Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 27 April 2017

Zakat Produktif untuk Orang Miskin


ZAKAT produktif, adalah dana yang diperoleh dari zakat umat Islam, diberikan dan dibagikan untuk orang Islam guna kepentingan usaha produktif.
”Kami membangikan peralatan masak seperti kompos gas, panci, peralatan dapur lainnya untuk membangun pedagang kaki lima (PKL) yang membutuhkan,” kata Agus Triyuanto, Sekretaris Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Shodaqoh (Laziz) Masjig Agung Baitussalam Purwokerto, belum lama ini.
Dia menjelaskan zakat produktif saat ini baru dibagikan kepada warga di sekitar masjid Baitussalam yaitu warga di Kelurahan Sokanegara, Kranji, dan Kedung Wuluh, Kecamatan Purwokerto Selatan. Ada 33 rukun tetangga (RT) yang akan menjadi sasaran program zakat produktif.
Zakat itu diberikan untuk warga di tiga kelurahan itu tujuannya agar masyarakat dari sekeliling Masjid Agung Baitussalam merasa memiliki dan mau berjamaah di Masjid Agung Baitussalam.
”Kami juga mengajak penerima zakat ikut aktif mengikuti berbagai kegiatan di masjid Baitussalam,” ujarnya.
Agus menjelaskan, untuk bisa menerima zakat produktif syaratnya sangat sederhana, yaitu dimulai dari usulan RT dan RW setempat. ”Karena pengurus RT yang paling tahu warganya, sehingga pemberian zakat produktif ini benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Ketua Bidang Pendayagunaan Masjid Agung Baitussalam H Samingan menjelaskan, selain peralatan dapur, Laziz juga memberikan bantuan dalam bentuk modal kerja.
Bantuan modal kerja ini besarnya bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per orang, tergantung dari kebutuhan penerima zakat. ”Yang kami beri bantuan bukan hanya pedagang, tapi juga orang yang akan mulai berdagang,” jelasnya.
Dia menjelaskan, saat ini Laziz masjid Baitussalam telah menghimpun dana zakat sebesar Rp 135,153 juta. Uang dari saldo zakat Rp 85,153 juta dan infaq shodaqoh Rp 49,99 juta. ”Tiap bulan kami menyalurkan dana itu untuk fakir miskin sekitar Rp 6,251 juta,” ujarnya.
Ketua Bagian Keamanan masjid Baitussalam, Sumardi mengatakan dia sudah merekomendasikan dua orang untuk mendapatkan bantuan dari Laziz. Salah satunya adalah Yuli Purwanti.
Wanita ini meskipun sering sakit-sakitan dia tetap mencari nafkah dengan jualan susu segar di sekitar alun-alun Purwokerto, kadang jualan di depan SMP 1 Purwokerto. Sumardi mengatakan, waktu itu dia melihat ada wanita jualan susu keju di depan di alun-alun depan masjid.
Dia mendekati dan melakukan wawancara, ternyata dia warga Kelurahan Kranji, rumahnya tidak jauh dari masjid Baitussalam.
Dari wawancara itu Sumardi mengetahui bahwa Yuli Purwanti seorang wanita yang hebat, karena dia menjadi salah satu tulang punggung anggota keluarganya. Meskipun sering sakit, dia tetap jualan susu di alun-alun.
Ketika pengurus Laziz melakukan survei diketahui rumah tempat tinggal Yuli dihuni lima kepala keluarga dengan 15 orang penghuni. Yuli mengatakan sangat terbantu dengan dana zakat produktif Laziz, dia mendapat bantuan berupa panci, peralatan masak dan kursi plastik.
”Pelanggan saya minum susu hangat biasanya sambil berdiri, kini setelah saya dapat kursi plastik pelanggan minumnya sambil duduk,” ujarnya.
Humas masjid Baitussalam, Alief Einstein mengatakan, apa yang diperoleh Yuli dan penerima zakat produktif lainnya merupakan amal dari para donatur, dan muzakki yang bergabung bersama kami dalam program ini. Zakat mereka sangat membantu orang lain,” ujarnya.
sumber suara merdeka

Wisatawan Menyukai Edukasi Seni dan Budaya

Menggagas Paket Wisata di Banyumas Barat 
BILA Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas dan biro perjalanan wisata masih kebingungan menyusun paket wisata Banyumas bagian barat, lain ceritanya dengan pengelola Taman Belajar Anak ‘’Oemah Bedjo”.
Sanggar seni budaya dan wisata edukasi di Desa Randegan, Kecamatan Wangon ini justru menerima kunjungan dari warga negara asing secara rutin.
Septo Pandu Gunawan, pengelola Oemah Bedjo menuturkan, kunjungan wisatawan merupakan salah satu kegiatan yang dikemas dalam paket wisata. Sejak tahun 2014, secara perlahan paket ini mulai diminati oleh wisatawan asing.
“Biasanya dalam satu bulan ada dua sampai tiga kali kunjungan wisatawan asing yang datang secara perorangan. Mereka menginap paling lama sepekan di Oemah Bedjo,” ujarnya, Rabu (26/4).
Sejak berdiri tahun 2014 lalu hingga saat ini, wisatawan yang sudah pernah mencicipi suasana Desa Randegan berasal dari Belanda, Jerman, Malaysia, dan Singapura.
Kebanyakan mereka tertarik untuk mempelajari seni budaya seperti tari lengger, ebeg, gamelan dan kegiatan masyarakat sehari-hari.
Jejaring Dunia Maya
Apabila ada kegiatan tradisi atau pentas di luar desa, Septo pun tak segan mengajak tamunya ikut menonton. Seperti waktu berkunjung ke Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo tempo hari.
“Sekarang untuk kunjungan wisata sedang saya liburkan, karena seniman dan anak didik Oemah Bedjo disibukkan dengan jadwal pentas seni di beberapa kota,” katanya.
Septo mengaku, para wisatawan tersebut mendapatkan informasi tentang Oemah Bedjo dan berlibur di Desa Randegan melalui jejaring di dunia maya. Dia juga membuka layanan antar jemput dari stasiun atau terminal Purwokerto.
Meski terbilang nekat, peraih gelar Terbaik III Penghargaan Pemuda Pelopor Nasional 2015 ini tetap menekuni dunia wisata dan budaya. Idenya untuk membentuk Desa Wisata Randegan merupakan salah satu keinginan yang belum terwujud.
“Tidak perlu banyak berpikir. Ada potensi dan memaksimalkan sumber daya yang ada ya, saya berani bikin paket wisata,” tuturnya.
Sementara itu, penyedia jasa kereta wisata di Kecamatan Wangon, Giatno (43), mengatakan, odong-odong yang dikelolanya sudah terbiasa berkeliling ke pelosok desa di Kecamatan Wangon, Lumbir hingga Gumelar.
Meski pelanggannya kebanyakan anak-anak, dia mengaku tak keberatan apabila diminta untuk membawa wisatawan dewasa. “Sudah biasa kok.
Pas kebetulan lagi ada acara di Cikakak, ya saya kesini mencari penumpang kereta,” ujarnya. Agar lebih menarik, pria paruh baya ini menyematkan tulisan kereta wisata di bodi odongodong termasuk lukisan berwarna-warni.
Ketua Aliansi Pariwisata Banyumas (APB), Muslimin, mengatakan, odong-odong yang digunakan sebagai kereta wisata bisa menjadi kendaraan alternatif bagi pengunjung.
Hal itu justru menjadi keunikan tersendiri untuk paket wisata di wilayah Banyumas Barat. “Untuk akses masuk ke beberapa objek di sini memang sempit. Kalau bus besar tentu kesulitan. Jadi bisa pakai odong-odong,” ucapnya.
sumber Suara Merdeka

Bertani Lada /Merica Perdu di Pekarangan Rumah

Saya meminta maaf kepada para pembaca yang sempat bertanya beberapa tahun lalu tentang informasi tempat yang menjual bibit lada atau merica perdu dan saat itu saya tidak bisa menjawab. Dan postingan ini adalah sebagai usaha saya untuk ikut mensosialisasikan sebuah gerakan ekonomi rakyat terutama gerakan menanam di pekarangan rumah dan tentu saja tidak berarti harus menanam di pekarangan , jika memiliki tanah perkebunan bisa dicoba untuk membudidayakan tanaman ini.
wp-1493263189756.jpegwp-1493263166362.jpeg

Lada dan pala  adalah salah komoditas bumbu dapur yang cukup tinggi nilai ekonominya. Dari bentuk type tanamannya khususnya lada ada jenis tanaman rambat dan tanaman perdu. Tanaman ini cukup berhasil mengangkat kesejaheraan sebagaian masyarakat  yang awalnya berprofesi sebagai penyadap getah di daerah perkebunan di kawasan Banyumas barat .
Secara  prospek cukup bagus dan  bisa memanfaatkan pekarangan rumah sebagai home industri ..dan mempunyai nilai ekonomi yg bagus karena selalu dibutuhkan sebagai bumbu rempah rempah sehingga permintaan dari pasar tidak pernah tertutup.
Dari jenis tanaman  merica perdu  ini merupakan merica tanpa media panjat sangat  mudah dalam perawatan dan pemanenan.  Namun masih banyak Masyarakat yang belum begitu paham tentang apa itu merica perdu yg mereka tau mrica rambat ...makanya butuh waktu untuk mensosialisasikan merica perdu dan manfaat dalam budidaya merica perdu . Padahal kalau mereka tahu bahwa banyak manfaat dan kemudahan dari budidaya tanaman ini serta harga jual  merica yang tinggi saat sekarang ini.
img-20170427-wa0002.jpgimg-20170427-wa0003.jpgimg-20170427-wa0006.jpgimg-20170427-wa0004.jpgimg-20170427-wa0008.jpgimg-20170427-wa0005.jpgimg-20170427-wa0007.jpg
Bagi masyarakat yang tertarik membudidayakan tanaman merica perdu dan pala silakan datang ke salah satu lokasi yang menyediakan bibit ini di Desa Karang Duren Purwojati rt 05 /05 atau ke toko di desa Tinggarwangi Jatilawang Sebelum pasar Tinggarwangi dari arah Margasana di depan  pom mini atau mengh‪ubungi saudara Waris Susilo +62 812-9445-4220‬ 

