Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 30 September 2015

Watu Meja Desa Tumiyang Kebasen

 Setelah sekian lama, akhirnya saya menyempatkan diri ke lokasi Watu meja, dengan tools seadanya, kamera ponsel, inilah hasil jepretan asli saya:

Mulai dilengkapi sarana prasarana tambahan seperti gubuk untuk bersidtirahat dan juga kedai para pedagang, hanya saja pagar pengaman masih sangat sederhana dan seadanya.





credit to Panggon.com

versi sunset pict Eko Frizky

Misteri Pembuatan Piramida Terpecahkan

KEAJAIBAN AL-QURAN
TERHADAP MISTERI BANGUNAN
PIRAMIDA –
 Piramida Mesir diyakini memiliki beragam analisis tentang misteri konstruksinya. Dibangun
pada masa kekuasaan Firáun Khufu pada tahun 2560 SM, rupa- rupanya kontraversi masih terus
berlanjut hingga akhir abad ke-19. Logika para ilmuwan pun bingung menangkap bagaimana sebuah
piramida dibangun? Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan
kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini? Koran Amerika Times edisi 1 Desember 2006, menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya. Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.
Profesor Gilles Hug, dan Michel  Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar
di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan
tanah liat. Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram.
Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam. Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu sepuluh hari hingga mirip dengan batu aslinya.
Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, “Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.” Penemuan oleh Profesor Prancis  Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar dua puluh tahun. Sebuah penelitian yang lama tentang  piramida Bosnia, “Piramida Matahari” dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini   tersebar luas di masa lalu. Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!
( Al-Qur’an Ternyata Lebih Dulu Punya Jawaban )

Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini 1400 tahun sebelum mereka
mengungkapkanny a, perhatikan sebuah ayat dalam Al Quran berikut ini:
“Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-
orang pendusta.” (QS. Al-Qashash:38)
Subhanallah! bukti menakjubkan yang menunjukkan bahwa bangunan bangunan raksasa, patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban tinggi saat itu, juga dibangun dari tanah liat! Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Ajaib, 1400 tahun yang lampau, Nabi Muhammad saw, berbilang tahun setelah Berakhirnya dinasti Firaun memberitahukan bahwa Firaun membangun monument yang kelak dinamakan Piramid menggunakan tanah liat. Subhanallah! Sungguh suatu hal yang hanya dapat dipahami oleh orang orang yang bukan sekedar berakal, tetapi juga mempergunakan akalnya. Merugi mereka yang tidak yakin danmempercayai Al Quran. Wallahua’lam

Selasa, 29 September 2015

Fokus pada Solusi

Masalah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. kita semua tak lepas dari masalah. Ada banyak hal yang  terkadang membuat jatuh secara psikis dan mental. dan itu terjadi bukan sekali dua kali. Ada saat tertentu di mana kita merasa lemah saat itulah mental  benar_benar down dan putus asa. Apapun yang terjadi pada anda tetap akan menguatkan kita asal kita tak mengijinkannya melemahkan kita. Kita akan menjadi seperti yang kita ijinkan untuk dominan dalam pikiran dan perasaan untuk menjadi pewarna dari tindakan kita. maka fokuslah pada apa yang membesarkan kita. jangan merisaukan apa yang membuat kita lemah.

Taman Balekemambang Purwokerto




 credit to M Nizar
Taman Balekemambang Purwokerto terletak di Bancarkembar. Rencana akan di bangunan di area seluas I4 hektar. saat ini baru terwujuud sekitar 2 hektar. konsep taman ini adalah taman air ( kolam ) dengan pondok di tengahnya. sehingga dinamakan Bale kemambang. saat ini menjadi lokasi yang cukup favorit bagi masyarakat. dengan fasilitas yang semakin dilengkapi setiap tahunnya.


Rencana perluasan Taman Balekemambang hingga ke sisi sebelah barat masih terganjal anggaran untuk pembebasan lahan. Tahun ini tidak ada anggaran untuk pembebasan lahan milik warga seluas 3,67 hektare. Sementara lahan yang sudah menjadi milik Pemkab mencapai 11 hektare.
“Kami masih menganalisa semua yang berkaitan dengan rencana perluasan ini. Pemanfaatannya masih kita susun konsepnya, tapi pada intinya tetap berpedoman pada konsep Ruang Terbuka Hijau (RTH),” kata Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Cipta Karya, Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas, Puspa Wijayanti.
Menurutnya, DCKKTR berencananya mengusulkan anggaran pembebasan lahan pada APBD Perubahan. Jika disepakati, maka pada tahun 2016 diharapkan sudah bisa dibuat desain pengembangannya. Pembuatan desain kemungkinan melalui sayembara atau lomba desain sehingga membuka peluang lebih banyak untuk masyarakat.
“Potensi di wilayah tersebut cukup bagus dengan aliran dan debit air yang besar, sehingga pengembangannya berupa wahana air seperti konsep Balekemambang saat ini,” lanjutnya.
Lahan di sisi barat saat ini masih berupa persawahan yang meliputi wilayah Kelurahan Bancarkembar dan Purwonegoro. Lahan milik Pemkab dan milik masyarakat masih terpisah-pisah. Pemetaan sudah dilakukan oleh DCKKTR untuk menilai potensi wilayah tersebut.
“Rencana ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut dan melihat tanggapan dari masyarakat dulu. Jangan sampai kemudian timbul masalah ke depannya,” katanya.
Kabid Pariwisata, Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Deskart S Djatmiko menambahkan, saat ini Taman Balekemambang sudah dilengkapi beberapa fasilitas. Penambahan berupa toilet, bangku kecil di pinggiran kolam, tanaman hias, wahana permainan anak, sarana olahraga, dan menara pandang dengan ketinggian 12 meter.
Selain itu juga telah dibuat gazebo di sisi dalam untuk kios pedagang yang biasa berjualan di sekitar area parkir. Dengan tiket masuk sebesar Rp 2.500, hingga akhir bulan Januari tingkat kunjungan mencapai 14.825 pengunjung dewasa dan 2.847 anak-anak.
“Rata-rata kunjungan ke Taman Balekemambang mencapai 20 ribu pengunjung setiap bulannya,” lanjutnya
 http://www.radarbanyumas.co.id/perluasan-balekemambang-terganjal/


Pengembangan Bale Kemambang


7 January 2016 Radar Purwokerto

 PURWOKERTO – Rencana perluasan Bale Kemambang saat ini masih terganjal lahan. Oleh karena itu, awal tahun ini rencananya Pemkab Banyumas akan mulai melakukan proses pembebasan lahan secara bertahap. Rencananya, perluasan lahan yang akan dilakukan mencapai 17 hektare. Namun sebagian merupakan tanah bengkok sehingga tidak perlu dilakukan pembebasan.
Kabid Tata Ruang Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas Puspa Wijayanti mengatakan, sampai saat ini sudah melakukan koordinasi dengan pihak kelurahan yang ada seperti Kelurahan Purwanegara, Kelurahan Bancarkembar, hingga Kelurahan Sokanegara.
“Awal tahun ini kita akan lakukan sosialisasi terlebih dahulu dengan pihak kelurahan dan masyarakat, terutama untuk rencana pembebasan lahan,” katanya kemarin.
Lebih lanjut, untuk pembebasan lahan akan dilakukan survei oleh tim appraisal terlebih dahulu sebelum diserahkan ke masyarakat, terutama berkaitan harga tanah yang ada di wilayah tersebut.
“Pembebasan lahan kita lakukan secara bertahap, paling tidak ada sekitar 12 hektare yang nantinya harus dibebaskan. Tahun ini kita baru mendapat alokasi anggaran sekitar Rp 5 miliar untuk pembebasan tanah,” katanya.
Sampai saat ini, master plan perencanaan pengembangan Bale Kemambang sudah ada. Namun realisasi belum bisa dilakukan karena masih terganjal lahan.
Kasi Perencanaan DCKKTR Kabupaten Banyumas, Sudarsono mengatakan, dalam master plan pengembangan Bale Kemambang nantinya akan dibangun beberapa fasilitas baru. Seperti danau buatan, floating market, kampung wisata, dan beberapa wahana lainnya.
“Sebagian area persawahan nantinya juga akan dibiarkan, khususnya untuk sarana edukasi pertanian di Bale Kemambang. Termasuk keinginan bupati untuk membangun bianglala, nantinya juga akan disediakan space,” tegasnya.
Sementara Lurah Purwanegara Tarwan mengaku, sudah menyerahkan beberapa berkas data seperti berkas tanah kepada DCKKTR. Pada dasarnya, dia mendukung rencana tersebut dan akan berupaya membantu sosialisasi kepada masyarakat.
“Beberapa waktu lalu dari DCKKTR sudah kesini untuk berkoordinasi. Katanya nanti warga akan dikumpulkan untuk sosialisasi. Namun masih belum tahu kapan,” katanya.

Senin, 28 September 2015

Penghijauan & RTH Perkotaan Purwokerto

Tujuan awal dibangun RTH adalah untuk memelihara keseimbangan lingkungan dimana perkembangan kota sangat perlu diimbangi pembangunan ruang publik. Ada beberapa rencana pembangunan Taman kota atau Serba Serbi Ruang terbuka Hijau.

a) Bale kemambang dan Andang Pangrenandi satu sisi bisa menambah PAD Kabupaten Banyumas, cukup menjadi lokasi favorit beristirahat dan event sejumlah acara namun tak luput dari kelemahan. Pengelolaan yang belum maksimal, dan sejumlah kritikan dari pihak tertentu bahwa konsep taman kota seperti ini tidak merakyat karena berorientasi pada bisnis atau mengejar pemasukan daerah.
b) Taman Sukerta atau Edukasi hayati di Arcwinangun, awalnya adalah apresiasi Pemda terhadap karang taruna atau komunitas kelurahan tertentu sehingga dianggarkan mendapat bantuan berupa taman kota dilengkapi sejumlah tanaman buah. tapi sayang taman ini terbengkalai dan tidak ada kejelasan karena tidak ada pengelola profesional serta  lokasi cukup terpencil, tidak bisa dikases langsung dari jalan besar . sehingga muncul dampak negatif lain yaitu menjadi tempat mojok/mesum atau pacaran. hal negatif seperti ini juga dijumpai di tamanh kota lain yang tak berpagar atau tidak berkarcis untuk masuk seperti taman satria. melihat dampak negatif ini maka taman kota pada kategori a) saya anggap lebih positif.

c) RTH lapangan Glempang di Purwokerto Utara. awalnya adalah solusi yang ditawarkan oleh Pemda Kab Banyumas untuk merelokasi pedagang kaki lima ke area yang dilokalisir sejaligus memperbaiki pasar tradisional pasar Glempang. Tapi sayang ditentang olek kelompok Desa karena ini dianggap aset desa sehingga Pedagang kaki lima tidak berhak menempati pasar, demikian juga status lapangan juga milik desa jika menjadi RTH maka akan terjadi alih status. sampai sekarang rencana RTH Glempang mandeg.

d) Taman Kali Kranji sudah dianggarkan oleh Pemda dan disukung Pemrov serta Balai Besar Sungai. tapi info terbaru adanya perubahan desain karena sejumlah tempat seperti puskesmas masuk area yang direvitalisasi. andai ini berhasilo akan mejadi nilai tambah untuk Purwokerto karena ini proyek percontohan dimana sungai dimanfaatkan sebagai lokasi wisata altenatif, dan ini bukan sungai di desa yang sunyi melainkan di tengah perkotaan Purwokerto.
 lokasi taman kali kranji (SDA)

e) Taman lalu Lintas Bulupitu. adalah sebuah lokasi yang berada di antara 2 arrival Gate / pintu Gerbang masuk Teminal Bulupitu Purwokerto, gerbang BUS AKDP dan gerbang angkutan kota. lokasi ini saat ini menjadi alternatif wisata dan beristirahat bagi masyarakat sekitar bukan hanya pengguna angkutan umum saja. ini salah satu kemajuan karena mengurangi kesan kumuh dan keras di lingkungan terminal.
Dan diluar plus minus Taman Kota adalah sangat penting keterpenuhan RTH sedikitnya seperempat bagian kota .
f) Stadion Mini
Kompleks stadion mini Purwokerto terletak di pedalaman , akesnya dari jl S Parman ke arah barat. atau dari Moro ke tenggara via jalan Kongsen. sudah ada rencana dijadikan taman kota. namun sangat disayangkan, keadaan lingkungan yang kurang mendukung, kawasan ini seperti sudah terkenal dengan konotasi yang negatif.

RTH Perkotaan Masih Minim


8 January 2016, Radar Purwokerto
Kawasan ruang terbuka hijau (RTH) publik di wilayah perkotaan Purwokerto saat ini baru 10 persen. Padahal berdasarkan aturan, seharusnya luasan RTH yang ada di kawasan perkotaan mencapai 20 persen dari total luasan.
Berkaitan dengan hal itu, Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas akan berupaya meningkatkan luasan RTH yang ada. Salah satunya dengan menambah beberapa ruang hijau yang disesuaikan dengan tata ruang perkotaan yang ada.
Tahun ini, rencananya DCKKTR akan menambah ruang hijau di kawasan pemukiman yang ada di Purwokerto. Selain itu, pengembangan beberapa taman seperti Taman Lalu Lintas di Terminal Bulupitu, hingga RTH Mersi juga akan dimaksimalkan.
Kabid Tata Ruang DCKKTR Banyumas, Puspa Wijayanti mengakui RTH yang ada di wilayah Banyumas, khususnya Purwokerto saat ini dinilai masih sangat kurang. Dijelaskan, keterbatasan lahan saat ini menjadi salah satu kendala pengembangan tata ruang yang ada, khususnya untuk RTH.
“Kita masih terus mengupayakan penambahan ruang hijau, sehingga nantinya dapat tercapai 20 persen,” jelasnya.
Dikatakan, untuk anggaran ruang hijau masih belum ditentukan. Pasalnya masih harus menunggu penetapan anggaran. Namun tahun ini Pemkab Banyumas mendapatkan bantuan sebanyak Rp 600 juta untuk pengembangan RTH di wilayah pemukiman.
Bantuan tersebut diberikan oleh pusat karena Banyumas berhasil meraih juara II lomba taman dalam rangka peringatan Hari Habitat pada akhir tahun 2015 lalu.
“Untuk itu nantinya kita akan mengumpulkan seluruh lurah yang ada, untuk memberikan usulan pembangunan RTH yang ada di wilayahnya,” kata Puspa.
Lebih lanjut, persyaratan lokasi pengembangan RTH menurutnya harus berada di sekitar pemukiman masyarakat, karena nantinya berkaitan dengan pengembangan dan pengelolaan masyarakat setempat, seperti halnya RTH di Jalan Ahmad Yani dan RTH Arcawinangun.
“Selain dekat dengan masyarakat, yang terpenting lagi, lokasi harus berada di tanah milik pemerintah. Oleh karena itu, usulan dari lurah sangat diharapkan untuk menambah persentase ruang hijau yang ada di wilayah perkotaan,” tegasnya.


 Penghijauan Kota Terkendala Median Jalan


5 Januari 2016, Suara Banyumas

Program penghijauan tepi jalan di kawasan perkotaan Purwokerto menemui kendala. Pasalnya ruang yang tersedia pada sejumlah ruas jalan untuk penanaman pohon peneduh baru terbatas.
Kabid Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Banyumas, Zhanir mengatakan, berdasarkan pendataan yang dilakukan terdapat antara sepuluh sampai 20 ruas jalan yang tidak memliki ruang penanaman pohon.
Jalan itu antara lain dr Angka bagian barat, Kolonel Sugiri, Kolonel Sugiono, Kstarian, dan Wahid Hasyim. Pada jalan itu tidak tersisa bahu jalan untuk penanaman pohon, karena telah dilapisi aspal.
“Jalan-jalan itu kondisi gersang karena tidak ada pohon peneduhnya. Kami berkeinginan untuk melakukan penghijauan, tapi tidak ada ruang, sudah diaspal semua. Kami juga tidak bisa menabrak aturan dengan melakukan penenaman pohon di aspal,” katanya, kemarin.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pihaknya berencana akan menanam pohon dengan media pot. Pot itu akan ditaruh di sepanjang trotoar jalan tersebut. Penanaman dengan media pot akan dilakukan bertahap menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Lebih jauh dia mengatakan, karena keterbatasan ruang yang tersedia pihaknya memfokuskan penghijauan di wilayah pinggiran kota. Penghijauan telah dilakukan di pintu masuk Purwokerto dari arah timur Jalan Soeparjo Rustam dan selatan, Jalan Raya Tanjung-Sidabowa.
Ratusan Pohon
Penanaman juga dilakukan di sepanjang Jalan Gerilya Timur, tepatnya dari perempatan Karangpucung sampai Berkoh dan Jalan Moh Besar, perbatasan Purwokerto Utara dan Baturraden. Adapun jenis pohon yang ditanam antara lain jenis pagoda, damar, dan sapu tangan.
“Ada ratusan pohon yang kami tanam, jumlahnya saya tidak hafal. Penanaman dilakukan di wilayah pinggiran menyesuaikan dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK), di mana wilayah itu akan masuk menjadi kawasan perkotaan,” ujar dia.
Sementara itu, tim dari Fakultas Biologi Unsoed bersama Pemkab melakukan penyemprotan pohon Flamboyan yang berada di Jalan dr Angka. Penyemprotan dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan pohon itu.
“Sejak ditanam sekitar lima tahun lalu, pertumbuhan pohon ini kurang optimal. Kami bekerjasama dengan Pemkab memacu pertumuhan pohon itu agar cepat berbunga,” kata salah seorang anggota tim peneliti, Ating. (fz-45)


Ruang Pohon Peneduh Terbatas

15 January 2016 | Radar Purwokerto

Program penghijauan tepi jalan yang berada di kawasan perkotaan Purwokerto menemui kendala. Pasalnya, ada beberapa ruas jalan yang saat ini tidak memiliki ruang untuk penanaman pohon peneduh baru.
Kabid Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Kabupaten Banyumas Zahnir mengatakan, berdasarkan pendataan yang dilakukan saat ini ada sekitar sepuluh sampai 20 ruas jalan yang tidak memiliki ruang penanaman pohon.
Antara lain Jalan dr Angka bagian barat, Jalan Kolonel Sugiri, Jalan Kolonel Sugiono, Jalan Kesatrian, dan hingga Jalan Wahid Hasyim. Menurutnya, jalan-jalan tersebut tidak menyisakan bahu jalan untuk penanaman pohon baru, karena telah dilapisi aspal.
“Jalan-jalan tersebut saat ini kondisinya memang cukup gersang, karena tidak memiliki pohon peneduh. Walaupun ada program penghijauan, tetapi kita tidak bisa melakukan penanaman pohon karena tidak ada ruang,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, tahun lalu sempat dilakukan penanaman pohon di beberapa ruas jalan tersebut. Namun akhirnya dipindahkan kembali, karena tidak bisa menabrak aturan dengan melakukan penanaman pohon di aspal.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya berencana menanam pohon dengan media pot. Pot tersebut akan diletakkan di sepanjang trotoar jalan. Penanaman dengan media pot akan dilakukan bertahap menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Lebih lanjut dia mengatakan, karena keterbatasan ruang yang tersedia, pihaknya fokus penghijauan di wilayah pinggiran kota.

Alun alun Jatilawang

Jatilawang adalah sebuah kecamatan di wilayah barat selatan kabupaten Banyumas.  Merupakan salah satu eks kawedanan yang di lalui oleh jalan nasional selatan. Meskipun berkembang pelan, dan pertumbuhan ekonomi tumbuh cenderung hanya di  jalur utama kota, yaitu jalur nasional selatan rute Bandung Jogja dengan Jalur Desa Kedungwringin- Pekuncen di pertigaan alun alun. 
Namun dengan direvitalisasi alun alun Jatilawang maka perkembangan kota sedikit lebih tergenjot dengan makin ramainya aktivitas warga mulai dari sore hari hingga malam hari. Sepanjang  ruas jalan utama sekitar alun alun pun dipenuhi Pedagang kaki lima. Dan tidak berlebihan meskipun saat siang hari kota ini kalah dengan keramaian kota kecamatan Wangon tapi di sore dan malam hari justru berlaku sebaliknya. Jatilawang lebih ramai daripada Wangon.
picture terbaru alun alun Jatilawang setelah renovasi. sekarang nama ikon diletakan di atas monumen.

suasan alun alun Jatilawang

 suasan malam hari








Masjid besar Babul kudus

Sebentar lagi tampilan ini berubah karena sedang direnovasi
Dokumentasi  saat pembangunan tahap II, sempat terjadi perubahan warna ikon dari kuning menjadi merah