Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Rabu, 24 Agustus 2016

Masyarakat Minta Perbaikan di Museum Pusaka Naskah Kalibening

suaramerdeka.com
Masyarakat adat Kalibening Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, meminta preservasi dilakukan di Museum Pusaka Kalibening. Pasalnya, mereka masih ingin menjaga keutuhan naskah Kalibening yang disimpan di museum tersebut.
Tokoh masyarakat Kalibening, Sutrimo, mengaku sudah mengirimkan surat penolakan permintaan ke Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, untuk menarik naskah tersebut. Masyarakat Dawuhan khawatir, manuskrip bakal menghilang bila diperbaiki di luar kota. ”Naskah ini benda pusaka yang sudah dirawat sejak lama.
Perbaikan harus di Museum Pusaka,” katanya, kemarin. Tanpa Jejak Menurut Juru Kunci Makam Mbah Kalibening ini, pihaknya tidak menginginkan nasib Naskah Kalibening seperti ratusan situs lainnya yang menghilang tanpa jejak.
Pusaka tersebut sangat berharga bagi masyarakat adat. Sebagai informasi, di Museum Pusaka Kalibening tidak hanya tersimpan Naskah Kalibening. Puluhan benda pusaka seperti kitab, senjata, dan catatan juga dijaga oleh masyarakat. Setiap bulan Maulud, masyarakat adat setempat menggelar jamasan pusaka untuk membersihkan benda-benda tersebut. ”Setiap tahun juga dihitung lagi.
Kondisinya juga dicek, baik atau rusak,” jelasnya. Sutrimo menambahkan, bila ingin membantu proses perawatan pusaka, Pemkab Banyumas seharusnya melengkapi fasilitas di Museum Pusaka. ”Seharusnya Pemkab menghormati yang sudah dijaga secara turun temurun oleh warga.”
Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinporabudpar Banyumas, Carlan, mengungkapkan, pihaknya sudah meneruskan surat penolakan dari masyarakat Desa Dawuhan. Dia memaklumi alasan keberatan yang dijelaskan dalam surat tersebut. ”Kalau sudah menjadi keputusan ya kami tidak berani mengambil,” kata dia.
Dia mengemukakan, sejatinya preservasi (perbaikan) lembaran naskah itu dimaksudkan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah lagi. Setelah proses perbaikan, Manuskrip Kalibening akan dikembalikan lagi ke Museum Pusaka Kalibening.
Rencana perbaikan itu dilakukan di Semarang atau Jakarta yang memiliki kurator dan peralatan lebih lengkap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar