Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 31 Oktober 2016

Siapkah kabupaten Banyumas Menjadi Smart City ?


Siapkah kabupaten Banyumas menerapkan smart city dalam lingkup lebih luas? Beberapa tahun lalu saat masih era Mantan Bupati Marjoko pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional sebagai daerah yang secara pontensial siap menerapkan Smart city. 

Konsep smart city adalah beralihnya sistem pelayanan dan transaksi dari konvensional menjadi elektronik dan digital. Meskipun belum bersatus kota, kabupaten Banyumas khusus nya Purwokerto mulai menerapkan konsep smart city dalam hal sistem lalu lintas (ATCS,) serta mulai penerapan transaksi non tunai yang di gagas Bank Indonesia. Selain itu pelayanan masyarakat lain seperti proses penerimaan siswa dan ujian online, pengaduan masyarakat, sosialisasi program pemerintah juga harus mulai diterapkan. Dalam rencana yang lebih kompleks maka selanjutnya adalah mulai disebarluaskan lokasi akses internet gratis atau hotspot, apakah dikonsep dalam bentuk balon atau tiang lampu jalanan atau lainnya. Tentu semua itu bergantung infrastruktur yang memadai. Beruntung saat ini Purwokerto mulai dibangun jaringan optik milik swasta yang mumpuni untuk kepentingan yang menunjang rencana smart city dan tentu saja aplikasi e ktp juga harus diwujudkan bukan sekedar identitas semata seperti saat ini. Tapi integrasi ke semua layanan yang saling terhubung .
Biznet Fiber - Rencana Ekspansi Ajibarang | | Purwokerto |dalam proses konstruksi jaringan. 

Berikut arsip lama yang menggambarkan bahwa Purwokerto dan kabupaten Banyumas siap dan potensial menjadi Smart City


Quote KlikBanyumas.com October 19, 2012 :

Banyumas Raih Penghargaan ICT Pura Kemenkominfo

Belum lama ini Kabupaten Banyumas berhasil meraih penghargaan ICT Pura tahun 2012 dari Kementrian Komunikasi dan Informatika RI. ICT Pura adalah gerakan bersama seluruh komponen bangsa yang dimotori oleh Kementrian Kominfo, untuk memetakan, mengukur dan mengapresiasi kabupaten/kota di seluruh Indonesia terkait kesiapan dalam memasuki era digital tahun 2015. Tujuannya untuk memetakan indeks kesiapan menuju era masyarakat digital yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Tanggal 13 September 2012 telah dilaksanakan lomba berupa pengisian kuesioner ICT Pura untuk Kabupaten Banyumas. Sekitar 165 kabupaten/kota di Indonesia yang diprioritaskan dalam program ICT Pura 2012 dan salah satunya adalah kabupaten Banyumas.
Penganugerahan ICT Pura 2012 berupa plakat dan piagam dilakukan Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Basuki Yusuf Iskandar kepada Sekda Kabupaten Banyumas, Mayangkoro mewakili Bupati Banyumas, Mardjoko. Penyerahan penghargaan dilakukan di Grand Ballroom, Hotel Grand Aston Medan pada Kamis (18/10).
Kasi Telematika Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas, Jakarta Tisam yang turut hadir dalam acara tersebut menjelaskan, Kabupaten Banyumas meraih predikat Terbaik ke-9 dari 27 kabupaten/kota penerima penghargaan yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia.
Untuk provinsi Jawa Tengah, Banyumas menjadi yang teratas dari tiga kabupaten yang menerima penghargaan. Selain Kabupaten Banyumas, dua kabupaten lain di Jawa Tengah yang menerima penghargaan ICT Pura 2012 adalah Kabupaten Pekalongan di urutan 15, dan Kabupaten Jepara di urutan 21.
Mayangkoro (Sekretaris Daerah Kabupaten Banyumas) usai menerima penghargaan mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Pemkab Banyumas dan komponen masyarakat Banyumas atas kerjasama yang telah dilakukan sehingga Kabupaten Banyumas dapat menerima penghargaan ICT Pura 2012.


BANYUMAS TERIMA PENGHARGAAN BIDANG TIK.

Quote Humas dan Protokol Setda Kabupaten Banyumas  @08 05 2014 15:39:05
Pemerintah Kabupaten Banyumas kembali mengukir prestasi di Kancah nasional dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yaitu dengan diterimanya penghargaan Indonesia Digital Society Award (IDSA) dari Menteri Dalam Negeri RI, penghargaan diserahkan oleh Kepala Badan diklat Depdagri atas nama Menteri Dalam Negeri kepada Bupati Ir. H. Achmad Husain pada acara malam penghargaan IDSA yang digelar di Grand Atrium Mal Kota Kasablanka Jl. Casablanka Raya Kav.88 Jakarta Rabu malam (7/5) Kemarin.
Kabupaten Banyumas meraih penghargaan sebagai runner up pertama (first runner up) bersama Kabupaten Lamongan, sedangkan runner up kedua (second runner up) adalah Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Kutai Timur, sedangkan terbaik (The Best Champion) diraih oleh Kabupaten Sleman untuk katagori government Kabupaten
Untuk government katagori kota , penghargaan terbaik (The Best Champion) diterima oleh Kota Surabaya, disusul Kota Yogyakarta dan Kota Bogor untuk runner up pertama (first runner up), dan runner up kedua (second runner up) diterimakan kepada Kota Denpasar dan Kota Cimahi.
Sebelum pengumunan penghargaan pada waktu yang sama bupati Achmad HusEin melaksanakan paparan mengenai penerapan dan pembangunan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang dilaksanakan oleh Kabupaten Banyumas dihadapan Kepala Sub Direktorat Aplikasi Layanan Kepemerintahan Kemkominfo RI, Pengamat Telkomunikasi dan Informatika, Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan LPPM ITB, Founder & CEO Markplus, Inc dan para finalis lain serta pengunjung mall.
Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Drs. Santoso Edi Prabowo yang turut mendampingi bupati Achmad Husain mengatakan, Penghargaan IDSA adalah ajang penghargaan untuk Pemerintah Kota/Kabupaten di seluruh Indonesia mengenai penerapan dan pembangunan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) di Kota/Kabupaten.
IDSA diadakan bertujuan untuk memetakan, mengukur dan mengapresisasi kota-kota dan kabupaten-kabupaten di Indonesia terkait kesiapan memasuki era digital. Selain itu, juga sebagai salah satu upaya meningkatkan penggunaan Teknologi, Komunikasi dan Informasi (TIK) di tiap Kota/Kabupatennya
IDSA diberikan berdasarkan survei tahunan oleh MarkPlus.Inc dengan dukungan penuh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan PT. Telekomunikasi Indonesia (TELKOM). Survey ini diadakan dalam rangka mengukur upaya digitalisasi di Indonesia dan peningkatan daya saing Kota dan Kabupaten di Indonesia di era globalisasi, komunikasi dan informasi.
Penilaian IDSA dikatagorikan menjadi 2 katagori yaitu Katagori Government dan Overall Society, untuk Katagori Government penilaian didasarkan pada pengukuran pemanfaatan teknologi digital (internet) untuk kegiatan birokrasi dan pelayanan masyarakat sedangkan overall Society didasarkan pada pengukuran pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan oprasional berbagai lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, UMKM swasta, serta masyarakat, dan Kabupaten Banyumas sebagai juara 1 katagori Government.
Kriteria penilaian IDSA didasarkan pada empat aspek (initiative, leadership, usership, dan benefit) dan dilakukan pada lima pihak (Pemerintah Daerah, Lembaga Pendidikan, Lembaga Pelayanan Kesehatan, UKM Swasta, dan Masyarakat) .
Beberpa program dan kegiatan yang dijalankan oleh Kabupaten Banyumas sehingga menjadi runner up pertama (first runner up) diantaranya dari inisiatif yaitu Banyumas telah memiliki Perda Nomor : 4 Tahun 2012 tentang Rencana Induk Pengembangan E Government , leadership yaitu adanya prakarsa Bupati Achmad Husain yang menerapkan TIK di Jajaran Pemkab Banyumas, usership yaitu masing-masing SKPD sudah melaksanakan TIK dan benefit yaitu adanya manfaat yang dirasakan berupa lebih transparan, efektif, efisien dan menyenangkan masyarakat
Bupati Achmad Husain usai menerima penghargaan mengatakan, upaya untuk menciptakan budaya kerja yang efektif dan efisen di Kabupaten Banyumas mulai dirasakan yaitu dengan berbagai program layanan dengan menggunakan TIK antara lain E-Office, SIAP, SIMDES, SIMDA, SIMBADAMAS, SIMPUS, SIPPD, JDIH Wibesite protal dan sub domain, LPSE dan lain-lain
Husain juga mengapresiasi atas sikap semua pimpinan SKPD di Banyumas yang mulai menerapkan berbagai layanan masyarakat dengan menggunakan electronik sehingga diharapkan akan lebih mudah, cepat, murah dan masyrakat akan lebih senang dan nyaman dalam menerima pelayanan dan informasi.
Sumber : Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Banyumas

Bupati Belum Respon Terhadap Alat Pemusnah Sampah


Quote siagaindonesia.com :
Bupati Belum Respon Terhadap Alat Pemusnah Sampah
Seiring dengan melajunya waktu dan berkembangnya penduduk, naiknya volume sampah jauh melebihi kapasitas sarana dan prasarana Dinas Kebersihan Kota. Akibatnya banyak warga yang mencari jalan keluar sendiri dengan membakarnya, atau malah membuang sendiri kesungai yang tentunya bukanlah jalan keluar yang baik, karena akan lebih memperparah kerusakan lingkungan.
Lebih parahnya lagi, ada warga di sejumlah titik perkotaan yang menjadikan tepian jalan sebagai tempat pembuangan sampah sementara atau TPS. Selain merusak pemandangan keindahan kota, juga menimbulkan masalah bau busuk yang menyengat.
“Penumpukkan sampah penduduk yang menjadikan tepian jalan raya sebagai TPS bisa di lihat di utara Pos Lantas Kecamatan Wangon. Padahal di lokasi ini banyak pertokoan dan pedagang PKL makanan yang tentunya menjadikan kurang sehatnya makanan karena banyak lalat berterbangan,”jelas Untung (52), pemilik ruko yang tidak jauh dari TPS, Sabtu (14/5). Dulunya TPS ini ada di perempatan terminal bis Wangon, tuturnya lebih lanjut, tapi entah kenapa kok sekarang berpindah di lokasi utara Pos Jaga Lalu Lintas Perempatan Wangon. Padahal setiap bulan masyarakat harus membayar retribusi sampah sebesar Rp 25.000 setiap rumah atau toko yang ada di Wangon.
Sementara itu, Camat Wangon, Budi Santoso, mengakui di wilayah Kecamatan Wangon tidak ada TPS, sehingga dirinya juga memohon ke Dinas Cipta Karya agar lebih cepat lagi dalam pengangkutan sampahnya.
“Untuk kedepannya ada dua solusi yang sedang di usulkan pihak kami selaku camat. Yang pertama sesegera mungkin lahan kosong milik pemda Banyumas di Desa Randegan agar bisa di manfaatkan sebagai TPS. Selain itu adanya gagasan ide dari warga Desa Kelapa Gading bernama Guruh Darmawanto yang menciptakan alat Reaktor Pemusnah Sampah atau Gasifikasi yang di usulkan ke Bupati bisa terealisasi. Tapi sampai sekarang belum ada respon dari jajaran instansi terkait mengenai alat ini,”kata Budi Santoso. 

Daun Nyangku, Pembungkus Makanan yang Dilestarikan

DAUN NYANGKU : Pegiat KWT Kecamatan Purwojati Sri Aningsih menunjukkan menu nasyek yang dikemas menggunakan daun nyangku

Quote suaramerdeka.com :
PLASTIK saat ini memiliki peranan penting dalam menunjang aktivitas manusia. Sebab hampir setiap aktivitas manusia saat ini, selalu bersinggungan dengan plastik, baik sebagai bahan kemasan makanan, minuman, sampai sebagai bahan bangunan. Namun, seperti diketahui, ternyata plastik juga memiliki dampak buruk terhadap lingkungan, karena sifatnya yang sulit terurai.
Menyadari kondisi itu, Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan kebijakan kantung plastik berbayar untuk mengurangi penggunaan plastik. Tidak hanya pemerintah, sebagian masyarakat, juga telah memulai upaya mengurangi penggunaan bahan plastik dalam aktivitas sehari-hari.
Satu di antara sekian warga yang telah memulai upaya pengurangan penggunaan bahan plastik adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Kecamatan Purwojati, Banyumas. Menurut salah satu pegiat KWT Kecamatan Purwojati Sri Aningsih, upaya pengurangan penggunaan plastik, diwujudkan dalam penggunaan bahan-bahan alami sebagai pembungkus makanan.
”Di sekitar tempat tinggal kami masih banyak dedaunan yang bisa digunakan sebagai pembungkus makanan, oleh sebab itu, kebiasaan yang telah dilakukan sejak nenek moyang dahulu ini terus kami lestarikan,” jelasnya kepada Suara Merdeka, saat mengikuti lomba kreasi menu nonberas, pekan lalu.
Ia mengatakan, jenis daun yang dapat digunakan sebagai pembungkus makanan menurutnya cukup beragam. Selain daun pisang, dan daun jati, menurutnya ada jenis daun lain yang juga dapat digunakan sebagai pembungkus makanan, salah satunya daun nyangku.
”Daun nyangku ini tumbuh liar di hutan, bentuk tanamannya mirip seperti tanaman ganyong,” jelasnya.
Pembungkus Tempe
Kendati belum sepopuler daun pisang dan daun jati sebagai pembungkus makanan, menurutnya daun nyangku memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya yakni bentuknya yang memiliki nilai estetika tersendiri ketika digunakan sebagai pembungkus makanan. Selain itu, ketika digunakan sebagai pembungkus makanan, daun ini juga tidak mempengaruhi rasa makanan.
”Pengaplikasian daun nyangku, biasanya digunakan sebagai pembungkus tempe. Tapi kali ini kami aplikasikan sebagai pembungkus menu nasyek, atau nasi oyek,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan, bentuk tulang daun nyangku yang memanjang, membuat daun itu cukup kuat sebagai pembungkus makanan.
Tak hanya itu, tulang daun itulah yang memberikan sentuhan estetika tersendiri. Dengan segala kelebihannya itu, ia berharap penggunaan daun nyangku dapat ikut andil dalam pengurangan penggunaan kemasan plastik. ”Plastik itu susah terurai, belum lagi ada jenis plastik yang berbahaya jika dipakai membungkus makanan, lebih aman pakai daun ini (nyangku),” imbuhnya. 


Lestarikan Batik, Sekolah Didorong Gelar Pelatihan

Quote suaramerdeka.com :
Sekolah perlu didorong untuk ikut melakukan upaya pelestarian seni kerajinan batik Banyumas. Salah satunya dengan memberikan bekal keterampilan seni kerajinan batik bagi siswa.
Guru seni batik SMA 1 Sokaraja, Heru Santoso, kemarin, mengatakan dalam melestarikan seni kerajinan batik, generasi muda memiliki peran yang cukup penting.
Mereka merupakan generasi penerus bagi para perajin batik yang kini usianya sudah tidak produktif lagi. Generasi muda usianya masih produktif, sehingga memiliki kesempatan yang lebih besar dan luas untuk mengembangkan seni kerajinan yang sudah menjadi warisan budaya leluhur tersebut.
Dengan memberikan bekal keterampilan melalui kegiatan pelatihan kepada generasi muda, khususnya kalangan peserta didik sejak dini, diharapkan keberadaan seni kerajinan batik, khususnya batik Banyumas dapat terjaga dari ancaman kepunahan.
Mereka merupakan generasi yang akan meneruskan upaya pelestarian yang telah dilakukan generasi sebelumnya. Namun demikian, diakui proses regenerasi tidak mudah dan membutuhkan waktu.
”Regenerasi perajin batik tidak terjadi dalam jangka waktu sebulan atau dua bulan, tetapi butuh waktu tahunan. Ini menjadi tantangan semua pihak, termasuk sekolah dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Upaya untuk melestarikan seni batik dengan menggelar kegiatan pemberian bekal pelatihan bagi generasi muda, sebenarnya sudah dilakukan oleh sejumlah sekolah.
Salah satunya SMA1 Sokaraja. Di sekolah tersebut, seni kerajinan batik sudah menjadi program unggulan. ”Sebenarnya sekolah yang lain juga bisa melakukan dan sangat memungkinkan.
Itu tergantung dari kemauan dan kebijakan dari pihak sekolah. Kalau kegiatan pelatihan banyak dilakukan oleh sekolah-sekolah di Banyumas, saya yakin akan mudah dalam melestarikan kerajinan batik,” ungkap perajin batik ”R” ini.
Selain SMA1 Sokaraja, lanjut dia, beberapa waktu lalu SMK 3 Purwokerto juga telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan yang diikuti para siswa. Meski pelaksanaannya hanya sekitar 1,5 bulan, namun kegiatan tersebut setidaknya dapat menjadi salah satu bentuk upaya mendukung pelestarian batik Banyumas.

Stok Beras Ketan Menumpuk di Gudang

Quote suaramerdeka.com :
Pemerintah diminta memfasilitasi pemasaran beras ketan yang akhir-akhir ini lesu, sehingga bisa membantu pedagang dan petani di Banyumas. Pedagang beras ketan asal Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Tolil (35) mengatakan, pemerintah diharapkan mendorong pengusaha makanan memanfaatkan beras ketan lokal.
Hal ini penting agar produk ketan lokal dari petani segera terserap. “Kalau menumpuk terus di gudang dikhawatirkan menurun kualitasnya. Makanya kami sebenarnya berharap agar Bulog dapat menyerap. Tapi setelah kami koordinasi, Bulog tak dapat menyerap beras ketan,” jelas Tolil yang saat ini menumpuk stok gabah ketan di gudang KUD Ajibarang Kulon mencapai 60 ton.
Dijelaskan, saat ini harga beras ketan di tingkat petani dan pedagang terbilang belum menguntungkan. Pasalnya, harga beras ketan dan beras biasa tak terpaut jauh. “Harga beras ketan di tingkat pedagang Rp 7.000 dan di tingkat pengecer Rp 9.000.
Idealnya di tingkat pedagang itu sekitar Rp 9.000. Padahal harga beras biasa telah mencapai Rp 8.000 – Rp 8.500,” jelasnya. Petani asal Ajibarang, Rohim (50) mengatakan, saat gabah ketan basah per kilogram Rp 2.500. Harusnya harga standar gabah ketan Rp 3.200 dan kering giling Rp 4.300. Makanya harga di tingkat pedagang dan pasaran tak menguntungkan.
“Padahal untuk tanam padi ketan hingga panen terbilang cukup lama dibanding padi biasa. Makanya kami berharap pedagang dan juga pemerintah dapat mendorong agar beras ketan ini tetap laris di pasaran seperti dulu,” katanya. Dijelaskan oleh Rohim, saat ini pasokan gabah ketan berasal dari Desa Pandansari, Ajibarang Wetan, Ajibarang Kulon, hingga wilayah Kecamatan Pekuncen.
Wilayah desa penghasil beras ketan ini terbilang sama. “Kalau harga terus menerus tak memihak kepada petani maka kami akan beralih tanam padi biasa. Asal menguntungkan maka kami akan terus menanam gabah ketan ini,” katanya.

Suguhkan Berbagai Menu Olahan Tahu Festival Tahu Kalisari

Quote suaramerdeka.com :
Festival Kuliner dan Tahu Kalisari 2016, yang digelar di halaman parkir Java Heritage Hotel Purwokerto, menyuguhkan berbagai macam olahan dan inovasi makanan dengan berbahan dasar tahu.
Executive Chef Java Heritage Hotel Purwokerto, Chef Ari Azhari, mengatakan, Java Heritage turut serta dalam menyajikan beragam inovasi masakan berbahan dasar tahu, seperti tahu gimbal, tofu tempura, tofu sushi, tahu gejrot, dan tahu kukus chawan.
Tahu ini juga diolah menjadi bola-bola tahu keju, sup tahu cincang, pasta tofu napotilana, nasi goreng tahu tomyam, tahu berontak, grilled tofu teriyaki, tahu telur sambal petis, tahu cah sawi asin, puding tofu, es setup tahu selasih, dan fruit tofu cocktail. ”Semua menu tersebut disajikan pada gala dinner pada Sabtu (29/10) malam, dalam bentuk buffet,” katanya.
Cocok Diolah
Menurut Ari, tahu Kalisari sangat cocok untuk diolah dengan berbagai bahan lain untuk menghasilkan masakan yang lezat. Menu dengan bahan dasar tahu dapat diolah dari mulai makanan pembuka, menu utama, hingga makanan penutup.
”Kami juga mempersembahkan live cooking dengan menu tahu east meet west yang merupakan perpaduan masakan tradisional dengan masakan barat, yang tentunya kita sesuaikan dengan cita rasa khas Banyumas,” ujar dia. Festival Kuliner dan Tahu Kalisari 2016 dimulai sejak Jumat (28/10) hingga Minggu (30/10).
Festival kuliner yang diadakan oleh Pemerintah Desa Kalisari dan didukung oleh Bank Indonesia dan BRI Purwokerto, mengusung konsep acara pameran yang bertemakan kuliner dan budaya Banyumas. Desa Kalisari merupakan salah satu desa yang sangat potensial dalam pengembangan produksi ragam jenis tahu. Karena itu, tujuan kegiatan ini adalah mampu menciptakan sebuah sistem pemasaran yang dapat meraih pasar modern, sehingga dapat memancing kreativitas kelompok tahu dalam menciptakan produk olahan tahu yang baru dan inovatif.
Kepala Desa Kalisari, Aziz Masruri, mengatakan, festival tahu ini sebagai media promosi untuk mengenalkan tahu ke masyarakat luas, bisa bersaing dan memiliki kualitas baik.
”Kekuatan pasar tahu Kalisari hanya di wilayah eks Karesidenan Banyumas, tapi ke timur sedikit seperti Wonosobo sampai Semarang tahu Kalisari sudah tidak terdengar namanya. Ini menjadi tantangan kami untuk terus mengenalkan tahu Kalisari kepada masyarakat,” katanya. 

Pasar Desa Online Diluncurkan

Quote suaramerdeka.com :
 Pemerintah Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, meluncurkan website pasar online untuk memasarkan produk-produk milik masyarakat desa.
Salah satu perangkat Desa Melung, Margino, kepada wartawan, mengatakan, melalui pemasaran online di situs www.pasarmelung.id, produk desa dapat bersaing dan dapat dibeli secara langsung oleh konsumen, sehingga mampu memutus mata rantai tengkulak.
”Dengan pemasaran online, petani bisa langsung menjual produknya dengan konsumen,” katanya, Sabtu. Pasar onlineini, sambung dia, untuk menggiatkan serta memberi motivasi kepada masyarakat desa berwirausaha serta meningkatkan kapasitas usahanya. Adapun produk-produk yang dapat dipasarkan melalui media internet, antara lain produk kerajinan, makanan olahan, serta hasil pertanian dan holtukultura, seperti pisang, kerajinan bambu, jamur dan sayur.
Kepala Desa Melung, Khaerudin, menambahkan, Desa Melung selama ini sudah dikenal sebagai desa berbasis internet. Media internet digunakan agar masyarakat secara adil mendapatkan informasi dari mana pun. ”Media internet ini juga dapat membantu masyarakat memasarkan produknya yang dapat dipantau selama 24 jam dan dibaca oleh calon pembeli,” katanya.
Pasar online Desa Melung, sambung dia, selain dapat dimanfaatkan oleh warga Desa Melung, juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha desadesa tetangga untuk memasarkan produk- produk unggulannya. 

Festival Egrang Kalibagor

Quote suaramerdeka.com :
SM/Dian Aprilianingrum BERJALAN DENGAN EGRANG: Sejumlah warga mengikuti kirab dengan berjalan menggunakan egrang pada acara Festival Egrang di Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Sabtu (29/10).
SM/Dian Aprilianingrum
BERJALAN DENGAN EGRANG: Sejumlah warga mengikuti kirab dengan berjalan menggunakan egrang pada acara Festival Egrang di Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Banyumas, Sabtu (29/10).
Pemerintah Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor menggelar festival egrang, Sabtu (29/10). Kegiatan tersebut diikuti sedikitnya 542 peserta dari berbagai usia yang berasal dari 54 RT di desa tersebut. Peserta mengambil start di depan Kantor Kecamatan Kalibagor dan finish di lapangan desa dengan jarak tempuh sekitar satu kilometer.
Festival yang dihadiri Bupati Banyumas Achmad Husein ini menarik ribuan pasang mata menyaksikan kegiatan tersebut. Ketua panitia, Tri Hatmadiyanta mengatakan, festival egrang merupakan rangkaian dari peringatan gerebeg Suran. Dalam kegiatan tersebut juga diarak gunungan hasil bumi dan dilanjutkan pagelaran wayang kulit pada malam harinya.
“Festival Egrang ini digelar karena kami ingin menggugah budaya lama yang hampir hilang. Saat ini banyak generasi muda yang tidak mengetahui egrang. Antusiasme masyarakat ternyata sangat luar biasa,” kata dia.
Dia menjelaskan, panitia menerapkan tiga kriteria penilaian terhadap setiap regu, yakni kekompakan, keserasian, dan keutuhan. Juara pertama berhak mendapatkan uang pembinaan Rp 1 juta, kedua Rp 750.000 dan ketiga Rp 500.000 sedangkan juara harapan Rp 250.000.
“Dengan melihat antusiasme masyarakat, kami akan memrogramkan kegiatan ini digelar dua tahun sekali, sehingga nanti persiapannya lebih matang dan lebih meriah. Festival tahun ini direncanakan panitia selama satu bulan,” ujar dia. Sementara itu, Camat Kalibagoro, Siswoyo mengatakan, akan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hasil evaluasi nantinya akan menjadi dasar untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan ke depan. “Egrang merupakan kegiatan yang sudah lazim dilaksanakan masyarakat dahulu, sekarang kelihatannya mulai ditinggalkan. Ke depan kami berupaya akan terus melestarikannnya, dengan mengembangkan pelaksanaan festival agar lebih menarik,” kata dia.
Menurut rencana kegiatan festival akan dibuat lebih menarik dengan petunjukkan permaian tradisional lainnya. Selain itu tidak menutup kemungkinan akan dibuat atraksi menggunakan egrang yang dibuat sedemikian rupa. 

Jumat, 28 Oktober 2016

DUA PEMUDA BANYUMAS MENJADI PELOPOR NASIONAL

:
BANYUMAS : Dua pemuda pelopor asal Kabupaten Banyumas, terpilih menjadi pemuda pelopor tingkat nasional. Mereka adalah Lukman Hakim dari Desa Karangkemiri Kecamatan Pekuncen menjadi yang terbaik 1 kepeloporan di bidang pendidikan sedangkan Aziz Masruri dari Desa Kalisari Kecamatan Cilongok menjadi terbaik 2 kepeloporan di bidang pangan.

Kepala Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Periwisata (Dinporabudpar) Muntorichin mengatakan Lukman Hakim dan Aziz Marsruri mewakili Jawa Tengah pada pemilihan pemuda pelopor tingkat nasional. “Jawa Tengah mengirimkan tiga peserta, dua dari Banyumas dan satu lagi dari Sragen, tetapi yang memperoleh penghargaan hanya 2 semua dari Banyumas,” katanya, Selasa (25/10/2016).

Muntorichin menambahkan Lukman Hakim mengangkat judul “Padepokan Indonesia Sehat” sedangkan Aziz Masruri yang juga Kepala Desa Kalisari, itu mengajukan judul proposal “Tahu Merubah Wajah Desa Kalisari”, tambahnya.

