Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 31 Juli 2017

Dermaga Serayu Harapan Baru di Balik Seretnya Perijinan Pusat


Perahu Hias di Festival Serayu Baru Sekedar Event

Tujuh Kali Digelar, Tujuan Belum Tercapai 

PURWOKERTO-Festival Serayu di Kabupaten Banyumas sejatinya bertujuan untuk membuat destinasi wisata di lokasi tersebut. Terutama dalam pengembangan dermaga wisata sebagai roh pengembangan wisata selanjutnya. Namun, keinginan mengembangkan dermaga wisata tampak jauh belum tercapai. Faktor utamanya karena terkendala perizinan pembangunan dermaga dari pemerintah pusat. Kemarin (30/7), memang nampak puluhan perahu hias berlayar dari salah satu dermaga di Desa Sokawera, Kecamatan Patikraja menuju ke Bendung Gerak Serayu, Desa Tambaknegara Kecamatan Rawalo. 

Semangat terlihat jelas dari berbagai hiasan perahu yang berlayar dari para peserta. Mereka yang ada di perahu pun selalu melambaikan tangan kepada para penonton yang berderet dari sepanjang Kecamatan Patikraja hingga Kecamatan Rawalo. MELESAT DI ATAS AIR : Salah satu perahu hias dari Linmas berlayar di tengah Sungai Serayu kemarin (30/7). Sasaran Festival Perahu Hias berupa pembukaan perizinan dermaga dari pemerintah pusat hingga sekarang belum tercapai. (DIMAS BUDI LANTORO MUKTI PRABOWO/RADAR BANYUMAS) Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Suwondo Geni mengakui tujuan utama untuk membuat destinasi wisata belum tercapai. Bahkan, setelah festival tersebut dicoba untuk ke tujuh kali ini, kata dia, tujuan utamanya masih belum muncul. Penyebabnya, pertama karena dari segi ekonomis lebih menjanjikan menjadi penambang pasir, kedua ada rasa takut wisatawan menaiki perahu dan ketiga karena area sungai tersebut adalah milik pemerintah pusat, perizinan untuk membangun dermaga dari Pemkab Banyumas tidak diperkenankan atau tidak mendapatkan ijin.

 “Jadi harapan kami sebagai destinasi wisata pupus. Tetapi kami tetap semangat, meski hanya sekadar event festival serayu saja, bukan destinasi wisata,” terangnya, belum lama ini. Selain tujuan awal dengan membuat destinasi wisata, tujuan Festival Serayu juga untuk merubah sikap mental masyarakat sekitar yang semula menambang pasir menjadi melayani wisatawan. Sehingga ekologi di Sungai Serayu terlestari. Melihat kondisi tersebut, Suwondo mengatakan, untuk Festival Serayu tahun depan bakal melakukan evaluasi besar-besaran. Salah satunya mengubah konsep kegiatan festival dari yang semula fokus kegiatan di dalam air. Maka, tahun depan direncanakan fokus untuk kegiatan lain, seperti hiking atau susur bukit, lomba lari, lomba sepeda, dan jenis kegiatan lainnya. “Harapannya nanti tidak hanya balapan perahu dan perahu hias saja, karena ini kalau kita garap sudah tidak memungkinkan. Tapi kita akan tonjolkan potensi lain yang ada di masyarakat sekitar. Sehingga itu akan menjadi event, dan itu akan lebih mudah. Kita sudah komunikasi dengan perhutani, dan mereka welcome,” jelasnya. 

Kabid Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Saptono membenarkan hal itu. Menurutnya, tujuan awalnya ingin merubah karakter dan mata pencaharian rekan-rekan penambang pasir menjadi mengelola perahu wisata. Tapi sampai saat ini belum terealisasi. “Makanya setiap tahun terus kita evaluasi dan meningkatkan kegiatannya sehingga mereka ikut berpartisipasi di sini,” katanya terpisah. Tursinah, salah satu penonton mengatakan, kegiatan Festival Serayu setiap tahun tidak ada perubahan. Meski demikian, menurutnya antusias masyarakat yang menyaksikan festival tersebut kali ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. “Semakin baik semoga semakin banyak peminatnya. Tapi acaranya kalau bisa ditambah yang lebih menarik lagi,” katanya yang mengaku sudah lima kali menonton kegiatan serupa. Bupati Banyumas Ir H Achmad Husein mengakui hal tersebut. Suilitnya memperoleh perizinan menyebabkan rencana Pemkab Banyumas selama ini belum tercapai. Namun demikian, menurutnya kegiatan Festival Serayu kali ini cukup antusias. Setiap tahun, menurutnya semakin meningkat kualitasnya. “Animo masyarakat cukup banyak. Bisa mendekatkan pemerintah dan masyarakat. Bahkan ada yang minta satu tahun dua kali. Sebenarnya tujuan pertama kegiatan ini untuk menjaga sungai, terutama dari sampah. Menjadikan pariwisata dan rekreasi bersama. Dan yang rekeasi harus dikembangkan terus,” pintanya. Selain itu, ia juga mengatakan, dari balai besar serayu opak akan membangun tiga dermaga di lokasi tersebut.

 Adanya wacana tersebut, membawa angin segar bagi Pemkab Banyumas untuk lebih mengembangkan kawasan tersebut menjadi wisata. “Mungkin bisa kerjasama dengan swasta tahun ini. Kedepan ada atraksi air. Tadi ada pengusaha dia juga akan membikin perahu pariwisata setiap Sabtu-Minggu. Ada sekitar 20 perahu,” katanya. Sementara itu, Ketua Paguyuban Masyarakat Wisata Serayu, Eddy Wahono mengatakan, pelaku wisata Sungai Serayu secara mandiri akan terus berupaya membangun wisata air, seperti akan mendirikan tiga dermaga sebagai sarana dibukanya wisata air. “Rencananya ada tiga dermaga yakni di BGS Rawalo, Desa Notog, Patikraja, dan Desa Tumiyang, Kebasen,” ungkapnya. Dalam wisata air ini, nantinya akan melibatkan puluhan penambang pasir ilegal untuk berlaih profesi menjadi pelaku wisata, sehingga konservasi sungai akan lebih terjaga. Untuk wisata air nantinya akan disuguhkan kegiatan susur sungai, serta edukasi berkaitan pengelolaan sumber daya air, dengan menggunakan kapal milik penambang. 

Nantinya di setiap dermaga akan disuguhkan makanan khas Banyumas, seperti mendoan, pecel, dan sebagainya. Menurutnya meski secara perizinan wisata air belum keluar, namun secara lisan sudah dilakukan, sehingga, kegiatan wisata air sudah bisa dilaksanakan. “Untuk tahap awal pelaku wisata sudah menyiapkan dua jet ski yang disewakan yang tiap 10 menit, wisatawan membayar Rp 100 ribu, dan akan menikmati indahnya Sungai Serayu. Dan bagi wisatawan yang ingin menuyusuri Sungai Serayu saat ini bisa langsung ke Posko Wisata Air di komplek BGS Rawalo. Di posko sudah ada operator jet ski yang akan membawanya menyusuri sungai,” katanya. Sementara dalam kegiatan Festival perahu hias yang digelar pada, Minggu (30/7) kemarin, dimulai dari Desa Sokawera dan finish di Bendung Gerak Serayu. Sedikitnya ada 24 perahu yang dihias, 21 perahu diantaranya diikuti oleh unsur OPD, BUMN, BUMDes, swasta, perguruan tinggi dan kecamatan. Dan tiga perahu lainnya oleh Bupati, forkompinda, dan tim penggerak PKK. Selain perahu hias, jenis kegiatan lain yang turut meramaikan adalah tebar benih ikan dan lomba layang-layang. “Total anggarannya sekitar Rp 100 juta dari APBD Tahun 2017,” katanya. Tampak ratusan layang-layang menjelajah di langit sekitar Bendung Gerak Serayu. Sementara itu, Kasi Opdal Satpol PP Banyumas Kasmo mengaku akan menggandeng dinas terkait untuk menentukan langkah yang akan diambil. “Karena ini laporan khusus sebelumnya juga akan kirimkan intel untuk mengumpulkan info selama tiga hari di tempat yang jadi laporan,” katanya. Pantauan, kata dia, akan dimaksimalkan, di jam-jam ramai pengunjung dan apa saja yang terpantau. “Tapi, selama ini Satpol sudah sering patroli untuk antisipasi kegiatan negatif,” katanya.

Sumber: http://radarbanyumas.co.id/perahu-hias-di-festival-serayu-baru-sekedar-event/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Jumat, 28 Juli 2017

Ikhtiar Mendongkrak Wisatawan di Banyumas Raya

 Catatan Pebemas Travel Mart 2017
TRAVEL Mart, bisa dibilang masih asing di telinga masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Perhimpunan Biro Perjalanan Wisata se eks Karesidenan Banyumas, memulai terobosan ini demi mendongkrak kunjungan wisatawan.
Selasa (25/7) malam, pemandangan tak biasa terlihat di areal Taman Rekreasi Andhang Pangrenan Purwokerto. Lebih dari 50 meja dan kursi makan berjajar rapi, beralas kain putih ala restoran. Sementara di bagian barat dan timur, deretan makanan dan minuman tradisional mulai dari gethuk, nopia, sate, dawet, hingga rames tersaji.
Sembari menanti acara dibuka, sejumlah seniman menari, menghibur para pengunjung yang merupakan anggota asosiasi biro perjalanan wisata dari barat dan timur Pulau Jawa serta Kalimantan. Konsep gala dinner di luar ruangan ini menjadi pembuka ramah tamah antarpeserta Pebemas Travel Mart dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Setelah sebelumnya para biro perjalanan ini mengunjungi objek wisata di pesisir selatan Cilacap. Momentum ini sekaligus menjadi wahana untuk mengenalkan pelaku wisata di Banyumas dari berbagai bidang. Baik itu pemandu wisata, pengusaha batik, desainer, pengusaha kuliner, dan perhotelan.
”Saya pun rela berlenggak-lenggok di catwalk untuk mengenalkan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Banyumas,” kata Ketua DPC HPI Banyumas, Heri Nursinto yang ikut mempromosikan kegiatannya kepada hadirin. Heri tak sendiri, sejumlah model memamerkan batik Banyumasan dengan berbagai desain yang unik. Para Duta Wisata Kakang Mbekayu Banyumas, juga ikut ambil bagian.
Paket Wisata
Ketua DPRD Banyumas, Juli Krisdianto mengatakan, kegiatan perdana yang digelar ini menjadi jembatan kerjasama promosi pariwisata antara Pemkab Banyumas dan pelaku wisata. Meski baru digelar perdana, namun animo peserta yang hadir bisa dibilang cukup sukses. Setelah gala dinner, kegiatan berlanjut dengan table top di Hotel Java Heritage, Rabu (26/7).
Sedikitnya 120 buyer dari kalangan biro wisata dan 60 seller dari kalangan pengusaha rumah makan, hotel, penyedia jasa transportasi dan objek wisata saling tawar menawar paket wisata. Ketua Panitia Pebemas Travel Mart, Siswo Uriliyanto optimistis, biro wisata dari luar daerah tertarik dengan paket yang ditawarkan oleh seller dari wilayah Banyumas Raya.
Antusiasme peserta ajang ini cukup tinggi sejak awal kegiatan. ”Pasti ada yang sudah deal. Nanti tinggal kita tunggu hasilnya,” kata dia. Menurut dia, event ini merupakan ikhtiar para pelaku wisata di wilayah eks Karesidenan Banyumas agar kunjungan wisatawan terdongkrak.
Ketua asosiasi pelaku wisata ”Pujawisata”, Sugeng Sejati mengakui, wilayah Banyumas Raya memiliki destinasi wisata yang cukup beragam dan bisa diunggulkan. Di bagian selatan terdapat pantai, sedangkan di utara terdapat gunung dan daerah tengah ada kota yang sedang berkembang.
sumber suara merdeka

Penderita Thalassemia Diarahkan Berbisnis Online

Para pasien thalassemia Banyumas banyak yang belum tertampung oleh pekerjaan formal. Hal ini menjadi perhatian Persatuan Pasien Thalasssemia Indonesia (PPTI) bersama para akademisi dari Fakultas Kedokteran Unsoed Purwokerto, untuk menjebatani mereka agar dapat mandiri.
Salah satu upaya yang dilakukan, dengan memberikan bantuan perangkat komputer untuk PPTI, sebagai langkah awal perencanaan pemberdayaan ekonomi pasien thalassemia Banyumas.
Perwakilan akademisi dari Unsoed Purwokerto, Lantip Rujito mengatakan, bantuan ini mendukung pemberdayaan ekonomi bagi pasien thalassemia di Banyumas. Dalam waktu dekat PPTI akan menggelar pelatihan bisnis online. Pelatihan bisnis online, kata dia, merupakan salah satu alternatif solusi yang ditawarkan, karena pasarnya tidak terbatas dan perkembangan bisnis online kini semakin maju.
”Dari sisi pelaku, individu thalassemia sangat potensial dan memiliki keuntungan sendiri mengingat pelaku dapat menjalankan bisnis ini dari rumah, dan tidak terkait dengan orang lain,” ujarnya.
Ia mengatakan, individu thalassemia dapat mengatur sendiri jadwal bisnis tanpa harus berurusan dengan pihak perusahaan yang terkadang masih menganggap ‘miring’ para pasien thalassemia. ”Upaya ini adalah upaya awal yang masih perlu perbaikan konsep dan eksekusi di lapangan,” katanya.
Dikatakan, dukungan masyarakat dan pemerintah serta para pemangku kepentingan sangat penting. Diharapkan dapat memberdayakan pasien thalassemia untuk hidup mandiri dan setara dengan komponen masyarakat lain.
sumber suara merdeka

Terdesak Zaman, Wangi Melati di Pandansari Makin Memudar

PANDANSARI tanpa melati bukanlah Pandansari. Demikianlah ungkapan yang menerangkan betapa sejarah desa di wilayah Kecamatan Ajibarang bagian utara itu tak bisa dilepaskan dari bunga melati dan teh. Namun seiring waktu, wangi hingga kejayaan melati itu semakin pudar.
“Masa kejayaanya itu sekitar tahun 1970-1980an. Dulu kalau sawah ditanami padi malah dipertanyakan. Karena puluhan hektar sawah yang ada di Pandansari ini adalah kebun melati. Dengan menanam melati, setiap hari akan menghasilkan uang,” jelas Amrudin Ma’ruf (63) warga Pandansari.
Berbeda dulu, sekarang lahan perkebunan melati di desa ini bisa dihitung dengan jari. Melati menjadi simbol keharuman sekaligus penghidupan ekonomi warga Pandasari kini makin tersisih. Jika dulu sebagian besar warga menjadi pemilik sekaligus pemetik melati, maka kini hanya segelintir orang saja yang masih mau menanam dan memetik melati.
“Dulu saat radio masih berjaya, ucapan kartu atensi untuk gadis di kebun melati di Pandansari masih lekat dan sering disampaikan, ” katanya ayah dua anak itu. Dulu kata Amrudin, orang membeli beras dengan melati. Ekonomi warga berputarpun karena melati. Tak heran Pandansaripun menjadi wilayah dengan warga penyumbang material bagi pendirian SMP dan MTs Al Hidayah Ajibarang karena melatinya.
“Banyak berkat dan pembelajaran hidup yang bisa diambil dari wangi melati. Kesederhanaan, kepolosa dan kejujuran warga ada di sana. Sayang sekarang banyak yang tinggal kenangan saja,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Wakil Cabang NU Ajibarang.
Berkat melati sejumlah pedagang desa setempat menjadi saudagar besar higga tuan tanah. Terlebih lagi melati gambir yang berasal dari Pandansari ini sangat terkenal sebagai campuran teh melati untuk pabrik teh wilayah Ajibarang hingga Tegal.
Kinipun di tengah minimnya lahan melati, Pndansari masih mengirimkan melati ke wilayah Tegal, sebagian lagi digunakan untuk campuran teh bagi perajin teh di wilayah Ajibarang khususnya Pandansari dan Ajibarang. “Berkat melati ini sejumlah merek teh lokal mulai dari Teh Kunci hingga Gembong cukup terkenal. Bahkan perusahaan teh besar juga menerima pasokan melati dari wilayah ini.
Namun kini makin sedikit saja kuantitas produksinya,” kata Indri Priyono (35), perajin teh generasi ketiga yang ingin membangkitkan kembali teh melati Pandansari. Tak ada yang menulis secara pasti sejarah melati masuk ke wilayah Ajibarang. Namun dari cerita oral yang berkembang, melati gambir yang cukup wangi menjadi campuran teh ini disebut-sebut berasal dari wilayah Klampok, Banjarnegara.
Sekitar tahun 1960an melati ini mulai ditanam dan berkembang di areal persawahan di kanan kiri jalur Ajibarang Tumiyang. “Jadi di desa sepanjang jalan kabupaten inilah melati ditanam dan berkembang. Mulai dari Pandansari, Karangkelesem, Pasiraman dan Glempang,” kata Indri mengutip cerita para leluhurnya.
Makin Ditinggalkan
Seiring berjalannya waktu, berkat tuntutan lahan padi hingga perumahan serta perubahan cara pikir ekonomi, perkebunan hingga pekerjaan pemetik melati makin ditinggalkan. Di tahun 1980an, urbanisasi makin terjadi. Sementara sejumlah lahan perkebunan melati dialihkan menjadi persawahan dan pemukiman.
“Banyak pula warga yang kemudian hijrah ke Jakarta menjadi pembantu rumah tangga. Karena di sini juga ada makelarnya dulu. Dari situlah warga mengenal uang banyak dan melati makin ditinggalkan,” jelas Ardi (55) warga Pandansari yang menjadi saksi perubahan jaman.
Kini di tengah desakan ekonomi dan kebutuhan lahan perkembangan Kota Ajibarang, pemetik melati tak lagi menjadi gadis lagi. Senyum manis hingga celoteh manja gadis pemetik melati hingga pemasak teh melati hanya terbilang tak ada lagi. Yang ada kini hanya sisa wangi melati bersama pemetiknya yang renta di sejumlah titik sudut Desa Pandansari.
“Sekarang satu kali petik hanya bisa memperoleh dua ons melati saja. Satu ons harganya Rp 5 ribu. Kalau sekarang tinggal beberapa lahan saja, yang lain sudah diganti dengan menjadi sawah dan rumah,” jelas Kasinah
sumber suara merdeka

Kamis, 27 Juli 2017

Indahnya Hulu Kali Logawa

Pemandangan yang sangat alami asri dan indah dari Desa Sinyalangu  hulu kali logawa di Kabupaten Banyumas semoga tetap bisa terjaga kelestariannya dan bisa dikemas menjadi objek wisata ke depannya .
Foto dokumentasi credit to Edy Dumbo





Senin, Pembangunan Dimulai Duplikat Jembatan Merah Patikraja

Senin (31/7) mendatang pembangunan duplikat Jembatan Merah Patikraja direncanakan akan dimulai. Dimulainya pembangunan menurut rencana ditandai dengan seremoni peletakkan batu pertama.
“Senin besok, memang rencananya ada peletakkan batu pertama dimulainya pembangunan duplikat Jembatan Merah Patikraja,” jelas Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas Akhmad Taufik saat dikonfirmasi, Rabu (27/7).
Lebih lanjut Akhmad mengatakan, pembangunan jembatan yang menghubungkan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Cilacap via Kebasen itu ditargetkan selesai akhir tahun ini. Menurut dia, pihaknya memberikan waktu sampai dengan 200 hari kepada pelaksana untuk menyelesaikan pembangunan jembatan tersebut.
“Target pembangunan jembatan (Duplikat Jembatan Merah Patikraja) sampai 200 hari,” ucapnya. Ia mengatakan, dalam seremoni peletakkan batu pertama pembangunan duplikat Jembatan Merah Patikraja, Bupati Banyumas Achmad Husein dijadwalkan akan hadir, dan melakukan peletakkan batu pertama.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas Irawadi mengatakan, pembangunan duplikat Jembatan Merah Patikraja ditargetkan selesai akhir tahun 2017. “Sudah tandatangan kontrak, sebenatar lagi akan ada groundbreaking, sebab target (pembangunan duplikat Jembatan Merah) sudah harus selesai akhir tahun ini,” jelasnya, baru-baru ini.
Nantinya, lanjut dia pemerintah pusat akan membantu proses pembangunan jembatan itu, yakni dengan membantu bangunan bagian atas air jembatan tersebut. Dengan adanya bantuan itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas tinggal mengerjakan bagian bawah jembatan.
Seperti terlihat di lokasi Pemkab Banyumas gencar menyosialisasikan rencana pembangunan jembatan tersebut, salah satunya menggunakan media baliho. Baliho yang terpasang bergambar foto Bupati dan Wakil Bupati Banyumas, yang dibawahnya terdapat gambar desain, dan lokasi jembatan yang akan dibangun. sumber suara merdeka

Rabu, 26 Juli 2017

Potensi Balai Budaya Banyumas Untuk Pusat Kegiatan Event Pariwisata dan Kebudayaan


Dalam forum diskusi di medsos saya mempunyai usulan agar Balai Budaya pengganti gedung suteja yang berlokasi di jalan pancurawis bisa dijadikan proyek percontohan menjadi ikon baru pariwisata . Alangkah baiknya jika anggaran yang sudah cukup besar dikeluarkan tidak percuma dan ada manfaat bagi kesejahteraan rakyat . Bagaimana caranya ? Bisa digunakan menjadi pemusatan kegiatan event pariwisata baik mingguan,bulanan  atau tahunan atau bahkan harian.  Bisa jadi ini menjadi implementasi rencana Pemda Banyumas yang dulu batal karena banyaknya kontra selama berminggu minggu yaitu rencana pasar seni Tugu yang direncakan di sekitar jalan gatot Subroto . Pihak yang kontra antara lain mengatakan akan menimbulkan kemacetan di jalan umum yang menjadi terganggunya hak publik. Padahal rencana itu merupakan salah satu langkah membuat pusat kegiatan yang menarik wisatawan . Nah dengan adanya Balai Budaya di Jl Pancurawis maka bisa menjadi alternatif selain menyebar pusat keramaian baru juga tidak berdampak tinggi bagi kemacetan mengingat tingkat kesibukan lokasi berbeda dengan jalan protokol . 
Nah terkait konsep mungkin ini bisa  dipertimbangkan untuk Pemda Banyumas saya copas dari salah satu netizen " Rokhmadi Al Madi : Asal usul anu mumpung ana sing lgi nyundul mbok ana sing nggople Judule " GEBYAG BANYUMASAN "

Festival kesenian neng Banyumas seminggu dur .saben dina diisi setiap desa utawa kecamatan sing duwe kesenian BANYUMAS ASLI ora campur.kabeh pernak pernik .acesoris.properti Khas Banyumas. Tempate neng Andang Pangrenan .neng seputare go stand makanan karo bathik.utawa produk Banyumas.saben sekolah SD muride wajib Nonton sekali.go pengenalan maring generasi penerus.dadi Pegiat seni due semangat nguri uri budaya Banyumas.Pengrajin juga bsa olih pasaran.Suasane di gawe bamyumas Banget.ora olih ana musik selain sing khas banyumas walopun neng stand .dadi bsa ngrasakna Nuansa banyumas...

#priatin Banyumas siki anane wong kedubragan thox.


Empat Tahun Dibangun, Taman Budaya Belum Bermanfaat

DPRD Banyumas meminta pihak Pemkab untuk mengurangi proyek pembangunan model multiyears dalam pelaksanaan APBD. Alasannya, selain sulit diawasi, pengerjaan pembangunan juga lama, karena target pencapaiannya per tahun. ”Harusnya pekerjaan pembangunan model multiyears bisa dikurangi ke depan.
Jadi, targetnya jelas dan hasilnya bisa langsung dinikmati masyarakat,” kata Ketua Pansus Raperda Pelaksanaan Keuangan APBD tahun 2016, Akhmad Saiful Hadi, saat melakukan uji petik di lokasi pembangunan Taman Budaya, Selasa (25/7).
Kasus tersebut, kata dia, bisa dilihat dari pelaksanaan pembangunan Gedung Kesenian di Komplek Taman Budaya Banyumas di Kelurahan Pancurawis, Kecamatan Purwokerto Selatan. Menurutnya, pembangunan fisik yang direncanakan multiyears belum berdampak apa-apa.
”Padahal, tahun ini sudah masuk tahun keempat pengerjaan, tetapi masyarakat masih belum mengetahui kondisi bangunan atau Taman Budaya secara menyeluruh dan kapan akan selesai untuk segera dimanfaatkan,” tandasnya. Bangunan Taman Budaya tersebut, nilai dia, dari luar seperti bangunan biasa, padahal sudah dirancang model pembangunan multiyears.
Menurut wakil rakyat dari PAN ini, harusnya ada semacam visual atau gambar 3D yang dipajang di depan lokasi pembangunan. ”Jadi, jelas antara konsep dan realisasinya sejauh mana. Dan masyarakat juga berhak untuk memiliki gambaran. Kalau begini, banyak masyarakat yang masih bertanya gedung ini untuk apa,” tegas dia.
Dia mengakui, jika tidak dilakukan secara multiyears memang akan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Karena itu, perlu dilakukan perencanaan yang matang dan sistem penganggaran yang baik, mengingat sampai saat ini di APBD juga masih tersisa anggaran sisa lebih pelaksanaan anggaran (silpa) yang cukup besar.
”Bukannya kita melarang untuk perencanaan multiyears, namun kalau bisa jangan terlalu lama. Kalau mendengar paparan PU tadi, perkiraan pembangunannya bisa sampai 10 tahun. Harusnya paling tidak bisa diselesaikan 4-5 tahun,” ujarnya.
Selain gedung kesenian, pansus juga menyambangi beberapa lokasi pembangunan lain pada tahun 2016, seperti Puskesmas Kalibagor dan Taman di Pendapa Kecamatan Banyumas. Saiful, bersama anggota pansus lainnya, seperti Eko Purwanto dan Sutri Handayani, berharap ada perbaikan perencanaan pada tahun-tahun selanjutnya, sehingga target pembangunan bisa lebih maksimal.
Perwakilan dari Dinas Pekerjaan Umum, Imam Wibowo, mengakui untuk pembangunan gedung kesenian memang membutuhkan anggaran yang sangat besar. Karena kekuatan anggaran Kabupaten Banyumas yang masih terbatas, maka perencanaan dilakukan secara bertahap.
sumber suara merdeka

Kader PKK Didorong Punya Keterampilan

Kader PKK di Kabupaten Banyumas yang tersebar mulai tingkat kabupaten hingga desa/kelurahan, didorong agar mempunyai keterampilan. Dengan memiliki keterampilan, diharapkan mereka mampu menambah penghasilan keluarga dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyumas, Erna Sulistiyawati Achmad Husein, mengatakan, dengan memiliki kemampuan keterampilan, setidaknya kader PKK mampu berperan untuk membantu keluarganya dengan menambah penghasilan. Banyak jenis keterampilan yang dapat dipelajari, salah satunya keterampilan membuat kerajinan bordir.
Apalagi selama ini kerajinan bordir memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Meski sudah ada beberapa kabupaten atau kota yang menjadi sentra kerajinan bordir, namun peluang untuk tumbuh dan berkembang masih terbuka cukup lebar. Kesempatan ini harus benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Banyumas, khususnya kader PKK dengan menekuni kerajinan tersebut.
‘’Tasikmalaya memiliki sentra bordir, Surabaya juga demikian, serta Kudus juga dikenal sebagai sentra penghasil bordir, tetapi potensi kerajinan bordir di Banyumas juga cukup besar, seperti di Desa Darmakradenan,’’ tuturnya saat membuka kegiatan pelatihan keterampilan membuat bordir bagi kader PKK tingkat Kabupaten Banyumas di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto, kemarin.
Topang Pasar
Selain dihadiri ketua, kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Banyumas, Linawati Budhi Setiawan. Kegiatan pelatihan keterampilan ini diikuti sebanyak 50 peserta.
Mereka merupakan kader PKK di masing-masing kecamatan dan pengurus TP PKK kabupaten. Erna Husein menambahkan, dengan menguasai keterampilan dalam membuat bordir, diharapkan mereka mampu memenuhi permintaan pasar terhadap kerajinan bordir, baik secara individu maupun dalam kelompok usaha.
‘’Kegiatan pelatihan ini diharapkan ke depan ditindaklanjuti, sehingga dapat menopang pasar bordir dan mendukung kerajinan batik yang sudah ada,’’ terangnya. Karena itu, lanjut dia, kegiatan pelatihan keterampilan ini hendaknya benar-benar dimanfaatkan. Setelah mengusai keterampilan bordir, para peserta diharapkan tidak berpuas diri.
Mereka harus terus melakukan kreativitas dan inovasi, sehingga nilai jual kerajinan bordir semakin tinggi, sehingga dapat berdampak terhadap kesejahteraan mereka. Panitia kegiatan, Laely Mansur mengatakan, kegiatan yang merupakan salah satu program kerja TPPKK ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dalam membuat varian kerajinan bordir bagi kader PKK.
Selain itu, meningkatkan dan mengembangkan usaha bersama maupun perorangan dalam menghadapi persaingan pasar. ‘’Setelah mengikuti pelatihan, diharapkan para peserta dapat mengembangkan sendiri dan menularkan kepada masyarakat luas,’’tandasnya.
sumber suara merdeka

Museum BRI Purwokerto

Rekaman Perubahan di Bilik Museum

HERAKLEITOS seorang filsuf yang hidup sezaman dengan Phytagoras pernah berucap panta rhei kai uden menei, yang kurang lebih berarti semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal tetap. Perubahan seperti dikatakan Herakleitos sudah pasti terjadi.
Perubahan dapat menyentuh segala hal, termasuk di antaranya gaya hidup. Terkini, orang mulai dibiasakan menggunakan pembayaran dengan cara nontunai. Tidak hanya ketika berbelanja barang branded di gerai fashion ternama, bahkan pembayaran nontunai juga telah merambah pada pemberian bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sampai transaksi di pasar tradisional.
Perubahan-perubahan mengenai tata cara pembayaran, ternyata terekam dengan jelas di Museum BRI Purwokerto. Hal itu seperti terlihat dari beberapa koleksi museum yang didirikan untuk mengenang jasa Raden Aria Wirjaatmadja terhadap dunia perbankan di Indonesia.
Koleksi Mata Uang
Menurut petugas Museum BRI Purwokerto Errysa Bhaktiardhi, selain menyimpan koleksi sejarah pendirian BRI, Museum BRI juga memiliki koleksi mata uang yang pernah ada di Nusantara. ”Koleksi uang mulai dari uang zaman Majapahit, VOC, Zaman Penjajahan Jepang, sampai dengan rupiah edisi Panglima Besar Jenderal Soe- SM/Gayhul Dhika Wicaksana dirman,” tuturnya, Selasa (25/7).
Kepada Suara Merdeka, dia menunjukkan koleksi mata uang Zaman Majapahit yang terbuat dari logam. Menurutnya, fungsi uang pada zaman itu ternyata tidak semata sebagai alat tukar, melainkan juga sebagai pemujaan.
”Mata uang zaman Majapahit terbuat dari aneka jenis logam, baik kuningan, perunggu, perak, juga emas,” kata dia. Menurutnya, koleksi uang zaman Majapahit tersebut merupakan duplikat dari koleksi mata uang yang pernah ditemukan.
Selain itu, koleksi lain yang cukup menarik perhatian adalah tentang berbagai macam jenis uang daerah. Dia mengatakan, selepas dikumandangkannya proklamasi, sekitar tahun 1946 pemerintah mengeluarkan uang yang disebut Oeang Republik Indonesia (ORI). Bentuk uang ORI adalah uang kertas dengan nominal satu sen bergambar muka keris, dan gambar belakang teks undang-undang.
”Sayangnya, peredaran uang itu belum mencakup seluruh wilayah Indonesia pada saat itu, sehingga kemudian muncul uang daerah seperti uang provinsi Sumatera dan Banten,” jelasnya.
Bukan itu saja, beberapa koleksi alat perkantoran juga dipamerkan seperti alat pembukuan, brankas, juga mesin ketik yang pernah digunakan. Jika pernah membayangkan kembali ke masa lalu melewati lorong waktu, khayalan itu agaknya akan sedikit terwujud ketika berkunjung dan melihat koleksi.
Tidak perlu takut terjebak pada masa lalu ketika melewati ”lorong waktu”, sebab di pengujung ruang pamer koleksi, pengunjung akan dibawa kembali ke masa kini dengan adanya koleksi memorabilia tentang peluncuran satelit milik bank plat merah, yang juga merupakan satelit perbankan pertama di dunia itu. 
sumber Suara Merdeka

Akhir Oktober Pengeboran Dimulai Eksplorasi Panas Bumi

Akhir Oktober mendatang, pengeboran untuk tahap eksplorasi panas bumi di lereng Gunung Slamet akan dimulai. Perkembangan pembangunan fisik pembangkit listrik tenaga panas bumi di Lereng Gunung Slamet sejauh ini masih berupa pembangunan jalan, serta pembangunan landasan pengeboran.
Dikatakan Direktur PT Sejahtera Alam Energy (SAE) Bregas Rohadi, pembangunan fisik yang saat ini sedang dilakukan pihaknya terkait dengan tahap eksplorasi panas bumi di lereng Gunung Slamet, yakni berupa pembangunan jalan akses dan landasan pengeboran (wellpad).
”Kita sedang melebarkan jalan di Paguyangan sampai Kaligua (Brebes), itu nantinya akan digunakan untuk kendaraan mengangkut alat-alat berat yang akan digunakan untuk mengeksplorasi panas bumi,” jelasnya, Senin (24/7). Dia mengatakan, nanti jalan yang akan dibangun memiliki panjang lebih kurang 9 kilometer dengan lebar 4 meter. Menurutnya, sampai sejauh ini jalan untuk menuju landasan pengeboran pertama yakni wellpad H sudah jadi.
60 Juta Dolar
Adapun wellpad tersebut masih dalam proses pembangunan yang diperkirakan akan selesai pada akhir Agustus mendatang. ”Pertengahan Agustus, drilling rig (serangkaian peralatan pengeboran) masuk ke lapangan untuk disetting dan akhir Oktober pengeboran dimulai,” tuturnya.
Terkait dengan pekerjaan fisik pembangunan tersebut, menurutnya, investasi yang telah dikeluarkan pihaknya sampai sejauh ini telah mencapai 30 juta dolar Amerika Serikat. Adapun total investasi yang diperlukan, menurutnya, bisa mencapai 60 juta dolar Amerika Serikat sampai dengan 70 juta dolar Amerika Serikat. Sementara itu, Asekbang Setda Banyumas Didi Rudwianto mengatakan, listrik menjadi kebutuhan penting untuk menunjang berjalanannya aktivitas perekonomian.
”Banyumas pernah kedatangan investor yang berniat membangun pabrik garmen, hal pertama yang ditanyakan investor adalah ketersediaan energi listrik. Dan hal itu juga yang ternyata membuat beberapa investor kini mengalihkan produksinya ke negara tetangga, jadi ketahanan energi harus diupayakan,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, Kendati menuai sejumlah reaksi dari elemen masyarakat, Pemerintah Pusat menjamin proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) yang saat ini sedang dalam tahap eksplorasi di lereng Gunung Slamet di wilayah Kecamatan Cilongok tidak akan dihentikan.
”Pemerintah Pusat menjamin, ini (pembangkit listrik tenaga panas bumi) proyek vital nasional, ini tidak akan dihentikan,” tutur narasumber dari Direktorat Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Purbiantoro, di sela-sela Seminar 3rd P3EBT Seminar Series on New and Renewable Energy dengan tema ‘’Panas Bumi (Geothermal) sebagai Sumber Energi Terbarukan yang Ramah Lingkungan’’, yang digelar di Auditorium Fakultas Pertanian Unsoed, Senin (24/7).
Lebih lanjut Bambang mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di lereng Gunung Slamet merupakan bagian proyek listrik 35.000 Megawatt yang dicanangkan pemerintah, untuk ketahanan energi nasional.
Sementara itu, dalam seminar tersebut, beberapa elemen masyarakat menyatakan penolakan terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi tersebut. Penolakan salah satunya dilontarkan perwakilan elemen masyarakat Cilongok Bersatu, Budi. Saat berlangsung sesi tanya-jawab, dia menanyakan pihak mana yang akan bertanggung jawab terkait dampak yang ditimbulkan dari kegiatan eksplorasi panas bumi di Cilongok.
sumber Suara Merdeka

Dampak Full Day Scholl Bagi SMP Terbuka dan Kejar Paket

SMP Terbuka Terancam
Penerapan Lima Hari Sekolah


Kebijakan lima hari sekolah atau full day school yang digulirkan pemerintah tidak hanya akan berdampak terhadap kegiatan madrasah diniyah (madin), tetapi juga kegiatan yang lain.
Bahkan, kebijakan tersebut bisa mengancam kegiatan pembelajaran SMP terbuka. Kasi Kurikulum Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Agus Wahidin, membenarkan hal tersebut. Menurut dia, keberadaan SMP terbuka kemungkinan bisa terkena imbas dari kebijakan tersebut. ‘’Biasanya kegiatan pembelajaran di SMP terbuka dilaksanakan dua kali dalam sepekan, yakni Jumat dan Sabtu.
Selain itu, kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan siang sampai sore, yakni setelah kegiatan belajarmengajar di sekolah reguler selesai,’’ katanya. Sebagian besar SMP terbuka tidak memiliki gedung sendiri, sehingga kegiatan pembelajarannya menggunakan gedung milik sekolah reguler, terutama sekolah negeri. Karena itu, lanjut dia, bila sekolah reguler menerapkan kebijakan lima hari sekolah, maka nasib SMP terbuka terancam.
Pasalnya, bila sekolah menerapkan lima hari, maka kegiatan pembelajarannya akan berlangsung hingga sore atau selama delapan jam dalam sehari. Meski sekolah reguler menerapkan lima hari sekolah, kegiatan pembelajarannya pada Sabtu libur, menurutnya, kegiatan pembelajaran di SMP terbuka kemungkinan besar juga tidak dapat berjalan, lantaran tidak ada tenaga pendidiknya.
‘’Sebagian besar guru yang mengajar di SMP terbuka merupakan guru yang mengajar di sekolah reguler. Ketika sekolah reguler memberlakukan lima hari sekolah, maka gurunya sudah kelelahan, sehingga Sabtu kemungkinan tidak dapat mengajar di SMP terbuka,’’ terangnya.
Beri Kebebasan
Terkait kebijakan lima hari sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas memberikan kebebasan untuk memilih. Sekolah yang sudah siap dan mempunyai keiinginan, dipersilakan untuk menerapkan lima hari sekolah. Adapun sekolah yang belum siap dan tidak ingin, juga dipersilakan untuk tetap menerapkan enam hari sekolah.
‘’Saat ini informasinya masih dibahas di tingkat pusat, sehingga daerah tinggal menunggu hasil dalam bentuk surat resminya. Yang jelas kami yang di lapangan membutuhkan juklak (petunjuk pelaksanaan) dan petunjuk teknisnya seperti apa,’’ kata Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Enas Hindasah. Dia menambahkan, sekolah yang ingin menerapkan lima hari sekolah, terlebih dulu harus mengajukan izin ke Dinas Pendidikan.
Dalam pengajuan izin itu harus menyertakan proposal yang berisi tentang perencanaan kegiatan selama menerapkan lima hari sekolah. ‘’Penerapan lima hari sekolah tersebut juga jangan sampai meninggalkan kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler. Ketiga kegiatan tersebut harus tetap ada,’’ tandas dia. 

Kejar Paket Juga Terdampak


TERANCAMNYA kegiatan pembelajaran SMP terbuka merupakan salah satu bentuk dampak yang dirasakan dengan pemberlakuan kebijakan lima hari sekolah. Penerapan kebijakan tersebut dinilai akan bertabrakan dengan kegiatan pembelajaran SMP terbuka yang biasanya dilaksanakan pada sore hari.
Menurut Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Banyumas, Ahmad Rozikin, kebijakan lima hari sekolah kemungkinan besar akan mengganggu kegiatan pembelajaran SMP terbuka. Selain itu, ada pula kegiatan pembelajaran nonformal yang terkena dampaknya. Misalnya program Kejar Paket B dan C yang biasanya dilaksanakan pada sore hari.
‘’Apalagi guru-guru yang mengajar di SMP terbuka maupun di program Kejar Paket B dan C, sebagian besar merupakan guru-guru yang mengajar di jenjang sekolah formal,’’ jelasnya.
Saat ini, lanjut dia, sekolah maupun madrasah di bawah naungan LP Maarif keberatan atas kebijakan lima hari sekolah dan tidak akan mengikuti kebijakan pemerintah tersebut. ‘’Lembaga kami tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran selama enam hari dalam sepekan,’’ terangnya.
Dia menjelaskan, dalam menyikapi kebijakan lima hari sekolah, sekolah maarif mengikuti sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Kebijakan lima hari sekolah dinilai akan mengganggu pendidikan yang dikelola masyarakat, khususnya madrasah diniyah (madin) yang biasanya diselenggarakan setelah sekolah formal selesai.
sumber suara merdeka

Selasa, 25 Juli 2017

Tamansari Pendapa Yudhanegara Banyumas

Tamansari Pendapa Yudhanegara Banyumas , dulu dikenal dengan nama Pendapa Duplikat Sipanji karena mengandung konotasi negatif sehingga diganti nama secara resmi untuk mengangkat kota Banyumas juga yang direncanakan diangkat sebagai kota warisan atau heritage city. Pembangunan Tamansari adalah salah satu tahap dalam rangka membangun kota wisata .
foto credit to Andy Ist Merdeka



 ke 

Metode Pemasaran Paket Wisata Perlu Dievaluasi

Biro perjalanan wisata maupun Pemkab Banyumas dinilai perlu mengevaluasi metode pemasaran paket wisata. Pasalnya, selama ini Purwokerto masih bertahan sebagai kota transit wisatawan dan bukan kota tujuan wisata.
“Kalau itu bisa dilihat dari banyaknya tamu yang datang ke hotel. Apakah mereka hendak berwisata di Banyumas, atau sekadar mampir menginap, lalu melanjutkan perjalanan lagi,” kata pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman, Drs Chusmeru Msi, kemarin.
Dia menilai, apabila kondisi ini berjalan selama beberapa tahun bisa dikatakan paket wisata yang ditawarkan mengalami titik jenuh. Kemungkinan lainnya, biro perjalanan wisata menganggap Banyumas kurang potensial untuk dijadikan destinasi dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan itu meliputi akses, akomodasi, atraksi, hingga pelayanan yang disajikan. Bahkan, perbandingan harga paket antara satu daerah dengan lainnya. “Buyer itu perlu dipetakan lagi.
Peminat datang dari mana saja, mana pasar yang potensial, prospektif atau yang sulit ditembus. Juga perlu dipertimbankan kecenderungan paket wisata yang disukai,” katanya. Menurut Chusmeru, memang cukup sulit mengejar perolehan kunjungan wisata seperti Yogyakarta dan Bali.
Akan tetapi, hal itu bisa dicapai apabila seluruh pelaku wisata memiliki visi yang sama. Selain itu Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas dan biro perjalanan wisata juga perlu melakukan digitalisasi pemasaran pariwisata. “Sebagian besar calon buyer saat ini lebih suka memanfaatkan media digital sebagai sumber informasi dan rujukan dalam merencanakan perjalanan wisatanya. Itu perlu jadi catatan,” tandasnya.
Sementara itu, pelaku biro wisata lainnya, Nurfi Laily mengatakan, wisatawan yang berkunjung ke Banyumas berasal dari kalangan kelas menengah ke atas. Mereka justru menyukai paket wisata dalam kelompok besar. “Banyumas itu justru diminati oleh kalangan menengah ke atas. Rata-rata dari instansi pemerintah, atau perusahaan besar,” ujarnya.
SEJUMLAHseniman Banyumas tampil menghibur penonton pada Pagelaran Budaya Dramatari Kamandaka di Bukit Bintang, Baturraden, Banyumas, Sabtu (15/7).
Pementasan yang diambil dari naskah Babad Banyumas ini digelar untuk memancing minat wisatawan yang berkunjung di kawasan tersebut. 
sumber suara merdeka

Digelar Kejuaraan Sepatu Roda Pelajar Kerja Sama SIWO dan Porserosi

Dalam rangka memeriahkan HUT ke 72 RI, sekaligus meningkatkan pembinaan bibit-bibit pemain sepatu roda, akan digelar Kejuaraan Sepatu Roda Pelajar Wilayah Banyumas. Even itu akan dimainkan di lintasan sepatu roda GOR Satria, Purwokerto, Minggu (6/8).
Ketua Panitia Budi Hartono menjelaskan, kejuaraan diselenggarakan Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) Banyumas, bersama Pengurus Kabupaten Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Pengkab Porserosi) setempat. Even itu mendapat rekomendasi Dinas Pendidikan Banyumas.
Kejuaraan itu diperuntukan pelajar, mulai tingkat TK/PAUD/KB, SD, dan SMP. Nomor yang dilombakan untuk TK/PAUD/KB adalah standar, SD (standar dan speed), adapun SMP hanya speed. Peserta SD dikelompokan menjadi kelas 1-2, 3-4 dan 5-6.
Nomor-nomor yang dilombakan meliputi TK/PAUD/KB jarak 50 m dan 100 m, SD standar jarak 200 m, 300 m, dan 500 m, adapun SD speed 300 m, 500 m, 1000 m, untuk SMPjarak 300 m, 500 m dan 1000 m, semua putra/putri. Peserta hanya boleh mengikuti maksimal dua nomor lomba, bisa memilih nomor-nomor yang ada. Pemain hanya boleh mengikuti satu katagori, misalnya SD kelas 1-2, tidak boleh merangkap di SD kelas 3-4, misalnya.
Seragam
Dalam perlombaan, katanya, peserta wajib memakai pakaian olahraga, boleh seragam sekolah, dilarang memakai atribut klub sepatu roda. Pelanggaran ketentuan ini membuat peserta akan dicoret dari daftar dan tak boleh mengikuti lomba.
Peserta wajib memakai helm, dan disarankan memakai pelindung lutut dan siku. Pemenang akan mendapat apresiasi berupa medali dan piagam. Pendaftaran peserta untuk TK/PAUD/KB Rp 125 ribu/anak, SD standar Rp 150 ribu/anak, SD speed dan SMP speed Rp 200 ribu/anak.
Form pendaftaran tersedia di Kantor Suara Merdeka Perwakilan Purwokerto Jl Ragasemangsang 627, kantin bu Yanto (timur lintasan sepatu roda), Febriana Tri Lestari (klub PSSC saat latihan Minggu pagi, Selasa dan Kamis sore). Contact person Ketua Panitia 0811 281 498. 
sumber suara merdeka

Promosi Gerai UMKM Perlu Berkelanjutan

 Letak gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto strategis, karena berada di pusat kota. Namun, lokasi strategis tak menjamin nilai transaksi penjualan produk kerajinan dan makanan olahan khas Banyumas meningkat.
Untuk itulah perlu ada campur tangan Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk terus mempromosikan keberadaan gerai UMKM serta mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan produk UMKM Banyumas.
”Para PNS di lingkungan Banyumas seharusnya membeli produk-produk kerajinan maupun makanan olahan di gerai UMKM, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM,” kata Wakil Ketua II Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Is Heru Permana, kemarin.
Menurut dia, dukungan PNS tersebut juga untuk merangsang masyarakat Banyumas dan sekitarnya membeli produk buatan UMKM Banyumas, karena sampai saat ini gerai UMKM Banyumas sepi pembeli. ”Sekarang siapa lagi yang mempromosikan produk UMKM Banyumas kalau bukan kita sendiri dan masyarakat Banyumas?” katanya.
Setelah masyarakat bangga dengan menggunakan produk Banyumas, kata dia, akan memberi dampak positif terhadap pasar. Pasar akan merespons positif, bahwa produk UMKM Banyumas bagus. ”Nantinya akan tersebar informasi positif dari mulut ke mulut, sehingga dapat mengangkat produk UMKM Banyumas,” katanya.
Selain itu, sambung dia, sebagai pemilik bangunan pemerintah daerah perlu mengadakan promosi secara berkelanjutan dengan menggandeng dinas terkait dan pemerintah kecamatan. Bentuk kegiatan untuk sarana promosi cukup beragam, salah satunya dengan berbagai pertunjukan seni maupun hiburan, sehingga masyarakat berkunjung ke lokasi tersebut.
”Memang selama ini sudah ada kegiatan di halaman gerai UMKM, namun perlu dioptimalkan lagi,” kata Heru. Tak hanya peran pemerintah daerah, pelaku UMKM diharapkan terus meningkatkan kualitas produk yang dipajang di gerai UMKM. Hal ini untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.
Supervisor Gerai UMKM Pasar Pratistha Harsa Blok A Purwokerto, Miko (33) mengaku gerai UMKM Banyumas perlu dipromosikan berkelanjutan supaya semakin dikenal masyarakat, sehingga dapat berimplikasi terhadap meningkatnya transaksi penjualan kerajinan, makanan dan minuman olahan. Pelaku UMKM Banyumas, Daryanto mengatakan, tidak sedikit pelaku usaha yang menarik produk yang dipajang pada gerai UMKM karena perputaran transaksi lambat.
Oleh karena itu, ia berharap perlu ada terobosan supaya gerai UMKM semakin banyak dikunjungi konsumen. Dengan demikian, hal ini akan memberi motivasi bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan volume produksi.
sumber suara merdeka

Pentingnya Membangun Infrastruktur Olahraga

Semoga ada investor yang tetarik membangun dan menanam modal di bidang sport karena potensi daerah ini sangat potensial atau ada perusahaan besar yang membuat program CSR baik semen Bima atau lainnya untuk mengembangkan fasilitas olahraga . Ini sekdar reflexi , beberapa tahun lalu ketika di Purwokerto booming sepatu roda padahal awalnya sepatu roda belum membudaya dan masih menjadi olahraga baru di kota ini bahkan kabupaten sekitarnya. Pemkab Banyumas berinisiatif membangun sarana lapangan khusus di kawasan GOR Satria untuk para pecinta sepatu roda sehingga menjadi ajang hobi dan latihan . Ternyata Impilkasi positifnya ada berupa tumbuhnya klub yang membidangi cabang olahraga ini dan dengan adanya kegiatan yang rutin bisa menumbuhkan dan menjaring atlet yang hasilnya bisa kita lihat dari berita ini.

Basic Kantungi 11 Medali Sepatu Roda Piala Wali Kota Solo IV

Basic Purwokerto menggondol 11 medali pada Kejuaraan Sepatu Roda bertaraf internasional Piala Wali Kota Solo IV 2017, di GOR Manahan Surakarta, Sabtu- Minggu (22-23/7). Medali itu direbut dikategori speed dan standar tujuh keping, pemula empat keping.
Di kategori speed dan standar, medali emas diraih Oriol Jordi Abdad di nomor 1000 m putra under six speed, dan perak digondol Nata Dian Nayaka (300 m putra under six speed). Peraih perunggu Oriol Jordi Abdad (300 m under putra speed), Nata Dian Nayaka (under six 1000 m putra speed), Firsty Jelyta Hazna Fairuz (KU A1000 m putri speed), Frida Putri Alya (KU A 300 m putri standar), dan Yusuf Falih Hakil (KU D 300 m putra standard).
Untuk kategori pemula, roller Alya Nabila Berliana merebut emas 50 m putri, Muhammad Sulthan Al Farizi emas 50 m putra, Zhafran Alif Al-Abiyu perak 50 m putra, dan Carissa Widya Nashita perunggu 50 m putri. Pelatih Basic Vian Andang Pambayun mengatakan, Piala Walikota Solo IV merupakan kejuaraan yang pertama kali diikuti klubnya. Saat itu klubnya mengirim 22 anak.
Sebelumnya anggoat Basic pernah mengikuti lomba, tetapi atas nama sekolah. Pealtih Basic tiga orang, dua yang lain Yano dan Songko. Dia beryukur berkompetisi di kejuaraan tersebut. Meski klub baru, bisa menyumbang medali. Hasil ini menambah semangat untuk lebih maju lagi di even berikutnya. Basic juga akan mengikuti Kejuaraan di Bekasi, pertengahan Agustus.
Pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Unsoed yang meminjami bus. Piala Wlaikota Solo melobakan katagori pemula, standar dan speed, diikuti sekitar seribu atlet tanah air, dan sejumlah roller dari asing, seperti dari China, Singapura dan Thailand. 
sumber suara merdeka



Raih 3 Medali Emas


 22 pesepatu roda asal Klub Basic Banyumas dalam Kejuaraan Sepatu Roda Internasional Piala Walikota Solo ke-IV yang berlangsung dari 21 hingga 23 Juli 2017 di kompleks Stadion Manahan, Solo, berhasil membawa pulang 11 medali.
Meskipun ke-22 pesepatu roda tersebut tidak mewakili pengurus kabupaten persatuan olahraga sepatu roda seluruh Indonesia (pengkab Porserosi) Banyumas, namun telah menunjukkan prestasi yang signifikan dengan raihan 3 medali emas, 2 medali perak dan 6 medali perunggu.
3 Medali emas disumbangkan oleh Oriol Jordi Abdad di under six 1000 meter speed putra, kemudian Alya Nabila Berliana, di nomor 50 meter pemula putri, dan Muhammad Sulthan Al Farizi di nomor 50 meter pemula putra.
Untuk 2 medali perak diraih oleh Nata Dian Nayaka di nomor 300 meter speed putra, dan Zhafran Alif Al-Abiyu di nomor 50 meter pemula putra.
Sedangkan 6 perunggu diraih di nomor 300 meter speed putra oleh Oriol Jordi Abdad, kemudian di nomor under six 1000 meter speed putra oleh Nata Dian Nayaka, dan Firsty Jelyta Hazna Fairuz di nomor KU A 1000 meter speed putri, serta Frida Putri Alya di nomor KU A 300 meter standar putri, Yusuf Falih Hakil di nomor KU  300 meter standar putra dan Carissa Widya Nashita di nomor 50 meter pemula putri.
Pelatih Rizky Vian Andang Pambayun sebagai pendamping atlet mengatakan, meskipun sebagai klub sepatu roda baru di Banyumas, sudah dapat mengikuti Kejuaraan di Solo dan menyumbang medali.
”Alhamdulillah sekali kita bisa berkompetisi di kejuaraan tersebut, walaupun kita klub baru, tapi bisa menyumbang medali, mudah-mudahan di even berikutnya, Insya Allah di Bekasi juga kita akan turun lagi bulan pertengahan Agustus, mudah-mudahan juga bisa memperoleh medali lagi", ungkapnya kepada RRI di Purwokerto, Senin (24/7/2017).
Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan transportasi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
"Ya kami sampaikan terima kasih kepada Unsoed atas bantuannya berupa peminjaman bis untuk tim kami", tutur Rizky Vian Andang Pambayun.

Kejuaraan Sepatu Roda Internasional Piala Walikota Solo ke-IV 2017 yang mempertandingkan nomor pemula, standar dan speed tersebut diikuti kurang lebih seribu atlet sepatu roda dari tanah air, dan atlet dari sejumlah negara diantaranya China, Singapura dan Vietnam.
sumber RRI