Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 29 Agustus 2016

Bendung Tajum Ajibarang Alami Pendangkalan


 Radar Banyumas
Bendung Tajum yang berada di Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang mengalami pendangkalan sehingga debit air mengalami penurunan. Saat ini, kedalaman air di Bendung Tajum hanya tinggal tiga meter dari kedalaman awal yaitu enam meter. Hal ini membuat pengairan irigasi Tajum untuk 3200 hektar sawah di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo tidak maksimal. Petugas pengairan UPT Wangon Kuntarto menjelaskan, kedalaman Bendung Tajum mengalami pendangakalan sejak beberapa tahun terakhir. Akibatnya volume air untuk pengairan persawahan di wilayah tiga kecamatan tidak maksimal. “Lumpur yang ada di bendungan harus dikeruk karena menyebabkan volume air berkurang. Pengairan irigasi terkendala karena airnya berkurang, terlebih jika musim kemarau,”jelas Kuntarto disela-sela pendampingan rombongan Danrem 071/WK Kol Inf Suhardi dan Dandim 0701/BMS Letkol Inf Erwin EGY di bendung Tajum, Jumat (26/8). Sementara itu, Danrem 071/WK Kolonel Inf Suhardi mengatakan, kunjungan ke Bendung Tajum dilakukan sebagai persiapan menyambut kedatangan Dirjen Pertanian yang direncanakan akan datang ke Tiparkidul pada Minggu (28/8) siang. Terkait dengan persiapan tersebut, ia langsung mengecek Bendung Tajum dan pengairan sawah petani. “Dari hasil kunjungan ini, Bendungan Tajum mengalami pendangkalan, sehingga harus dikeruk supaya 3200 hektar sawah tetap teraliri dengan optimal. Hal itu juga mendukung program Ketahanan Pangan yang terus dilaksanakan supaya Indonesia mencapai swasembada pangan,”jelasnya. Terkait adanya pendangakalan itu, lanjutnya akan disampaikan ke pemerintah supaya petani dalam menanam padi tidak ada kendala. “Selain masalah pendangkalan, juga masalah wilayah Desa Tiparkidul yang memang sawahnya berupa tadah hujan dan tidak bisa memanfaatkan air irigasi secara langsung karena harus menyedot air dari saluran irigasi Tajum,”jelasnya. Ia berharap,kondisi Bendung Tajum yang diresmikan Presiden RI Soeharto pada tahun 1973 bisa berfungsi dengan maksimal.


Warga Tiparkidul Belum Bisa Manfaatkan Irigasi Tajum Radar Banyumas

Walaupun berada di Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang, keberadaan Bendung Tajum tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat, terlebih bagi petani. Pasalnya, saluran irigasi dan air sungai tidak bisa secara langsung mengairi pesawahan namun harus menggunakan pompa air. Kepala Desa Tiparkidul Riyanto mengatakan, Bendung Tajum dengan saluran irigasi dalam mengairi 3200 hektar sawah hanya bisa dinikmati secara langsung di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo. Untuk Desa Tiparkidul sendiri tidak secara langsung menikmati air irigasi untuk sawah namun harus dengan pompa air. “Nah ini yang menjadi kendala saat ini karena tidak semuanya kelompok tani mempunyai pompa air karena membutuhkan 14 pompa. Dari 7 kelompok tani baru dua pompa yang direalisasikan. Bahkan untuk menyewa juga terkendala bensin premium yang sudah tidak bisa bisa dibeli eceran. Antri sewa juga lama,”jelas Riyanto saat kunjungan Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Gatot Irianto dan rombongan di Balai Desa Tiparkidul Ajibarang, Minggu (28/8). Dengan kondisi tersebut, Riyanto berharap, Dirjen PSP Kementerian Pertanian ada alokasi untuk pompa air bagi petani di Desa Tiparkidul. “Wilayah sawah di Tiparkidul adalah tadah hujan, sehingga memang yang mendesak adalah pompa air sehingga setahun bisa tiga kali tanam padi,” harapnya. Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Dr Ir Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, untuk bantuan pompa air sebanyak 12 unit pompa air langsung direalisasikan. Namun ia memberikan syarat supaya hasil panen dijual ke Bulog. “Jangan malah hasilnya dijual ke tengkulak. Pompa sudah direalisasikan dan panen harus benar-benar dijual ke Bulog nanti Dandim dan Danramil ikut mengawasi,”jelasnya. Sementara terkait pendangakalan Bendung Tajum, kepala desa harus memastikan setelah dikeruk tidak lagi ada endapan lumpur. “Kalau saya keruk kemudian muncul endapan lagi tidak akan saya realisasikan. Harus dipastikan dulu dan dijamin setelah dikeruk tidak ada pengendapan,” tegasnya. Usai kegiatan tersebut, rombongan batal meninjau Bendung Tajum karena hujan. Hanya sekitar 34 menit di Balai Desa kunjungan rombongan Dirjen PSP Kementerian Pertanian selesai. 


Sumber: http://radarbanyumas.co.id/bendung-tajum-ajibarang-alami-pendangkalan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar