Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 23 Agustus 2017

Pedestrian Di Kecamatan Jatilawang



foto0772.jpgfoto0768.jpg
Pedestrian atau nama lainnya trotoar adalah salah infrastruktur yang bukan hanya dijumpai di kota atau ibukota kabupaten saja ,  tapi desa tertentu dan semua kota kecamatan pasti memilikinya. Karena pedestrian merupakan area yang tak bisa dipisahkan dari jalan atau merupakan bagian dari jalan umum . Pembangunan daerah kurang dianggap berhasil jika tidak memberi perhatian kepada aspek ini. Karena trotoar merupakan bagian dari wajah kota atau pusat perekonomian setempat selain memiliki fungsi utama sebagai tempat pejalan kaki namun dibanyak tempat banyak terjadi alih fungsi menjadi tempat berjualan PKL yang sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran perda.
Pedestrian yang baik adalah yang memiliki sistem drainase yang baik dan tidak banjir atau tersumbat saat hujan dan kualitas tegel atau ubinnya keras dan kuat serta memiliki jalur hijau. Akan lebih baik jika dilengkapi fasilitas tambahan seperti halte, RTH atau ruang terbuka hijau.
Di kabupaten Banyumas ada beberapa pedestrian di kecamatan yang bisa dikatakan baik karena mendapat alokasi dana pembangunan dalam setiap tahunnya. Foto di atas adalah salah satu lokasi pedestrian di kota kecamatan Jatilawang yang direnovasi beberapa tahun lalu. Pantauan saya tidak semua pedestrian yang menjadi tempat berjualan PKL itu melanggar perda karena tidak memakan tempat badan trotoar ini . Jika dilengkapi pohon peneduh tentu suasananya menjadi sejuk dan sangat baik menjadi lokasi bersitirahat temasuk orang -orang yang sedang menunggu keluarganya mudik.
Itu salah suasana pedestrian di Jatilawang saat sehari menjelang hari raya Idul Fitri 1438 H.

Agenda 17-an di Kecamatan Jatilawang



Bulan Agustus adalah bulan yang paling meriah yang ditunggu  tunggu karena pada bulan ini kita merayakan kemerdekaan RI yang saat ini kita sebagai generasi penerus hanya sebagai penikmat kemerdekaan sedangkan yang berkorban bagi kemerdekaan tentu tak bisa menikmatinya merekalah para pahlawan.
Kita berkewajiban mengisi kem redekaan dengan peran dan kemampuan kita masing -masing  tapi dengan catatan jangan ikut-ikutan sebagai penebar kebencian atau hoax karena mencederai nilai perjuangan .
Nah berbicara tentang Agustusan sudah menjadi agenda rutin dari tingkat kabupaten .hingga RT RW . Saya sedikit mendokumentasikan beberapa momen yang ada di Kecamatan Jatilawang. Kemaren saat malam minggu digelar festival kentongan yang bukan antar desa karena desa seperti Tinggarjaya punya acara yang sama di jam yang sama. Di Pendapa Kecamatan Jatilawang dimulai peserta lalu mengelilingi jalanan ke arah barat sekitar pasar .
Pada kesempatan yang sama , di alun alun Jatilang sedang digelar perlombaan Voli . Kok pertandingan voli di alun -alun ? semoga Pihak kecamatan membangun Fasilitas  olah raga yang memadai dan terpadu di tempat lain  karena menurut saya alun alun itu RTH meskipun bisa dimanfaatkan untuk olah raga tapi sekedar saja bukan kompetisi yang menampung banyak penonton .

img-20170812-wa0043.jpegimg-20170812-wa0033.jpgimg-20170812-wa0038.jpegimg-20170812-wa0041.jpeg

Plus Minus Pembangunan di Kabupaten Banyumas





Secara umum kita melihat bahwa pembangunan di kabupaten Banyumas di berbagai bidang sudah  cukup baik. Adanya berbagai pembangunan infrastruktur, event pariwisata yang menjadi agenda rutin, hingga Peningkatan kualitas sekolah dan Puskesmas, perkantoran  pemerintah desa/ kecamatan Penghijauan di kota – kota Kecamatan serta program pemerintah untuk menaggulangi kemiskinan  dan sebagainya.  Namun demikian ada beberapa hal yang menjadi catatan saya terhadap beberapa program Pemerintah kabupaten Banyumas yang belum berjalanan maksimal sesuai tujuannya. Antara lain:
1 Pembanguanan Jalan Gunung Tugel
Awalnya pembangunan jalan ini diarahkan sebagai solusi untuk memecah kemacetan lalu lintas yang selama ini di jumpai di salah jalur utama menuju Purwokerto terutama dari arah barat dan selatan yaitu ruas Sidabowa hingga Sawangan.Ini memang merupakan jalur singkat juga yang menghubungkan antara Purwokerto dengan daerah di wilayah timur seperti kecamatan Banyumas, Kalibagor dan sebagainya. Pembvanguanan berjalanan hingga  beberapa tahap ( sekitar 5 tahap) dan menghabiskan anggaran miliyaran rupiah setiap tahap pertahun anggaran.
Namun demikian, ada masalah yang berlarut-larut dan sampai detik ini belum bias diatasi secara tuntas. Yaitu masalah tanah longsor dan retakan di beberapa titik  ruas jalan. Beberapa penanganan sudah di ambil Pemkab antara lain dengan mengirim sampel tanah untuk di uji lab, namun setelah dicoba untuk ditangani ternyata masalah longsor dan retakan ini muncul lagi. Sehingga sampai saat ini tidak ada solusi konkret . Padahal anggaran yang sudah dihabiskan untuk membangun terhitung besar di banding infrastruktur di tempat lain.
Ada beberapa teman menyebut bahwa struktur tanah di gunung tugel adalah lempung, apakah di bagian Dinas DCKTR Banyumas tidak ada hali yang bias menganalisis dan membuat terobosan mengatasi masalah ini ?
Saran saya, sebaiknya mereka terutama unsur di Dinas bekerja lebih professional lagi. Kalo menurut pendapat pribadi saya, anggaran yang besar di kemudian hari jangan lagi dihabiskan untuk membangun ruas jalan ini, selama belum ada solusi jangka panjang yang ditemukan.Carilah lokasi jalan alternative lain yang berfungsi sebagai jalur short cut dan jalur lintas penghubung antar wilayah. Membangun wilayah lain yang tak kalah penting fungsinya bagi perklembangan daerah juga bias meminimalisir terbuangnya anggaran yang tidak perlu.
2 Pusat Kuliner Pratista Harsa
Pratista Harsa adalah salah satu proyek besar Pemerintah kabupaten Banyumas  yang bertujuan untuk mengatasi persoalan pedagang kaki lima di kawasan alun alun Purwokerto. Masalah PKL adalah hal biasa yang dialami di semua daerah dan kota. Adapun yang dilakukang oleh Pemkab Banyumas adalah dengan cara menempatkan mereka di satu tempat , agar tidak lagi menimbulkan kemacetan di jalan terutama di area alun alun Purwokerto.
Namun perlu  dipahami bahwa tujuan PKL berjualan adalah untuk menafkahi keluarga, tentu langkah ini kurang tepat sasaran jika hanya mengatasi masalah di satu sisi tapi menimbulkan persoalan baru. Bagi pedagang yang yang sudah menempati lapak di pratista Harsa baik blok A dan Blok B mereka tak kunjung mendapat penghasilan yang cukup, karena sangat sedikitnya kunjungan masyarakat  untuk makan atau berbelanja di Pratista Harsa, bahkan sejak pertama menempati, akhirnya banyak diantaranya yang gulung tikar, karena rugi dan memilih kembali turun ke jalan. Ini apa yang salah ? Langkah Pemda sudah tepat, tapi alangkah baiknya didudkung oleh kebijakan lain yang bisa mensukseskan program ini, contohlah Pemkab Kebumen, mereka bisa mendukung pusat kuliner dengan cara mengintensifkan jajaran PNS agar sering makan di pusat kuliner ini.
Saran saya, sebaiknya Pemkab Banyumas memulai dari jajaran  PNS dan Karyawan BUMD. Jumlah mereka tentu sangat banyak untuk sekedar diberi kewajiban makan di Pratista Harsa minimal seminggu sekali. Selain itu buatlah konsep baru pratista Harsa agar menjadi tempat santai yang nyaman dan sebagai lokasi penyelenggaraan event –event tertentu secara periodic dan berkesinambungan untuk memberi nilai tambah . Misalnya ada agenda setiap minggunya diadakan acara lomba kentongan ( atau acara lainnya) yang pesertanya merupakan siswa sekolah-sekolah di Purwokerto. Buatlah agensda semacam itu sebagai kegiatan tetap di Pratista Harsa. Agar bisa berjalan seperti rencana mungkin akan lebih baik agar dibuat panitia atau semacam paguyuban yang salah satu tugasnya sebagai event organizer. Saya yakin dengan adanya kegiatan maka gairah di Pratista Harsa akan ikut terangkat dengan kunjungan masyarakat, tentu efeknya adalah jualan mereka akan ikut dilirik dan peluang dibeli oleh penginjung semakin besar.

