Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 30 September 2016

Warga Gunung Tugel Butuh Pelatihan Keterampilan

Quote suaramerdeka.com :
Warga yang tinggal di sekitar kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel RT 4 RW 6 Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja yang tadinya menjadi pemulung sampah, saat ini membutuhkan bekal keterampilan untuk meningkatkan perekonomian mereka. Ini menyusul ditutupnya TPA Gunung Tugel oleh Pemkab Banyumas pada Maret lalu.
Adapun sebagai penggantinya Pemkab membangun TPA Kaliori yang lokasinya agak jauh dari Gunung Tugel. Salah satu warga Kampung Gunung Tugel, Indri mengungkapkan, sebagian besar warga di kampung ini berprofesi sebagai pemulung. Bahkan sebagian dari mereka mengandalkan profesi ini untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga ketika TPA ditutup, mereka tidak bisa beraktivitas lagi.
”Banyak warga sini yang tadinya bekerja sebagai pemulung, kini menganggur. Lihat saja sekarang banyak ibu-ibu yang tadinya setiap hari pergi ke TPA untuk memungut sampah yang bisa dijual, tetapi setelah TPA ditutup, mereka lebih banyak berada di rumah,” terangnya.
Kebutuhan Keluarga
Dia menilai, penghasilan menjadi pemulung cukup membantu kebutuhan keluarga. Bagi ibu-ibu yang berprofesi sebagai pemulung, dalam sepekan mereka bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 100 ribu, sehingga cukup membantu keluarga. Oleh karena itu, agar warga yang tadinya bekerja sebagai pemulung dapat kembali memiliki penghasilan, mereka perlu beralih pekerjaan.
Namun persoalannya, tidak sedikit di antara mereka yang tidak memiliki bekal keterampilan. ”Sebaiknya mereka mendapatkan bekal keterampilan agar bisa berwirausaha sendiri. Maka dari itu, pemerintah daerah sebaiknya bisa memberikan pelatihan bagi mereka,” tambah guru PAUD ini.
Kepala Desa Kedungrandu, Ali Masyhadi, mendukung pemberian pelatihan keterampilan bagi warga Kampung Gunung Tugel yang tadinya berprofesi sebagai pemulung. Dengan begitu, mereka dapat beralih ke pekerjaan yang lebih baik. Kendati demikian, menurutnya, sebagian dari mereka masih ada yang menjadi pemulung. Mereka memulung sampah di TPA Kaliori yang sudah beroperasi sebagai pengganti dari TPA Gunung Tugel.
”Biasanya mereka berangkat secara berombongan dengan naik mobil bak terbuka. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami juga telah koordinasi dengan Pemerintah Desa Kaliori agar mereka diizinkan untuk melakukan aktivitas di TPA Kaliori,” tandasnya.

Desa Dermaji Perkuat Basis Data Spasial Rencanakan Pembangunan

Quote suaramerdeka.com :
TANPA basis data geospasial yang baik, mustahil sebuah desa dapat merencanakan pembangunan wilayah dan manusianya secara riil. Terkait hal itulah, Pemerintah Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Banyumas menjadi salah satu desa yang kini memelopori pemetaan wilayah desa secara mandiri dengan kolaborasi masyarakat dan jejaring pemerintah desa.
Melalui peta geospasial yang akurat, Dermaji kini bertahap mewujudkan semangat dan langkah membangun Indonesia dari pinggiran dalam kerangka kesatuan. Melalui pemetaan desa, berbagai potensi desa bertopografi perbukitan yang memiliki luas geografis 1.302 hektar digali dan dipetakan.
Melalui basis data spasial yang kini terus diupayakan, Dermaji terus melaksanakan perencanaan pembangunan infrastruktur hingga manusia untuk masa depan desa yang lebih baik. “Proses pemetaan ini telah dimulai sejak 2015 lalu dengan kolaborasi kerja sama pemerintah desa dengan lembaga Bukapeta. Kami ingin ke depan berbagai potensi yang ada di Dermaji dapat terdokumentasi secara spasial sekaligus digital.
Dengan data geospasial yang jelas inilah diharapkan perencanaan pembangunan akan efektif dan efisien,” kata Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho, kemarin. Proses pemetaan dengan kamera dronepun bertahap terus dilaksanakan hingga sekarang.
Berbagai ruang dan potensi alam wilayah desa terus dipetakan secara tematik oleh pemerintah desa dan sukarelawan Bukapeta. Selain batasbatas wilayah geografis dan administrasi desa, melalui pemetaan ini akan dapat diketahui secara jelas potensi alam, ekonomi kreatif, industri rumah tangga, infrastruktur, permukiman, pertanian, kehutanan, sarana prasarana publik seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.
Himpun Data
Untuk menghimpun data geospasial yang valid, akurat dan detail inilah, selain melibatkan luar desa, pemberdayaan perangkat desa hingga masyarakat juga bertahap dilaksanakan.
Dua orang perangkat desa juga ikut dalam pelatihan perencanaan pembangunan berbasis geospasial yang diselenggarakan oleh Bukapeta Jakarta dan Gedhe Foundation, selama empat hari di Wlahar Wetan, Kalibagor, 19-22 April 2016 lalu. Mereka belajar teori-teori pemetaan, praktik dasar drone desa, pengenalan aplikasi sistem informasi geografis, dan praktik mengolah data pada peta.
Selain perangkat desa, dalam proses pemetaan ini, pemerintah desa juga akan turut melibatkan masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan sebagai salah satu subyek penentu kesuksesan proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembangunan desa di perbatasan Banyumas-Cilacap tersebut.
Melalui peta tematik yang diunggah secara digital, maka bisa menjadi basis data dalam perencanaan pembangunan desa yang sebagian warganya mengembangkan ternak kambing hingga UKM kerajinan wayang . “Dengan data geospasial kita bisa lihat kondisi riil masalah lahan untuk ketersediaan pangan, perkembangan UMKM, pemukiman dan infrastuktur lainnya.
Dari data geospasial ini juga bisa menjadi pertimbangan dalam pembangunan manusia desa dengan berbagai potensinya. Kami juga berharap proses pemetaan ini dapat sejalan dengan program pemetaan desa secara nasional yang dilaksanakan pemerintah saat ini ,” papar Bayu.  

Warga Diminta Jaga Hulu Sungai Antisipasi Banjir Bandang

Quote suaramerdeka.com :
Warga di wilayah Desa Cidora dan Desa Besuki, Kecamatan Lumbir yang rawan terdampak bencana banjir bandang diminta turut menjaga kawasan hulu sungai di sekitarnya.
Pasalnya, banjir bandang yang terjadi pekan ini tak lepas dari dampak alih fungsi lahan hutan. Perangkat Desa Cidora, Miskam menyatakan, banyak hutan rakyat yang berada di kawasan hulu sungai banyak berubah menjadi lahan dan areal persawahan.
Selain itu kawasan Perhutani di wilayah Desa Cidora terbilang merupakan kawasan hutan pinus yang berumur muda daya tangkap airnya rendah. Akibatnya dengan kondisi sungai yang dangkal, ketika hujan deras terjadi maka banjir bandang berpotensi terjadi.
“Karena itu, kami dorong agar warga semakin waspada dan memperhatikan kondisi lingkungan. Kami juga mendorong warga juga menanam tanaman kayu di lahan kritis,” jelasnya, kemarin. Hingga kemarin, dari data yang diperoleh Kecamatan Lumbir, jumlah rumah warga Desa Cidora yang terendam banjir bandang Sungai Begadung terdata menjadi 17 rumah.
Padahal usai kejadian air Sungai Begadung meluap jumlahnya baru terdata delapan rumah. “Jadi, total rumah yang terendam di Desa Besuki dan Cidora adalah 32 rumah warga di bantaran Sungai Lopasir dan Sungai Begadung. Sekarang ini pembersihan material banjir bandang sudah hampir selesai dilaksanakan warga,” kata Camat Lumbir, Budi Nugroho.
Waspada
Budi juga terus mendorong masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana tanah longsor dan banjir bandang di wilayah Lumbir dapat semakin waspada. Apalagi hingga akhir September ini hujan deras yang memicu banjir bandang dan juga longsor di wilayah Karanggayam juga terjadi.
“Koordinasi antar-RT, RW, perangkat desa, dan jajaran Muspika Lumbir dapat terus ditingkatkan sehingga jika bencana terjadi maka dapat ditangani dengan cepat dan tepat,” jelasnya. Sementara itu, usai diguyur hujan deras Rabu (28/9) lalu, tanah longsor terjadi sepanjang 10 meter dan tinggi 4 meter di Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas.
Tak ada korban jiwa, namun tanah longsor mengancam rumah Sanreja Taswan. Kondisi pondasi rumah warga tersebut kini dalam kondisi menggantung.

KUB Batik Papringan Ikuti Pameran Produk

Quote suaramerdeka.com :
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Pringmas, Banyumas, kembali akan mengikuti pameran produk tingkat nasional. Pameran ini menjadi agenda penting sebagai sarana mempromosikan produk ke masyarakat luas.
Sekretaris KUB Batik Pringmas, Sri Subarkah mengatakan, pameran difasilitasi perusahaan swasta skala nasional. Pameran produk akan digelar pada 4 hingga 9 Oktober 2016 di Jakarta. ”Kami sekarang ini sedang rutin mengikuti pameran untuk mengenalkan kerajinan batik kepada masyarakat Indonesia,” katanya kemarin.
Ia menambahkan, jenis produk yang telah disiapkan untuk diikutkan pada pameran, antara lain batik tulis warna alam, batik tulis sintentis, batik kombinasi dan batik cap. ”Kami harap batik Banyumas semakin dikenal luas, sehingga akan berdampak pada omzet penjualan,” ujar dia.
Wakil Ketua KUB Batik Prapringan, Iin Susiningsih menambahi saat sekarang ini kelompok sedang fokus pada peningkatan produksi batik tulis, karena persediaannya mulai menipis. ”Sekarang kami mulai dari awal lagi karena barang yang dipamerkan sebelumnya banyak dibeli pengunjung,” katanya. Kain batik tulis yang diproduksi adalah motif Banyumasan, seperti sidamukti, sidaluhur dan babon angrem.
Adapun kombinasi warna hanya dua yaitu coklat dan hitam. ”Motif pakem Banyumasan ini yang paling diminati konsumen. Kombinasi dua warna ini memiliki nilai seni tinggi dan terlihat lebih elegan,” ujar dia. 

Dikembangkan, Varian Rasa Gula Semut

Quote suaramerdeka.com :
Kepompok Tani Manggar Jaya Desa Semedo, Pekuncen, kini fokus mengembangkan produk gula kelapa serbuk atau biasa disebut gula semut dengan varian rasa dan produk turunan dari kelapa.
Menurut Ketua Kelompok Tani Manggar Jaya, Ahmad Sobirin, varian rasa gula semut yang dikembangkan antara lain, gula semut rasa kayu manis, gula semut jahe, dan gula semut rasa kunyit. ”Kami terus berupaya memproduksi gula semut dengan varian rasa. Ini dilakukan untuk meningkatkan permintaan pasar domestik,” katanya kemarin.
Dia menambahkan, sejauh ini permintaan pasar paling tinggi adalah pasar luar negeri, sedangkan pasar domestik permintaannya belum optimal. ”Dari total 8 ton gula semut yang dikumpulkan oleh kelompok, 95 persen dipasarkan ke luar negeri, sedangkan 5 persen di pasar ritel domestik,” ujarnya.
Ketidakoptimalan permintaan pasar domestik, karena masyarakat Indonesia masih banyak mengonsumsi gula tebu/gula pasir daripada gula kelapa organik. Padahal, gula semut memiliki manfaat untuk kesehatan.
Manfaat Gula Semut
”Di luar negeri sudah banyak yang mengonsumsi gula semut, tapi di sini masih sedikit. Konsumen domestik yang mengkonsumsi adalah konsumen yang sudah tahu manfaat gula semut dan konsumen yang punya latar belakang penyakit diabetes,” katanya.
Selain mengembangkan varian rasa, kelompok tersebut kini mulai memproduksi produk turunan kelapa, seperti membuat produk piring lidi dan minyak kelapa atau virgin coconut oil (VCO), serta pengembangan pertanian jahe merah.
Sobirin mengatakan, pengembangan produk ini dalam untuk memberdayakan warga sekitar dengan tujuan akhir untuk kesejahteraan bersama. Adapun jumlah anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan itu 102 orang. ”Untuk produk turunan kelapa sasarannya adalah para ibu rumah tangga.
Mereka sudah dilatih cara membuat piring lidi maupun VCO. Kami harap dengan pengembagan ini warga semakin mandiri,” ujarnya.

Kamis, 29 September 2016

Kongres Bahasa Penginyongan I Bakal Dihadiri 100 Tokoh

Quote suaramerdeka.com :
Kongres Bahasa Panginyongan I bakal dihadiri sedikitnya 100 tokoh budayawan, seniman dan pemerhati bahasa. Pertemuan itu, dipusatkan di Kampung Agro Karang Penginyongan, 25-27 Oktober mendatang.
Seniman Padhepokan Cowongsewu, Titut Edi Purwanto mengatakan, daya tampung Kampung Agro Karang Penginyongan sementara ini hanya berjumlah 100 orang. Meski demikian, dia mengaku tidak ingin membatasi jumlah peserta yang hadir. “Antusiasme tokoh dan masyarakat dari berbagai daerah terhadap kongres ini membludak.
Tapi kami sebagai panitia memohon maaf karena daya tampung Kampung Agro yang dikelola bersama masyarakat Desa Karangtengah ini masih terbatas,” kata konsultan seni budaya Kampung Agro Karang Penginyongan ini, dalam rapat koordinasi Kongres Bahasa Panginyongan di Rumah Makan Umaeh Inyong, kemarin.
Dia mengatakan, kongres ini bakal diikuti pemerhati bahasa dan budaya, seniman serta pelaku seni dari wilayah Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Tegal, Brebes, Pemalang, Wonosobo hingga Kebumen. Pada kegiatan konggres nanti kesenian dan kebudayaan budaya Banyumasan ditampikan baik pada ruang pameran maupun pertunjukan seni selama kegiatan berlangsung.
Sibuk
Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari mengemukakan, pihaknya berencana mengundang tiga tokoh untuk menjadi pembicara yakni, Prof Sugeng Priyadi MHum, guru besar Sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Surasono mantan redaktur majalah dan Ki Enthus Susmono, Bupati Tegal.
Ketiganya dipilih untuk memberi sumbangsih pada pengembangan corak bahasa yang digunakan masyarakat Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Cilacap, sebagian Brebes dan sebagian Wonosobo.
“Semoga nanti mereka tidak terlalu sibuk. Saya segera konfirmasi kehadirannya,” kata dia. Keputusan diselenggarakannya Kongres I Basa Pengiyongan di Banyumas, menurut novelis ini, merupakan marwah bahasa panginyongan berpusat di Kabupaten Banyumas.
Peserta kongres juga akan merumuskan rekomendasi tentang pelestarian dan pengembangan bahasa Panginyongan. Sementara itu, pemilik Kampung Agro Karang Penginyongan, Liem Kuswintoro mengaku siap memfasilitasi kegiatan peserta kongres.
Dia berharap, pertemuan tersebut dapat menghasilkan keputusan yang bermanfaat untuk perkembangan Bahasa Pangiyongan. “Kami selalu mendukung upaya pembentukan karakter dan pelestarian bahasa daerah. Karena hal ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia,” katanya.

Rabu, 28 September 2016

LSM pesanan pembuat gaduh ?

Sekedar buka arsip lama, ada yang tahu LSM seperti ini apa manfaatnya bagi  masyarakat? ada yang merasakan dampak positif kehadiran mereka? Intinya mereka cari makan, itu logikanya. Tapi ya sadar sedikitlah, jangan menghambat kemajuan dengan pola pikir arus pendek. 

Aston Lolos Tanpa Amdal , Bupati : Dulu Cukup UKL-UPL 

Quote Radar Banyumas SELASA, 11 AGUSTUS 2015  :
PURWOKERTO – Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (GNPK) Kabupaten Banyumas mengirim surat ke Bupati Banyumas Ir Achmad Husein, Senin (10/8). Dalam surat tersebut, mereka mempertanyakan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Hotel Aston Imperium Purwokerto, yang dianggap tidak ada saat hotel tersebut dibangun hingga beroperasi sampai sekarang. Berdasarkan hasil penelusurannya, Koordinator GNPK Subroto dalam suratnya mengatakan, pembangunan hotel tersebut dinilai tidak memiliki Amdal, namun hanya mendasarkan pada dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup-Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL). Sehingga Subroto meminta bupati untuk mengecek hal itu. Namun dalam surat tersebut, Subroro juga mengakui kalau hotel Aston bisa beroperasi sampai sekarang karena pemkab sudah memberi izin. Di antaranya diterbitkan dokumen UKL-UPL. Menurutnya, berdasarkan ketentuan Pasal 121 ayat 1, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup usaha dan atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen Amdal, wajib menyelesaikan audit lingkungan hidup dalam waktu paling lama dua tahun. “Pemkab, dinas terkait dan pihak pemilik hotel tidak memperhatikan pasal tersebut diatas. Sehingga sampai saat ini tidak melakukan audit lingkungan hidup,” jelasnya. Bupati Banyumas Ir Achamd Husein yang menanggapi surat tersebut mengatakan, saat hotel tersebut mau dibangun dan beroperasi, sudah sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku saat itu. Saat pengajuan izin tahun 2009 lalu, belum ada persyaratan harus memakai Amdal. Namun cukup dengan dokumen UKL-UPL. “Sejak tahun 2012, untuk bangunan-bangunan baru memang ada persyaratan harus melengkapi Amdal. Sehingga untuk rencana pengembangan yang sedang diajukan, kita sarankan harus memakai Amdal,” katanya. Menurut Husein, pihaknya bersama SKPD terkait sudah bertemu dengan pihak Aston. Pihak Aston menyanggupi melengkapi Amdal untuk rencana penambahan bangunan. “Mereka sudah beberapa kali mempertanyakan hal itu, dan sudah diberitahu hasil tindaklanjutnya,” tandas Husein. Owner Hotel Aston, Yuda Wijaya mengatakan, pihaknya tidak mungkin menabrak aturan. Sebab saat mau membangun hotel berkelas internasional tersebut, untuk perizinan juga berkonsultasi dengan pemkab agar sesuai aturan. Untuk persyaratan waktu itu, aturannya hanya dengan dokumen UKL-UPL. “Karena ketentuannya seperti itu, ya kita penuhi dan waktu itu pemkab sudah memberikan izin. Kalau persyaratan waktu itu harus memakai Amdal, pasti kita ikuti,” katanya terpisah. Menurutnya, hasil pertemuan dengan Bupati dan SKPD terkait belum lama ini, pihak pemkab juga tidak mempersoalkan izin saat kali pertama diajukan (berdiri). “Kalau rencana penambahan untuk bar disarankan harus dilengkapi Amdal, ya ini akan kita penuhi. Tapi kalau yang dipertayakan saat Aston berdiri, ya tidak mungkin kita nekat sebelum semua perizinan dikeluarkan,” tandasnya. General Manager Hotel Aston Purwokerto Tommy Agung Kartika mengatakan, tidak mungkin sebuah hotel yang masuk grup Aston internasional bisa diterima masuk jaringan kalau belum ada perizinan. “Ini sudah menjadi persyaratan mutlak dan semua dokumen perizinan saat hotel ini dibangun ada. Kan tidak mungkin manajemen Aston pusat menerima kalau masih ada permasalahan, seperti soal Amdal yang dipertayakan tersebut,” katanya.


Sumber: http://radarbanyumas.co.id/aston-lolos-tanpa-amdal/
Copyright © Radarbanyumas.co.id

Pasokan Gula Kelapa Semut Berkurang, Pemasar Kelimpungan

Quote suaramerdeka.com:
 Pemasar online produk gula kelapa semut di Banyumas kelimpungan, karena pasokan dari petani turun. Menurut pemasar online di Purwokerto, Arbi Anugrah, sebagian petani sekarang tidak memproduksi gula semut, tapi mereka lebih memilih menjual nira kelapa ke pengepul.
”Petani memilih yang praktis dengan menjual nira daripada harus membuang waktu melalui proses produksi,” katanya, kemarin. Akibatnya, sambung dia, para pemasok kesulitan mendapat pasokan gula kelapa semut, terutama gula semut rasa jahe dan kayu manis.
”Stoknya sekarang turun, padahal permintaan gula kelapa semut banyak, malah untuk yang rasa jahe dan kayu manis sekarang sedang kosong,” tuturnya. Diakuinya, permintaan pasar online tinggi. Belum lagi, kontrak kerja dengan toko modern juga banyak. Setiap hari harus memasok sekitar seratusan kilogram yang sudah dalam bentuk kemasan.
”Saya khawatir, kalau tidak mendapat pasokan akan terkena denda. Sebab, dalam perjanjian, bila tidak dapat memenuhi permintaan sesuai kesepakatan, akan didenda,” ujarnya. Karena itu, dia mulai mencari gula semut ke petani yang masih memproduksi gula semut dengan varian rasa, maupun ke koperasi lain yang menampung barang dalam jumlah banyak.
”Kami juga mulai belajar memproduksi sendiri untuk menyiasati kelangkaan pasokan dari petani,” kata Arbi. Petani gula kelapa di Desa Pageraji, Ratun (58), mengakui, tidak sedikit petani menjual nira kelapa kepada pengepul untuk efisiensi biaya dan tenaga.
Petani lain masih memilih membuat gula cetak tradisional, karena prosesnya tidak lama. ”Petani memilih yang praktis, apalagi sekarang nira kelapa saja sudah laku jual dan ada yang menampungnya,” kata dia. 

Nasib Cagar Budaya Bergantung Pimpinan Daerah

Quote suaramerdeka.com  :
Nasib sedikitnya 300 cagar budaya yang tersebar di wilayah Banyumas sangat bergantung pada peran pimpinan daerah. Bupati sebagai pengampu kebijakan memiliki peran penting dalam pelestarian peninggalan sejarah.
Pegiat Banjoemas History Heritage Community, Jatmiko Wicaksono, mengemukakan, sejak tahun 1999 hingga sekarang, hanya satu benda cagar budaya (BCB) di Banyumas yang memiliki kekuatan legal formal berdasarkan surat keputusan menteri, yakni Masjid Nursulaiman. Padahal, masih banyak situs, arsitektur, bangunan, dan benda sejarah lain yang terancam.
”Dalam daftar inventarisasi BCB yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, tercatat sekitar 300-an peninggalan bersejarah yang tersebar di Banyumas,” katanya, pada diskusi cagar budaya bersama Tim Ahli Cagar Budaya Banyumas, guru Sejarah, dan pegiat dan tokoh budaya, di RM Pringgading, akhir pekan lalu.
Bukti Kelemahan
Dia mengatakan, cerobong Pabrik Gula Kalibagor yang roboh tahun lalu menjadi bukti kelemahan Pemkab untuk melindungi cagar budaya yang bernilai sejarah nasional.
Seharusnya hal ini bisa dicegah, bila pimpinan daerah memiliki kepedulian. Setelah kejadian tersebut, pegiat komunitas ini mulai berfokus pada kegiatan edukasi. Cagar budaya sejatinya masih bisa dimanfaatkan tanpa mengubah, memindahkan, atau merobohkan.
Melalui laman banjoemas.com, Jatmiko dan rekanrekannya menulis sejumlah catatan cagar budaya. Website ini pun mampu memancing respons beragam dari pembacanya. Pemerhati budaya, Sunardi, menyebutkan, di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, tersimpan puluhan benda sejarah yang sebagian besar belum terdata di BPCB.
Dia meminta, Pemkab dan Tim Ahli Cagar Budaya bergerak lebih cepat. ”Masih banyak kondisi benda cagar budaya yang tak kalah memprihatinkan,” kata dia. Sementara itu, guru Sejarah SMA Sokaraja Tri Muji Lestari mengatakan, literatur tentang sejarah dan cagar budaya di Banyumas sangat minim.
Meski demikian, dengan catatan sejarah yang masih bisa diakses, dia berusaha menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah lokal. ”Saya sering menyampaikan kepada siswa, wilayah Sokaraja ini terkenal sebagai kota yang maju pada masa lalu. Buktinya banyak peninggalan sejarah masa kolonial yang masih berdiri,” kata dia.

DED Pasar Pon Ditarget Rampung Tahun Ini

Quote suaramerdeka.com:
Pasar Pon direncanakan akan direnovasi, dan detailed engineering design (DED) atau rancangan detail teknisnya diharapkan rampung tahun ini.
Menurut Kepala Bidang Pasar dan PKL Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Dinperindagkop) Banyumas, Amrin Makruf, untuk saat ini rencana renovasi pasar Pon memang baru sebatas menyusun DED. “DED sedang dibuat saat ini, tahun ini mungkin baru DED saja,” jelasnya.
Ia mengatakan setelah DED selesai, pihaknya akan mengupayakan anggaran pembangunannya. Karena itu, lanjutnya pembangunan fisik dari renovasi Pasar Pon kemungkinan paling cepat pada 2018. Dikatakan, dalam renovasi tersebut salah satu hal yang diperhatikan yakni terkait penyediaan lokasi untuk pedagang burung.
Sebab, kata dia Pasar Pon berdasar sejarahnya merupakan sebuah pasar burung di Purwokerto. Saat ini pedagang burung di Purwokerto masih dipusatkan di Pasar Burung Peksi Bacingah yang sedang direnovasi, namun demikian pasar tersebut diwacanakan dijadikan pasar umum, yang menjual aneka komoditas, tidak hanya burung.
Sebelumnya, karena terkendala hujan pembangunan Pasar Peksi Bacingah baru mencapai 29 %. Pembangunan pasar tersebut ditargetkan selesai dua bulan mendatang. Amrin mengatakan, proses pembangunan yang memerlukan waktu cukup lama adalah proses mengeringkan beton.
Sementara itu, pembangunan Pasar Peksi Bacingah yang dimulai beberapa bulan lalu menelan anggaran sebesar Rp 2,3 miliar. Terkait pembangunan yang masih berlangsung, para pedagang sementara dipindahkan ke lokasi penampungan yang ada di sebelah barat pasar.

Akreditasi 29 Puskesmas Butuh Anggaran Rp 3,2 M

Quote suaramerdeka.com :
Kebutuhan anggaran untuk mendukung kegiatan akreditasi 29 Puskesmas di Banyumas tahun ini mencapai Rp 3,2 miliiar. Sedangkan sisanya 10 Puskesmas lagi diajukan 2017 dengan usulan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar.
Kabid Pengembangan, Pembinaan dan Pengendalian Sumber Daya Kesehatan Dinkes Banyumas, Agus Nugroho, mengatakan, dukungan anggaran yang cukup besar tersebut digunakan untuk biaya honor konsultann, narasumber, biaya surveyor, penyiapan dokumen dan kelengkapan lainnya. ”Ini didanai dari APBN untuk DAK Farmasi Puskesmas sebesar 90 persen dan pendampingan APBD 10 persen..
Kalau untuk tahun angka pasti berapa yang kita terima dari pusat baru bisa diketahui November mendatang,’’ katanya, di sela-sela mendampingi tim penilai akreditasi nasional, di kantor Dinas Kesehatan, Senin (26/9) malam.. Daari 29 Puskesmas yang diakreditasi tahun ini, delapan Puskesmas telah dilakukan penilaian tahap pertama tanggal 19-23 September lalu dan tinggal menunggu hasil penilaian.
Sedangkan tahap kedua yang saat ini sedang dalam proses penilaian ada enam Puskesmas. Yakni Puskesmas Gumelar, Kemranjen, Puskesmas I Sumpiuh, Banyumas, I Kembaran dan Puskesmas II Purwokerto Utara. Sedangkan 15 lainnya akan dinilai pada minggu ketiga dan keempat Oktober mendatang.
”Jadi tahun ini diselesaikan 29 dulu dan sisanya 10 lagi tahun depan,” ujarnya. Menurutnya, untuk biaya penilaian akreditasi satu Puskesmas membutuhkan anggaran sekitar Rp 112 juta. Anggaran ini untuk pendampingan sampai dengan penilaian. Tenaga pendamping 21 orang yang dimiliki Dinas Kesehatan, katanya, sedikit memperingan pengluaran anggaran.
Akreditasi yang diajukan tiga tahun sekali ini, bertujuan untuk mendapatkan standar penilaian untuk peningkatan kuliatas pelayanan kesehatan ke masyarakat. Termasuk syarat untuk bisa bekerja sama dengan BPJS kesehatan, maksimal mulai 2019 semua Puskesmas dan klinik harus sudah terakreditasi.
Tiga Komponen Utama
Tim penilai, kata dia berasal dari surveyor, Komite Akreditasi Nasional (FKTP) yang merupakan lembaga dibawah naungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kriteria penilaian terdiri dari 776 elemen, meliputi tiga komponen utama. Yakni pokja administrasi dan manajemen, pokja upaya kesehatan masyarakat, dan pokja upaya kesehatan perorangan.
”Tiga komponen itu dinilai oleh masing-masing surveyor. Jadi masing-masing Puskesmas akan dinilai oleh tiga orang surveyor,” jelasnya. Dijelaskan, untuk standar kelulusan ada lima, yakni tidak terakreditasi, akreditasi tingkat dasar, terakreditasi tingkat madya, akreditasi utama dan paling tinggi adalah akreditasi tingkat paripurna.
Sejauh ini pihaknya mengaku optimistis seluruh Puskesmas di Banyumas bakal lolos penilaian akreditasi tersebut. Ini didasarkan persiapan yang sudah matang, dan juga ada komitmen bersama mulai dari pimpinan, kepala dinas, bupati, kepala Puskesmas sampai staf.
”Kita optimistis, karena memang persiapannya sudah panjang dan pendanaan yang cukup besar. Kita melakukan perisapan sejak Maret lalu sampai sekarang. Persiapan paling lama adalah persiapan dokumen yang membutuhkan waktu sampai 6 bulan dan termasuk implementasinya itu,” jelas Agus.
Dijelaskan, mengacu Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas, maka mulai 1 Januari 2019, semua Puskesmas dan klinik yang belum terakreditasi, tidak bisa bekerja sama dengan BPJS kesehatan. Ini juga diperkuat Permenkes Nomor 46 tahun 2015 tentang akreditasi, klinik pratama dan tempat praktik dokter umum maupun dokter gigi juga wajib terakreditasi. 

Banyumas Akan Terapkan Kota Cerdas

Quote suaramerdeka.com :
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menginisiasi konsep smart city atau kota cerdas di Kabupaten Banyumas. Tahap awal menuju perwujudan smart city dengan mengimplementasikan smart economy yang merupakan salah satu elemen penting dalam pengembangan smart city.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, smart economy merupakan salah satu pendekatan dalam memberikan solusi terhadap permasalahan ekonomi di daerah yang salah satu caranya adalah memaksimalkan fungsi teknologi.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, pada Oktober-Desember 2016 akan dijadikan momentum untuk menuju smart economy-smart city dengan me-launching beberapa program elektronifikasi di Banyumas. Beberapa pihak yang terlibat dalam inisiasi ini antara lain, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, BPMPD Banyumas, Pemkab Banyumas dan perbankan Banyumas.
”Kami akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menerapkan transaksi nontunai di tempat-tempat wisata. Kami juga akan mempelopori transaksi nontunai di Pasar Manis Purwokerto,” katanya kemarin. Dia menambahkan, untuk kesiapan pelaksanaan tersebut, pihaknya telah melatih sekitar 30 pedagang Pasar Manis yang bekerja sama dengan perbankan.
Para pedagang itu dilatih melakukan transaksi nontunai dengan menggunakan mesin EDC atau (electronic data capture). ”Jadi nantinya para pedagang itu menerapkan transaksi nontunai, kemudian akan diikuti oleh pedagang lainnya di pasar itu,” ujarnya.
Pelatihan
Dikatakan, perwujudan smart city menjadi sesuatu yang perlu disegerakan dan mutlak dibutuhkan. Apalagi sekarang ini, arah di dunia termasuk di Indonesia mengarah ke smart city yang berlandaskan dengan teknologi informasi.
”Kalau kota-kota lain sudah menerapkan konsep smart city, sementara kita belum maka kita akan semakin ketinggalan,” ujar Denny. Kabid Pasar dan PKL Dinperindagkop Banyumas, Amrin Ma’ruf mengakui para pedagang memang telah mendapat pelatihan transaksi nontunai dari BRI, bahkan mereka akan memiliki mesin EDC.
”Tapi kami berharap tidak hanya satu bank yang andil, karena masyarakat yang berbelanja di pasar itu merupakan nasabah dari beberapa bank lain,” katanya. Dia mengatakan, penerapan transaksi nontunai selain dapat menekan uang beredar di pasar, keuntungan untuk pengelola pasar adalah dapat mempromosikan pasar rakyat semi modern kepada masyarakat luas.
”Apabila tingkat pengunjung ke pasar rakyat semakin banyak, harapannya kesejahteraan pedagang meningkat. Untuk itu, supaya konsep ini bisa berjalan lancar dibutuhkan dukungan semua pihak,” katanya. Ramdan Denny Prakoso kembali mengatakan, untuk menyukseskan konsep ini pihaknya akan menyosialisasikan tentang manfaat transaksi nontunai kepada masyarakat, di pasar tradisional maupun desadesa.
”Perlu ada sosialisasi, imbauan serta penerapan setengah memaksa untuk mengubah transaksi dari metode pembayaran tunai ke nontunai, serta dari ekslusif ke infklusif. Ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT),” katanya menjelaskan. Denny berharap setelah konsep ini teralisasi, para pedagang ini dapat menggalakkan pasar online.
Pemasaran ini menggunakan layanan sistem informasi manajemen berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi. Terpisah, Wakil Ketua Kadin Banyumas, M Arsad Dalimunte mengatakan, kemudahan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi semacam ini dapat mendorong setiap orang untuk berkarya dan mengembangkan kreativitasnya.
Pada gilirannya mendorong pertumbuhan laju industri kreatif yang mendatangkan multy effect dalam arti positif. ”Kemajuan teknologi telah banyak merubah tata kelola industri yang tadinya manual menjadi serbamodern dan mendatangkan kecepatan yang lebih, serta pembiayaan yang lebih efisien,” katanya.
Namun, untuk mengarah ke sana dibutuhkan proses panjang. Sebab, mengubah budaya masyarakat dari konvensional ke online. ”Terobosan konsep ini bagus, tapi butuh tahapan agar masyarakat terbiasa dengan transaksi nontunai,” katanya. 

Literasi Keuangan Perlu Ditingkatkan

METODE – metode pembayaran nontunai sebagai langkah awal dalam implementasi smart citysmart economy memberi manfaat besar, seperti transaksinya menjadi mudah, aman, efisien dan terhindar dari pemalsuan uang.
Namun demikian, untuk memasyarakatkan layanan transaksi nontunai di pasar tradisional maupun pusat-pusat belanja, Bank Indonesia Purwokerto maupun perbankan harus meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan, karena sebagian besar masyarakat saat ini masih menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.
”Memang manfaatnya sangat besar, tapi kendalanya sebagian masyarakat Banyumas belum memiliki rekening. Padahal, rekening mutlak dibutuhkan untuk bertransaksi nontunai,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Purwokerto, Suliyanto.
Belum lagi, apabila konsep ini diterapkan di pasar tradisional, maka edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terus digalakkan. Sebab, seperti diketahui para pengunjung atau pembeli yang berbelanja di pasar tradisional mayoritas adalah masyarakat menengah ke bawah. Artinya, tingkat literasi keuangan pengunjung pasar tradisional lebih rendah daripada pasar modern.
”Di pasar modern saja masih banyak yang menggunakan transaksi tunai, apalagi di pasar tradisional. Untuk itu, perlu keseriusan dalam mengedukasi kepada masyarakat yang melibatkan pihakpihak terkait,” katanya. 