Rabu, 26 April 2017

Menggagas Paket Wisata di Banyumas Barat

Odong-odong Jadi Kendaraan Pengantar Wisatawan

BEBERAPA bus berjalan perlahan saat memasuki jalan Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, yang sempit.
Setelah sampai di sebuah tanah lapang, penumpang yang keluar dari bus disambut oleh odong-odong yang akan mengantarkan mereka ke dalam kompleks Masjid Saka Tunggal.
Aktivitas itu dibayangkan oleh Muslimin, Ketua Aliansi Pariwisata Banyumas (APB), saat mengunjungi kawasan wisata religi di Banyumas Barat itu, pekan lalu.
Kebetulan kala itu masyarakat dan pelaku wisata disibukkan dengan persiapan Festival Rewandha Bojana atau Memberi Makan Kera. Amin, panggilan karibnya, menuturkan, menyusun paket wisata di kawasan ini merupakan pekerjaan rumah yang belum pernah terwujud.
Akses transportasi dan akomodasi yang kurang layak menyebabkan biro perjalanan wisata enggan melirik wilayah Kecamatan Wangon dan sekitarnya.
”Untuk bus besar dengan kapasitas 60 seat, tentu sulit masuk ke jalan menuju objek Masjid Saka Tunggal. Selain tikungan yang sempit, belum ada aktivitas lain yang bisa ditawarkan kepada wisatawan,” keluhnya.
Kendaraan Alternatif
Amin mengatakan, kereta wisata atau odong-odong bisa menjadi kendaraan alternatif untuk mengantar wisatawan. Kendaraan yang terbiasa blusukan ke sejumlah desa ini biasanya mangkal di terminal bus Wangon. Dari pengamatan dia, di wilayah Banyumas bagian barat masih banyak potensi yang bisa dikembangkan.
Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas juga pernah memetakan destinasi wisata religi, industri, dan buatan yang bisa digarap. Konsep wisata di Banyumas barat ini, kata Amin, harus didukung enam kecamatan penyangga, yakni Ajibarang, Pekuncen, Lumbir, Gumelar, Wangon, dan Jatilawang.
Setiap wilayah memiliki karakteristik unik untuk dijadikan satu paket wisata. ”Ajibarang sudah memiliki objek wisata buatan Dreamland Park.
Untuk wisata industri ada pabrik semen, wisata religinya ada Masjid Saka Tunggal. Dukungan lainnya seperti seni budaya ada di Kecamatan Lumbir, Pekuncen, dan Jatilawang.
Kecamatan Lumbir dan Gumelar diarahkan untuk digarap aktivitas minat khusus berbasis ekoturisme,” ujarnya. Untunglah, APB menggagas Festival Rewandha Bojana dengan aktivitas unik, yaitu memberi makan kera di sekitar hutan Masjid Saka Tunggal tiga tahun lalu.
Event itu diharapkan menjadi ikon baru di wilayah ini, karena belum ada kegiatan serupa di wilayah Jawa Tengah. ”Animo penonton yang penasaran memang setiap tahun membeludak. Tapi sayang, kemasannya belum rapi. Ke depannya harus segera diperbaiki konsepnya,” ujar dia.
Menyoal paket wisata di wilayah Banyumas barat, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas Saptono pun menggelengkan kepala.
Menurut dia, hal itu sulit diwujudkan. ”Itu sulit. Dari dulu bikin paketnya memang susah,” kata dia. Menurut Saptono, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengangkat potensi wisata di Banyumas barat.
Perbaikan infrastruktur termasuk papan penunjuk arah menuju ke objek wisata vital juga diperlukan. Rambu-rambu tersebut sangat dibutuhkan untuk memandu wisatawan.

Ratusan Kera Berebut Tumpeng Buah
Festival Rewandha Bojana

Ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) penghuni hutan Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, berebut sejumlah gunungan sayur dan buah dalam Festival Rewandha Bojana, Minggu (23/4).
Rebutan tumpeng Igir Buah itu menjadi tontonan menarik pada ajang yang digelar di kawasan wisata religi Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak. Sebelum disajikan di sekitar taman masjid, tumpeng buah diarak oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon, pelaku wisata, dan kalangan pengusaha.
Sementara di lapangan parkir, sejumlah hiburan seni tradisi dipentaskan menjadi suguhan untuk pengunjung. Kepala Desa Cikakak Suyitno mengatakan, kegiatan memberi makan kera yang dipusatkan di masjid tertua di Banyumas menjadi atraksi bagi wisatawan yang berkunjung.
Jadi, kawasan tersebut tidak hanya dikenal sebagai objek wisata religi. ”Dari festival ini diharapkan wisatawan tidak hanya mengenal Masjid Saka Tunggal sebagai objek wisata religi, tapi juga mengenal atraksi wisata memberi makan kera,” ujarnya.
Warisan Pendiri Masjid
Pada hari biasa, kata dia, para peziarah yang datang menyempatkan diri untuk memberi makan kera. Menurut kepercayaan warga setempat, monyet-monyet ini merupakan warisan pendiri Masjid Saka Tunggal.
Meskipun liar, ratusan kera ekor panjang ini tidak pernah beranjak dari sekitar kompleks masjid. Salah satu pengunjung, Budi Subarkah, mengatakan, sebenarnya acara tersebut cukup unik. Namun sayangnya masih banyak pengunjung yang ikut menikmati buah yang disajikan untuk kera.
”Walau sudah diberi pembatas, tetap saja ada pengunjung yang masuk dan mengambil makanan kera,” katanya. Dia mengatakan, seharusnya pagar pembatas tidak terlalu jauh dari lokasi tumpeng buah, sehingga masyarakat bisa melihat kera-kera berebut makanan yang menjadi atraksi event tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Banyumas Saptono mengatakan, event ini mengenalkan ikon Gunungan (igir) buah yang menjadi makanan para kera. Festival kali ini terbilang cukup sukses.
Pasalnya, animo pengunjung cukup tinggi. ”Tadi banyak pehobi foto yang datang untuk memotret. Tahun depan kita evaluasi lagi agar lebih rapi dan meriah,” kata dia.
sumber suara merdeka