3 Under Pass Kebocoran
Sesuai namanya, inilah salah satu masalah lama yang belum bisa diselsaikan dengan baik.Berita tentang kerusakan dan genangan air terutama di musim hujan, serta seperti sungai kering di saat kemarau membuat ruas jalan ini sangat tidak nyaman untuk dilewati kendaraan.Sebenarnya Pemkab banyumas sudah beberapa kali memperbaiki underpass ini, namun masalah lama berupa genangan air masih saja terjadi.Coba para ahli dan teknisi di DCKTR lebih bekerja keras lagi, karena sebenarnya masalah ini tentu bukan persoalan sulit bagi ahlinya jika ditangani dengan benar.
Saran saya, ( saya bukan orang teknik, hanya sekedar memberi pandangan versi orang awam) tinggikan badan jalan ( bagian tengah ) dengan pengaspalan ulang hingga ketinggian tertentu, sedangkan bagian pinggir ( tepi) jangan ikut ditinggikan, tapi dikeruk lagi untuk menampung jika ada aliran air dengan kedalaman tertentu , hingga akhirnya dialirkan ke saluran pembuangan.

4 Pengengembangan Kota lama Banyumas
Kota Lama Banyumas sudah ditetapkan secara resmi oleh Pemkab banyumas sebagai kota pusaka ( heritage city) sekitar setahun lalu. Tapi hingga saat ini belum terdapat perkembangan yang signifikan.Namun ada beberapa berita yang menggembirakan terkait hal ini. Seperti revitalisasi kawasan alun alun Banyumas, penataan kawasan pendapa Jaka Kaiman ( dulu dikenal istilah duplikat sipanji) dengan mengembalikan bentuk taman seperti suasana tempo dulu, membangun taman sari . Tentu keberjhasilan kOta lama menjadi primadona pariwisata baru yang menyajikan atau menjual heritage tak aklan berhasil tanpa peran aktif semua warganya. Banyak diantara heritage itu merupakan kawasan tempat tinggal warga, sehingga untuk menata kawasan kota lama secara keseluruhan membutuhkan program kerja yang jelas yang melibatkan semua unsur pemerintah daerah dan juga semua lapisan masyarakat termasuk akomodasi, transportasi, kuliner, pengusaha batik, pelaku kesenian dan instansi pendidikan.
Usulan saya, Perlu ada kesepahaman kepada seluruh masyarakat terutama para pemilik bangunan heritage baik berupa rumah, took , kantor dan sebagainya agar turut serta membangun citra kota lama Banyumas. Pemkab Banyumas harus aktif mendorong dan bekerjasama dengan mereka dalam hal perawatan gedung, berupa pengecatan ulang gedung-gedung setiap 2 tahun dan sebagainya. Dalam hal perawatan gedung ini bisa dibentuk sebuah yayasan yang mengorganisir dan menggalang dana untuk membiayai kegiatan operasional.
5 Banyumas Extravagansa
Banyumas Extravagansa baru dikenal dalam beberapa tahun terakhir, konsepnya berupa karnaval yang menonjolkan kostum antik para pesertanya. Memang dalam pelaksanaannya menonjolkan nuansa Banyumas apakah itu dalam bentuk batik, kerajinan rakyat seperti produk-produk khas dari Banyumas lain, namun kekurangan event ini adalah pelaksanaan yang kurang terorganisir dan terkesan semrawut. Dari segi mutu dan hasil menurut saya kurang maksimal karena kurang bisa mendatangkan banyak wisatawan dari luar daerah.Hal ini karena konsep karnaval ini kurang bisa menyajikan kekhasan Banyumas. Event seperti ini sebenarnya mengekor keberhasilan daerah lain yaitu Jember.
Sejarah Boomingnya karnaval versi Jember bermula saat ada sebuah kompetisi membuat film documenter yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun TV Swasta nasional.Salah satu pesertanya menyajikan film dokumentasi tentang konsep karnafal di Jember.Dalam bagian tayangannya dijelaskan bahwa karnaval ini dipelopori oleh kelompok kreatif di daerah itu yang bercita-cita menciptakan sebuah event besar skala nasional bahkan internasional yang kahirnya bisa berdampak pada kunjungan wisatawan ke Jember. Program mereka dirintis bukan dalam waktu sebentar tapi dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan banyak unsur .Nah , film dokumentasi ini ternyata menginspirasi daerha lain sehingga berlomba-lomba menggelar event yang sebenarnya serupa, hanya berbeda kemasan saja namun konsepnya masih sama, saya katakan menjiplak dan tidak orisinal. Memang tidak hanya kabupaten banyumas yang melakukan itu, banyak juga daerah lain.
Oleh karena itu, saya harap, Konsep Banyumas Extravagansa diubah, harus orisinal dengan menggarap potensi utama yang dimiliki kabupaten Banyumas, Event sebaiknya diselenggarakan di lokasi yang punya nilai jual tinggi dan bisa menjadi ikon Banyumas, misalnya di kawasan Bendung Gerak Serayu dibangun gedung semacam opera house, yang bukan hanya mewadahi kegitan kesenian yang digelar secara periodic dan kontinu. Tapi juga bisa digunakan untuk penyelenggaran Banyumas Extravagansa dengan memaksimalkan potensi lainnya seperti Serayu Voyage River. Selain itu, Kawasan Kota Lama Banyumas juga bisa digunakan untuk event itu, tapi tentu konsepnya harus beda dengan daerah lain.

Demikian sedikit tulisan saya mengenai masukan terhadap beberapa program pembangunan di kabupaten Banyumas, semoga bisa menjadi salah satu bahan evaluasi oleh Pemkab Banyumas.

Banyumas Menuju Sentra Kedelai

Musim Kemarau Musim Tanam Kedelai


img_20170809_054443_1.jpgimg_20170809_054443.jpg
Pagi hari saya melewati area persawahan di desa Adisara kecamatan Jatilawang kabupaten Banyumas yang sudah dipanen padinya. Ketika saya amati ternyata banyak ditanami kedelai di celah celah bekas tanaman padi yang telah dipotong.
Tampaknya ini pertanda bahwa petani setempat sudah memperhitungkan datangnya musim kemarau dimana air sangat sulit didapat. Memang tanaman kedelai bisa bertahan meskipun pasokan air seadanya berbeda dengan padi.
Jadi ingat tahun lalu kedelai menjadi persoalan serius negara ini karena terjadi kasus kelangkaan pasokan berimbas pada naiknya harga produk olahan yang notabene menjadi makanan utama kalangan menengah kebawah, apalagi kalau bukan tempe , tahu belum lagi  olahan khas daerah tetentu seperti Banyumas yang memproduksi ranjem, dage atau bongkrek itu juga ikut terkena imbasnya. Bukan hanya itu usaha rumahan susu kedelai juga bahkan usaha perusahan besar pembuat kecap . Padahal kecap sangat dibutuhkan dalam dunia kuliner yang tentu saja sangat bersentuhan dengan usaha rakyat seperti mie ayam , bakso sampai warung makan. Tentu makin melengkapi naiknya inflasi .
Informasinya khusus kabupaten Banyumas sudah merencanakan menyiapkan lahan untuk tanaman kedelai sehingga diharapkan menjadi salah satu sentra pemasok kedelai.  Dan usaha tanam kedelai milik rakyat seperti yang ada di desa ini sudah saatnya mendapat perhatian pemerintah perlu dibantu dan diberdayakan lebih intens lagi. Semoga Kabupaten Banyumas bisa menjadi salah satu sentra kedelai yang bermutu .

Asrinya Jalan Desa di Banyumas



img_20170808_174317.jpgimg_20170808_174317_1.jpg
Suasana menjelang magrib di dekat Situ Bemban desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang. Ini adalah salah satu jalan desa favorit saya. Saya sangat menyukai suasana ini , suasana asri berupa banyaknya pepohonan kayu di tepi kiri dan kanan jalan yang melintas di antara persawahan. Biasanya pohon yang tumbuh sejenis johar yang berbunga kekuningan sangat indah  jika sedang musim .
Tak hanya ruas jalan ini tapi di tempat lain juga banyak suasana yang serupa seperti di jalan penghubung desa Margasana dan Purwojati atau Kedungwringin dan Bantar dan sebagainya.
Dulu saat saya kecil saya teingat ruas jalan di persawahan antar desa Tinggarjaya dan Bantar waktu itu ditanam pohon Turi tapi sayang saat ini tampaknya tidak ada lagi.
Saya berharap jalan yang asri khas alam pedesaan ini tetap dipertahankan dan dianggap sebagai kekayaan atau kearifan lokal meskipun pelan tapi pasti lahan lahan di daerah ini suatu saat nanti akan tumbuh berkembang menjadi perumahan atau desa baru dan bahkan bisa menjadi kota.
Jangan sampai hanya sampai pada generasi kita yang dapat menikmati keindahannya sedangkan generasi yang akan datang hanya dapat melihat foto atau lukisan atau bahkan mendengar ceritanya. salam dari desa.

Selasa, 22 Agustus 2017

Awal Mula Berkembangnya Perkotaan Purwokerto



Faktor awal  berkembangnya Purwokerto didorong oleh KAI Daop V , RRI dan Unsoed. Sejarah Daop v Purwkerto perkiraan tahun 1917-1918 dengan dibangunnya stasiun Purwokerto dan REL penghubung Cirebon Kroya . RRI Purwokerto didirikan pada tanggal 11 September 1945. Sejarah unsoed purwkerto berdiri 23 September 1963, Periode 2 berkembangnya Purwokerto adalah munculnya pusat pendidikan baru, rumah sakit, pusat kuliner dan pengembangan GOR satria Periode 3 perkembangan Purwokerto adalah menjamurnya hotel baru , gedung vertikal dan pusat belanja. 