Selasa, 27 September 2016

Penggunaan Bahan Tambahan Gula Terus Diminimalkan

Quote suaramerdeka.com:
Untuk mendukung produksi makanan sehat khususnya gula kelapa, sejumah pemerintah desa penghasil gula kelapa terus mendorong para penderes untuk tidak lagi menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) kimia pengeras atau pengawet gula.
Diharapkan, kembalinya produksi gula ke proses organik, maka produk gula akan semakin diminati pasar. Kepala Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Herlina Wijayanti terus mendorong peran kelompok petani gula untuk menjadi pelopor terbebasnya penderes dari BTP berupa natrium bisulfit yang selama ini banyak dipakai penderes.
Melalui larutan pengeras dari bahan organik yang ada di lingkungan, diharapkan produk makanan gula yang dihasilkan petani akan semakin sehat. Apalagi seperti diketahui saat ini pasar produk pangan organik makin berkembang. “Kami terus mendorong peran kelompok petani gula khususnya Manggar Jaya dalam mendorong produksi gula sehat organik.
Kami berharap ini dapat mendorong petani lainnya untuk mengikuti sehingga ke depan produk gula kelapa dari Semedo makin diminati pasar dan mendorong kesejahteraan penderes,” katanya, kemarin. Dijelaskan Herlina, di Semedo 707 warganya bekerja sebagai penderes gula kelapa. Jumlah tersebut hampir mencapai 70 prosen dari total penduduk Semedo.
Terkait hal itulah potensi pendapatan warga di desa setempat sangat tergantung pada perkembangan pasar gula. Makanya pemerintah desa terus mendorong pemerintah daerah, pihak swasta ataupun akademisi yang turut mendorong berkembangnya penghidupan penderes agar semakin baik. “Kami berharap ke depan, dengan dukungan dari berbagai pihak kehidupan penderes gula ini dapat semakin baik.
Karena memang di tengah risiko tinggi pekerjaan ini, regenerasi penderes semakin minim. Makanya harga yang berpihak pada penderes sangat dibutuhkan. Kamipun mendorong terbentuknya koperasi yang bisa menjadi penunjang peningkatan posisi tawar dari penderes,” katanya.
Pengembangan Berbasis Riset
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Suwarto MS, Unsoed sebagai perguruan tinggi negeri di Banyumas terus berusaha mengadakan berbagai riset dan teknologi tepat guna untuk mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi penderes di Banyumas.
Terkait dorongan produksi makanan sehat berupa gula organik, Unsoed juga telah memberikan formulasi larutan pengeras dan pengawet gula kristal organik dari bahan alami baik itu daun sirih, kulit manggis, bunga kecombrang dan daun cengkeh. Selain itu riset tentang teknologi tepat guna bagi perajin gula kelapa hingga pemasaran juga terus dilangsungkan.
“Kami mengapresiasi kesadaran para penderes yang telah beralih dari menggunakan natrium bisulfit menuju larutan organik. Penderes sadar kalau menggunakan natrium bisulfit sama artinya membunuh konsumen gula secara pelan-pelan. Karena seperti diketahui natrium bisulfit ini mempunyai efek korosi yang keras bahkan terhadap logam,” ujarnya.
Rektor Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Ahmad Iqbal menyatakan gula kelapa asal Banyumas menjadi produk yang semakin dilirik dunia. Unsoed terus berupaya mendorong pemberdayaan masyarakat termasuk petani penderes di Banyumas. Melalui pengembangan riset dan teknologi, Unsoed terus mendorong pemberdayaan masyarakat petani secara
berkelanjutan baik ekonomi maupun lingkungan. Dengan peran Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, Unsoed telah berkiprah tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. “Dengan riset terintegrasi dan multidisipliner, Unsoed terus berusaha mendorong terwujudnya masyarakat mandiri dan sejahtera.
Kami berharap melalui Iptek inilah akan muncul desadesa mandiri sejahtera dan kami yakin dengan kekuatan Iptek maka bangsa ini akan bangkit,” katanya. 

Wisata Budaya dan Alam di Cilongok dan Pekuncen

Kalo terjadi pemekaran, Banyumas siap bersaing dengan kota Purwokerto, kita lihat potensi yang terus digarap dalam 3-5 tahun ke depan

Warga Siap Sambut Investasi Wisata

Quote suaramerdeka.com :
Pemerintah Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok dan Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen siap menyambut berkembangnya investasi pariwisata berbasis alam, edukasi, dan budaya yang menguntungkan masyarakat setempat.

Selain itu, pemerintah desa juga berharap agar keberadaan wisata tidak merugikan lingkungan dua desa setempat. Seperti diketahui saat ini di lokasi dua desa setempat, sedang dibangun tempat wisata budaya dan alam Karang Penginyongan.

Obyek wisata yang belum dibuka secara resmi tersebut, kini masih terus dibangun dan mulai melibatkan masyarakat setempat sebagai pekerja di lokasi tersebut. Kepala Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Sugeng juga mengapresiasi adanya rintisan pengembangan wisata alam dan budaya di wilayah dua desa setempat.

Ia berharap agar keberadaan wisata alam berbasis budaya ini juga semakin mendorong warga setempat untuk terus menjaga kelestarian alam dan budaya luhur warga setempat. Selain itu pula ia juga berharap keberadaan wisata ini juga memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan masyarakat desa.

“Kami juga berharap dengan adanya wisata ini maka banyak warga terinspirasi dan semakin terbuka melihat peluang ekonomi yang ada di sekitarnya. Kami juga terbuka untuk bekerjasama dengan pihak pengelola wisata yang akan melibatkan masyarakat dan lingkungan sekitar untuk saling bekerjasama saling menguntungkan,” katanya.

Beri Kontribusi

Kepala Desa Karangtengah, Rusdi Mulyanto mengapresiasi keberadaan investasi wisata yang mulai memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat baik langsung maupun tidak langsung. Manfaat investasi wisata tersebut diharapkan dapat terus dapat dirasaka masyarakat sejak dibangun hingga nanti dibuka untuk umum secara resmi. “Kami berharap keberadaan wisata yang berlokasi di wilayah kami ini bisa berkontribusi untuk kemajuan dan kesejahteraan warga di wilayah ini.

Dengan seperti itu maka diharapkan rasa ikut saling memiliki, peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan wisata dan alam ini akan semakin erat,” ujarnya. Dijelaskan Rusdi, sebagaimana di awal sosialisasi hingga pembangunan wisata alam yang berlokasi di dua desa setempat, ia juga telah memberikan pandangan dan persyaratan bahwa wisata yang akan dibangun adalah wisata yang baik dan jauh dari maksiat.

Hal ini penting karena keberadaan wisata ini pastilah akan berdampak pada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat sekitarnya khususnya generasi muda. Untuk itulah ia berharap nantinya kepada pengelola untuk bisa semakin baik dalam mengelola wisata berbasis alam dan budaya ini.

“Apalagi wisata ini punya basis budaya warga Panginyongan yang mengedepankan kebaikan secara blakasuta, apa adanya. Jadi kami berharap keterbukaan dan kebaikan selalu diupayakan dalam pengembangan wisata ini nantinya,” tuturnya.

Pengelola Karang Panginyongan, Titut Edi Purwanto mengapresiasi sambutan baik dari masyarakat dan berbagai pihak yang terus mendukung terbangunnya kawasan wisata baru di wilayah perbatasan Cilongok- Pekuncen tersebut. Diharapkan pengelola bersama warga bisa saling bekerja sama untuk memajukan lingkungan wisata dan juga warga setempat. Harapannya dengan berbagai kegiatan yang ada di dalam wisata, warga bisa mendukung dan berpartisipasi.

“Seperti diketahui konsep wisata yang diusung di sini adalah wisata budaya, pertanian dan alami. Kami berharap dengan berkunjung ke sini, warga bisa belajar tentang kehidupan agraris di masa lampau dengan melihat berbagai tanaman yang ada hingga rumah-rumah adat Banyumas yang sengaja didirikan lagi di sini,” katanya.