Selasa, 25 April 2017

Pengelolaan Sampah Terpadu di Lumbir Ditingkatkan

Pemerintah Kecamatan Lumbir terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat untuk bisa mengelola sampah secara terpadu.
Terlebih saat ini sudah ada pegiat lingkungan dan bank sampah yang mulai berjalan di Lumbir. Camat Lumbir, Budi Nugroho mengatakan hal tersebut usai serah terima karung sampah plastik sebagai peluncuran bank sampah di wilayah Cirahab Kecamatan Lumbir beberapa pekan lalu.
Budi mendorong masyarakat untuk bisa selalu berupaya mengurangi produksi sampah terutama sampah plastik. ”Kami juga terus mendorong agar program satu kilogram sampah plastik dalam satu bulan dapat diupayakan oleh aparat sipil negara sehingga mereka bisa berkontribusi untuk keselamatan lingkungan,” katanya.
Budi mengatakan, gencarnya kampanye ‘Bersahabat dengan Sampah’ dan perwujudan adanya bank sampah di masyarakat adalah upaya untuk penyelamatan lingkungan. Pasalnya, saat ini terbukti sampah tidak hanya menjadi masalah di perkotaan saja, melainkan juga di wilayah pedesaan. Maka dari itulah seluruh elemen masyarakat diminta bergerak aktif dalam menangani permasalahan sampah ini.
”Sesuai dengan UU Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, kamipun berusaha untuk memandang sampah dari perspektif berbeda. ‘Bersahabat dengan Sampah’ dan menjadikan sampah menjadi hal yang punya nilai guna dan ekonomi adalah paradigma baru yang harus diwujudkan bersamasama,” katanya.
Pramuka Peduli Kwarran Lumbir, Sakirun mengatakan, saat ini ia terus melaksanakan pengumpulan sampah plastik secara rutin. Pria berjenggot putih yang merupakan pensiunan Puskesmas Lumbir itu kini mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan sosial.
Selain turut turun membantu berbagai bencana di wilayah Banyumas, ia juga turun mengumpulkan sampah plastik saat ia bepergian. ”Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa lagi. Meski sekadarnya, namun kami berharap apa yang bisa saya lakukan ini bisa berguna bagi lingkungan,” katanya.
Perubahan paradigma terhadap sampah ini harus pula didorong dengan aksi nyata berupa pemilihan sampah organik dan non organik. Keberadaan bank sampah diharapkan dapat menjadi salah satu muara penyelesaian permasalahan sampah yang ada di lingkungan pedesaan.
Apalagi selama ini permasalahan sampah juga terjadi di wilayah pedesaan. ”Tidak hanya faktor ekonomi, melalui pengelolaan sampah bersama-sama inilah, diharapkan kerukunan dan kebersamaan warga akan semakin kuat. Kami berharap agar persoalan ini dan aksi ini bisa didukung berbagai pihak,” katanya.
sumber suara merdeka

Kerajinan Genteng Pancasan Minim Pekerja

Keberlangsungan produksi genteng Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang, saat ini terancam pasang surutnya pasar genteng dan juga minimnya tenaga kerja. Kebanyakan pekerja di kerajinan genten didominasi kalangan usia tua.
Kepala Desa Pancasan, Ali Syaifurrohman mengatakan, sejumlah langkah dan terobosan dilaksanakan oleh perajin genteng untuk mendukung keberlangsungan produksi unggulan rakyat Banyumas tersebut. Untuk mengatasi lesunya pasar produk genteng dan setoran kredit lembaga keuangan, membuat banyak perajin genteng terpaksa banting harga produk mereka.
”Langkah ini dilaksanakan agar perputaran uang dan modal bisa tetap terjadi. Dengan mengejar setoran dan untuk perputaran modal perajin genteng memang bisa melaksanakan apapun. Yang penting genteng bisa laku di pasaran dan mereka bisa terus produksi,” jelasnya, kemarin.
Ali juga mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir sentra industri genteng juga mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Meningkatnya tingkat pendidikan warga lokal menjadikan warga lebih berminat untuk mencari pekerjaan lain yang lebih besar pendapatan dan lebih tinggi status sosialnya. Kini pekerja sentra genteng Pancasan sebagian merupakan warga luar desa.
Lulusan SMA
”Mereka yang telah lulus SMA ke atas, sekarang banyak terserap di pabrik semen, objek wisata dan industri lainnya di wilayah Ajibarang dan kota lainnya. Sementara yang masih bekerja di genteng hanya lulusan sekolah di bawah SMA dan juga warga umum yang umurnya rata-rata lebih dari 40 tahun termasuk perempuan,” jelasnya.
Terkait hal itulah, ia tak memungkiri jika saat ini banyak warganya yang menggeluti produksi genteng mengalami kendala dalam merekrut pekerja di rumah produksinya. Selain pekerja lama, kini sebagian pekerja produksi genteng Pancasan merupakan warga di luar desa. Apalagi pekerjaan di produksi genteng merupakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra.
”Untuk mengatasi permasalahan krisis tenaga kerja sekaligus untuk mendorong kuantitas dan kualitas produksi genteng Pancasan yang lebih baik, kami berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi pengadaan mesin pencetak genteng untuk para perajin,” katanya. Perajin sekaligus pengusaha gneteng asal Pancasan H Ahmad Sofie mengatakan, saat ini untuk memperluas pemasaran perajin dan pedagang genteng terus merambah ke luar provinsi.
Pasar genteng Pancasan tidak hanya di tingkat lokal saja, wilayah Jawa Barat mulai dari Cirebon, Tasikmalaya, Bandung telah mulai dirambah produk genteng Pancasan. Jumlah perajin genteng di Desa Pancasan berjumlah sekitar 700 rumah tangga produksi.
Dari jumlah tersebut ribuan tenaga kerja terserap. Namun demikian, selain faktor cuaca di musim penghujan dan minimnya tenaga kerja, keberlangsungan sektor produksi rakyat ini kerap mengalami kendala terutama bahan baku yang masih berasal dari Purbalingga, serta belum lolosnya uji standarisasi genteng di tingkat nasional. Padahal, genteng ini sudah lama dibuktikan kualitasnya oleh warga lokal Banyumas dan dipasarkan hingga Tegal, Brebes hingga kawasan Jawa Barat bagian selatan.
sumber suara merdeka

Geliat Ekonomi Purwkerto saat Long Weekend

Ekonomi Sektor Wisata Bergeliat
Imbas Libur Akhir Pekan

Denyut ekonomi sektor pariwisata di wilayah Kabupaten Banyumas menggeliat selama libur akhir pekan. Kunjungan wisatawan ke objek wisata maupun tamu yang menginap di hotel-hotel Purwokerto meningkat drastis.
General Manager Secretary & PR Incharge Hotel Santika Purwokerto, Gratia Vika Maharani, mengatakan, selama libur akhir pekan okupansi atau hunian hotel meningkat. Peningkatan okupansi hotel memberi keuntungan bagi pengelola hotel. Pada hari biasa, kata dia, okupansi hotel mencapai 55 hingga 65 persen, sedangkan weekend hari biasa berkisar 35 hingga 40 persen.
”Tapi selama libur akhir pekan ini rata-rata okupansi 85 hingga 90 persen,” katanya, kemarin. Ia menambahkan, para tamu yang datang pada hari biasa sebagian besar para pebisnis, namun pada momen libur panjang akhir pekan tamu yang datang adalah rombongan keluarga. Mereka datang ke Purwokerto untuk berlibur dan mengunjungi keluarga di Purwokerto.
”Sebelum hari libur masih banyak tamu pebisnis, tapi mulai masuk tanggal merah mulai tamu keluarga. Tamu yang menginap di hotel sebagian besar warga dari luar kota,” katanya. Meskipun okupansi hotel naik, pengelola hotel tidak menaikkan harga kamar.
Mereka menggunakan tarif seperti biasa. ”Liburan ini bukan high season, seperti libur Natal dan tahun baru, serta Lebaran jadi tarif kamar tidak naik,” kata Vika.
General Manager Java Haritage Hotel Purwokerto, Hilman Jumena, juga mengatakan, kenaikan okupansi terlihat sejak Jumat (21/4). Kenaikan ini terus berlanjut hingga Minggu (23/4) seiring dengan banyaknya tamu dari luar kota yang datang ke Purwokerto.
”Pada hari biasa rata-rata okupansi hotel 60 persen, tapi pada Sabtu okupansi hotel sempat menembus 91 persen,” katanya menjelaskan. Tamu yang datang menginap, sambung dia, datang dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Malang dan beberapa kota besar lain di Indonesia. ”Para tamu yang menginap ini tujuannya ada yang liburan, acara keluarga dan pernikahan,” katanya.
Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Suwondo Geni, mengemukakan, momen libur akhir pekan maupun hari libur lainnya menjadi momen penting bagi pelaku wisata untuk meningkatkan angka penunjung. ”Kalau libur, kami sangat diuntungkan karena objek wisata Banyumas ramai dikunjungi wisatawan,” katanya. Ia menambahkan, sampai April 2017 pendapatan dari tiket masuk objek wisata Baturraden mencapai Rp 2,4 miliar.
Adapun target pendapatan tahun ini sebesar Rp 7 miliar. ”Kami optimis pendapatan dari objek wisata Baturraden bisa mencapai Rp 8 miliar,” katanya. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah, salah satunya keminiman lahan parkir di area objek wisata Baturraden.
Kapasitas kendaraan yang datang tidak seimbang dengan lahan parkir yang disediakan. ”Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah kabupaten. Pemerintah kabupaten harus membangun kantong-kantong parkir, caranya bisa dengan membangun parkir bertingkat,” ujar dia.

Optimalkan Pelayanan Hotel

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banyumas, terus mendorong para pengelola hotel dan restoran untuk meningkatkan pelayanan guna memberikan kepuasan tamu. Salah satu bentuk dukungan PHRI dengan mengajak para pengelola hotel dan restoran untuk mengikuti sertifikasi.
”Kami upayakan 2017, semua hotel dan restoran sudah mengantongi sertifikasi sebagai tuntutan ketentuan perundangundangan,” kata Sekretaris PHRI Banyumas, Is Heru Permana belum lama ini. Menurutnya, tahap awal yang dilakukan PHRI Banyumas yaitu melakukan pendataan hotel restoran yang bekerja sama dengan beberapa dinas Pemkab Banyumas, seperti Bidang Pariwisata Dinporabudpar dan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah.
”Jadi, nanti hunian-hunian yang ada di Banyumas didata dan dilaporkan, karena pada prinsipnya semua hotel dan restoran berada di bawah organisasi PHRI,” ujarnya.
Jumlah hotel di Banyumas yang telah mengantongi sertifikasi baru 2 unit. Padahal, berdasarkan data di PHRI Banyumas, saat ini di Banyumas terdapat 12 hotel berbintang dan jumlah ini akan terus bertambah sampai 20 hotel berbintang.
sumber suara merdeka

Langgongsari Cilongok Kembangkan Agro Wisata Barbasis TI

Pemerintah Desa Langgongari, Kecamatan Cilongok, mengembangkan agrowisata berbasis Teknologi Informasi (TI). Pengembangan itu dilakukan secara bertahap oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sejal 2015 lalu. Kepala Desa Langgongari, Rasim, menjelaskan di lahan tersebut dikembangkan berbagai macam tanaman antara lain pohon durian, petai, kelapa genjah.
Di desa tersebut juga terdapat peternakan sapi dan pengolahan gula kelapa. “Desa-desamiskindiluarnegeribisa maju, maka saya jawab dengan mengembangkan seluruh potensi yang ada. Kami mencoba mengemas potensi- potensi yang ada seperti pertanian, peternakan dan perikanan,” katanya di sela sosialisasi Techo Village di balai desa setempat, kemarin.
Dalam waktu dekat ini, kata dia, pihaknya akan mendirikan sekolah berbais TI di komplek agrowisata yang berjarak sekitar 800 meter dari bali desa. Sekolah itu akan menampung anak-anak muda desa setempat untuk memperdalam dunia TI.
“Harapan saya nantinya tidak hanya mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada, tapi juga sumber daya manusianya, jadi semuanya lengkap. Untuk sementara waktu, proses belajar dilakukan di gedung balai desa,” ujar dia. Gedung sekolah itu menurut rencana akan dibangun menggunakan dana desa sebesar Rp 912 juta dari total Rp 922 juta yang akan diterima.
Proses pembangunan tinggal menunggu pencarian dana desa yang diperkirakan akan segera turun dalam waktu dekat ini. Anggota DPR RI, Budiman Sujatmiko, yang hadir dalam acara itu mengapresisasi langkah yang dilakukan pemerintah desa. Terobosan itu diharapkan dapat menjadi proyek percontohan pengembangan BUMDes di seluruh Indonesia.
“Ini yang pertama, nanti akan kami tularkan di desa-desa yang lain. Ini ide yang hebat. Desa juga harus mulai berinvestasi mendidik SDM yang tangguh, bukan cuma uangnya saja yang banyak,” kata salah inisiator lahirnya Undang-undang Desa ini.
Menurut dia persoalan utama yang kini dihadapi desa bukanlah keterbatasan uang, namun soal SDM. SDM di dea-desa hendaknya dilatih mengelola sumber daya alam yang ada dengan memanfaatkan kemajuan TI.
sumber suara merdeka

Festival Rewandha Bojana 2017 Meriah

Ratusan Kera Berebut Tumpeng Buah

img-20170424-wa0003.jpg

img-20170424-wa0001.jpg

img-20170424-wa0002.jpg



Ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) penghuni hutan Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, berebut sejumlah gunungan sayur dan buah dalam Festival Rewandha Bojana, Minggu (23/4).
Rebutan tumpeng Igir Buah itu menjadi tontonan menarik pada ajang yang digelar di kawasan wisata religi Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak. Sebelum disajikan di sekitar taman masjid, tumpeng buah diarak oleh masyarakat dari 12 desa di Kecamatan Wangon, pelaku wisata, dan kalangan pengusaha.
Sementara di lapangan parkir, sejumlah hiburan seni tradisi dipentaskan menjadi suguhan untuk pengunjung. Kepala Desa Cikakak Suyitno mengatakan, kegiatan memberi makan kera yang dipusatkan di masjid tertua di Banyumas menjadi atraksi bagi wisatawan yang berkunjung.
Jadi, kawasan tersebut tidak hanya dikenal sebagai objek wisata religi. ”Dari festival ini diharapkan wisatawan tidak hanya mengenal Masjid Saka Tunggal sebagai objek wisata religi, tapi juga mengenal atraksi wisata memberi makan kera,” ujarnya.
Warisan Pendiri Masjid
Pada hari biasa, kata dia, para peziarah yang datang menyempatkan diri untuk memberi makan kera. Menurut kepercayaan warga setempat, monyet-monyet ini merupakan warisan pendiri Masjid Saka Tunggal.
Meskipun liar, ratusan kera ekor panjang ini tidak pernah beranjak dari sekitar kompleks masjid. Salah satu pengunjung, Budi Subarkah, mengatakan, sebenarnya acara tersebut cukup unik. Namun sayangnya masih banyak pengunjung yang ikut menikmati buah yang disajikan untuk kera.
”Walau sudah diberi pembatas, tetap saja ada pengunjung yang masuk dan mengambil makanan kera,” katanya. Dia mengatakan, seharusnya pagar pembatas tidak terlalu jauh dari lokasi tumpeng buah, sehingga masyarakat bisa melihat kera-kera berebut makanan yang menjadi atraksi event tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Banyumas Saptono mengatakan, event ini mengenalkan ikon Gunungan (igir) buah yang menjadi makanan para kera. Festival kali ini terbilang cukup sukses.
Pasalnya, animo pengunjung cukup tinggi. ”Tadi banyak pehobi foto yang datang untuk memotret. Tahun depan kita evaluasi lagi agar lebih rapi dan meriah,” kata dia. 
sumber suara merdeka

