Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 29 Januari 2016

Edisi Liputan Purwokerto Bagian 3

STMIK Amikom Purwokerto














Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto




































Edisi Liputan Purwokerto Bagian 2.

   SLTP/ SMA Putra Harapan










SD Putra Harapan


STT Wiworotomo .














STT Telkom Purwokerto










Edisi Liputan Purwokerto bagian 1

Liputan Pembangunan Kampus dan sekolah di Purwokerto .  beberapa tahun lalu saat belum memiliki banyak kesibukan saya menyempatkan diri mengunjungi berbagai tempat di Purwokerto . Saya mengamati perkembangan kota ini . Ada berbagai fasilitas dan infrastruktur yang dibangun dan beberapa saya potret .
berikut beberapa lokasi yang sempat saya ambil gambarnya :  Unsoed [ Laboratorium pertanian RS Pendidikan Gigi dan Mulut Rusunawa dan Stadion Soesilo Sudarman]. Universitas Muhamadiyah Purwokerto . saat ke lokasi sedang dibangun gedung serbaguna dan Fakultas Teknik serta renovasi Fakultas Farmasi . Akademi Perawat Harapan Bangsa .Universitas Wijaya Kusuma. SMA Al irsyad . SD dan SMP / SMA Pu Hua Putra Harapan . Salah satu sekolah swasta unggulan yang menerapkan 3 bahasa dalam kegiatan belajar mengajar . dan sebagainya .


Unsoed

Laboratorium pertanian




RS Pendidikan Gigi dan Mulut




Rusunawa






Stadion Soesilo Sudarman















Universitas Muhamadiyah Purwokerto
saat ke lokasi sedang dibangun gedung serbaguna dan Fakultas Teknik serta renovasi Fakultas Farmasi .






























Kamis, 28 Januari 2016

Wilayah Lumbir Rawan Kecelakaan

Puluhan Titik Rawan Kecelakaan

Berada di Wilayah Lumbir
BANYUMAS-Jalur Wangon-Lumbir, terutama di wilayah Grumbul Prompong Desa Karanggayam Kecamatan Lumbir yang ambles, saat ini sudah mulai ditangani.
Namun pengguna jalan harus mewaspadai jalur tersebut mengingat beberapa titik rawan kecelakaan berada di wilayah tikungan wilayah Kecamatan Lumbir.
Kaposlantas Wangon Aiptu Sutrisno, Rabu (27/1) pagi mengatakan,  sejak ambles beberapa minggu lalu, jalur selatan masuk Grumbul Prompong ambles. Sehingga dampak dari amblesnya jalan tersebut membuat separuh jalan ditutup.
“Walaupun sudah ada penanganan jalan rusak di Prompong, tetapi pengendara  roda empat atau lebih dan sepeda motor harus mewaspadai jalur tersebut. Dengan kondisi jalan yang mulus dan sedikit menikung, pengendara, jangan lengah dan tetap waspada,”ujarnya.
Selain di Prompong, beberapa titik wilayah rawan kecelakaan mulai masuk wilayah perbatasan Wangon dengan Lumbir sampai perbatasan Lumbir dengan Kabupaten Cilacap. Tikungan tajam ditambah jalan aspal hotmix yang mulus, menjadikan wilayah tersebut sering terjadi kecelakaan.
“Banyak tikungan tajam dan arus lalu lintas yang padat membuat seluruh wilayah masuk Lumbir rawan lakalantas. Untuk itu, pengguna jalan harus tetap hati-hati saat melintas di jalur selatan,”himbaunya.
Sementara itu, jalan rusak dan berlubang di jalur Ajibarang-Purwokerto  sudah diperbaiki. Namun, lubang yang sempat ditanam pohon pisang oleh warga sudah kembali rusak.

RSUD Ajibarang Semakin Maju

RSUD Ajibarang Tambah Tiga Spesialis

ar
RSUD Ajibarang Tambah Tiga Spesialis    BANYUMAS- RSUD Ajibarang menambah tiga dokter spesialis untuk meningkatkan pelayanan terhadap warga Banyumas dan sekitarnya.
Direktur RSUD Ajibarang dr Dani Esti Novia menyatakan, kebijakan tersebut setidaknya sebagai persembahan dari RSUD Ajibarang yang baru memperingati ulang tahun ke 9, Rabu (27/1) kemarin.
“Jadi ada tiga layanan baru di RSUD Ajibarang, yakni spesialis kulit dan kelamin, spesialis jiwa, dan spesialis mata,” kata dr Dani. Dia menambahkan, tiga layanan tersebut dipastikan sudah beroperasi dalam waktu dekat ini.
dr Dani menambahkan, per 31 Desember lalu tercatat ada 8 dokter spesialis, 8 dokter umum, dan 2 dokter gigi yang siap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Semoga dengan bertambahnya dokter spesialis maka akan meningkatkan pelayanan ke warga,” katanya.
Sementara, Rabu pagi kemarin, RSUD Ajibarang juga menggelar apel besar peringatan ulang tahun ke 9. Acara tersebut dihadiri Bupati Banyumas Ir Achmad Husein, Wabup Banyumas dr Budhi Setiawan, dan beberapa kepala dinas serta Muspika Ajibarang.
Bupati Husein mengatakan, momen ulang tahun ini pas untuk mengevaluasi kinerja demi peningkatan pelayanan.  Dia mengatakan, RSUD Ajibarang terbilang semakin maju.     “Banyak pegawai lain yang ingin bergabung di sini, tapi tak semuanya dapat kesempatan.  Jadi yang sudah di sini mesti bersyukur dengan jalan meningkatkan kinerja dan bekerja sesuai aturan,” sambut bupati.
dr Dani sendiri menyatakan siap mendorong dan bersama-sama 394 pegawai di RSUD Ajibarang untuk meningkatkan kinerjanya. “Kami juga berterimakasih atas dukungan pemkab, dan pihak lain demi kemajuan rumah sakit,” pungkasnya. 

Taman Edukasi Lalu Lintas Bulupitu Purwokerto Tahap Ketiga

Belum Rampung, Sudah Operasional

FOTO ATaman Edukasi Lalu Lintas
PURWOKERTO – Pembangunan tahap kedua Taman Edukasi Lalu Lintas di Terminal Bulupitu Purwokerto terus dilakukan. Sampai saat ini, persentase fisik taman sudah mencapai 75 persen dari total bangunan. Namun operasionalnya sudah berjalan, meski dengan sarana yang terbatas.
Kabid LLAJ Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Kabupaten Banyumas Agus Sriyono mengatakan, operasional taman lalu lintas masih sebatas memperkenalkan tata cara keselamatan lalu lintas, terutama untuk TK maupun PAUD.
“Kita sediakan bus gratis untuk antar jemput ke terminal. Sekarang, satu hari bisa sampai 2-3 TK/PAUD yang datang,” katanya.
Dikatakan, sampai saat ini sudah ada bantuan berupa sarana mobil untuk pembelajaran lalu lintas. Namun belum dioperasikan secara maksimal, karena masih menunggu fisik taman selesai 100 persen.
Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas, Santosa Eddy Prabowo mengatakan hingga saat ini tetap fokus pada pembangunan fisik Taman Lalu Lintas. Berdasarkan anggaran yang ada, tahun ini ditarget untuk penyelesaian fisik taman.
“Fisik tahap kedua akan kita selesaikan tahun ini. Sedangkan untuk sarana dan prasarananya nanti kita dapat bantuan dari pusat,” katanya.
Seperti ketahui, tahun 2015 ini pembangunan Taman Edukasi Lalu Lintas Bulupitu tahap II dianggarkan sekitar Rp 500 juta, yang bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas Tahun Anggaran 2015.
Pembangunan taman lalu lintas tahap kedua, lebih difokuskan pada penyelesaian fisik taman yang sudah dilakukan pada tahap pertama tahun 2014 lalu. Untuk fisik taman tahap kedua akan dilengkapi dengan pembangunan jalan lingkar taman, bangku taman, hingga joglo (gazebo).
Edy menjelaskan, untuk fasilitas pendukung seperti videotron dan alat peraga lalu lintas lainnya nantinya akan dibantu oleh pemerintah pusat. Saat ini masih menunggu realisasi dari pemerintah pusat, sehingga harapannya tahun ini dapat terpasang dan tahun 2016 nanti, taman lalu lintas dapat dioperasikan.
“Alat peraga yang akan dibantu oleh pusat antara lain, sarana rambu, mobil, sepeda, jembatan penyeberangan, kereta mini, hingga miniatur jalan lainnya untuk kepentingan edukasi lalu lintas,” jelasnya.
Ditambahkan, untuk rencana operasional taman edukasi lalu lintas ini tidak akan tanggung-tanggung. Sehingga ke depan, taman bisa menjadi wahana edukasi bukan hanya untuk warga Purwokerto dan Banyumas, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dari daerah lain.


Tahap Ketiga Dikerjakan Dua Dinas

JADI RTH  Pembangunan Taman Edukasi Lalu Lintas tinggal tahap finishing. DIMAS PRABOWORADARMASTaman Edukasi Lalu Lintas
PURWOKERTO – Pembangunan tahap kedua Taman Edukasi Lalu Lintas di Terminal Bulupitu Purwokerto sudah selesai. Rencananya, pembangunan akan segera dilanjutkan tahap ketiga atau  finishing.
Pada pembangunan tahap ketiga akan dikerjakan oleh Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Banyumas. “Tahap ketiga untuk pembuatan panggung, pohon ayoman atau peneduh dan pengecatan,” kata Kepala DCKKTR Kabupaten Banyumas, Andrie Subandrio.
Dia mengatakan, proses pembangunan dianggarkan sebesar Rp 300 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Banyumas Tahun Anggaran 2016. Namun Andrie belum bisa memastikan kapan pembangunan dikerjakan. Pasalnya masih menunggu Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) turun.
“DPA nya saja belum turun, jadi belum tahu kapan mau dikerjakan. Tentunya dalam pengerjaan melalui perencanaan terlebih dahulu,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dishubkominfo Kabupaten Banyumas Santosa Eddy Prabowo menurutkan, selain Cipta Karya, pihaknya juga akan membantu menyelesaikan pembangunan tahap ketiga.
“Kita juga bantu. Di lantai dua nanti akan diisi beberapa fasilitas untuk anak-anak dan hotspot area yang rencananya akan diberikan pusat,” katanya.
Dia berharap pembangunan tahap ketiga bisa segera dikerjakan. Sehingga taman yang menjadi salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) bisa segera dimanfaatkan.


Fasilitas Taman Dilengkapi Panggung Terbuka



Pembangunan Taman Edukasi Keselamatan Jalan, atau sering disebut taman lalu lintas, yang berada di Kompleks Terminal Bulupitu Purwokerto akan kembali dilanjutkan tahun ini. Kelanjutan tersebut antara lain berupa pembangunan fasilitas panggung terbuka.
”Yang kurang panggung terbuka, fungsi panggung tersebut bisa untuk memutar film atau pentas musik, sebab pada bagian latar belakang panggung dilengkapi videotron, itu bantuan dari pusat,” tutur Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Banyumas Santosa Edy Prabowo, kemarin.
Ia mengatakan, keberadaan panggung tersebut yakni untuk memutar film edukasi mengenai keselamatan jalan, serta mewadahi anak muda yang gemar bermain musik. Menurutnya, anak muda yang memang menggemari musik dipersilahkan menggunakan fasilitas yang ada untuk mengasah kemampuannya.
”Panggung itu untuk mengarahkan agar anak muda lebih mendalami hobi yang positif, dalam hal ini bermusik, daripada mereka kebut-kebutan di jalanan, yang tentu berbahaya,” ujarnya. Dikatakan, mengenai kelengkapan fasilitas Taman Edukasi Keselamatan Jalan, tahun ini bantuan berupa alat peraga mobilmobilan, miniatur taman juga dikabarkan segera turun.
Bila fasilitas tersebut sudah turun, menurutnya dalam waktu dekat pihaknya juga akan menggelar pelatihan bagi para guru PAUD, maupun guru TK, terkait penggunaan berbagai fasilitas di taman tersebut.
Teater Mini
”Kami nanti berharap para guru PAUD, maupun TK yang akan membeir penjelasan kepada masing- masing siswanya, sebab tenaga kami sangat terbatas,” kata dia.
Kepala Bidang LLAJ Dinhubkominfo Banyumas Agus Sriyono mengatakan, di samping bangunan luar ruangan, kelanjutan pembangunan taman tersebut juga dilakukan di bagian dalam ruangan. ”Untuk bagian dalam ruangan, akan menggunakan lantai dua Terminal Bulupitu Purwokerto,” ucapnya.
Ia menjelaskan, bagian dalam ruangan, di lantai dua Terminal Bulupitu, di antaranya akan dibangun fasilitas untuk teater mini. Teater tersebut nantinya juga akan digunakan untuk memutar berbagai tayangan edukasi seputar keselamatan jalan.
”Diharapkan sarana ini juga bisa menjadi hiburan yang mendidik, dan tetap terjangkau berbagai kalangan, sebab unuk masuk hanya dikenakan biaya parkir saja,” kata dia. Bebebrapa bagian taman juga sudah selesai dibangun tahun lalu diantaranya jalur kendaraan, halte, maupun joglo.