Awalnya di kawasan Banyumasraya yang paling pertama berkembang adalah Kota Banyumas , kita menyebutnya dengan istilah kota lama. Berkembang sekitar tahun 1582 atau 1577 berdasarkan berita babad atau yang beberapa waktu lalu sempat kisruh tentang pergantian hari jadi kabupaten Banyumas tapi yang pasti adalah pada kurun waktu itulah Banyumas berkembang memiliki pusat pemerintahan sendiri.
Sedangkan Purwokerto awalnya merupakan desa Paguwan yang dibangun di sekitar kali Kranji pada era setelah geger pecinan sekitar tahun 1800an. konon dibangun oleh pelarian dari keraton Surakarta yang salah satunya dikenal sebagai mbah Purwokarta. 
Sebenarnya pada masalalu sekitar Purwokerto pernah menjadi pusat pemerintahan Pasirluhur tapi berbeda dengan sejarah desa paguwan meskipun secara wilayah tidak jauh. Wilayah Pasirluhur yang sudah redup dahulu berpusat disekitar karanglewas dan Purwokerto barat. Berada di DAS Kali Logawa.

Pada tahun 1830 Karesidenan Banyumas berdiri dan beribukota di Banyumas. Sedangkan Purwkerto saat itu menjadi baian dari Kabupaten Ajibarang . Baru pada tahun 1832 dengan alasan bencana ibukota Kabupaten Ajibarang dipindah ke Purwokerto. Namun seiring berkembangnya teknologi dengan ditemukan mesin lokomotif wilayah yang beruntung dibangun jaringan Rel adalah Purwokerto. Sejak itu peran Purwokerto meningkat dan semakin penting menyaingi Banyumasdan Sokaraja yang sebenarnya lebih dulu menjadi pusat perdagangan.
Purwokerto semakin besar setelah menjadi ibukota Karesidenan mengganti Banyumas sekitar tahun 1935an. Dan seiring dengan perubahan zaman dan pergolakan sosial politik masa itu berupa penggabungan kabupaten Purwokerto resmi menjadi ibukota kabupaten hasil penggabungan kabupaten Banyumas dan kabupaten Ajibarang pada tahun 1938 an .
Inilah Purwokerto yang hingga saat ini terus berkembang . 
Pada salah satu berita yang beredar bahwa ada usulan Wilayah Perkotaan Purwokerto tanpa sawah itu juga bagian dari pertumbuhan kota yang tak terhindarkan.

Jumat, 18 Agustus 2017

Mengatasi Kekurangan Air di Musim Kemarau


Ketika saya melintasi jalan di Kebasen menyisiri pinggiran kali Serayu saya terpukau pada pemandangan di sekitar bedung gerak Serayu ini. 
Mungkin bisa jadi inspirasi bagaimana cara mengatasi kekurangan air saat musim  kemarau  di beberapa wilayah

1) penghijauan di hulu sungai dan DAS.

2) pembuatan bendungan mini di tiap anak sungai jadi sebelum air dari kalen atau anak sungai mengalir menyatu dengan sungai air tekumpul dulu dibendungan mini bisa dimanfaatkan go pengairan maupun sumber air bersih dengan catatan sepanjang daerah aliran kalen pepohonan harus dijaga jika tandus segera reboisasi .

3) jika point 1 dan 2 sudah terpenuhi bisa dipikirkan dengan membangun talang air dari bendungan terdekat saya terinspirasi bendungan serayu yang dilengkapi sistem pompa dan talang untuk pengairan di Sampang dan sekitarnya yang sangat jauh bahkan hingga kabupaten tetangga .

4) akan lebih efektif lagi jika membangun embung atau waduk mini dan air dari saluran yang berasal dari bendungan yang dipompa ini dialirkan ditampung juga ke embung dan dibuat kebun buah di sekitarnya tentu berpotensi menjadi pusat wisata edukasi, ekologi dan mengangkat perekonomian warga sekitar bisa mendorong pusat kuliner jika pada akhirnya menjadi lokasi pilihan masyarakat luar untuk berwisata.



Rabu, 16 Agustus 2017

Alih Fungsi Pasar Peksi Bacingah Batal




Rencana pengalihan Pasar Burung Peksi Bacingah menjadi pasar umum batal dilakukan. Hal ini menyusul sejumlah pedagang di pasar tersebut, menolak direlokasi ke pasar Pon atau pasar yang dikenal sebagai tempat untuk menjual hewan di Purwokerto. “Itu rencananya tapi pedagangnya pada tidak mau, kemungkinan tidak jadi. Kita pemerintah sifatnya kan hanya memfasiliatsi, ketika yang difasilitasi tidak mau, kita mau gimana lagi,” kata Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyumas, Rojingun, Senin (14/8). 

Dia mengatakan, pihaknya sempat menawarkan kepada sejumlah pedagang untuk pindah di Pasar Pon, namun mereka menolak. Bahkan mereka mengancam akan kembali lagi berjualan di pinggir jalan, seandainya Pasar Peksi Bacingah dialih fungsikan sebagai pasar umum. “Kemarin terakhir waktu kami minta supaya pindah ke Pasar Pon, mereka tidak mau malah mengancam untuk berjualan lagi di jalan. Ya sudah, mungkin mereka sudah nyaman di situ, kita sekarang tinggal pembinaan saja,” terangnya. 

Sementara itu terkait pembangunan tahap II atau tahap akhir Pasar Peksi Bacingah, Rojingun menambahkan, sejauh ini sudah mulai dikerjakan. Pembangunan tersebut, kata dia ditarget selesai pekerjaan jangka waktu 150 hari atau sekitar akhir November mendatang. “Ini tahap akhir. Yang dikerjakan tinggal atap, tembok keliling, los dan pintu gerbang,” katanya. 

Revitalisasi pasar Peksi Bacingah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Saat itu, anggaran pembangunan terbilang minim, sehingga dilanjutkan pada tahun 2017. Pasar tersebut terdiri dari 25 kios dan sekitar 20 los. “Pagu anggaran untuk tahap II sebesar Rp 1 miliar dialokasikan dari APBD 2017, tapi kemarin yang memenangkan kontrak hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp 800 juta,” tambahnya. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

MA Ma’arif Cilongok Borong Gelar Olimpiade Sains dan Ke-NU-an




MA Ma’arif NU Cilongok membuat kejutan. Dalam Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU) tingkat kabupaten Banyumas, yang diadakan LP Ma’arif NU Kabupaten Banyumas, MA Ma’arif Cilongok sukses memborong sepuluh gelar. Acara dilaksanakan Sabtu (12/8) lalu di komplek MTs Ma’arif NU 01 Kemranjen dan SMA Ma’arif NU Kemranjen. Acara yang mengambil tema “Membangun Akhlak dan Prestasi bersama Ma’arif NU” itu, diikuti ratusan siswa dari tingkat MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK di bawah naungan LP Ma’arif NU se-Kabupaten Banyumas. Para peserta Olimpiade Sains mengikuti upacara pembukaan. 

Ketua panitia OSKANU, M.Hidayaturrohman mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua tahun sekali oleh LP Ma’arif. Selain sebagai ajang silaturrahmi antar warga Maa’rif, sekaligus menjadi ajang seleksi peserta pada ajang yang sama di tingkat provinsi Jawa Tangah. “LP Ma’arif membawahi 132 SD/MI, 40 SMP/MTs dan 18 SLTA. Untuk memacu semangat dan prestasi dan keterampilan akademik khususnya bidang MIPA dan IPS serta Ke NU an, maka lembaga mengadakan olmpiade. 

Selain olimpiade sains dan Ke NU an, sebelumnya Ma’arif juga mengadakan Pekan Olahraga dan seni Ma’arif (PORSEMA) sebagai ajang prestasi di bidang olahraga dan seni,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut dilombakan puluhan cabang. Antara lain olimpiade IPA, Matematika IPS, Ke-NU-an, Cerdas tangkas Aswaja, Majalah Dinding 3D, LKIR IPA, LKIR IPS. Juga olimpiade Fisika, Biologi, Kimia, Geografi, Akuntansi dan sosiologi untuk SMA/MA. Sedangkan untuk ada LKS Otomotif, TKJ dan Akuntansi. Kegiatan dibuka Edi Sungkowo mewakili Ketua LP Ma’arif Kabupaten Banyumas sekitar pukul 07.30 WIB. Acara diakhiri pengumuman pemenang sekaligus pembagian tropy. Tampil sebagai juara pada ajang ini, MI Ma’arif NU Pageraji (Mading 3D dan Ke-NU-an), MIMA Dawuhan Kulon dalam lomba cerdas tepat, MIMA Gumelar lomba IPA, MI Tarbiyatul Ulum lomba MTK dan MIMA 02 Pancasan dalam lomba IPS. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Selasa, 15 Agustus 2017

Alun-alun Purwokerto Kembali Dilengkapi Videotron




Alun-alun Purwokerto dalam waktu dekat akan kembali dilengkapi videotron. Berbeda dari videotron sebelumnya, pembangunan tv berukuran 4×8 meter ini merupakan gagasan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Banyumas untuk ruang pemberi informasi kepada masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Banyumas, Drs Santosa Eddy Prabowo mengatakan, pembangunan videotron tersebut masih menunggu usulan anggaran di APBD Perubahan tahun ini. 

Rencanya videotron akan ditempatkan di sisi pojok sebelah timur-selatan ALun-alun Purwokerto atau lokasi yang sama videotron sebelumnya. “Anggaran diusulkan Rp 1,8 miliar di perubahan. Kalau anggaran keluar, bisa langsung dilelang dan dikerjakan. Akhir tahun ini kemungkinan sudah selesai,” kata dia saat ditemui di ruangannya, Senin (14/8). Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Dinkominfo, Purwantoro menambahkan, tujuan pembangunan videotron sebagai sarana informasi kepada masyarakat, dengan konten acara seputar perekonomian, pembangunan, pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan kemasyarakatan. 

Selain itu, juga bakal dimanfaatkan untuk pemutaran film-film sejarah, video tentang potensi tiap desa hingga kecamatan, dan juga bisa digunakan untuk nonton bareng seperti pertandingan sepakbola, bulutangkis dan sejumlah event besar lainnya. “Pembangunan ini sengaja untuk hiburan rakyat dan memang tidak dikomersilkan, sehingga iklannya nanti berupa pemutaran lagu-lagu perjuangan dan lainnya. 

Tayang rencana mulai pukul 08.00 sampai 12.00, kemudian istirahat dan dilanjutkan lagi dari pukul 16.00 sampai 22.00. Operator dari kita sendiri dan akan dibuat menggunakan jaringan, sehingga bisa diganti tayangannya melalui kantor,” jelasnya. Selain pemasangan tv, pembangunan videotron juga akan dilengkapi pilar-pilar bangunan beton dengan total luas bangunan 4×12 meter. 

Pembangunan videotron di Alun-alun Purwokerto, menurutnya uji coba dan ketika berhasil akan diterapkan ditempat lain. “Ini kita uji coba satu dulu, nanti bisa dikembangkan di beberapa tempat. Selain untuk nonton, videotron juga bisa dipakai untuk ajang selfie masyarakat karena juga dibangun pilar-pilar yang iconik,” tambah Eddy. Sebelumnya, Alun-alun Purwokerto sudah pernah ada videotron. Sayang, videotron itu harus dibongkar karena milik swasta dan kontrak telah selesai.

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Senin, 14 Agustus 2017

Bendung Tajum Makin Dangkal




Bendung Tajum yang berada di Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang, mengalami pendangkalan. Akibatnya, debit air di bendung tersebut mengalami penurunan. Saat ini kedalam air di bendung Tajum hanya tiga meter dari kedalaman awal u enam meter. Kondisi itu membuat pengairan irigasi Tajum untuk 3.200 hektare sawah di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo tidak maksimal. 

Namun yang lebih miris, walaupun berada di Desa Tiparkidul, namun petani di desa tersebut tidak bisa memanfaatkan bendung Tajum. Kepala Desa Tiparkidul, Riyanto mengatakan, walaupun berada di Desa Tiparkidul, keberadaan Bendung Tajum tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat, terlebih bagi petani. Sebab saluran irigasi dan air sungai tidak bisa secara langsung mengairi pesawahan namun harus menggunakan pompa air.

 “Lokasi areal pesawahan berada lebih tinggi dari aliran Sungai Tajum, sehingga petani harus menggunakan pompa air. Namun dengan adanya hama wereng yang sedang ganas, petani memilih untuk menanam palawija walaupun pompa air bantuan juga sudah ada,”jelasnya, Selasa (8/8). Dia menjelaskan, kedalaman Bendung Tajum mengalami pendangakalan sejak beberapa tahun terakhir. Akibatnya, volume air untuk pengairan persawahan di wilayah tiga kecamatan tidak maksimal.

 “Bukan berarti Bendung Tajum berada di Tiparkidul, kami menikmati air. Sama dengan wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo, petani juga tidak bisa menikmati secara maksimal bendung Tajum terutama saat ini ada pendangkalan,”ungkapnya. Dia berharap pemerintah mengeruk lumpur yang ada di bendungan. Kemudian efeknya pengairan irigasi terkendala karena airnya berkurang, terlebih jika musim kemarau. Dengan begitu, debit air di Bendung Tajum bisa lebih banyak lagi serta bisa memaksimalkan pengairan sawah di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo.

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Sedekah Bumi Desa Gerduren Purwojati



img-20170813-wa0023.jpgimg-20170813-wa0024.jpgimg-20170813-wa0022.jpg
Foto kiriman Umiyati Glempang Geduren kecamatan Purwojati beberapa waktu lalu .  Sedekah bumi pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur dan tidak berkaitan dengan syirik atau menyembah berhala ini yang perlu diluruskan bagi  sebagian orang yang terlalu kaku dan sempit dalam memahami arti bidah dan turunannya. Dalam kalender jawa dikenal dengan bulan Apit  sehingga dikenal juga dengan nama apitan. Bulan Apit itu nama bulan sebelum Aji atau Dzulhijah.
Biasanya masyarakat mendahului acara dengan bersih desa yaitu membersihkan lingkungan umum di sekitar tempat tinggal lalu biasanya setelah memasuki lingsir atau matahari tegelincir para warga beserta keluarga masing masing membawa nasi dan lauk pauk mereka menempatkan diri di sekeliling jalan desa .  Acara di akhiri dengan makan bersama.
Tiap desa ternyata tidak sama waktu pelaksanaannya tegantung keputusan pengurus desa masing masing contoh desa yang melaksanakannya duluan misalnya Sebagian  Tinggarjaya ,  Bantar di kecamatan Jatilawang ,Cikakak kecamatan wangon . Dan hari minggu kemaren 13 Agustus 2017 dilaksanakan di sebagian Gerduren kecamatan Purwojati dan Kedungwringin kecamatan Jatilawang.

