Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 16 Agustus 2016

Preservasi Naskah Kalibening Tunggu Keputusan Masyarakat

suaramerdeka.com


suaramerdeka.com

 Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas masih menunggu keputusan pengelola Museum Pusaka Kalibening dan Masyarakat Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas untuk memperbaiki Naskah Kalibening.

Keputusan tersebut akan menjadi pertimbangan untuk memperbaiki manuskrip bersejarah tersebut. “Kalau belum ada keputusan, kami tidak berani mengambil,” kata Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Carlan, ketika dihubungi, kemarin.
Dia mengemukakan, preservasi (perbaikan) lembaran naskah itu dimaksudkan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah lagi. Setelah proses perbaikan, Manuskrip Kalibening akan dikembalikan lagi ke Museum Pusaka Kalibening. “Rencananya, perbaikan dilakukan di Semarang atau Jakarta. Di sana alatnya lebih lengkap dan memiliki kurator,” ujarnya.
Duplikat
Pamong Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Regio Jawa, Imam Hamidi Antassalam mengemukakan, jika Perpusarda menginginkan Naskah Kalibening sebagai koleksi, maka mereka harus membuat duplikat. Naskah asli harus tetap disimpan oleh masyarakat adat. “Kearifan lokal masyarakat Kalibening sudah membuktikan, mereka mampu menyimpan naskah yang diperkirakan ditulis pada abad ke 16 itu.
Dipindai yang aslinya saja, lalu diterjemahkan sebagai koleksi Perpustakaan,” tuturnya. Sementara itu, tokoh masyarakat adat Kalibening, Sutrimo menegaskan, pihaknya tidak akan melepas Naskah Kalibening kepada pihak Pemkab Banyumas.
Pasalnya, manuskrip tersebut telah dijaga secara turun-temurun. “Sesuai keputusan rapat Sabtu (6/8) malam bersama warga, perangkat desa, juru kunci dan ahli waris, kami sepakat tidak akan memberikan naskah tersebut.
Walaupun alasannya dipinjam untuk diperbaiki. Kami juga belajar dari hilangnya beberapa situs di Desa Papringan yang dipinjam namun tidak dikembalikan ke tempat asalnya,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar