Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Kamis, 18 Agustus 2016

Batik Printing Ancam Batik Banyumasan

suaramerdeka.com
Derasnya ekspansi batik printing dari luar daerah menjadi ancaman bagi pemasaran perajin batik di Banyumas.
Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu diantisipasi agar batik tulis Banyumas tetap eksis dan makin berkembang. ’’Saya benar-benar prihatin dengan makin banyaknya batik printing dari luar daerah yang dipasarkan di Banyumas.
Yang lebih fatal, mereka para produsen batik printing masuk ke pasar Banyumas semata-mata orientasinya mencari keuntungan. Ini yang harus dicarikan jalan keluarnya,’’ ungkap Heru Santoso, perajin batik Banyumasan dari Sokaraja, kemarin. Ia memprediksi batik printing telah menguasai 60 % pangsa pasar batik di Banyumas. Sedangkan untuk batik tradisional hanya menguasai 40 % pasar batik.
Bila tidak dicarikan solusinya, pangsa pasar batik tulis Banyumas yang sudah mulai tumbuh dan berkembang bakal tergerus oleh batik printing. Menurut dia sebenarnya batik printing boleh-boleh saja masuk ke pasar di Banyumas, tetapi caranya harus fair.
Artinya, pedagang itu secara terus terang menyebutkan kalau batik yang dijualnya merupakan batik printing. Keterusterangan perlu karena sebagian besar konsumen banyak yang tidak tahu atau tidak bisa membedakan batik tulis, cap dan printing. ’’Mereka kebanyakan tidak mau terus terang kalau batik yang dijual atau dipasarkan di Banyumas adalah batik printing.
Prinsip mereka yang penting batiknya laku, karena memang harganya lebih murah. Keterusterangan penting agar pembeli memahami membatik itu butuh waktu lama dan tidak mudah,’’ ujar Heru yang rutin mengikuti perkembangan batik Banyumasan.
Tergerus
Banjirnya batik printing tersebut membuat perajin batik tradisional, baik perajin batik tulis maupun cap di Sokaraja tergerus. Bila sebelumnya ada 125 perajin batik industri kecil menengah (IKM), kini yang masih bertahan tinggal 12 IKM.
Sementara untuk pekrja batik makin ke sini juga makin berkurang. ’’Sebagian besar orang yang dulu bekerja sebagai buruh batik (pengobeng) di sentra kerajinan batik saat ini sudah lansia.
Mereka kalau dipekerjakan lagi sudah tidak mau karena menilai upahnya tidak memadai. Kalau pun mau hanya sebagai pekerjaan sambilan di rumah yang dikerjakan saat ada waktu senggang,’’ jelasnya. Oleh sebab itu, kata Heru, di Banyumas perlu ada pengenalan batik kepada anak-anak muda, utamanya anak sekolah.
Agar anak-anak muda bisa membatik, tidak hanya dengan pelatihan yang waktunya singkat tetapi melalui mata pelajaran di sekolah. Sebab untuk menjadikan seseorang bisa membatik butuh waktu yang lama dan terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar