Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 31 Maret 2017

BBSSO Akan Bangun IPAL di Permukiman

Kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga masih rendah. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai masih banyak yang membuang limbah cair dan padat langsung ke sungai.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSO), Tri Bayu Aji, mengatakan limbah rumah tangga atau industri dilarang dibuang langsung ke sungai. Limbah tersebut hendaknya diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai. “Apakah itu (limbah) dari permukiman atau industri harus diolah dulu. Masyarakat kita yang tinggal di pinggir sungai menjadi perhatian utama.
Sekarang limbah rumah tangga langsung dibuang ke sungai,” katanya, kemarin. Untuk meminimalisasi dampak pembuangan limbah, BBSSO akan membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di permukiman warga. Limbah rumah tangga akan diolah di IPAL komunal terlebih dahulu, kemudian dibuang ke sungai.
“Kami akan mulai menahan, agar limbah tidak langsung dibuang ke sungai. Semua limbah rumah tangga akan dibuang ke IPAL komunal. Setelah diolah di IPAl tersebut baru dibuang ke aliran sungai,” ujar dia.
Menurut rencana pembangunan IPAL komunal akan mulai dilakukan tahun ini. Pihaknya akan memfokuskan pembangunan IPAL di permukiman warga yang berdekatan dengan aliran sungai yang terdapat di beberapa kabupaten/kota. “Kami akan memulai pembangunan IPAL pada tahun ini. Rencananya kami akan membangun satu IPAL komunal pada beberapa RT, atau satu RW kami bikin satu.
Tergantung jumlah penduduk yang akan menggunakan,” jelas dia. Terkait jumlah anggaran yang disiapkan, ia belum dapat menyebutkannya secara pasti. Penggunaan anggaran akan dilakukan seefisien mungkin, tergantung kondisi di wilayah masing-masing.
“Yang penting kami bangun dan bermanfaat untuk masyarakat,” sambung dia. Ketua Forum Masyarakat Sungai Serayu, Eddy Wahono, mengatakan untuk mengetahui kualitas air sungai, pihaknya telah menebar sedikitnya 10.000 ekor benih ikan di sekitar bendung Gerak Serayu, Rawalo.
“Pada peringatan Hari Air Dunia kemarin kami melakukan penebaran benih ikan. Penebaran benih ikan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sungai. Kalau ikannya bisa hidup, artinya kondisi air sungai masih bagus,” kata dia. 
sumber Suara Merdeka

Kamis, 30 Maret 2017

Pengembangan Wisata Serayu Terganjal Perizinan

Pengembangan Wisata Serayu Jalan di Tempat

Quote:
Wacana pengembangan wisata air Serayu River Voyage sampai saat ini jalan di tempat. Pengembangan wisata yang digagas Pemkab sejak 2007 lalu itu masih terkendala perizinan.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Banyumas, Didi Rudwiyanto, mengatakan wacana pengembangan wisata air yang digadang-gadang menjadi salah satu objek wisata unggulan itu belum dapat terealisasi. “Kami punya program untuk mengembangankan potensi di aliran Sungai Serayu.

Tidak hanya untuk pengembangan perikanan dan penambangan, tapi juga untuk pariwisata. Namun sampai saat ini izinnya belum keluar,” katanya, kemarin.

Salah satu yang menjadi ganjalan ialah izin penggunaan tanah milik negara untuk pembuatan dermaga. Menurut rencana Pemkab akan membuat beberapa dermaga di sepanjang alir Sungai Serayu, yang melintasi Kecamatan Somagede, Patikraja dan Kebasen. “Kami rencananya membangun dermaga di Somagede, Banyumas dan Patikraja.

Dermaga itu akan dibangun di tanah milik negara. Rencana pembangunan itu belum dapat dilaksanakan karena belum ada izinnya,” jelas dia. Dia berharap wacana pengembangan wisata air itu dapat segera teralisasi. Menurut dia pengembangan wisata itu dapat menekan potensi kerusakan aliran Sungai Serayu akibat aktivitas penambangan liar.

“Dengan pengembangan Serayu River Voyage, diharapkan penambang liar yang biasa beroperasi di Sungai Serayu beralih profesi menekuni industri pariwisata. Sehingga kekhawatiran kerusakan akibat penambangan liar tidak terjadi,” ujar dia. Sementara itu, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Tri Bayu Aji, menyatakan mendukung penuh gagasan dari Pemkab Banyumas.

Pihaknya saat ini masih melakukan kajian usulan pembangunan dermaga. “Saya rasa idenya sangat menarik, kami akan mendukung (pengembangan wisata). Saat ini kami sedang mengkaji usulan pembangunan dermaga, jangan sampai keberadaaan demaga itu menggaggu aliran sungai,” kata dia.
sumber Suara Merdeka

Rabu, 29 Maret 2017

Pembangunan SMK Negeri Lumbir Diusulkan Bupati Banyumas

BANYUMAS MAMPU KURANGI KEMISKINAN 3,59
Banyumas – Pemerintah kabupaten se-eks Keresidenan Banyumas cukup kreatif dalam mengurangi kemiskinan di wilayah masing-masing, kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
"Saya terima kasih karena kabupaten/kota punya cara tersendiri untuk menanggulangi kemiskinan dan cukup kreatif," katanya saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan Wilayah (Musrenbangwil) eks Keresidenan Banyumas di Banyumas, Senin (27/3).
Murenbangwil eks Keresidenan Banyumas yang digelar di Pendopo Duplikat Si Panji, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, dihadiri para kepala daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah serta kepala organisasi perangkat daerah dari Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Gubernur mencontohkan upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan Pemkab Banyumas, dengan cara penambahan gizi dan kalori bagi warga miskin.
Kepala Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah, Dr Margoyono, mengatakan selama Periode 2011-2016, Kabupaten Banyumas mampu menurunkan angka kemiskinan sebesar 3,59 ini diatas nasional 1,27 dan Jateng 2,14.. “Mekipun penduduk miskin masih cukup tinggi, tetapi progres penurunan perlu mendapat perhatian dan perlu upaya yang terus menerus,” katanya.
Data statistik juga mencatat bahwa Kabupaten Banyumas menunjukan kinerja yang baik dengan indikasi yang terukur. Seperti Indek Pembangunan Manusia Banyumas berada diatas IPM Jateng 6,49. “IPM diukur dari harapan hidup, kesehatan, pendidikan dan daya beli,” kata Margoyono.
Pertumbuhan Ekonomi Banyumas juga diatas nasional dan Jawa Tengah yaitu 6,12. Hal ini ditopang dengan adanya industri pengolahan secara luas, pertanian dan kontruksi. Sedangkan Inflasinya terendah di Eks Karesidenan Banyumas.
Usulan Bupati
Dalam musrenbangwil kali ini Bupati Banyumas menyampaian 17 usulan secara langsung pada Gubernur Ganjar Pranowo. Usulan yang disampaikan meliputi usulan sektoral provinsi dan bantuan keuangan provinsi.
Usulan sektoral ada tujuh buah, yakni usulan pembangunan Museum Residen Banyumas dan Patung Bung Karno, pengadaan tanah dan pembangunan SMK Negeri Lumbir dan peningkatan jalan di berabagai tempat.
Keberhasilan perencanaan, dan meningkatnya indikator indek pembangunan mengantarkan Banyumas, meraih penghargaan Pangripta Nusantara. Untuk tahun 2016 menjadi 10 besar Nasional dan tahun 2017 kembali di evaluasi oleh Tim Tingkat Nasional.
sumber FB 
 Ir. Achmad Husein 


Potensial Produk Kambing Etawa Gumelar

Permintaan Susu Kambing Meningkat

Permintaan susu kambing etawa dari konsumen kini mulai meningkat. Hal ini menuntut para peternak untuk mengoptimalkan produksi guna memenuhi permintaan konsumen.
Menurut peternak kambing etawa Gumelar, Ruswoyo, saat ini para pecinta susu kambing etawa sudah banyak. Apalagi susu kambing etawa memiliki banyak kelebihan. Selain nikmat, susu kambing etawa dapat dikonsumsi orang dewasa untuk terapi pengobatan seperti asma, liver, kencing manis dan diabetes.
” Sekarang konsumen dari wilayah eks Karesidenan Banyumas sudah bertambah banyak,” katanya, kemarin. Petani kambing etawa lainnya, Tjarsam beberapa waktu lalu juga mengatakan, pemasaran susu kambing etawa milik para petani Gumelar selain di pasarkan di wilayah Banyumas, juga ke luar kota, seperti Jakarta, Tegal dan Bandung. Produksi susu kambing etawa di wilayah Kecamatan Gulemar untuk rata-rata berkisar antara 5-25 liter per hari.
Harga susu kambing di tingkat peternak berkisar Rp 25.000 per liter. Susu kambing sudah dikemas dengan apik menggunakan plastik, bahkan sebagian mereka sudah memakai merek sendiri beserta keterangan manfaat yang terkandung dalam susu kambing.
”Peternak tetap mengutamakan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen yang telah menjadi pelanggan setia peternak. Susu ini bisa diminum masyarakat untuk keseharian maupun untuk penyembuhan penyakit,” kata Ruswoyo.
Ia juga mengatakan, saat ini peternak mulai menambah indukan kambing etawa supaya produksi susu dapat dioptimalkan. ”Rencana ke depan kami akan menambah jumlah ekor kambing serta mengembangkan pasar ke luar kota,” ujar dia.
sumber Suara Merdeka

Rp 5 M untuk Promosi Wisata Banyumas

Pemkab Banyumas akan memaksimalkan promosi pariwisata hingga ke luar daerah. Tahun ini, anggaran Rp 5 miliar disiapkan untuk kegiatan tersebut.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono mengatakan, dana tersebut digunakan untuk kegiatan promosi di luar daerah. Promosi ini dilakukan untuk mempertahankan kinerja sektor pariwisata yang menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 7,3 miliar. “Dana Rp 5 miliar tersebut terbagi dalam sejumlah pos, termasuk untuk promosi Banyumas ke luar wilayah,” kata dia, Selasa, (28/3).
Saptono mengungkapkan, saat melakukan ekspose pariwisata di Jakarta awal Maret lalu, ternyata banyak yang tidak mengetahui destinasi wisata di Banyumas. Baturraden dan sekitarnya, menjadi satusatunya tempat paling populer. Oleh karena itu, pihaknya akan mengangkat potensi wisata seperti kawasan Taman Kera Cikakak, Cilongok dan Kota Lama Banyumas.
Pemkab saat ini tengah berfokus untuk memperbaiki infrastruktur parwisata di destinasi tersebut. “Perbaikan infrastruktur ke destinasi memang masih dibutuhkan. Papan penunjuk jalan juga demikian,” ujarnya. Saptono mengatakan bahwa Dinas Pariwisata sudah siap menerima wisatawan dari luar Banyumas.
Untuk wisatawan asing, pihak biro perjalanan wisata dan pegiat wisata sudah mampu menarik wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari Belanda, Korea, Singapura, dan Malaysia. “Tahun lalu total wisman yang datang ke Banyumas mencapai 80 ribu, jika ditotal dengan jumlah wisatawan Nusantara menjadi 1,8 juta,” ujarnya. 
sumber Suara Merdeka

Ajibarang Car Free Day

 AJIBARANG CAR FREE DAY
Setelah Wangon sekarang Ajibarang menyusul sebagai kecamatan yang menyelenggarakan kegiatan car free day sebagai tanda kecamatan  yang terus berkembang 

Direncanakan setiap  Minggu pagi mulai jam 05.30 - 09.00 Wib
Ada beberapa kegiatan antara lain Senam, Aerobic, Kesenian, Pit2an, Skateboard, Futsal, Playon, Kedengan neng tengah gili, dll..
Lokasi jalan Ajibarang-Tegal, mulai sekang Pos Polisi sampe SPBU..
credit to Eko C




Senin, 27 Maret 2017

Wangon Car Free Day

Pencetus Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day di Jalan Raya Utara Wangon, Subejo beserta tokoh masyarakat dan Muspika Kecamatan berfoto bersama usai menikmati Car Free Day.