Sedangkan Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Periwisata (Dinporabudpar) Dra Ide Nyoman Gde Rochsari mengatakan kegiatan pemilihan pemuda pelopor, dilaksanakan dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda. “Pemuda pelopor ini, nanti akan mengikuti upacara hari sumpah pemuda tingkat nasional tanggal 28 Oktober mendatang di Kalimantan Tengah,” katanya.

Menurut Sari, pada upacara tingkat nasional tersebut, Banyumas juga mengirimkan 3 pemuda lainya untuk mengikuti Jembore Pemuda Indonesia. Jawa Tengah pada jambore pemuda ini mengirimkan 10 peserta dan 6 pendamping, 3 diantaranya dari Banyumas.

“Septina Prabawati, Mahasiswa Unsoed menjadi terpilih peserta jambore, sedangkan Muhammad Thol’at Al Faraki (kakang Banyumas Tahun 2015) dan Dyan Putri Utami menjadi pendaping, setelah melalui serangkaian seleksi oleh Dinpora Provinsi” jelas Sari.

Upacara Tingkat Kabupaten

Selain mengirimkan pemenang dan peserta pada upacara tingkat nasional, Dinporabudpar juga menyiapkan upacara peringatan hari sumpah pemuda tingkat kabupaten. “Upacara kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pengibar bendera kita rencanakan berjumlah 13 orang,” terangnya Sari.

Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra Tahun 2016) diberi kepercayaan untuk menjadi pengibar bendera, dan sebagai peserta upacara akan mengundang komponen pemuda Banyumas.

“Usai upacara akan ditampilan kolaborasi tari dan musik kenthong kreasi pemuda Banyumas,” pungkas Sari 
 


Asuransi UTP Ditarget 15 Ribu Hektare

Quote suaramerdeka.com :
 PTAsuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo Cabang Purwokerto sampai akhir tahun ini menargetkan asuransi usaha tani padi (UTP) untuk tanaman seluas 15.000 hektare (ha) dan asuransi ternak untuk 1.000 ekor sapi.
Kepala Cabang Jasindo Purwokerto, Adang Nuryadi mengatakan, sampai saat ini asuransi UTPdi wilayah kerjanya mencapai 6.000 ha dan asuransi ternak sapi sekitar 470 ekor, meliputi ternak sapi di Kabupaten Kebumen 300 ekor, Cilacap 150 ekor di Banyumas 24 ekor.
”Respons masyarakat terhadap asuransi sudah bagus. Ketika kami mengedukasi asuransi usaha tani dan ternak, mereka langsung mendaftar,” katanya saat ditemui usai sosialisasi asuransi di Desa Limpakuwus, Sumbang, Selasa (25/10).
Dia mengatakan asuransi UTP dan ternak sapi serta asuransi nelayan merupakan program asuransi bersubsidi dari pemerintah. Premi asuransi UTP sebenarnya Rp 180.000 ha per musim tanam. Namun, petani mendapat subsidi 80 persen, sehingga mereka hanya membayar Rp 36.000 per ha, begitu pula dengan premi ternak sapi yang seharusnya dibayar Rp 200.000, petani menerima subsidi pemerintah 80 persen sehingga hanya membayar Rp 40.000 per tahun.
”Kalau untuk asuransi nelayan malah disubsidi 100 persen,” ujar dia. Adang menjelaskan, asuransi UTPuntuk memproteksi gagal panen akibat kebanjiran, kekeringan dan serangan hama dan penyakit. Sedangkan asuransi ternak sapi untuk menjamin kematian, kehilangan dan sakit. ”Sampai sekarang kami sudah membayar klaim untuk asuransi UTP hampir Rp 100 juta,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua kelompok tani di Desa Limpakuwus, Sugiarto mengatakan potensi di desa yang berada di wilayah selatan lereng Gunung Slamet itu memiliki potensi holtikultura, sehingga perusahaan asuransi seharusnya dapat memproteksi para petani holtikultura. ”Di sini banyak petani cabai, tomat dan lain-lain tapi belum ada asuransi yang melirik kami,” ujar dia.
Menanggapi hal tersebut, Adang mengatakan untuk program asuransi bersubsidi dari pemerintah saat ini baru mengcover asuransi untuk tanaman padi, ternak sapi dan nelayan. ”Saat ini pemerintah baru sebatas padi, tapi asuransi holtikultura ini sebagai masukan kami untuk bisa diusulkan ke pusat,” ujar dia. 

Karya Guru SD Banyumas Masuk Enam Terbaik Sayembara Penulisan Cerita Anak

Quote suaramerdeka.com :
Guru SD 1 Purwodadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Heri Suritno, meraih penghargaan dari Kemendikbud berkat karya tulisnya tentang cerita anak berbasis kearifan lokal dengan judul “Memanggil Bidadari”.
Bersama dengan lima penulis lainnya, ia akan menerima penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Jumat (28/10), di Hotel Mercure Cikini Jakarta, bertepatan dengan puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2016. Heri Suritno mengatakan, keputusan tersebut berdasarkan berita acara No 2749/G3.3/BS/2016 tanggal 14 Oktober lalu. Keseluruhan ada enam guru yang karya tulisnya dinobatkan sebagai yang terbaik dan mendapatkan penghargaan.
Sedangkan tim jurinya dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Keenam guru itu antara lain Aldino Adry Baskoro (Sekolah Alam Minangkabau, Padang Sumatera Barat) dengan judul “Alam Terkembang Jadi Guru”, Sabir (SD Plus Al Ashri Telkomsel, Makassar Sulses) berjudul “Lemari Ajaib”, Fransina Dewi (SD Jatiasih V Bekasi) dengan judul “Balada Bedug Mushola”.
Kemudian Andi Makkaraja (SD 317 Borong Sulsel) berjudul “Kisah Sebuah Buku Kuno”, Kamelia (SDIT Cordova Samarinda Kaltim) dengan judul “Kuyupnya Anak Tambangan” dan Heri Suritno (SD 1 Purwodadi Kecamatan Tambak, Banyumas) dengan judul “Memanggil Bidadari”.
‘’Total secara keseluruhan jumlah peserta yang mengikuti lomba ada sebanyak 1.427 peserta. Dari jumlah itu dipilih enam karya terbaik untuk menerima penghargaan,’’ jelas dia yang juga menjabat sebagai kepala sekolah tersebut. 

Kongres Basa Panginyongan Hasilkan Tujuh Rekomendasi

Quote suaramerdeka.com :
Kongres Basa Penginyongan I di Hotel Moro Seneng Baturraden, Banyumas, menghasilkan tujuh rekomendasi. Ketetapan yang disusun tim perumus itu diharapkan menjadi langkah maju pengembangan dan pelestarian bahasa yang dipakai oleh lima kabupaten di Jawa Tengah.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Rustin Harwanti, mengemukakan, ketujuh rekomendasi itu antara lain basa panginyongan menjadi sebutan bahasa yang ditandai kata inyong disertai upaya penguatan sosialisasi identitas di berbagai ruang publik.
Selain itu, peserta kongres juga memandang perlu ada langkah pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan basa panginyongan secara akademik, terlembagakan, dan terarah.
”Di sisi lain, dibutuhkan panduan penggunaan bahasa panginyongan berupa kamus dan unggah-ungguh, operasional, pelestarian pengembangan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh tim kecil. Setiap kabupaten juga disarankan membentuk UPT teknis kebahasaan untuk mengawal pelaksanaan perbup atau pergub,” ujarnya, saat membacakan rekomendasi Kongres Basa Penginyongan I, kemarin.
Digelar Rutin
Selain itu, sambung dia, peserta juga memutuskan Kongres Basa Panginyongan ini akan dilaksanakan secara periodik dalam waktu dua tahun sekali.
Sebagai bentuk dukungan dari kabupaten yang hadir, seperti Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan tuan rumah Banyumas, setiap kabupaten yang menggunakan rumpun bahasa panginyongan dibolehkan menggelar kegiatan pengembangan dan pelestarian bahasa mendahului rumusan tim komite kongres.
Sementara itu, salah satu pemrakarsa kongres, Hadi Supeno, mengatakan, rekomendasi ini harus diikuti ikhtiar untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa banyumasan. Hal itu merupakan gerakan yang masif. ”Harapannya, penggunaan bahasa panginyongan tidak hanya dilakukan di lembaga pendidikan, tapi juga di lingkungan masyarakat dan keluarga,” kata dia.
Pemilik Grafika Group, Liem Kuswintoro, mengemukakan, para peserta kongres ini membentuk Paguyuban Penginyongan yang akan mengawal hasil kongres. ”Saya harap hasil dari kongres ini menjadi langkah untuk andil dalam pembentukan karakter bangsa,” ujarnya .

Berita sebelumnya,

”Aja Isin Nganggo Basane Dhewek”
Hari Ini Lomba Lukis Topeng Penginyongan Digelar


Bupati Banyumas, Achmad Husein meminta generasi muda tidak malu menggunakan bahasa Banyumas. Bahasa daerah ini harus ditempatkan sebagai kebanggaan masyarakat.
”Aja isin nganggo basane dhewek. Ben tetap lestari,” ucapnya saat membuka Kongres Basa Penginyongan I di Pendapa Si Panji Kabupaten Banyumas, yang diikuti perwakilan pejabat pemerintahan, tokoh, pemerhati budaya dan bahasa, serta seniman budayawan kemarin.
Dia juga mengimbau orang tua untuk membiasakan anaknya menggunakan bahasa Banyumas. Pasalnya, selama ini bahasa ibu tersebut hanya diajarkan di sekolah. Menurut Achmad, ada satu polemik istilah yang tak kunjung usai untuk menyebutkan bahasa tlatah penginyongan ini, yakni ”ngapak” dan ”penginyongan”. Ngapak populer digunakan orang Jawa wetandalam konotasi negatif.
Muatan Lokal
”Saya melihat perlu ada kesepatakan. Kalau orang banyumasan merasa tidak ada masalah disebut berbahasa ngapak ya tidak apaapa. Sebaliknya, kalau dianggap bermasalah yang harus diluruskan pada kongres kali ini,” tambahnya.
Sementara itu, steering committee kongres, Bambang Widodo mengatakan, kongres ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dalam bentuk paket kebijakan pemerintah mengenai pelestarian dan pengembangan bahasa Banyumasan.
”Kebijakannya bisa dalam bentuk mewajibkan sekolah memasukkan Bahasa Banyumas sebagai mata pelajaran muatan lokal. Hari-hari tertentu baik di kantor pelayanan maupun pemerintahan wajib menggunakan bahasa lokal ini,” kata dia.
Selain pemaparan materi dari narasumber, di Hotel Moro Seneng, Baturraden 25-27 Oktober, peserta kongres dari Kabupaten Kebumen, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara dan tuan rumah Banyumas akan dihibur pementasan kesenian ebeg dan cowongan.
Selain itu, masih ada lomba lukis topeng penginyongan pada saat famrip ke Kampoeng Agro Karang Penginyongan di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok. ”Ada lebih dari 150 pelajar SD dan SMP yang akan ikut dalam lomba lukis ini,” kata panitia kongres, Titut Edi Purwanto.