Jaro Rojab, Desa Cikakak Wangon

Jaro Rojab, Cara Pengikut Aboge Peringati Isra Mikraj
Oleh Susanto

BERBEDA dengan umat Islam pada umumnya, pengikut Aboge di Kompleks Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas punya tradisi Jaro Rojab untuk memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad saw.
Tepat tanggal 26 Rojab versi perhitungan perhitungan Aboge (Alip Rebo Wage), Senin (24/4) kemarin, ribuan warga bergotong royong mengganti pagar bambu yang mengelilingi kompleks Makam Kyai Toleh dan Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas.
Pada hari itulah, tanpa dikomando dan diperintah ribuan orang berkerumun bergotong royong mengganti pagar bambu. Tradisi penggantian pagar sepanjang 300 meter itu dimulai oleh orang tertentu pada pagi hari. Penggantian Jaro dimulai dari kompleks Makam Kyai Toleh yang dipercaya sebagai pendiri Masjid Saka Tunggal.
Setelah itu, penggantian jaro diteruskan hingga pagar di kompleks Masjid Saka Tunggal. ”Ini sudah ada sebelum saya lahir, dulu ayah saya juga kerap turut mengganti jaro ini. Tak usah dikasih tahu dan disuruh biasanya warga langsung datang ke sini dengan membawa bambu,” jelas Mistam (46) warga Desa Jambu.
Aktivitas Fisik
Dipercaya oleh para sesepuh dan juru kunci setempat, bahwa penggantian jaro ini bukan semata aktivitas fisik. Namun upaya spiritual untuk membersihkan jasmani dan rohani. Jaro bisa menjadi kependekan dari Jasmani dan Rohani. Jika para bapak sibuk mengganti pagar, para ibu juga turut serta sowan menghadap ke rumah juru kunci untuk memberikan makanan atau bahan makanan untuk selamatan.
Di antara mereka juga terlihat sibuk memasak di dapur untuk memasak. Biasanya setelah selesai mengganti jaro, sebagian pria pulang dengan membawa makanan ‘berkat’ dari rumah juru kunci. Makanan berkat itu dipercaya memiliki ‘tuah’tersendiri sebagaimana sumber air yang berada di sekitar kompleks Masjid Saka Tunggal.
“Artinya momen bulan Rajab dimaksudkan agar umat Islam semakin membentengi Jasmani Rohani dari hal-hal yang dilarang oleh agama. Makanya selain penggantian jaro ini, malamnya dilanjutkan dengan pengajian Isra Mi’raj,” ujar Sulam, juru kunci tengah situs setempat.
Selain warga Desa Cikakak, tradisi Jaro Rojab itu juga diikuti oleh warga luar desa mulai dari Windunegara, Wlahar dan Jambu. Selain itu sejumlah peziarah dari luar daerah mulai dari Cilacap, Tasikmalaya, hingga Bandung disebut-sebut juga datang dalam acara tersebut.
Pasalnya dalam Jaro Rojab juga dimanfaatkan warga sebagai waktu ziarah dan sowan (menghadap) ke juru kunci situs setempat. “Di sini ada tiga juru kunci, dhuwur, tengah dan lebak (atas, tengah, bawah). Biasanya di rumah mereka, warga menghadap dan silaturahmi. Warga terbiasamembawa berbagai makanan untuk menyumbang kegiatan ini.
Setelah mengganti jaro kami bersantap bersama ,” kata Ahmad warga setempat. Dalam lima tahun terakhir, dalam ritual Jaro Rojab ini turut serta Paguyuban Kerabat Kraton Surakarta (Pakasa). Upaya pemeliharaan adat budaya setempat juga diwujudkan dalam pemberian sejumlah tumpeng dalam rangka Grebeg Rajab.
sumber suara merdeka

Jumat, 21 April 2017

Persiapan Festival Rewandha Bojana 90 Persen

Persiapan Festival Rewandha Bojana yang digelar 23 April mendatang telah mencapai 90 persen. Pengecekan akhir dilakukan di lapangan kompleks Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, kemarin.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Saptono, mengatakan, perlengkapan acara seperti gapura, baliho promosi, hingga tempat penyelenggaraan sudah dipersiapkan sejak sepekan ini.
Demikian pula dengan kelompok kesenian yang akan menghibur pengunjung pada pembukaan festival. ”Persiapan sudah 90 persen. Tinggal memasang beberapa ornamen seperti penjor dari janur kuning. Itu nanti dipasang sehari sebelum pelaksanaan, agar tidak rusak,” ujarnya.
Mengarak Gunungan
Dia menambahkan, tumpeng ageng dan tumpeng igir buah dipersiapkan oleh masyarakat dari 12 desa. Mereka akan mengarak gunungan buah tersebut menuju Taman Kera Masjid Saka Tunggal sebagai sajian makanan kera ekor panjang.
Adapun Festival Rewandha Bojana yang digelar di kompleks Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Minggu (23/4) tahun ini menjadi satu rangkaian tradisi budaya Jaro Rojab. Tradisi masyarakat adat berupa pergantian pagar sekitar kompleks masjid itu dilangsungkan Senin (24/4).
Untuk pergantian pagar atau Jaro Rojab dilakukan satu tahun sekali, yaitu pada tanggal 26 Rajab. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga Desa Cikakak dan sekitarnya. ”Kami mengimbau komunitas pehobi foto aerial agar tidak mengoperasikan drone untuk mengambil gambar saat prosesi memberi makan kera.
Alat itu membuat kera enggan mendekat karena takut,” ujar Saptono. Sementara itu, Camat Wangon Wisnu Budi Santoso mengatakan, event ini diharapkan dapat mengangkat potensi di wilayah Banyumas bagian barat. Karena itu, festival tersebut harus mendapat dukungan berbagai elemen masyarakat.
”Ini kan acaranya unik, jadi harus dikenalkan kepada seluruh masyarakat dan wisatawan secara luas, karena tidak semua daerah punya acara memberi makan kera,” kata dia.
sumber suara merdeka
Lomba Foto Festival










