Senin, 26 September 2016

Kearifan Lokal Basis Mitigasi Bencana

Quote suaramerdeka.com:
UPAYA mencari selamat bagi orang Jawa khususnya di Banyumas yang terepresentasi dalam berbagai kearifan lokal dapat dijadikan menjadi basis mitigasi bencana.
Di tengah ancaman bencana alam yang saat ini mengancam warga, filosofi mencari keselamatan yang sudah masuk dalam pikiran hingga laku keseharian patut digali dan diangkat kembali.
Demikian disampaikan budayawan sekaligus sastrawan Ahmad Tohari. Di masa lampau orang akan sangat tanggap dengan pertanda alam di sekitar mereka.
Gejala alam adalah ‘sasmita’ yang saling terkait dengan kejadian alam lainya termasuk bencana alam. Terkait hal itulah, mereka akan berusaha melaksanakan penyelamatan diri mereka dari bencana.
“Mereka akan waspada terhadap potensi gempa bumi hingga erupsi gunung, yang biasanya ditandai dengan turunnya binatang dari gunung, semut keluar dari sarang hingga gonggongan anjing yang tidak henti yang tak jelas sebabnya,” katanya.
Perilaku marga satwa yang turun dari gunung terutama dari gajah yang berlari hingga batas lokasi tsunami terjadi juga terjadi saat tsunami dari Aceh hingga Thailand saat Desember 2004 lalu. Meskipun sepintas dianggap kurang rasional, namun buktibukti pengetahuan, filosofi dari kearifan lokal terbukti sangat bermanfaat bagi warga.
Terkait hal itu, dengan pemikiran masyarakat modern sekarang sudah seharusnya mereka dapat merasionalisasi berbagai kearifan lokal yang ada di lingkungan mereka untuk mitigasi bencana. “Saya kira ini masih relevan dalam hal untuk mitigasi kebencanaan.
Angkat kembali kearifan lokal, karena di tengah balutan berbau mitologi, banyak hal yang rasional atau masuk akal. Apalagi filosofi orang Jawa adalah mencari selamat,” ujarnya.
Desa Tangguh
Dikatakan, yang patut diperhatikan dan dilestarikan lagi adalah kesiapsiagaan dan ketangguhan warga hingga pemerintah desa di masa lampau terhadap bencana. Keberadaan perangkat desa sebagai jagabaya (penjaga bahaya) terbukti efektif dalam mendorong dan menggerakkan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana di lingkungan desa.
Jagabaya inilah yang disebut sebagai polisi desa. Pemkab Banyumas terus mendorong masyarakat untuk semakin siaga dan tangguh menghadapi berbagai potensi bencana alam di wilayah Banyumas.
Selain pembentukan lima desa tangguh bencana, komunitas masyarakat peduli bencana hingga praktik kearifan lokal terus digali dan dilaksanakan sebagai basis mitigasi bencana di Banyumas.
“Mulai dari dalam diri sendiri, kita dapat membantu keluarga dan komunitas untuk membangun kesiapsiagaan, maupun pada saat menghadapi bencana dan pulih kembali pasca bencana,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Erry Cahyono.
Pemerintah Kecamatan Lumbir juga terus mengainventarisasi berbagai kearifan lokal baik itu berupa nilai, tradisi, pengetahuan, artefak dan budaya yang ada di masyarakat.
Apalagi seperti diketahui mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, seperti yang dipunyai oleh masyarakat Baduy, Banten hingga masyarakat Pulau Nias yang terbukti berhasil meminimalisasi risiko tanah longsor dan tsunami.
“Pantangan menebang pohon tertentu di suatu tempat yang bisa menjadi tanaman konservasi sebagai kearifan lokal patut dikembangkan lagi,” tutur Camat Lumbir, Budi Nugroho.

Siswa Gunakan Tembok sebagai Media Lukis

Quote suaramerdeka.com:
Pada umumnya aktivitas melukis dilakukan pada media kertas atau kain, namun siswa SMP 1 Baturraden memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan kemampuan dalam melukis. Mereka menggunakan tembok sekolah untuk dijadikan sebagai media untuk melukis, Sabtu (24/9) lalu.
Tembok kosong sekolah sengaja dibuat kapling untuk media lukis bagi kelompok siswa yang terlebih dulu dilakukan pembagian. Guru seni lukis, Prikhono, mengatakan tembok sekolah menjadi media alternatif untuk mengekpresikan kemampuan melukis siswa.
Selain untuk pembelajaran, sekaligus memperindah lingkungan sekolah, sehingga membuat nyaman warga sekolah dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Supaya ada keseragaman dalam berkarya, lanjut dia, para siswa diminta untuk melukis dengan tema batik. Sebelum melukis di tembok, siswa diwajibkan melukis dalam kertas.
Setelah mendapat persetujuan dari guru, hasil lukisan itu diwujudkan dalam lukisan tembok. ‘’Dipilihnya tema batik, sebab batik telah menjadi budaya bangsa. Karena itu, siswa wajib mencintai, mengenal dan bisa melukis batik,’’jelasnya.
Mendukung
Kegiatan melukis ini sengaja dijadwal sesuai jam pelajaran seni budaya, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kepala sekolah, Herry Nuryanto Widodo, mendukung kegiatan melukis pada media tembok sekolah, sebab itu merupakan bagian dari inovasi dalam kegiatan pembelajaran.
‘’Yang pasti hasil dari kegiatan tersebut sekolah menjadi indah. Selain itu, karya siswa dapat dilihat oleh warga sekolah, sehingga bisa menjadi kebanggaan bagi mereka,’’terangnya.
Dia menambahkan, pada dasarnya sekolah yang maju dan sehat, harus mendapat dukungan dari seluruh warga sekolah. Terkait kebersihan misalnya, sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, siswa diwajibkan melakukan operasi sampah, sedangkan guru mendapat kewajiban untuk memonitor kebersihan.
‘’Sebenarnya tujuan akhir dari kegiatan tersebut adalah mewujudkan pola hidup bersih dan sehat bagi warga sekolah,’’ tandasnya.

Diversifikasi Gula Kristal Organik Digencarkan

Quotesuaramerdeka.com :
Untuk mempertahankan dan meningkatkan pemasaran produk gula kelapa sehat di dalam maupun luar negeri, petani gula di Banyumas terus menggencarkan sertifikasi hingga diversifikasi produk gula mereka.
Selain itu, mereka juga terus memperkuat kelembagaan kelompok koperasi untuk meningkatkan posisi tawar di pasar produk gula. Ketua Kelompok Petani Gula Manggar Jaya Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Akhmad Sobirin mengatakan, selain peningkatan kuantitas dan kualitas produk gula kristal organik, pihaknya kini sedang gencar membuat diversifikasi produk gula semut organik.
Melalui merek dagang Semedo Manise, kelompok Manggar Jaya membuat gula semut dengan varian rasa jahe, kayu manis, temulawak dan daun sirsak. Dengan varian berat dan kemasan produk, Manggar Jaya terus berusaha menembus pasar gula dalam maupun luar negeri. “Untuk diversifikasi produk ini dibuat untuk memenuhi pasar dalam negeri mulai ritel, perhotelan, komunitas dan sebagainya. Kami pastikan bahwa produk kami adalah produk yang sehat termasuk bagi kalangan penderita diabetes,” katanya.
Untuk menjamin kesehatan dan kandungan nutrisi pada produk mereka itulah, kelompok Manggar Jaya juga terus gencar melaksanakan sertifikasi rutin kepada para anggota penderes tiap tahun. Selain itu kerja sama dengan para akademisi ataupun peneliti yang biasa meriset produk makanan ataupun pertanian juga terus dilaksanakan. Melalui diversifikasi produk dengan berbagai kemasan inilah, diharapkan pasar semakin berminat untuk menyerap produk petani.
“Kami tekankan kepada petani untuk tidak berpuas diri, dalam hal ini kerja keras, cerdas hingga inovasi produk harus terus dilaksanakan sehingga keluarga penderes dapat sejahtera dan semakin terjamin masa depannya. Melalui pertemuan-pertemuan kelompok yang ada inilah kami terus sosialisasikan berbagai informasi terbaru terkait pasar gula dan sebagainya,” jelasnya.
Dijelaskan Akhmad Sobirin, secara rutin kini produk gula kristal organik milik Manggar Jaya telah diekspor sekitar 50 ton pertahun. Untuk mengembangkan potensi gula kristal organik kualitas ekspor, Sobirin yang juga penyuluh swadaya dan pemuda pelopor terus didaulat oleh pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan di wilayah lain.
Terbukti saat ini rintisan kelompok petani gula kristal organik di wilayah Desa Karangkemiri Kecamatan Pekuncen hingga wilayah Kabupaten Banjarnegara sedang dilaksanakan. “Dengan berkelompok hingga berkoperasi nantinya penderes diharapkan dapat semakin berdaya. Mereka bisa punya posisi tawar tinggi terhadap pasar.
Tidak seperti sebelumnya, selalu tunduk kepada pasar meski mereka harus selalu mendapatkan harga rendah. Kami juga terus dorong para penderes untuk ikut serta dalam BPJS Ketenagakerjaan dan mengakses kemudahan kredit lunak dari pemerintah untuk jaminan hari tua dan permodalan mereka,” tegasnya.
Perjuangan Keras
Pahit getir perjuangan merintis koperasi perajin gula kristal organik juga dirasakan pengurus Koperasi Serba Usaha Nira Satria Cilongok. Sebelum bisa mengharumkan nama Banyumas lewat manisnya produk gula kristal asal Banyumas lewat ekspor ke berbagai negara Asia, Eropa dan Amerika, koperasi inipun merupakan koperasi kecil.
Untuk bisa mendapatkan kepercayaan anggota hingga 651 penderes gula kelapa, para pengurus harus bekerja keras dan berkekurangan dalam penghasilan sehari-hari, bahkan perintisnya sempat didemo tengkulak gula karena dikira merebut pasar.
Pengurus KSU Nira Satria, Riyanto mengatakan, sebelum berdiri menjadi koperasi pada 2011, rintisan KSU Nira Satria ini terlebih dulu mengalami proses panjang mulai dari 2008-2011. Proses perekrutan kader petani, pelatihan teknik pertanian dan produksi gula kristal organik, penyuluhan sosialisa
si tentang keuntungan berkoperasi, hingga membentuk koperasi. Terlebih lagi di tahun-tahun awal rintisan, masih berat meyakinkan prospek diversifikasi produk gula kristal yang baru.
“Kami berterima kasih kepada berbagai lembaga, dan pemerintah yang telah sudi mendampingi kami hingga sekarang ini. Kami juga menyambut baik berbagai program pemerintah untuk kemajuan koperasi. Namun yang tak boleh ditinggalkan gerakan ini harus tetap merangkul masayarakat bawah dan membawa efek kesejahteraan sehingga tak ditinggalkan rakyat,” katanya.
Bergerak di sektor riil berupa jual beli gula kelapa kristal organik, KSU Nira Satria juga menyelenggarakan berbagai usaha. Sekarang koperasi ini, rata-rata memasarkan produk gula kelapa kristal organik 30-40 ton perbulan. Produk ini dikumpulkan dari para penderes yang merupakan anggota koperasi dari 12 desa di 4 kecamatan di Banyumas.
Untuk mendorong edukasi Manajemen Ekonomi Rumah Tangga (MERT) kepada anggotanya. Makanya sebagian margin penjualan dan pemasaran gula kelapa kristal anggota, maka disisihkan menjadi SHU dan juga untuk dana sosial berupa asuransi komunitas (askom). Untuk penjaminnan mutu produk gula kelapa kristal standar ekspor, internal control system (ICS) atau sistem pengawasan mutu internal hingga bantuan sarana produksi dan penyelenggaraan dapur sehat juga dilaksanakan.
“Adanya nilai tambah produksi gula kelapa kristal ini membuat anggota semangat dan aktif karena adanya penghasilan mereka meningkat. Sayangnya, meningkatnya penghasilan berbanding lurus dengan konsumsi belanjanya.
Makanya dengan edukasi koperasi, sebagian pendapatan mereka disisihkan untuk SHU, simpanan masa depan dan santunan sosial. Karena risiko pekerjaan penderes sangat tinggi karena bertaruh nyawa,” katanya. Hingga 2016 ada sebanyak 1073 penderes gula kelapa di Banyumas, menjadi anggota Asuransi Komunitas (Askom).
Dari 2011 hingga 2016, ada 24 orang petani yang mendapatkan santunan kecelakaan, 4 meninggal dan 20 orang mendapat biaya perawatan. Untuk menjalankan fungsi dan peran koperasi yaitu memenuhi kebutuhan keuangan anggota, KSU Nira Satria mengadakan pelayanan mulai dari Simpan Pinjam.
Saat ini simpan pinjam koperasi berjalan di 4 unit usaha di 4 kecamatan yaitu di Desa Kedungurang, Rancamaya, Pageraji, Sokawera dengan total dana yang berputar sampai Oktober 2012 sekitar Rp 94.019.240. Saat ini pengembangan simpan pinjam dilakukan di Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas dan Desa Kemawi, Kecamatan Somagede.
“Selain mendapatkan kemudahan akses simpan pinjam dan jaminan sosial, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) kemarin, ada anggota mendapatkan SHU mencapai Rp 3 juta dan simapan mencapai Rp 3,5 juta. Untuk menambah peluang penghasilan dan dukungan produksi adanya program peternakan hingga kebun bibit desa juga dilaksanakan,” jelas Ketua KSU Nira Satria, Nartam Andrea Nusa.
Konsultan Bank Indonesia, Musyafik pada diskusi pergulaan di Wangon beberapa waktu lalu menyatakan gula kelapa kristal organik Indonesia termasuk dari Banyumas terbukti punya prospek pasar dunia yang menjanjikan khususnya di era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA).
Telah diakui gula kristal organik Indonesia punya kualitas terbaik, tak kalah dengan produk gula negara lainnya. Tak heran selain pasar domestik, gula kristal organik ini juga laris jadi incaran konsumen dari Asia, Amerika dan Eropa. “Gula kristal organik kita, mempunyai kadar gula yang tidak menyebabkan bertambahnya gula darah.
Makanya sebagai konsumen sadar kesehatan, warga luar negeri khususnya dari Jepang memilih produk gula kita. Ini juga mendorong beralihnya banyak petani gula tebu menjadi gula kelapa,” kata Musyafik, konsultan Bank Indonesia saat diskusi prospek pergulaan di era MEAdi Wangon, Banyumas beberapa waktu lalu.
Melihat prospek cerah itulah, Musyafik terus mendorong agar peningkatan sumber daya manusia baik itu di kalangan petani, pedagang, asosiasi pedagang hingga pemerintah perlu terus ditingkatkan. Kekompakan dari para petani dan seluruh stakeholder yang mengurusi pemasaran gula kelapa kristal organik sangat dibutuhkan agar mereka bisa bertahan dan eksis dalam perdagangan bebas MEAsaat ini.
“Yang lebih penting untuk mendorong keberlangsungan ekonomi Indonesia, masyarakat, pemerintah dan semua pihak harus benar-benar mengkampanyekan dan mempraktikan cinta produk dalam negeri,” jelasnya. Kepala Seksi Industri Pertanian dan Kehutanan, Dinperindagkop Banyumas, Sri Gito menyatakan potesi gula kristal organik di Banyumas terbilang belum tergarap seluruhnya.
Untuk mendorong perkembangan gula kristal organik di kabupaten terbesar penghasil gula kelapa Indonesia ini, Pemkab Banyumas terus melakukan berbagai langkah. Selain promosi, pengadaan kartu penderes, pemberian bantuan benih kelapa, pelatihan dan pendampingan terhadap petani juga terus dilaksanakan.