1 Februari 2016 , Suara Banyumas

Sejarah Banyumas Bagian 2

[Humas Kabupaten Banyumas] Babad Banyumas yang ditulis oleh Bapak Soegeng Wijono dan Bapak Sunardi dalam Bukunya “Banjoemas Riwajatmoe Doeloe” halaman 2-3. Dalam awal tulisan, Beliau juga menyebut tulisan dipetik dari buku “Babad Banjoemas karya Bapak R. Aria Wirjaatmadja (Patih Purwakerta) sebagai berikut : Sesuai kesukaan ayahnya, R. Ketuhu juga suka berkelana, njajah desa milang kori. Dalam perkenalannya itu R. Ketuhu sampai ke wilayah Kadipaten Wirasaba (di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit), yang pada saat itu diperintah oleh Adipati Paguwan atau Adipati Wirautama. R. Ketuhu melamar untuk mengabdi (bekerja) pada Adipati Wirautama.
Dengan mengetahui silsilah R. Ketuhu, Adipati Wirautama sangat berkenan dan sangat menyayanginya. Karena Adipati Wirautama tidak punya keturunan, maka R. Ketuhu dijadikan anak angkat. Pada akhirnya R. Ketuhu dinobatkan sebagai Adipati pengganti Adipati Wirautama, yang kemudian bergelar sebagai Adipati Wirautama II.
Pada masa-masa berikutnya, yang menjadi Adipati di Kadipaten Wirasaba secara berturut-turut adalah: Adipati Wirautama III atau Adipati Urang (putra Wirautama II), Adipati Surawin (putra Adipati Wirautama III), Adipati Surautama (putra Adipati Surawin yang waktu muda bernama Jaka Tambangan), dan Adipati Wargautama (putra Adipati Surautama yang waktu muda bernama Jaka Warga). Sejak masa mudanya Jaka Warga, Kadipaten Wirasaba berapa di bawah pemerintahan Kasultanan Pajang, yang berdiri pada tahun 1568.
Sudah menjadi kewajiban bagi para Adipati di bawah Kasultanan Pajang untuk mempersembahkan puteri sebagai Selir Sultan. Demikian pula Adipati Wargautama tidak luput dari kewajiban untuk menyerahkan puterinya. Setelah acara serah terima tersebut Adipati Wargautama segera meninggalkan Kasultanan dengan naik kuda dawuk bang menyusuri pantai selatan. Namun sesaat setelah Adipati Wargautama pergi meninggalkan Istana., mendadak dua orang (Demang Toyareka beserta anaknya) yang menghadap Sultan dan melaporkan bahwa puteri persembahan Adipati Wargautama adalah menantu si penghadap. Atas laporan tersebut Sultan Pajang sangat murka dan mengutus petugas untuk segera menyusul dan membunuh Adipati Wargautama yang dianggap telah membohonginya.
Segera setelah petugas berangkat, Sultan Pajang menemui puteri Adipati Wargautama untuk menanyakan akan kebenaran laporan tersebut. Ternyata keadaan yang sebenarnya bahwa puteri Adipati Wargautama sewaktu kecilnya memang telah dijodohkan dengan anak Ki Demang Toyareka, namun ia tidak bersedia dan sampai saat itu dia masih dalam keadaan suci.
Mendengar pengakuan dan penjelasan puteri Adipati Wargautama itu, Sultan Pajang sangat menyesal dan segera mengutus petugas kedua, gandek menteri untuk membatalkan tugas pengejaran dan pembunuh Adipati Wargautama.
Tengah hari hari Sabtu Pahing, sewaktu Adipati Wargautama sedang istirahat di dalam bangunan bale malang di desa Bener (wilayah Ambal), sambil menikmati makan siang dengan lauk pindang angsa, datang utusan pertama Sultan Pajang. Mereka mempersilahkan Ki Adipati untuk menyelesaikan makan siangnya. Sebelum Ki Adipati menyelesaikan makan siang, mendadak datang utusan kedua yang melambai-lambaikan tangan dengan pertanda pembatalan tugas. Oleh petugas pertama lambaian tangan petugas kedua tersebut ditafsirkan sebagai isyarat untuk membunuh Ki Adipati Wirasaba. Tugas pun di laksanakan. Keris dihunus dan ditikamkan ke dada Ki Adipati Wargautama. Melihat peristiwa ini para abdi pengikut Ki Adipati ketakutan dan lari menyelamatkan diri, pulang ke Kadipaten Wirasaba.
Sebelum menghembuskan nafas terkhirmya Ki Adipati Wargautama, sempat mendengar dan melerai pertengkaran antara petugas kedua dan petugas pertama yang salah menafsirkan kode lambaian tangan petugas kedua. Ki Adipati Wargautama berpesan kepada mereka agar mereka segera pulang ke Pajang dan melaporkan bahwa Ki Adipati Wargautama telah meninggal sebelum utusan kedua sampai di tempat, sehingga pembatalan perintah tidak sempat disampaikan ke utusan pertama.
Kepada abdi pengikut yang setia menunggu, Ki Adipati berpesan bahwa kelak kemudian hari anak cucu keturunan Adipati Wargautama diminta berpantang untuk: (1) bepergian pada Sabtu Pahing, (2) makan pindang angsa, (3) membangun dan menempati rumah bentuk bale malang, dan (4) menaiki kuda waduk bang.
Beberapa hari kemudian para abdi pengikut Ki Adipati dampai di Kadipaten Wirasaba, terus melaporkan peristiwa pembunuhan tersebut. Mendengar laporan tersebut para kerabat Kadipaten sangat terkejut, berduka dan segera pergi ke desa Bener untuk mengambil jenazah Ki Adipati. namun karena kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan untuk dibawa pulang, maka langsung dikebumikan di makam pakeringan.
Sesampai di Kasultanan Pajang, para utusan sultan melaporkan kejadian di Desa Bener sesuai pesan Adipati Wargautama. dengan rasa menyesal Sultan Pajang mengutus petugas untuk memanggil para putra Adipati Wargautama. namun adanya rasa ketakutan yang sangat mendalam atas murka Sultan tidak seorangpun dari ke empat putra Adipati Wargautama yang bersedia menghadap Sultan Pajang.
Dengan kesetiaan yang besar kepada Sultan, R. Jaka Kaiman (Putera Ki Mranggi Semu dari Desa Kejawar), menantu Ki Adipati Wargautama dengan penuh rasa takut, memberanikan diri menghadap Sultan Pajang, apapun resiko yang bakal terjadi atas dirinya. melalui berbagai pertimbangan yang mendalam, atas perkenan Sultan, R. Jaka Kaiman ditetapkan dan dinobatkan sebagai Adipati Wirasaba pengganti Adipati Wargautama dengan gelar Adipati Wargautama II. sekembalinya dari Kasultanan Pajang ke Wirasaba, penobatan tersebut diumumkan oleh utusan Sultan Pajang.
Atas kebesaran jiwa Adipati Wargautama II, karena Adipati Wargautama I berputra empat orang, maka wilayah Kadipaten Wirasaba di bagi menjadi empat wilayah Kabupaten. Adipati Wargautama II sendiri memilih Daerah Banyumas sebagi Wilayah Pemerintahannya. Pusat Pemerintahan dibangun tahun 1571 di Wilayah Desa Kejawar, dekat pertemuan antara Kali Banyumas, Kali Pasinggangan, dan Kali Perwaton di dekat aliran kali serayu. dengan pemekaran Wilayah Kadipaten Wirasaba menjadi empat Kabupaten, maka R. Jaka Kaiman dipanggil pula dengan sebutan Bupati Mrapat (Membagi empat).

Kewenangan 27 Camat Makin Diperluas

 
 
 
 
 
,suaramerdeka.com - Kewenangan 27 camat di Kabupaten Banyumas dalam menjalankan tugas pokoknya kini makin diperluas. Hal itu sekaligus untuk mendekatkan pelayanan masyarakat. Sebelumnya, sebagian besar perizinan masih ditangani di kabupaten dan bupati.
Kabag Organisasi Setda Banyumas, Titik Pujiastuti mengatakan, kewenangan camat ditambah menyusul telah diterbitkan Peraturan Bupati Nomer 59 Tahun 2015 tentang Pendelegasian Wewenang di Bidang Perizinan dan Non Perizinan pada Kecamatan di Banyumas.
“Kewenanganan perizinan yang tadinya ada di Bupati dan kepala BPMPP, terutama untuk perizinan dan non perizinan tertentu kini didelegasikan ke camatan,” katanya, Rabu (27/1).
Kewenangan perizinan yang didelegasikan, jelas dia, seperti izin mendirikan bangunan (IMB) dan perizinan URHU (Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum). Untuk IMB dulu hanya 50 meter, sekarang menjadi 200 meter.
Di samping itu, untuk rumah tinggal yang dibangun perorangan dulu maksimal hanya 2 unit, sekarang menjadi 10 unit. Perizinan pendirian kantor pemerintahan juga sekarang menjadi wewenang Camat.
“Bahkan camat sekarang bisa memberi izin usaha mikro dan pengurusannya bisa di kecamatan,” terangnya.
Pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi terkait Perbup No 59 Tahun 2015 kepada seluruh camat. Sosialisasi pertama kali pada tanggal 30 Desember 2015. Namun, untuk bimbingan teknisnya baru diberikan pada hari Selasa (26/1) lalu. Dalam bimbingan teknis itu dihadiri oleh 27 camat dan 2 tim perizinan.
“Untuk memudahkan mekanisme wewenang perizinan di kecamatan, tiap-tiap kecamatan akan diberi tim perizinan masing-masing,” ujar dia.
Menurutnya, pendelegasian wewenang di bidang perizinan kepada camat tersebut untuk memudahkan dan lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Masyarakat tidak perlu lagi jauh-jauh ke kabupaten.


Rabu, 27 Januari 2016

Kampung Logawa Leisure Park


credit to Jaka Soka





















Waterboom Niaghara terletak di antara sungai Logawa dan sunga Mengaji, luasnya 6 hektar. lokasi berdekatan dengan monumen Panglima Besar Soedirman dan makam makdum Wali. di bangun oleh investor dari Bogor dan Banyumas. ( PT Sari Tirta Segara).
Wahana ini tak bermaksud menyaingi yang sudah ada, tapi melengkapi.
konsep yang dikembangkan bukan sekedar wisata air, tapi juga pendidikan dan pengembangan budaya lokal. di lengkapi kolam renang untuk bisa dimanfaatkan anak sekolah dan panggung hiburan kesenian rakyat Banyumas. diharapkan akan meningkatkan ekonomi kota Purwokerto.
wahana ini juga berbeda dengan yang ada di tempat lain, karena selain wahana basah, juga dilengkapi wahana kering, jet coaster, kora-kora, kincir nagin dan arena gokart.
sepertinya inilah wahana air yang terdekat yang lengkap bagi masyarakat Purwokerto..
informasi terbaru ternyata proyek ini milik Dreamland Park . masih satu paket dengan Rumah Makan Kampung Logawa yang sudah terlebih dulu soft opening .

