Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 29 Februari 2016

Berharap Jalan Patikraja-Kebasen Dilebarkan

Berharap Jalan DilebarkanJalur Patikraja-Kebasen Dinilai Sempit
KEBASEN-Jalan kabupaten yang berada sepanjang Kecamatan Patikraja hingga Sampang Cilacap dinilai warga terlalu sempit. Sebab saat ini  semakin banyak kendaraan yang melintasi jalur tersebut, baik kendaraan kecil maupun kendaraan berat.
Salah seorang pengendara, Ifan (25) mengatakan, dia sengaja melewati jalur itu untuk memotong jalan dari Kebasen menuju Purwokerto. Dengan melewatu jalur itu, dia mengaku lebih cepat sampai ke Purwokerto, tempat tujuannya. “Lebih cepat sampai,” ujarnya.
Kepala Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen Wawan Yuwandha mengatakan, Jalan Patikraja-Kebasen menjadi jalan lintas kabupaten, yaitu jalan alternatif yang menghubungkan Kabupaten Banyumas dengan  Kabupaten Cilacap.
Intensitas kendaraan yang melewati jalur itu pun tinggi. “Dump truck atau truk pasir dari Cilacap lewatnya jalan ini,” ungkapnya.
Lebar jalan yang  kurang lebih empat meter dan berkelok,  juga rawan kecelakaan. Menurut dia, satu minggu ini sudah terjadi tiga kali kecelakaan di Jalan Desa Tumiyang.
“Seminggu tiga kali yang jatuh dari motor. Meski luka ringan, tetap saja sepertinya pelebaran jalan sudah jadi kebutuhan melihat jalan yang berkelok-kelok,” ujarnya.
Menurut dia, apabila jalan dilebarkan memungkinkan akan muncul industri baru di desa sekitar. Sebab di Kebasen, terutama desa yang jauh dari keramaian seperti Desa Tumiyang, pada malam hari tidak ada aktivitas perekonomian. Dia berharap program pelebaran jalan bisa masuk perencanaan jangka menengah.
Usulan pelebaran jalan dengan panjang sekitar enam kilometer hingga tujuh kilometer itu sudah  disampaikan di Musrenbang Kecamatan Kebasen.

Dulu Penyadap, Kini Hidup dari Lada Perdu

Dulu Penyadap, Kini Hidup dari Lada Perdu

26 Februari 2016 , Suara Banyumas
MENYADAP getah karet dan pinus, sejak dulu merupakan pekerjaan pokok bagi warga Dermaji, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Karena sebagian besar lahan di daerah ini merupakan pegunungan yang dijadikan sebagai hutan pinus dan karet oleh Perhutani. Kini menyadap karet dan pinus, sudah dijadikan sebagai pekerjaan sambilan, oleh sebagian petani. Mereka mulai beralih menjadi petani lada perdu. Dengan menyadap karet mereka paling banter mendapat keuntungan Rp 300 ribu/bulan, tapi dengan menanam lada perdu mereka bisa mengantongi keuntungan Rp 2,5 juta/bulan. Warga Dermaji, mengembangkan tanaman lada perdu yang mereka tanam di selasela tanaman karet dan pinus di lahan milik Perhutani. Mereka berharap nasibnya akan bertambah baik, karena harga jual lada sangat menjanjikan. Salah satu petani lada perdu, Daryono yang sering dipanggil Mang Oyot mengatakan, mereka kini juga sudah bisa mengembangkan bibit lada perdu yang dijual Rp 4000/batang.”Kami sekarang mengandalkan hidup dari tanaman lada,”jelasnya. Kelompok Tani Petani lada yang tergabung dalam kelompok Tani Hutan semula ragu ketika diajak oleh Supartoto, dosen Fakultas Pertanian Unsoed untuk menanam lada perdu. Namun setelah diyakinkan, akhirnya dia dan teman-teman mencoba menanam lada sebagai tanaman tumpang sari di bawah pohon pinus dan karet. Tanaman lada perdu yang dikembangkan sejak 2002 itu kini sudah mencapai 70.000 batang di atas tanah seluas sekitar 20 ha.”Tanaman lada tiap tahun terus bertambah karena hutan pinus dan karet di Dermaji sangat luas,” ujar Supartoto. Produksi lada juga semakin baik, setelah ada perbaikan dalam pola tanam, perawatan dan pemupukan. Lada dapat dipanen satu bulan sekali dan tiap pohon sudah bisa menghasilkan sekitar 1-2 ons. Dari 70.000 pohon lada, yang sudah berproduksi sekitar 35.000 pohon, dengan produksi rata-rata 3,5 ton/tahun.
Hasil panen lada yang semakin bertambah, dan harga lada yang terus naik, menjadi daya tarik petani Deramji untuk mengembangkan lada perdu. Petani yang tergabung dalam kelompok Tani Hutan di bawah binaan Supartoto hanya 70 orang, dan petani yang menanam lada secara mandiri sebanyak 50 orang. Harga jual lada tiap tahun juga terus naik, tiga tahun lalu harga lada di tingkat petani hanya Rp 175.000/kilogram, kini sudah mencapai Rp 200.000/kilogram. Lada Dermaji oleh petani di jual di pasar Karangpucung, Cilacap dengan harga paling murah Rp 220 ribu/kilogram, dan kualitas super Rp 250 ribu/kilogram. Jumlah petani anggota kelompok Tani Hutan saat ini sebanyak 70 orang dan petani mandiri 50 orang. Harga lada saat panen Agustus- September 150 ribu/kg di petani. Saat ini harga tingkat petani 200 ribu/kg harga di pasar Karangpucung, Cilacap Rp 220 ribu/kg. Kini Mang Oyot lebih suka disebut sebagai petani lada, dibandingkan dengan sebutan penyadap getah karet dan getah pinus. Menanam lada agar bisa hidup di bawah tegakkan pinus memang bukan pekerjaan yang mudah. Menurut Supartoto, lingkungan di bawah tegakkan pohon besar adalah lingkungan yang lembab dan tidak mudah ditanami lada. Maka bibit lada perdu yang ditanam adalah bibit lada perdu yang diproses dengan jamur mikoriza dengan berbagai perlakun. Beberapa waktu lalu, para petani lada Dermaji mengejutkan Supartoto dan keluarganya, karena mereka tanpa memberitahu ramai-ramai datang ke rumahnya di Purwokerto. Para petani ini mengucapkan terima kasih sekaligus bercerita tentang hidup mereka yang mulai berubah. Mereka bercerita tentang berbagai hal, ada yang bercerita istrinya dibelikan gelang emas, ada yang bisa lanjut sekolah, dan berbagai kisah yang lain. ”Jujur saja saya kaget, terharu, sekaligus bersyukur dikunjungi puluhan petani ke rumah kami. Saya senang karena ilmu saya bisa bermanfaat bagi petani,” jelasnya.

Biro Wisata Ilegal Perlu Dirangkul

Puluhan Biro Wisata Ilegal

26 Februari 2016, Suara Banyumas
PURWOKERTO – Tidak kurang dari 30 biro perjalanan wisata di wilayah Banyumas Raya belum memiliki izin. Keberadaannya dinilai meresahkan dan dapat merusak citra pariwisata. Ketua Perhimpunan Biro Perjalanan Wisata se Eks Kresidenan Banyumas (Pebemas), M Kardiyo mengatakan, banyak wisatawan yang mengeluh karena pelayanan dan fasilitas seperti kendaraan, akomodasi yang disediakan biro wisata tak resmi kurang memuaskan. Hal ini mengurangi kepercayaan calon wisatawan yang ingin menggunakan jasa biro. “Hal ini yang meresahkan kami sebagai pelaku wisata. Kami khawatir wisatawan kapok menggunakan jasa kami akibat perilaku biro tak berizin yang kurang bertanggung jawab,” kata dia, kemarin. Pihaknya mendata, setiap tahun terjadi peningkatan jumlah biro wisata. Pada 2013 terdapat 13 biro perjalanan yang menjadi anggota Pebemas di wilayah Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara (Banyumas Raya). Sementara pada 2015 jumlah tersebut sudah bertambah menjadi 60 biro. Dari jumlah ini, ada 20 biro wisata yang berkantor di Kabupaten Banyumas belum memiliki izin.
“Jumlahnya paling banyak daripada kabupaten lain. Ini belum termasuk komunitas yang juga membuka perjalanan wisata secara berkelompok,” tandasnya. Menurut dia, makin meningkatnya permintaan perjalanan wisata dan moncernya wisata Banyumas Raya mendongkrak jumlah agen wisata. Di sisi lain, perizinan yang mudah juga membuat Pemkab lemah melakukan pengawasan. Kardiyo mengatakan, seharusnya Pemkab mulai bertindak tegas dan memberlakukan peraturan yang ketat terhadap perizinan. Misalnya dengan memberikan sertifikasi untuk pemilik jasa usaha wisata dan rekreasi serta pemandu. Hal ini perlu dilakukan untuk menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asia. Pemkab harus melindungi pelaku wisata lokal saat biro wisata dari luar negeri mulai merambah pasar dalam negeri. “Sertifikasi ini diharapkan bisa menambah kepercayaan calon wisatawan dan para mitra. Di sisi lain, pertanggungjawaban terhadap asuransi, keamanan dan kenyamanan juga terjamin. Biro yang tak berijin harus ditindak,” tegasnya. Pelaku wisata, Wiwit Yuni mengatakan, kemunculan biro perjalanan wisata yang tidak berizin lantaran kurangnya pengetahuan terkait proses perizinan. Selain itu, mereka juga hanya menggarap paket wisata dalam jumlah sedikit. “Biasanya hanya melayani backpacker atau wisatawan individu. Kalau harus membuat izin resmi justru mereka kesulitan,” katanya Menurut dia, sebaiknya Pemkab mulai mendata biro wisata yang beroperasi di wilayahnya. Setelah itu, mereka difasilitasi untuk mendapatkan izin dan sertifikat bagi pemandu wisatanya. Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan, pihaknya tengah membahas perubahan Perda Pariwisata. Salah satu poinnya adalah sertifikasi pemandu dan perizinan untuk biro wisata. “Selama ini yang mengeluarkan sertifikasi pemandu adalah pihak swasta. Dengan adanya Perda ini nanti Pemkab bisa memfasilitasi proses sertifikasi,” ujarnya. Terkait biro wisata yang belum berizin, pihaknya meminta bantuan Pebemas untuk menggandeng biro tersebut, sehingga koordinasi dapat dilakukan dengan mudah. Menurut dia, sekarang wisatawan cenderung kritis. Mereka tentu meminta biro perjalanan wisata untuk menunjukkan ijin resmi dan sertifikat para pemandu wisatanya.

 Mereka Perlu Dirangkul

26 Februari 2016 , Suara Banyumas
MAKIN banyaknya jumlah biro perjalanan wisata seharusnya tidak disikapi dengan antipati. Hal ini justru menjadi indikator peningkatan aktivitas wisata pada suatu kawasan. Hal itu diutarakan oleh pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Rawuh Edy Priyono. Dia menyarankan, biro perjalanan wisata resmi juga ikut merangkul birobiro baru yang mulai bermunculan. “Makin banyak biro makin bagus. Itu bentuk demokrasi wisata. Tinggal bagaimana kesadaran dari biro wisata yang belum memiliki izin untuk mendaftarkan bironya,” kata dia. Dia mengatakan, biasanya biro wisata tak berizin ini masih berbentuk kelompok atau komunitas kecil. Mereka tidak memiliki tempat berupa kantor.
Komunitas ini perlu dirangkul. Pasalnya mereka juga berjasa ikut mempromosikan wisata di daerahnya. “Kalau bisa malah difasilitasi untuk ikut pelatihan dan sebagai pemandu untuk mendapatkan sertifikat. Sedangkan bironya juga dibantu untuk mendapatkan ijin,” ujarnya. Menurut Ketua Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata (Puslitbudpar) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsoed ini, instansi terkait harus mengambil langkah tegas untuk membantu biro tak resmi. Mereka juga bagian dari pelaku wisata Banyumas.