Untuk pertama kalinya pada hari Minggu (26/3/17) Kota Wangon, Banyumas, Jawa Tengah melaksanakan Car Free Day atau hari bebas kendaraan mulai dari Perempatan lampu merah hingga tepat di depan Kantor Polsek Wangon tepatnya di Jalan Utara Wangon. Jalan lurus sepanjang kurang lebih 300 meter tersebut mulai dimanfaatkan Warga untuk melakukan berbagai kegiatan seperti senam pagi, jalan sehat, bersepeda, lari pagi, hingga bermain sepatu roda bahkan ada yang hanya sekedar duduk duduk menikmati segarnya udara pagi.
Car Free Day ini telah di rancang beberapa minggu yang lalu oleh Pemerintah Desa setempat yang berkoordinasi dengan Muspika dan beberapa Instansi terkait hingga tokoh mayarakat . Penutupan jalan terlihat mulai di lakukan pada pukul  05:00 sampai pukul 08:00 Wib. Pagi itu Nampak para petugas Koramil dan Kepolisian serta Anggota Linmas berjaga di depan Pos Polisi Lalu Lintas Wangon . Walau terkesan mendadak pencanangan Car Free Day ini, namun masyarakat terutama antusias menikmati  Jalan Raya tanpa lalu lalang kendaraan bermotor.
Memanfaatkan Car Free Day Nampak Camat Wangon Wahyu Budi S, Kades Wangon Subejo dan beberapa Kepala Desa serta perangkatnya ikut bersenam aerobik. Menurut Subejo Hari Bebas Kendaraan Bermotor ini bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor , sedang tema penting dalam hari bebas kendaraan bermotor ini  adalah tinggalkan kendaraan bermotor di rumah dan berjalan kakilah atau gunakan kendaraan tidak bermotor atau pun menggunakan kendaraan umum untuk perjalanan panjang.
“jadi mulai hari ini setiap Minggu, mari bersama masyarakat lainnya berolahraga dan berinteraksi di sini,dan untuk selanjutnya kami akan sosiialisasikan lebih intens ke sekolah sekolah, pegiat olahraga dan lain lain, ”Katanya.
Sementara itu Camat Wangon Wahyu Budi S, menyambut baik ide dari pelaksanaan Car Free Day. Bahkan dua hari sebelum pelaksanaan (Jum’at,24/3/17) di adakan konsolidasi  dengan pihak Kepolisian dan Koramil serta para Kepala Desa di Pendopo Kecamatan agar terlaksana dengan baik.
Kegiatan ini diharapkan mampu mengurangi emisi karbon atau polusi udara akibat gas pembuangan gas kendaraan bermotor serta memberikan alternative ruang terbuka khusus bagi masyarakat yang dapat digunakan untuk berolahraga dan bermain. Dimana Wangon walaupun banyak daerah bukit namun  merupakan wilayah yang memiliki sedikit presentase Ruang Terbuka Hijau (RTH) dibandingkan dengan luas lahan kota.
“Alhamdulillah hari ini  masyarakat memanfaatkan Car free Day ini, walau gerimis namun kita masih bisa berkumpul berolahraga, selanjutnya di harapkan juga Wangon menjadi sentra wisata Kuliner dengan bertebarannya pedagang berbagai jenis makanan di sini, sehingga dapat meningkatkan perekonomian.” Ungkap Camat.
Sunarto,tokoh masyarakat  dan pengusaha sukses di Wangon yang ikut memanfaat Car free Day dengan berolahraga pun merasa senang dengan pelaksanaan ini. Ia pun berharap bahwa ini dapat di lakukan secara berkesinambungan.
Para pedagang yang berada di sepanjang Jalan raya Utara Wangon juga berharap agar Car Free Day dapat berjalan rutin, namun perlu di sosialisasikan sehingga akan lebih ramai, karena banyak juga yang belum tahu.
“Mungkin perlu woro woro  mas, sehingga kami yang berdagang kaki lima pun jadi tambah pengunjung untuk beli.” Harap Mukti yang sehari hari berdagang bubur di dekat Lampu Merah Wangon.
sumber 1News.id

Polsek Wangon Banyumas Amankan Car Free Day Perdana

Tribratanews.polri.go.id, Polres Banyumas – Bertempat di sepanjang Jalan Wangon Utara di mulai dari perempatan Pos Lantas Wangon, anggota Polsek Wangon, Polres Banyumas, Polda Jawa Tengah amankan kegiatan perdana car free day dengan pengunjung kurang lebih mencapai 250 orang, Minggu (26/3-2017).
Kapolres Banyumas AKBP Azis Andriansyah, S.H., S.I.K., M.Hum melalui Kapolsek Wangon AKP Supriyanto, S.H mengerahkan personilnya dalam pengamanan pelaksanaan acara car free day perdana ini.
“Car Free Day dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat Wangon dan sekitarnya karena ketika kegiatan tersebut diumumkan langsung disambut masyarakat secara antusias.”, ucap Kapolsek.
Kegiatan ini dipelopori oleh Pemerintahan Desa Wangon bersama tokoh masyarakat disekitar Desa Wangon dan didukung penuh oleh unsur Forkompimkec Wangon.
“Mari kita jaga udara disekitar kita agar tetap besih dan sejuk dengan tidak berkendaraan bermotor dari jam 06.00 Win s/d 08.00 WIB.”, ajak Camat Wangon dalam pembukaan perdana Car Free Day di Wangon.
Disisi lain banyak juga masyarakat yang biasa menggunakan jalur tersebut merasa terganggu aktifitasnya, sehingga anggota Polsek yang melakukan pengamanan harus memberikan himbauan dan petunjuk agar masyarakat dapat mengerti dan mendukung kegiatan tersebut.
“Car Free Day berdampak positif bagi masyarakat sehingga acara tersebut direncanakan akan laksanakan secar berkesinambungan setiap hari Minggu ke depan.”, tutup Kepala Desa Wangon Saudara Subejo, S.Pd.





Jumat, 24 Maret 2017

Pembangunan SMKN 2 Purwokerto


Perkembangan dunia pendidikan di Purwokerto cukup pesat tak haanya didominasi pertumbuhan perguruan tinggi  tapi juga ditingkat sekolah menengah.
Salah satunya adalah SMK N2 Purwokerto ini 

Ditargetkan bulan Mei sudah selesai... akan menjadi sekolah termegah di karesidenan banyumas. Dengan 4 lantai + 1 lantai rooftop. Dilengkapi dengan lift dan setiap ruangan memiliki sarana IT yang sangat lengkap. Pemandangan dari atas pun bagus dilihat karena bisa melihat skyline pertumbuhan kota purwokerto ke segala arah. Setelah bangunan itu selesai, akan dibangun masjid termegah untuk skala sekolah disebelah barat bangunan tersebut.
SSCI Purwokerto

pict credit to Riski Doni





Hotel Aston danlainnya dapat dilihat dari lantai 4








Kamis, 23 Maret 2017

Desa Perlu Pelaksana Operasional Kelola BUMDes


Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang terus digencarkan Pemerintah Pusat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, akan dikelola oleh pelaksana operasional. Adapun pemerintahan desa, menjadi pembina atau pengawas.
“Nantinya kekayaan pemerintah desa dan BUMDes juga dipisahkan. Meskipun sama-sama kekayaan desa, tapi pencatatannya dipisahkan. Karena BUMDes terpisah dari organisasi pemerintahan desa sehingga harus dikelola sendiri, karena yang menangani orang-orang yang ditunjuk. Pihak desa hanya mendampingi,” jelas Kabid Pemberdayaan Ekonomi Desa Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna Dinsos Permades Kabupaten Banyumas, Oentung Soegiarto, baru-baru ini. Selain itu kepada wartawan ia mengatakan, yang mengelola, akan dibentuk kepengurusan seperti manajer dan pelaksana operasional.
Dan pelaksana operasional itulah yang nantinya akan menjalankan dan mengendalikan BUMDes agar lebih berkembang. Adapun dalam pengelolaan hasil, dilakukan dengan sistem bagi hasil. Sistem tersebut, nantinya dibagi antara pemerintah desa dengan pihak ketiga atau pengelola, dengan prosentase 40 – 60 prosen.
Hasil yang diperoleh BUMdes tersebut nantinya dapat digunakan untuk pembangunan desa, membantu masyarakat miskin, maupun pengembangan masyarakat desa. Ia mengatakan, dalam pengembanganya BUMDes juga dapat menggandeng pihak lain atau jenis usaha lain sepanjang menguntungkan dan mengutamakan bagi kepentingan masyarakat desa.
“Untuk membentuk BUMDes, desa juga tidak harus memiliki uang, tapi bisa berupa aset desa itu sendiri, seperti tanah,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, setiap desa yang telah memiliki BUMDes, juga bisa membentuk BUMDes bersama dengan beberapa desa lain di satu kecamatan.
Hal itu, dengan syarat BUMDes yang berada di desa tersebut tetap berjalan dan tidak ditinggalkan. “Setiap desa dapat membentuk BUMDes bersama berupa penggabungan atau peleburan bersama untuk membentuk yang lebih besar. Dengan catatan, BUMDes di desa tersebut tidak boleh mati,” tuturnya. Sebelumnya, desa-desa di Banyumas didorong terus mengoptimalkan potensi yang dimiliki, untuk menekan kemiskinan.
Terkait dengan hal itu Dinas Sosial, dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos Permades) Kabupaten Banyumas tengah melakukan pemetaan potensi desa. “Kita sedang memetakan potensi-potensi apa saja yang ada di setiap desa. Pemetaan termasuk keberadaan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), pasar desa, sampai ke mata air,” jelas Kepala Dinsos Permades Banyumas Abdullah Muhammad, Selasa (15/3).
Ia mengatakan, pemetaan potensi-potensi desa, dilakukan sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat desa. Dengan adanya pemetaan potensi, kata dia diharapkan potensi yang selama ini ada namun belum tergali, dapat dioptimalkan.
sumber Suara Merdeka

Rabu, 22 Maret 2017

Desa Yang Masuk Rencana Perluasan Purwokerto

Berdasarkan Rumusan Perda RDTRK Purwokerto  ada  rencana perluasan wilayah perkotaan Purwokerto dengan menambahkan dari sejumlah desa yang ada di kecamatan penyangga atau kecamatan yang berbatasan langsung dengan wilayah eks Kotif Purwokerto

Quote:
Proses finalisasi pembahasan RDTRK Perkotaan Purwokerto tahun 2016-2036 tersebut. Dalam pembahasan tidak mungkin kita mengakomodir semua kepentingan. Sehingga pemasangan peta ini dimaksudkan untuk sosialisasi perwajahan Perkotaan Purwokerto selama 20 tahun ke depan,” jelasnya. Tidak hanya itu, peta tersebut nantinya juga dapat diakses via online, karena nantinya akan dilengkapi dengan piranti komputer. Secara umum, RDTRK ini sangat dibutuhkan oleh perkotaan, karena nantinya akan berkaitan dengan perizinan pembangunan. Berdasarkan peta tersebut, luasan Perkotaan Purwokerto bertambah menjadi 9.382 hektare, atau bertambah sekitar 100 hektare dari sebelumnya. Tambahan tersebut berasal dari luasan beberapa wilayah desa yang berada di sekitar wilayah perkotaan sebelumnya. “Total ada 52 desa/kelurahan yang terdapat di 11 kecamatan,”
(Sumber Radar Banyumas 6  Agustus 2016)

Quote:

Pengecekan terkait batas wilayah, berdasar peta atau gambar yang sudah ditetapkan Badan Informasi Geospasial (BIG), atau semula bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).
Lembaga ini dikontrak Dinas Cipta Karya, untuk memotret peta ruang Purwokerto. Ketua Pansus RDTRK, Subagio, mengatakan ada 55 daerah, baik kelurahan dan desa yang dipastikan masuk dalam peta zona di raperda RDTRK. Dari pemotretan, ada sebagian desa yang hanya diambil sebagian untuk masuk RDTRK, dan sebagian lagi masuk RTRW.
”Ternyata penetapan seperti ini harus bisa disikapi secara jeli dan nantinya harus disepakati bersama. Hal ini karena batas irisannya ada yang berupa jalan atau sungai. Misalnya untuk wilayah Kebocoran, apakah akan masuk sekalian dalam RDTRK, atau dikeluarkan sekalian,” kata dia mengilustrasikan.
Dari Barat
Pengecekan dimulai dari batas wilayah paling barat, seperti di Desa Jipang Karanglewas, kemudian ke utara di Kebocoran dan Beji Kedungbanteng. Berlanjut ke timur seperti ke Karanggintung Subagio juga mengungkapkan, khusus daerah resapan air di wilayah utara, ada beberapa tempat yang kini sudah berubah fungsi.
Sehingga ke depan, tetap harus diamankan atau dibatasi, agar tidak terus berkembang. Dia mencontohkan, lahan yang dikuasai pihak pengembang Perumahan Rafles ada sekitar 25 hektare dan saat ini belum semua dimanfaatkan.
”Saat kami sampaikan paparan ke Bupati dan Wabup, khusus yang masuk daerah resapan air ini, Bupati minta dibatasi dan bila perlu dicoret, tidak boleh beralih fungsi. Tetapi kami belum bisa memutuskan, karena harus dicermati secara lebih dalam dulu,” ujarnya.
Anggota Pansus Anang Agus Kostrad, mengatakan pengecekan batas wilayah itu belum melihat rencana penggabungan sejumlah desa, untuk masuk dalam wilayah administrasi Perkotaan Purwokerto. Perluasan wilayah secara adminitrasi ke depan, juga berkait dengan rencana pemekaran Banyumas menjadi dua daerah otonom.
”Kalau batas wilayah hanya menentukan mana yang masuk zona RDTRK dan RTRW, meskipun ada sebagian desa yang semua masuk zona RTRW, kemudian masuk ke RDTRK secara penuh atau sebagian saja. Tetapi ke depan, secara administrasi, seluruhnya masuk Purwokerto,” katanya.

 (sumber Suara Merdeka 17 Oktober 2015)


Berikut adalah data sejumlah kecamatan yang ada di sekitar Purwokerto dengan rincian :
1. Nama Kecamatan berwarna merah adalah eks kotif Purwokerto
2. Nama kecamatan berwarna orange adalah kecamatan yang sebagian atau keseluruhannya termasuk bagian dari perluasan Purwokerto yang mana desa berwarna merah adalah info lama yang merupakan desa yang kemungkinan besar berpeluang masuk ke wilayah Purwokerto  sedangkan desa  berwarna hitam bisa jadi termasuk atau tidak termasuk tetapi ada peluang menjadi wilayah Purwokerto tentunya menunggu informasi terbaru yang ditetapkan Pemkab Banyumas mengenai  Perda RDTRK yang disahkan .

Data ini akan terus diperbarui sesuai perkembangan informasi yang ada 

BATURADEN

01. Karangmangu, Kecamatan Baturraden
02. Karangsalam Lor, Kecamatan Baturraden 
03. Karangtengah, Kecamatan Baturraden 
04. Kebumen, Kecamatan Baturraden 
05. Kemutug Kidul, Kecamatan Baturraden 
06. Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden 
07. Ketenger, Kecamatan Baturraden 
08. Kutasari, Kecamatan Baturraden 
09. Pamijen, Kecamatan Baturraden 
10. Pandak, Kecamatan Baturraden 
11. Purwosari, Kecamatan Baturraden
12. Rempoah, Kecamatan Baturraden

KARANGLEWAS

01. Babakan, Kecamatan Karanglewas 
02. Jipang, Kecamatan Karanglewas 
03. Karanggude, Kecamatan Karanglewas
04. Karangkemiri, Kecamatan Karanglewas 
05. Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas
06. Kediri, Kecamatan Karanglewas 
07. Pangebatan, Kecamatan Karanglewas
08. Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas 
09. Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas 
10. Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas 
11. Singasari, Kecamatan Karanglewas 
12. Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas
13. Tamansari, Kecamatan Karanglewas 

KEDUNGBANTENG
01. Baseh, Kecamatan Kedungbanteng 
02. Beji, Kecamatan Kedungbanteng 
03. Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng 
04. Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng 
05. Kalikesur, Kecamatan Kedungbanteng 
06. Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng 
07. Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng 
08. Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng 
09. Kebocoran, Kecamatan Kedungbanteng 
10. Kedungbanteng, Kecamatan Kedungbanteng 
11. Keniten, Kecamatan Kedungbanteng 
12. Kutaliman, Kecamatan Kedungbanteng 
13. Melung, Kecamatan Kedungbanteng 
14. Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng 

KEMBARAN
01. Bantarwuni, Kecamatan Kembaran
02. Bojongsari, Kecamatan Kembaran 
03. Dukuhwaluh, Kecamatan Kembaran
04. Karangsari, Kecamatan Kembaran 
05. Karangsoka, Kecamatan Kembaran
06. Karangtengah, Kecamatan Kembaran 
07. Kembaran, Kecamatan Kembaran 
08. Kramat, Kecamatan Kembaran 
09. Ledug, Kecamatan Kembaran 
10. Linggasari, Kecamatan Kembaran 
11. Pliken, Kecamatan Kembaran 
12. Purbadana, Kecamatan Kembaran
13. Purwodadi, Kecamatan Kembaran 
14. Sambeng Kulon, Kecamatan Kembaran
15. Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran
16. Tambaksari Kidul, Kecamatan Kembaran 

PATIKRAJA
01. Karanganyar, Kecamatan Patikraja 
02. Karangendep, Kecamatan Patikraja
03. Kedungrandu, Kecamatan Patikraja
04. Kedungwringin, Kecamatan Patikraja 
05. Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja
06. Kedungwuluh Lor, Kecamatan Patikraja 
07. Notog, Kecamatan Patikraja 
08. Patikraja, Kecamatan Patikraja
09. Pegalongan, Kecamatan Patikraja
10. Sawangan Wetan, Kecamatan Patikraja
11. Sidabowa, Kecamatan Patikraja 
12. Sokawera, Kecamatan Patikraja 
13. Wlahar Kulon, Kecamatan Patikraja