Sering Dikritik


GEMPITA Kongres Basa Penginyongan baru saja usai. Banyak lapisan masyarakat yang menaruh harapan yang terselip pada momentum itu. Tak terkecuali Sarti (53), yang terlihat lincah dan aktif untuk bersuara pada gelaran perdana kongres yang diikuti oleh lima kabupaten di Tlatah Penginyongan.
Guru mata pelajaran Bahasa Jawa ini menuturkan keluh kesahnya saat mengajar para siswanya. Bagi perempuan kelahiran Cilacap, 14 Juli 1963 ini menyampaikan materi dalam bahasa banyumasan lebih sulit ketimbangan bahasa Jawa wetan. Tak jarang, dia mendapatkan kritikan dari kalangan guru lainnya.
“Ngajar sing mandhan alus, dening koh gemradak temen. Ora nana krama inggile acan,” ujarnya menirukan kritik yang disampaikan teman-temannya. Sindiran itu pun dijawab dengan santai oleh Sarti. Menurut dia, bahasa banyumasan memang diucapkan demikian. Akan tetapi tetap memiliki tata krama atau unggah-ungguh dalam penyampaian seharihari.
Guru SMP 6 Purwokerto ini mengemukakan, pembedanya hanyalah faktor percaya diri menggunakan bahasa ibu. Rasa raguragu justru membuat orang memilih menggunakan bahasa bahasa Jawa wetan saat forum resmi maupun santai. “Anak-anak lebih senang menggunakan bahasa banyumasan tanpa merendahkan orang lain,” ujarnya.
Dia mengatakan, bahasa banyumasan tidak terbiasa digunakan oleh masyarakat baik dalam forum, pertemuan di lingkungan maupun pergaulan. Apabila tidak terbiasa, maka lama kelamaan bahasa daerah bisa saja punah. Istri dari Yulio Achmad ini menuturkan, perdebatan juga muncul pada lomba pidato banyumasan.
Pasalnya, masih banyak peserta yang menggunakan krama inggil saat menyampaikan materi. “Harusnya ada kesepakatan, bahasa banyumasan itu seperti apa, ada tata kramanya atau tidak. Tidak perlu terstandarisasi, tapi ada panduan untuk para pengajar,” katanya.
Terkait Kongres Basa Penginyongan, ibu dari Mekar Sartika dan Bintang Handaru ini mengemukakan, hasil rekomendasi kongres belum memenuhi ekspetasinya terhadap pengembangan dan pelestarian bahasa banyumasan.
Dia merasa, keputusan yang dihasilkan tim perumus rekomendasi belum bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kongres ini belum ada manfaatnya secara konkret. Perlu ada pembicaraan lebih lanjut terkait pelestarian bahasa daerah serta sosialisasi melalu berbagai media,” tandasnya.

Quote Radarbanyumas.co.id :

Bahasa Jawa Jadi Mapel Tersulit Radar Banyumas 


Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan terobosan-terobosan, sebelum nantinya bahasa daerah (Bahasa Jawa, red) benar-benar terlupakan. Sebab berdasarkan survei di institusi pendidikan, Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran muatan lokal yang dinilai paling sulit bagi siswa. Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Pardi Suratno mengatakan, jika hal tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi selanjutnya akan lupa atau bahkan tidak mengenal bahasa ibu yaitu bahasa Jawa. Menurutnya, surat edaran bupati maupun Gubernur untuk menggunakan bahasa daerah pada hari tertentu, dinilai belum cukup untuk meningkatkan martabat bahasa daerah. “Bahasa merupakan wadah kebudayaan. Apabila bahasa Jawa menghilang, maka budayanya pun turut lenyap. Demikian pula dengan Bahasa Penginyongan,” ujarnya dalam Kongres Basa Penginyongan I di Pendopo Si Panji, Selasa (25/10) kemarin. Menurutnya, dari penyelenggaraan kongres Bahasa Jawa yang saat ini sudah hampir mencapai enam kali, masih belum mampu membuat bahasa Jawa menjadi bahasa yang bermartabat. Artinya, bahasa yang dipakai dalam hati nurani. Meski banyak anggapan yang menyebut bahasa tidak akan hilang selama masyarakat penginyongan masih ada, menurutnya hal itu hanya isapan jempol. Sebab meski masyarakat penginyongan masih ada, tanpa berbuat apa-apa atau tidak melestarikan penggunaan bahasa Jawa pada kehidupan sehari-hari, maka lama kelamaan bahasa juga akan terkikis. “Bahasa itu sama dengan tumbuhan sama seperti tubuh kita, kalau tidak dirawat maka semakin layu dan bisa mati lalu hilang,” ujarnya. Pardi mengungkapkan, karakter Bahasa Penginyongan yang cablaka harus terus digali dan dipertahankan. Menurutnya, bila ada pengembangan-pengembangan atau penyesuaian dengan era saat ini, bukan tidak mungkin bahasa daerah ini bisa andil memperbaiki situasi negara saat ini. Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekda Provinsi Jawa Tengah, Budi Wibowo saat membacakan pidato Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan, penggunaan bahasa Jawa, khususnya bahasa Banyumasan. juga perlu dilakukukan oleh masyarakat, tidak hanya di lingkungan pemerintah. “Harapannya masyarakat dari luar daerah yang bekerja di Jawa Tengah juga harus bisa menggunakan bahasa Jawa,” ungkapnya. Di sisi lain, bahasa Jawa harus menjadi mata pelajaran muatan lokal di setiap sekolah. Hal itu menurutnya dapat menunjang upaya pelestarian bahasa ibu. Tokoh Paguyuban Seruan Eling Banyumas (Serulingmas) Yogyakarta, Yani Saptohudoyo mengatakan, kongres semacam ini harus digelar secara rutin. Sebab hasil forum ini dapat menjadi dasar upaya pelestarian bahasa Banyumasan. “Kami yang terpencar di berbagai daerah merindukan hal semacam ini. Di perantauan kami membentuk komunitas Banyumasan, berkumpul dan menggunakan bahasa Banyumas. ‘Dadi ora kelalen karo daerahe dhewek’,” pungkasnya