Dinporabudpar Kabupaten Banyumas bekerjasama dengan Komunitas Fotografer Banyumas [KFB] serta didukung oleh Bank Jateng menyelenggarakan Lomba Foto Festival Rewandha Bojana 2017.


Hari Minggu, 23 April 2017, mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai di Komplek Masjid Saka Tunggal, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas

Syarat & ketentuan: 
1. Wajib follow akun @dinporabudparbanyumas dan @kfbanyumas.
2. Repost banner lomba dan tag ke 3 orang temanmu.
3. Upload foto terbaikmu di Instagram dan tag ke 3 temanmu, serta gunakan hastag #rewandhabojana2017 #banyumasnyamleng #wisatabanyumas #kfbanyumas
4. Jumlah foto yg diupload tidak dibatasi dan merupakan hasil pemotretan pada Festival Rewandha Bojana 2017
5. Batas upload foto dimulai tanggal 23-25 April 2017 pukul 23.59 WIB.
6. Foto boleh diedit sebatas cropping, brightness, & contrast.
7. Wajib menyerahkan file foto asli sebagai bukti jika terpilih menjadi pemenang, dan foto pemenang menjadi hak milik panitia.
8. Pengumuman pada tanggal 27 April 2017, dan penyerahan hadiah pada tanggal 29 April 2017 dalam acara Festival Kesenian Unggulan Wilayah III di Lapangan Rempoah, Baturraden.
*) Diharapkan kepada para fotografer untuk memakai ikat kepala khas Banyumas
*) Tidak disarankan menggunakan drone dan sejenisnya karena dikhawatirkan mengganggu ritual acara.





Pendirian Rumah Adat Desa Karanganyar

Pendirian Rumah Adat Capai 90%
Desa Karanganyar Lestarikan Budaya

Desa Karanganyar, Kecamatan Jatilawang, terus mendorong pelestarian adat istiadat dan budaya di desa setempat. Upaya itu antara lain diwujudkan dalam pendirian rumah adat. Kepala Desa Karanganyar, Kartim mengatakan, saat ini pembangunan rumah adat yang telah dimulai sejak tahun 2016 lalu telah mencapai 90 persen.
Jika rumah adat ini telah selesai dibangun, bisa dimanfaatkan warga untuk berbagai kegiatan adat dan budaya lainnya. ”Apalagi seperti diketahui Kecamatan Jatilawang merupakan kecamatan yang adat istiadatnya masih terbilang kuat. Maka dari itulah ini menjadi bagian untuk melestarikan berbagai kearifan lokal dan menunaikan hak asal usul desa sesuai UU Desa,” jelasnya, kemarin.
Kartim mengatakan, selain untuk kegiatan adat istiadat, pihaknya juga terus mendorong berbagai pelaksanaan kegiatan budaya dan kearifan lokal di wilayah desa setempat.
Rumah adat yang telah dibangun ini akan menjadi wadah pelestarian kesenian, budaya, dan ruang belajar ilmu pengetahuan lainnya untuk warga. ”Kami berharap para pemuda nantinya bisa menjadi kader pelestari budaya dengan dukungan para orang tua yang ada di wilayah ini. Sehingga selain berdaya secara ekonomi, mereka juga bermartabat secara budaya,” katanya.
Warga Karanganyar, Sugiyo juga mendukung upaya desa untuk melestarikan berbagai adat istiadat dan seni budaya lokal setempat. Ia berharap langkah ini dapat didukung oleh masyarakat. Apalagi adat istiadat dan budaya adalah bagian dari sejarah dan upaya pengenalan identitas warga desa.
”Kami juga mendorong pemerintah desa juga bisa mendorong penelusuran sejarah desa untuk peneguhan identitas sejarah dan wilayah desa. Dengan mengenal sejarah dan wilayah desa, maka diharapkan memotivasi masyarakat untuk semakin giat membangun desanya,” jelasnya.
Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Jatilawang, Didit Hermawan mengatakan, berbagai potensi adat istiadat dan seni budaya yang ada di sejumlah desa di Kecamatan Jatilawang adalah aset yang tak ternilai harganya. Maka dari itulah ia mendorong, keberadaan adat istiadat dan seni budaya ini dapat menjadi bagian motivasi untuk membangun sekaligus modal sosial.
”Kalau bisa mengelolanya dengan baik, adat istiadat yang masih kuat dilestarikan masyarakat ini bisa menjadi komoditas pariwisata. Apalagi sekarang ini desa mempunyai hak asal usul sekaligus kewenangan berskala lokal desa untuk dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya. 
sumber suara merdeka