EKS KOTIF PURWOKERTO

01. Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat 
02. Karanglewas Lor, Kecamatan Purwokerto Barat
03. Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat 
04. Kober, Kecamatan Purwokerto Barat 
05. Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat
06. Pasirmuncang, Kecamatan Purwokerto Barat
07. Rejasari, Kecamatan Purwokerto Barat 
08. Berkoh, Kecamatan Purwokerto Selatan 
09. Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan
10. Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan 
11. Purwokerto Kulon, Kecamatan Purwokerto Selatan
12. Purwokerto Kidul, Kecamatan Purwokerto Selatan 
13. Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan 
14. Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan 
15. Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur
16. Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur 
17. Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur 
18. Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto Timur
19. Purwokerto Wetan, Kecamatan Purwokerto Timur
20. Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur 
21. Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara
22. Bobosan, Kecamatan Purwokerto Utara 
23. Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara
24. Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara 
25. Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara 
26. Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara
27. Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara

SOKARAJA
01. Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja 
02. Banjarsari Kidul, Kecamatan Sokaraja
03. Jompo Kulon, Kecamatan Sokaraja 
04. Kalikidang, Kecamatan Sokaraja 
05. Karangduren, Kecamatan Sokaraja
06. Karangkedawung, Kecamatan Sokaraja
07. Karangnanas, Kecamatan Sokaraja 
08. Karangrau, Kecamatan Sokaraj
09. Kedondong, Kecamatan Sokaraja 
10. Klahang, Kecamatan Sokaraja 
11. Lemberang, Kecamatan Sokaraja
12. Pamijen, Kecamatan Sokaraja 
13. Sokaraja Kidul, Kecamatan Sokaraja 
14. Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja 
15. Sokaraja Lor, Kecamatan Sokaraja 
16. Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja 
17. Sokaraja Wetan, Kecamatan Sokaraja 
18. Wiradadi, Kecamatan Sokaraja 

SUMBANG
01. Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang 
02. Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang 
03. Banteran, Kecamatan Sumbang 
04. Ciberem, Kecamatan Sumbang 
05. Datar, Kecamatan Sumbang 
06. Gandatapa, Kecamatan Sumbang 
07. Karangcegak, Kecamatan Sumbang 
08. Karanggintung, Kecamatan Sumbang
09. Karangturi, Kecamatan Sumbang 
10. Kawungcarang, Kecamatan Sumbang
11. Kebanggan, Kecamatan Sumbang 
12. Kedungmalang, Kecamatan Sumbang 
13. Kotayasa, Kecamatan Sumbang 
14. Limpakuwus, Kecamatan Sumbang 
15. Sikapat, Kecamatan Sumbang 
16. Silado, Kecamatan Sumbang 
17. Sumbang, Kecamatan Sumbang 
18. Susukan, Kecamatan Sumbang 
19. Tambaksogra, Kecamatan Sumbang


Data Kependidikan di Kabupaten Banyumas

Data bersumber dari BPS Kabupaten Banyumas dan diolah oleh "Banyumas Melek Data" 
 visualisasi data terkait daya tampung SMP-MTs terhadap lulusan SD-MI di setiap kecamatan di Kab Banyumas.. begitu juga data terkait daya tampung SMA-SMK-MA terhadap lulusan SMP-MTs. Angka 0.8 berarti hanya 80% lulusan sekolah di suatu kecamatan yang bisa tertampung di sekolah lanjutan yang berada di kecamatan tersebut..
Lalu yang tidak tertampung bagaimana? Pilihannya cuma 2, lanjut sekolah di kecamatan lain atau TIDAK USAH LANJUT sekolah.. (atau terpaksa masuk sekolah swasta ) 
Untuk data daya tampung SMP-MTs masih oke lah.. kecamatan yang minim SMP terletak dekat dengan kecamatan lain yang punya daya tampung berlebih.
Yang NGENES jika lihat visualisasi daya tampung SMA-SMK-MA terhadap lulusan SMP-MTs.. OooH MY GOD, sebegitu kejamnya kah kondisinya dibiarkan seperti ini terus...
Lumbir Pekuncen cuma bisa menampung 10% lulusan SMP-MTs, Gumelar Cilongok 20%... Kebasen 40%... sementara di Purwokerto berlebih daya tampungnya.





Peta Persebaran SMA sederajat Negeri 


Peta Persebaran Sekolah SMA sederajat Negeri perdesa/ Kelurahan


Data Prestasi Sekolah 2015 di Kabupaten Banyumas