 Rumah Makan Kampung Logawa Leisure Park yang didesaint sebagai tempat wisata kuliner keluarga untuk menambah asset tempat wisata kuliner di Banyumas. Rumah Makan ini juga merupakan segmen pariwisata unggulan di lingkungan Kab. banyumas dan menjadi bagian dari kebanggaan Kabupaten Banyumas, khususnya dari sisi pariwisata. Rumah Makan Kampung Logawa berdiri diatas sebidang tanah seluas 11 Ha (Hekta are) di Kampung Logawa, Karanglewas, Banyumas Jawa Tengah dilengkapi beberapa fasilitas antara lain: Hall, Resto, Gasebo, Kids Fun, Movie, Waterboom, kolam renang ombak tsunami terbesar se jateng, jogging track, cafe yang takan lama lagi diawal bulan Agustus tahun 2015 ini akan Grand Opening, sebelumnya, RM Kampung Logawsa ini pada hari pertama lebaran Idul Fitri 1436 H telah dilakukan soft opening. “RM Kampung Logawa ini akan tampil secara utuh sebagai rumah makan fenomenal, terbesar di kota Purwokerto ; juga akan menjadi rumah makan familier sekaligus sebagai tempat untuk rekreasi keluarga yang terlengkap dari sisi variasi produk dan memiliki banyak alternatif pilihan

Jalur Lingkar Sokaraja

Sokaraja Dibuat Jalur Lingkar
Urai Kemacetan yang Kerap Terjadi


[Radar Banyumas][-Kecamatan Sokaraja yang secara tata ruang sudah masuk dalam kawasan tata ruang Perkotaan Purwokerto sudah menjadi kawasan yang sangat padat. Apalagi, Kecamatan Sokaraja dipastikan terkena dampak langsung bila Bandara Wirasaba beroperasi untuk komersil.
Sebabnya, Kecamatan Sokaraja menjadi akses jalan utama masyarakat di Kabupaten Banyumas menuju ke Bandara Wirasaba atau sebaliknya. Bahkan, bisa dibilang menjadi jalan utama bagi masyarakat di Cilacap yang hendak ke wirasaba atau juga masyarakat di Bumiayu dan sekitarnya.
Nah, dari segi tata ruang, kepadatan lalu lintas di Sokaraja sudah diantisiapasi sejak dini oleh Pemkab Banyumas. Yaitu dengan direncanakannya pembuatan jalur lingkar. Baik jalur lingkar utara maupun lingkar selatan Sokaraja.
"Iya, sudah ada perencanaan jalur lingkar utara maupun jalur lingkar selatan. Yang jelas wadah aturan untuk pembuatan jalur lingkar Sokaraja sudah ada di dalam Perda RTRW Kabupaten Banyumas No 10 tahun 2011. Tahapan pembangunan sendiri dimaksimalkan sampai 2031. Tapi, kalau kapan pelaksanaannya masih dibahas lebih terinci. Mulai harus melakukan studi kelayakan, survey hingga sosialisasi ke masyarakat terlebih dahulu," kata Kabid Penataan Ruang DCKKTR Banyumas Dedy Noerhasan saat ditemui Radarmas di kantornya kemarin (17/9).
Dalam Perda RTRW No 10 Tahun 2011 Pasal 16 diketahui bahwa rencana pengembangan jaringan jalan diwujudkan melalui peningkatan fungsi dan perencanaan jalan-jalan baru yang berfungsi sebagai jalur jalan lingkar untuk mengarahkan kegiatan menerus yang melewati kawasan perkotaan, khususnya kawasan perkotaan yang cenderung berkembang pesat dengan fungsi sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Nah, Sokaraja sendiri masuk dalam fungsi Pusat Kegiatan Wilayah bersama dengan kawasan perkotaan di Kecamatan Purwokerto Utara, Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan dan Purwokerto Barat, sebagian Kecamatan Sumbang, Baturraden, Kedungbanteng, Kembaran, Karanglewas, Sokaraja dan Patikraja.
Dedy menjelaskan, DCKTTR sendiri sudah membuat rancangan peta untuk Jalur Lingkar Utara dan Selatan Sokaraja. Hanya saja, skala pembuatan peta rencana itu masih berskala 1;50.000, sehingga jalur tersebut akan melewati daerah mana saja masih sedang dipetakan.
Selain perencanaan jalan-jalan baru sebagaimana seperti dalam jalur lingkar itu, juga ada beberapa daerah lain yang dikembangkan untuk memfungsikan perkembangan tata ruang perkotaan Purwokerto. (ttg/acd)
Pembangunan Jalan di Banyumas
Rencana pengembangan jaringan jalan dalam sistem jaringan prasarana wilayah di Perda RTRW No 10 Tahun 2011 :
1. Jalan lingkar utara Sokaraja sebagai pengalih arus menerus dari arah timur, Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya, ke arah barat menuju Tegal, Jakarta dan sekitarnya;
2. Jalan lingkar selatan Sokaraja sebagai pengalih arus menerus dari arah timur, Yogyakarta dan sekitarnya, ke arah barat menuju Tegal, Jakarta dan sekitarnya;
3. Jalur jalan sejajar rel jalur ganda Tambak - Sumpiuh sepanjang ± 3,5 km (kurang lebih tiga koma lima kilo meter);
4. Peningkatan jalan Pegalongan - GunungTugel - Purwokerto Selatan sehingga dapat berfungsi sebagai jalur jalan kolektor untuk mendukung pergerakan regional.
5. Peningkatan jalan Dukuhwaluh - Kembaran - Purbalingga sehingga berfungsi sebagai jalur jalan kolektor.
6. Pengembangan akses jalan (Sokaraja - Karangduren - Kalisogra Wetan - Kedungbenda - Kemangkon - Tidu - Wirasaba) menuju Bandara Wirasaba Kabupaten Purbalingga.
Sumber : Perda RTRW NO 10 Tahun 2011.

