeluarkan uang sekitar sekitar Rp 900 ribu. Toilet ukuran 2,5 meter x 1 meter itu berdiri di atas saluran irigasi tepi jalan Ajibarang-Bumiayu. Bangunan tersebut dibagi menjadi dua bilik. Sementara untuk sumber air, disodetkan dari pipa saluran air bersih yang mengalir di tepi jalur ini.
”Untuk menyambungkan air ini kami harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu. Kami berharap saat arus mudik dan balik Lebaran nanti, banyak pemudik yang singgah di sini,” jelasnya. Tak jauh dari warung tiban milik Sugeng, dengan jarak 10 meter, juga berdiri sejumlah warung tiban dan toilet dadakan lainnya. Warung-warung tidak permanen itu berdiri di dekat tepi jalan utama.
Di sepanjang jalan Banjaranyar hingga wilayah Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen yang berbatasan dengan Brebes, sedikitnya telah ada puluhan warung tiban yang mulai didirikan warga. Sebagian lagi memang telah menjadi warung permanen yang buka tiap musim. Mugi (30) pedagang warung tiban di Jalan Karangnangka menyatakan membuka warung mulai pertengahan Ramadan.
Berbagai makanan dan minuman terutama makanan khas berbuka puasa berupa es kelapa muda, takjilan disediakan. Tak mengecewakan, warungnya selalu laris dan laku. ”Kita memang lebih awal mendirikan warung mudik (warung tiban) ini. Namun memang untuk keramaian arus mudik biasanya terjadi sekitar tiga hari jelang Lebaran nanti.
Bahkan yang lebih ramai lagi adalah arus balik biasanya sampai seminggu,” ujarnya. Selain berdagang pada hari menjelang Lebaran, pedagang akan baru membongkar lapak usai arus balik Lebaran usai. Diperkirakan warung tiban di sepanjang jalur mudik ini akan bertahan hingga seminggu usai Lebaran.

Wilayah Kota Purwokerto Diupayakan Steril dari Kendaraan Pemudik

Wilayah-Kota-Steril-Pemudik
Radar Banyumas:
Lalu lintas perkotaan Purwokerto bakal diupayakan steril dari kendaraan mudik pada masa arus mudik dan balik. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi beberapa titik kemacetan di dalam kota, terutama di perlintasan KA Jenderal Soedirman. Kabid LLAJ Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Achmad Riyanto menjelaskan, beberapa langkah antisipasi yang dilakukan antara lain pengalihan arus sejak dini terutama untuk kendaraan yang berasal dari arah Barat. Menurutnya, kendaraan pemudik akan diarahkan langsung menuju Tanjung dan diurai kembali tergantung tujuan masing-masing pemudik. “Sebisa mungkin kendaraan pemudik tidak kita arahkan melalui jalur kota, karena lalu lintas dalam kota sudah cukup padat,” jelasnya. Dia menambahkan, selain pemasangan barikade juga akan dipasang rambu penunjuk jalan di beberapa persimpangan. Lebih lanjut dikatakan, wilayah perlintasan KA khususnya di perlintasan KA Jenderal Soedirman menjadi perhatian khusus Dinhubkominfo. Tidak hanya pada saat arus mudik, wilayah tersebut terpantau selalu padat pada hari-hari biasa. “Selain mengurangi jumlah kendaraan, kita juga mengantisipasi adanya risiko kecelakaan di sekitar wilayah perlintasan Jensoed,” tegasnya. Untuk kendaraan dari arah Timur, lanjut Achmad, akan diarahkan ke beberapa jalur yang lebih senggang. “Untuk wilayah Simpang Sokaraja akan kita dirikan posko dan petugas yang siap mengatur kepadatan lalin,” jelasnya. Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Santosa Eddy Prabowo menjelaskan, musim mudik tahun ini akan dioperasionalkan Jalan Gunung Tugel untuk jalur alternatif mudik khusus kendaraan pribadi. Hal itu bisa mengurangi kepadatan di wilayah dalam kota. “Selain itu, waktu tempuh juga akan lebih efektif. Sehingga untuk kendaraan umum, tetap difokuskan di jalur-jalur utama,” katanya. 

Diambil dari: http://radarbanyumas.co.id/wilayah-kota-purwokerto-diupayakan-steril-dari-kendaraan-pemudik/ Copyright © Radarbanyumas.co.id