Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 08 Agustus 2016

Karang Penginyongan




CILONGOK-Dengan ditandu dan diiringi oleh grup Kenthongan, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Demokrat, Khotibul Umam Wiranu tiba di komplek wisata Karang Penginyongan masuk Desa Tumiyang Pekuncen dan Desa Karangtengah, Cilongok pada Sabtu (7/8) pukul 10.00. Reses anggota DPR RI juga dihadiri warga dua desa serta beberapa tamu undangan seperti alumnus PGA Purwokerto, seniman, budayawan sampai owner Karang Penginyongan, Liem Kuswintoro. Khotibul Umam Wiranu mengatakan, dalam reses tersebut ia memilih Karang Penginyongan menjadi lokasi kegiatan karena dalam era Global Village, Karang Penginyongan mampu mengimplementasikan melalui satu tempat wisata yang bernuansa pedesaan. Bukan hanya bernuansa pedesaan, berbagai wahana yang ada juga edukatif dan menekankan kebudayaan daerah seperti calung, kenthongan dan kesenian lain. “Era global village adalah dimana desa menyatu, tidak ada jarak antara bumi Indonesia dengan negara lain. Karena disaat global village ini berjalan, bangsa akan maju dengan kekayanan budaya dijadikan landasan dalam pembangunan,”jelasnya. Menurutnya, Bangsa Indonesia memiliki lebih dari 1000 bahasa, 20 ribu pulang dan 1000 etnis. Hal tersebut berarti ada 1000 macam bidaya yang dikembangkan untuk menjadi budaya sebagai identitas bangsa Indonesia yang bisa mensejajrkan Indonesia dengan negara lain. Dan dalam Karang Penginyongan, tempat rekreasi tersebut memanfaatkan alam sekitar. “Mengingatkan kembali asal usul kita yaitu dari desa yang identik dengan air, sawah dan ladang. Karang Penginyongan memberikan contoh, seperti masyarakatnya tetap bertani serta ciri khas etnis kita seperti ronggeng, calung, kesenian jawa yang tidak bisa ditinggalkan. Serta melibatkan masyarakat sekitar,” jelasnya. Dalam serap asrpirasi tersebut, Khotibul mengajak masyarakat tetap menjaga budayanya sendiri. “Kita boleh mendunia, tetapi jangan tinggalkan budaya kita sendiri,” pungkasnya.

proses dibangun







2 komentar:

  1. Wah, guru seni rupaku pas SMA sering disitu... namanya pak Hadi Wijaya :)
    sayang belum sempat kesana saya kang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo ada kesempatan , liput sini kang, banyak potensinya buat reverensi. waktu itu udah jadi tempat budaya juga ya ?

      Hapus