Hari Jadi Banyumas Tanggal 22 Februari

Mulai 2016, Hari Jadi Banyumas Tanggal 22 Februari


[Humas Kabupaten Banyumas] Mulai tahun 2016 ini, peringatan Hari Jadi Banyumas akan jatuh pada tanggal 22 Februari. Sebelumnya peringatan Hari Jadi Banyumas bertanggal 6 April. Perubahan ini berdasarkan Peraturan Daerah Kabuoaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, Perda tersebut mencabut Perda No 2 Tahun 1990 tentang Hari Jadi KabupatenBanyumas.
Dengan perubahan hari jadi tersebut, ada perbedaan rentang waktu 11 tahun, dimana Hari Jadi Banyumas yang baru ditetapkan 11 tahun lebih tua. Sehingga di tahun 2016 ini, Banyumas akan merayakan hari jadinya yang ke 445.
Berikut kami sampaikan informasi dan dasar perubahan tersebut :
Bupati Banyumas ke 28 Kol Inf H Djoko Sudantoko pernah menyampaikan bahwa pengkajian ulang hari jadi bukan hal yang tabu, melainkan justru suatu keharusan, agar tidak mewariskan sejarah yang salah kepada generasi penerus.
Apabila dikemudian hari ditemukan fakta baru atau ditemukan sumber dokumen yang lebih kuat, lengkap dan akurat sehingga dapat dipertanggungjawabkan menyangkut asal usul Kabupaten Banyumas yang dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat Kabupaten Banyumas, maka hari jadi yang telah ditetapkan sebelumnya menjadi gugur, diganti oleh tanggal hari jadi menurut fakta yang lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Dan karena telah diketemukan sumber dan dokumennya yang lebih kuat maka DPRD Kabupaten Banyumas Tahun 2015, membentuk Panitia Kusus untuk meneliti tentang Sejarah Hari Jadi Banyumas.
Berikut kami Cuplikan Laporan Pansus DPRD Kabupaten Banyumas yang diketuai oleh Bapak H Bambang Pudjianto, BE dan menjadi dasar Penetapan Perda Nomor 10 Tahun 2105 sebagai berikut :
Masalah yang paling hakiki dalam penulisan sejarah adalah didasarkan atas fakta, dan fakta itu ditemukan pada sumber sejarah yang berupa dokumen. Jadi, manakala dokumen itu tidak ditemukan, maka dengan sendirinya fakta sejarah itu tidak ada. Jika suatu hal dipaksakan sebagai suatu fakta, padahal tidak didasarkan pada sumber sejarah, maka fakta itu pada hakikatnya adalah fakta yang tidak tepat. Sesuai dengan logika tersebut, berarti penetapan tanggal 6 April 1582 sebagai Hari Jadi Kabupaten Banyumas didasarkan atas fakta yang tidak tepat, karena jika dilacak kembali, maka fakta itu tidak dijumpai pada sumbernya. Oleh karena itu, 6 April 1582 ahistoris dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.
Sejarah memang tidak pernah ditulis secara sempurna oleh generasi manusia manapun karena sejarah adalah masa lalu yang sumber dan faktanya tidak semuanya dapat disadap oleh sejarawan. Tentu sejarah akan selalu ditulis kembali sebagai suatu karya penyempurnaan dari hasil yang diperoleh generasi penulis terdahulu sehingga sejarah bukanlah sesuatu yang pasti. Kepastian dalam sejarah itu bersifat relatif. Hal itu sangat tergantung oleh keberadaan sumber-sumber sejarah yang bisa diperoleh.
Berdasarkan penelitian dan telaah yang mendalam, terdapat sebuah Naskah yang sangat penting dan menentukan dalam kaitannya penelusuran sumber sejarah untuk menentukan kapan hari jadi Kabupaten Banyumas yang sebenarnya, naskah tersebut dikenal dengan nama : “Naskah Kalibening”.
Pada waktu menjelang diundangkannya Peraturan Daerah Kabupaten DATI II Banyumas tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, sebagai Peneliti, tidak memperoleh sumber yang tersimpan pada juru kunci makam Kalibening. Sumber naskah Kalibening memang tergolong naskah sakral dan tidak sembarang waktu boleh dibuka dan dibaca. Penelitian yang tergesa-gesa tentu saja tidak memungkinkan Soekarto untuk membaca teks tersebut, apalagi teks tersebut termasuk sulit bacaannya karena banyak tulisannya yang rusak dan tidak terbaca, bahkan beberapa halaman dimungkinkan telah lenyap.
Naskah Kalibening mencatat suatu peristiwa yang berkaitan dengan penyerahan upeti kepada Sultan Pajang pada tanggal 27 Pasa hari Rabu sore. Memang diakui bahwa teks Kalibening cenderung anonim, artinya tokoh yang diceritakan tidak disebutkan namanya, tetapi jati diri tokoh-tokoh itu bisa diinterpretasikan melalui perbandingan dengan teks-teks yang lain. Teks Kalibening menyebut peristiwa penyerahan upeti itu juga berkaitan dengan “Sang Mertua” (rama), sehingga tanggal tersebut dapat dipakai sebagai patokan hari jadi Kabupaten Banyumas. Sedangkan angka tahun yang dipakai adalah berdasarkan kesaksian teks yang dikandung oleh Naskah Krandji-Kedhungwuluh dan catatan tradisi pada Makam Adipati Mrapat di Astana Redi Bendungan (Dawuhan) yang menyatakan bahwa tahun 1571 adalah awal kekuasaan Adipati Mrapat (R. Joko Kaiman), dan tahun 1571-1582 adalah periode kekuasaan Adipati Mrapat. Jadi, tahun 1582 bukan merupakan tahun awal, tetapi merupakan tahun akhir kekuasaan Adipati Mrapat. Di samping itu, tahun 1571 juga terpampang pada Papan Makam dan Batu Grip Makam Adipati Mrapat yang masih ada pada tanggal 1 Januari 1984, setelah itu makam direnovasi oleh Bupati Roedjito, renovasi tersebut telah menghilangkan data tersebut.
Berdasarkan sumber-sumber tersebut, maka tanggal 27 Pasa tahun Masehi 1571 bisa ditetapkan sebagai hari jadi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa bulan Ramadhan pada tahun 1571 Masehi jatuh pada tahun 978 H. Setelah dihitung, maka ditemukan tanggal 27 Ramadhan 978 H dan setelah dikonversikan dengan tahun Masehi, maka ditemukan tanggal 22 Pebruari 1571 Masehi yang bertepatan dengan Kamis Wage (Rabu sore).
Tanggal 27 Ramadhan 978 H atau tanggal 22 Pebruari 1571 Masehi, ditentukan sebagai patokan hari jadi Kabupaten Banyumas berdasarkan perhitungan tanggal dan hari dimana R. Joko Kaiman (Adipati Mrapat) yang bergelar Adipati Warga Utama II diangkat atau ditetapkan oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba VII menggantikan rama mertuanya yaitu Adipati Warga Utama I (Adipati Wirasaba VI).
R. Joko Kaiman yang telah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII, beliau membagi daerah kekuasaannya menjadi empat (sehingga R. Joko Kaiman terkenal dengan nama Adipati Mrapat), yaitu :
a. Banjar Pertambakan diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirayudo.
b. Merden diberikan kepada Kiai Ngabehi Wirakusumo.
c. Wirasaba diberikan kepada Kiai Ngabehi Wargawijoyo.
d. Sedangkan beliau merelakan kembali ke Banyumas dengan maksud mulai membangun pusat pemerintahan yang baru.
Daerah yang pertama kali dibangun sebagai pusat pemerintahan ialah hutan Tembaga sebelah barat laut daerah Kejawar dan sekarang terletak di pertemuan Sungai Banyumas dan Sungai Pasinggangan di Desa Kalisube dan Desa Pekunden Kecamatan Banyumas.
Dengan demikian, tanggal 27 Ramadhan 978 H atau 22 Pebruari 1571 lebih bisa dipertanggungjawabkan karena ada sumbernya atau ada dokumennya. Tanggal tersebut merupakan alternatif kuat untuk ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Banyumas sebelum ditemukannya sumber sejarah yang lain yang lebih kuat.
Catatan :
Tanggal 27 Pasa (27 Ramadhan) yang tercantum dalam Babab Banyumas Kelibening yang berasal dari Naskah abad ke-16 atau 17 Masehi.
Sugeng Priyadi. 1991. “Babad Banyumas Kalibening.”Laporan Penelitian. Purwokerto: IKIP Muhammadiyah Purwokerto.
Keterangan : Yang dimaksud Sang Mertua (rama) adalah Adipati Warga Utama I (Adipati Wirasaba VI) atau juga dikenal dengan sebutan Adipati Sedo Bener. Adipati Warga Utama I adalah mertua dari R. Joko Kaiman (Adipati Mrapat) yang bergelar Adipati Warga Utama II.

Selasa, 26 Januari 2016

Sejarah Pangkalan TNI AU Wirasaba


[banyumasnews.com ] Bandar udara Pangkalan TNI AU Wirasaba di Purbalingga santer diberitakan akan beralih fungsi menjadi bandara komersil. Hal ini menyusul persetujuan Kementrian Perhubungan atas upaya Bupati Purbalingga dan sejumlah bupati tetangga untuk memiliki bandar udara di wilayah eks karesidenan Banyumas yang dapat meningkatkan pertumbuhan di wilayah Jateng selatan barat ini. Tapi, tahukah Anda, kapan mulai berdirinya pangkalan udara Wirasaba atau Bandara Wirasaba ini?
Pangkalan udara Wirasaba dibangun oleh Belanda pada tahun 1938, sebagai upaya Belanda mempercepat mobilitas ke wilayah Karesidenan Banyumas. Saat itu sudah ada rel kereta api yang menghubungkan Jakarta – Cirebon – Purwokerto – Purbalingga – Banjarnegara – Wonosobo. Juga lintasan Purwokerto – Kroya – Jogjakarta. Namun rupanya belum cukup  bagi Belanda, sehingga di wilayah ini pun dibangun pangkalan udara. Dipilihlah suatu lokasi di Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, untuk dibangun pangkalan udara.
Bandara Wirasaba dengan latar belakang Gunung Slamet dalam tahap peningkatan landasan (Banjoemas.co.cc)
Bandara Wirasaba dengan latar belakang Gunung Slamet dalam tahap peningkatan landasan (Banjoemas.co.cc)
Pada tahun 1942-1945 pangkalan udara Wirasaba dikuasai oleh Jepang. Lantas pada tahun 1945-1947 dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno. Pasca proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali akan merebut Republik Indonesia. Dengan tidak adanya pasukan pertahanan pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah Pangkalan dikuasai Belanda kembali antara tahun 1947-1950.
Tahun 1950, dengan takluknya Belanda pada waktu itu, maka Pangkalan Udara Wirasaba diserahkan kembali kepada Pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang kedua (yang menerima penyerahan dari Belanda) adalah Opsir Muda Oedara (OMO) Warim.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengunjungi Purbalingga, Purwokerto dan Banyumas turun di Bandara Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengunjungi Purbalingga, Purwokerto dan Banyumas turun di Bandara Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
Momen penting terkait Pangkala Udara Wirasaba adalah ketika pada bulan Juni 1946 Opsir Udara II H. Sujono bersama KASAU Komodor Udara Suryadi Suryadarma terbang ke Wirasaba untuk membuka secara resmi lapangan udara tersebut.
Nama Pangkalan Udara ‘“Wirasaba”’ diambil dari nama seorang pangeran yaitu “Pangeran Wirasaba”. Pangeran Wirasaba adalah salah satu Bupati Banyumas dan pendiri kabupaten Purbalingga yang sangat berkharisma.
Pesawat Dakota menurunkan cadangan pasokan tempur di Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
Pesawat Dakota menurunkan cadangan pasokan tempur di Wirasaba (Banjoemas.co.cc)
Bandara terbaik
Sebagai pangkalan TNI AU, bandar udara Wirasaba adalah Pangkalan Udara Militer type C. Peningkatan status Bandara Wirasaba dari type D ke type C secara resmi berubah pada tanggal 24 Maret 2015, bersama dengan bandara lainnya yang dikelola TNI AU yaitu Lanud Sugiri Sukani dan Singkawang ll. Upacara peresmian dilaksanakan di lapangan apel Lanud Wirasaba, dengan Inspektur Upacara Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda TNI A. Dwi Putranto.
Pada HUT TNI Angkatan Udara Ke-69 tahun 2015, Lanud Wirasaba mendapat penghargaan sebagai Lanud Tipe C terbaik di bawah jajaran Komando Operasi Angkatan Udara I. (BNC/diolah dari berbagai sumber)

Sejarah Banyumas Bagian 1



[Humas Kabupaten Banyumas ]Pendopo Si Panji
Setelah Perang Diponegoro berakhir (1825-1830) daerah Banyumas dan Kedu (Bagelan) terlepas dari Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan berada langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
Jendral De Kock mengunjungi Banyumas pada bulan November 1831 dan dengan Keputusan Jendral Van Den Bosch tertanggal 18 Desember 1831 dibentuklah Karesidenan Banyumas yang terdiri dari lima Kabupaten, yaitu : Banyumas, Ajibarang, Purbalingga, Banjarnegara, dan Majenang.
Kabupaten Banyumas pada masa itu terdiri dari tiga distrik yaitu : Banyumas, Adirejo, dan Purworejo Klampok. Kabupaten Ajibarang terdiri dari tiga distrik yaitu : Ajibarang, Jambu (sekarang Jatilawang) dan Purwokerto.
Karena bencana angin topan selama 40 hari yang melanda Kabupaten Ajibarang pada tahun 1832, maka ibukota Kabupaten pada tanggal 6 Oktober 1832 dipindahkan ke Desa Paguwon, Distrik Purwokerto.
Bupati Ajibarang pada saat itu adalah Adipati Aryo Mertodirejo II yang dapat disebut juga sebagai Adipati Purwokerto I.
Rumah atau pendopo Kabupaten Banyumas dan Kota Banyumas didirIkan pada tahun 1571 oleh Kyai Adipati Wargautama II yang dapat disebut sebagai Bupati Banyumas I dan dikenal pula dengan sebutan Kyai Adipati Mrapat. Kemudian Adipati Yudonegoro II (Bupati Banyumas VII tahun 1707-1743) memindahkan Kabupaten Banyumas agak ke sebelah timur dengan sekaligus membangun rumah Kabupaten berikut Pendoponya. Dan yang sekarang terkenal dengan nama SI PANJI.
Banyak cerita yang berhubungan dengan pendopo Si Panji dengan keanehannya. Cerita itu antara lain :
1. Pada tanggal 21 s.d 23 Februari 1861 sebagaimana tersebut dimuka, kota Banyumas dilanda banjir hebat (Blabur Banyumas) karena meluapnya Kali Serayu. Sebagian pengungsi berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atas pendopo "Si Panji". Setelah air bah surut, ternyata pendopo ini tidak mengalami kerusakan atau perubahan sedikitpun pada keempat tiangnya (saka guru). Bupati Banyumas pada masa itu adalah Raden Adipati Cokronegoro I yang menjabat sejak tahun 1831.

2. Konon ketika pendopo itu akan dibangun, semua sesepuh/tokoh masyarakat Banyumas menyumbangkan calon saka guru pendopo atau bahan bangunan yang lain. Semua Ki Ageng telah memenuhi permintaan Sang Adipati, kecuali Ki Ageng Somawangi, sehingga ia dipanggil untuk menghadap Sang Adipati akan dimintai keterangannya. Menghadaplah Ki Ageng Somawangi memnuhi panggilan dinas Sang Adipati. Sementara itu pembangunan pendopo sedang dikerjakan. Untuk menebus kesalahannya, pada saat itu pula ia langsung menyerahkan saka guru pendopo yang ia ciptakan dari tatal dan potongan-potongan kayu yang berserakan di sekitar kompleks pembangunan itu. Hal itu oleh Sang Adipati tidak disambut baik, bahkan sebaliknya itu dianggap suatu sikap pamer atau mendemonstrasikan kebolehannya, akibatnya malahan ia dituduh berniat akan njongkeng kewibawaan sang Adipati. Atas tuduhan yang kurang adil itu, Ki Ageng marah, segera meninggalkan Kadipaten tanpa pamit. Sang Adipati merasa sangat tersinggung, segera menyuruh prajurit kabupaten supaya menangkap Ki Ageng yang dianggap ngungkak krama itu. Namun karena kesaktiannya (perlindungan Allah) ia dapat lolos dari bahaya itu. Konon tongkatnya ditancapkan di suatu tempat yang untuk sementara tongkat tersebut berganti wujud persis seperti sosok Ki Ageng. Sementara para prajurit menganiyaya Ki Ageng tiruan, Ki Ageng Somawangi dari jalan raya menerobos melalui jalan setapak menuju padepokannya yang sekarang menjadi Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Desa di mana Ki Ageng menerobos untuk menghindari kejaran prajurit Banyumas (rejaning jaman) kemudian diberi nama “Panerusan” yang pernah menjadi desa perdikan berstatus “Kademangan”. Sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Susukan, Purworejo Klampok. Sebagai pembalasan atas sikap Sang Adipati yang dianggap daksinya, Ki Ageng Somawangi memberikan sumpah serapah atau kutuk pastunya kepada trah Banyumas terutama kepada yang menjabat sebagai priyayi yakni barang siapa diantara para keturunan Bupati Banyumas yang datang ke Desa Somawangi dan melewati (menyeberangi) Kali Sidula (sungai kecil yang bermuara di Kali Sapi), ndilalah (kersaning Allah), jabatannya akan lepas atau sekurang-kurangnya turun pangkat. Apa hanya secara kebetulan atau memang ampuhnya kutukan itu, konon sumpah serapah itu benar-benar mempan, sehingga sampai sekarang masih ada orang yang mempercayainya, sekalipun bukan trah Bupati Banyumas. Siapakah Raden Somawangi (Ki Ageng Somawangi) Ia adalah cucu Ki Ageng Penjawi (nama samaran). Ki Ageng Penjawi adalah mantan Bupati Pasantenan (Pai) yang karena konflik dengan Kerajaan Mataram terpaksa hijrah ke wilayah Banyumas yang lazim disebut daerah mancanegara.
3. Cerita lain menyebutkan bahwa salah satu saka guru Pendopo Si Panji (yang dikeramatkan) berasal dari hutan belantara di daerah hulu Kali Serayu Kabupaten Banjar (Banjarwalulembu). Konon hutan itu sangat wingit (Jawa sato mara sato mati jalma mara jalma mati). Kata sehibul hikayat, saka guru yang satu itu cenderung ingin kembali ke asalnya. Namun keinginannya itu tidak mungkin terlaksana. Setelah ada penggabungan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purwokerto tahun 1936, atas prakarsa Adipati Aryo Sujiman Gandasubrata (Bupati Banyumas XX), Pendopo Si Panji pada bulan Januari 1937 dipindahkan dari Banyumas ke Purwokerto. Barangkali terpengaruh kepercayaan-kepercayaan tersebut di atas dan untuk menghindari hal-hal (peristiwa gaib) yang tidak diinginkan, maka pemboyongan pendopo Si Panji yang keramat itu tidak melewati Sungai Serayu, tetapi melewati daerah Semarang.
Dikutip dari Buku "Sejarah Banyumas" oleh Drs. S. Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, B.A. yang diterbitkan oleh UD Satria Utama Purwokerto, 1992.