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

Kualitas Banyumas Extravagansa Menurun?


Itu kata tulisan di koran jadi  sama sekali bukan pendapat saya . Tapi saya akan memberikan sedikit tanggapan terkait penyebabnya jika itu benar. Tahun ini Banyumas Extravagansa digelar jauh dari hari jadi Banyumas tapi justru mendekati peringatan kemerdekaan RI yang faktanya tiap desa atau kecamatan punya kegitaan dan kesibukan sendiri sehingga ketika BE ini digelar tak jarang berbenturan jadwal dengan acara warga lain di tempat tinggal masing masing otomatis mengurangi  jumlah penonton ini secara kuantitas. Sedangkan secara  kulaitastentu belum bisa menjadi ikon pariwisata yang kuat “ciri khas / lokalal yang ditonjolkan dalam bentuk apa ” meskipun ada atribut Banyumas tapi kurang kuat secara karakter. Itu seharusya digali lagi untuk menciptakan daya tarik dan tentu saja dari hal manajemen penyelenggaraan .
Tema BE kali ini Topeng Kinclong .
Dari plus minus  yang ada berikut adalah beberapa liputan dari sdr T Mahdi atau koleganya dari SSCI Purwokerto

img-20170813-wa0012.jpgimg-20170813-wa0018.jpgimg-20170813-wa0015.jpgimg-20170813-wa0017.jpgimg-20170813-wa0016.jpgimg-20170813-wa0013.jpgimg-20170813-wa0014.jpg

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

 Meski berlangsung meriah, kualitas ajang Banyumas Extravaganza 2017 yang digelar Minggu (13/8), dinilai menurun. Pasalnya, sejumlah peserta tidak mampu menunjukkan penampilan yang berkarakter Banyumas.
Salah satu penonton, Imelda Angelina (17) mengatakan, atraksi wisata tahunan yang digelar ke delapan kalinya tahun ini selalu ramai pengunjung. Bahkan para penonton rela berdesakan untuk menyaksikan penampilan peserta dari dekat. “Ini sudah penuh sesak, sulit untuk mencari tempat duduk atau berdiri untuk menonton dari dekat,” kata dia, kemarin.
Menurut Imelda, tahun ini perhelatan tersebut sangat meriah. Tetapi masih lebih menarik penampilan peserta pada penyelenggaraan dua atau tiga tahun lalu. Adapun event Banyumas Extravaganza menyuguhkan parade jalanan yang diikuti oleh pelajar SMP, SMA dan SMK, perwakilan kecamatan dan kelompok umum.

Peserta pawai bertema “Topeng Kinclong” ini berjalan dari depan bioskop Rajawali dan berakhir di Jalan Jenderal Soedirman atau depan Alun-alun Purwokerto. Hal itu juga diamini oleh salah satu juri Banyumas Extravaganza, Gondrong Gunarto. Seniman musik asal Institut Surakarta Indonesia ini menyebutkan, event ini harus dievaluasi secara menyeluruh.
Untuk tahun ini parade jalan ini justru semakin kehilangan karakter banyumasan-nya. “Dari segi nama, Banyumas Extravaganza ini sebenarnya istilah yang keren. Tapi menjadi blunder fatal karena diambil dari istilah barat yang tidak menunjukkan karakter Banyumasnya.
Tadi saya juga melihat yang tampil hanya sedikit peserta yang menunjukkan ciri khas Banyumas, baik musik, kostum maupun keseniannya,” kata pria asal Ngawi ini. Menurut Gondrong, semestinya panitia dalam hal ini Pemkab Banyumas harus merangkul orang yang kompeten dalam bidang fesyen, seni, koreografi dan unsur yang akan ditampilkan lainnya. Sebelum gelaran dimulai, mereka diajak berdiskusi bersama untuk mengemas event tersebut.
Meski demikian, dia mengakui nama event ini sejatinya sudah dikenal di luar daerah Banyumas. Artinya, promosi yang dilakukan oleh Pemkab sudah berhasil. “Misalnya dari segi tema, seharusnya panitia bisa menggali yang lebih menonjolkan karakter Banyumas. Misal mengangkat tema tentang cerita rakyat seperti Baturraden atau Babad Kamandaka,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono mengaku, untuk kegiatan tahun ini pihaknya hanya meneruskan agenda wisata yang sudah dianggarkan sejak tahun lalu. Untuk event Banyumas Extravaganza, pihaknya tidak bisa melakukan perubahan program maupun konsep. “Itu kan sudah dianggarkan, seperti tema topeng yang kami juga sebenarnya kurang pas.
Tapi kami, butuh masukan lebih banyak terkait event ini agar ke depannya semakin baik,” kata dia. Tahun ini, sambung Saptono, ada 61 peserta dari tiga kategori yang ikut serta. Kelompok perwakilan kecamatan ditampilkan kembali untuk menyemarakkan perhelatan tersebut.
sumber suara merdeka