Underpass Jensud Terganjal Desain


26 February 2016 | radar Purwokerto
 PURWOKERTO – Rencana pembangunan underpass di perlintasan sebidang Jalan Jenderal Sudirman, masih belum ada kepastian. Pasalnya sampai saat ini upaya tersebut masih terganjal desain. Hal itu karena banyak permasalahan, mulai kondisi geografis hingga rekayasa lalu lintas.
Sampai saat ini Pemkab Banyumas masih melakukan penyempurnaan DED sebelum diusulkan lagi ke pusat. Penyempurnaan dilakukan karena desain sebelumnya dinilai masih cukup terganjal lahan yang sangat terbatas.
“Dulu sudah ada desain underpass langsung di Jalan Jenderal Sudirman. Namun dari kajian, desain perlu diubah untuk dibelokkan terlebih dahulu ke Jalan Sokajati,” ujar Kabid LLAJ Dinas Perhubungan Komuninasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Kabupaten Banyumas Agus Sriyono.
Untuk realisasi, dia mengaku belum mengetahui secara detail. Menurutnya, realisasi pembangunan underpass tergantung dari pihak pusat, karena membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.
“Anggarannya diharapkan bisa dari pusat, karena kekuatan APBD Kabupaten memang sangat terbatas,” jelasnya.
Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Santosa Eddy Prabowo mengatakan, beberapa permasalahan yang ada di wilayah tersebut antara lain lokasi atau kondisi geografis perlintasan yang cukup dekat dengan Sungai Banjaran.
“Tidak hanya jarak, faktor kemiringan dan kondisi struktur tanah juga menjadi pertimbangan,” katanya.
Dia menambahkan, hal itu sangat berpengaruh dengan adanya jembatan di jalan tersebut, sehingga memang perlu disesuaikan desainnya dengan kondisi real di lapangan. “Arus lalu lintas di wilayah itu juga menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan, terutama untuk rekasaya arus lalu lintas ke depannya,” jelas dia

Kamis, 25 Februari 2016

Jalan Rusak dan Tergenang Air


FOTO AKondisi Underpass Kebocoran
PURWOKERTO – Kondisi underpass Kebocoron terus dikeluhkan masyarakat. Pasalnya kondisi jalan rusak dan selalu terjadi genangan air.
Salah satu warga, Nisa berharap segera ada tindak lanjut penanganan jalan di wilayah underpass Kebocoran. Menurutnya, jalan rusak dan kondisinya selalu tergenang air. “Setiap hari selalu ada genangan air. Bahkan kalau hujan, genangannya bisa sampai selutut orang dewasa. Saya berharap ada segera penanganan, karena itu merupakan akses umum yang biasa digunakan masyarakat untuk beraktivitas,” keluhnya
Untuk itu, underpass rencananya bakal dibeton. Hal itu dilakukan sebagai upaya penanganan kerusakan jalan yang selalu terjadi hampir setiap tahun.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Kabupaten Banyumas Irawadi mengatakan, sudah melakukan pemeliharaan jalan di kawasan tersebut. Namun untuk penanganan permanen terutama untuk mengantisipasi kerusakan jalan akibat genangan air, masih belum bisa dilakukan.
“Rencananya konstruksi jalan akan diganti dengan beton yang lebih resisten terhadap air. Sehingga ke depan jalan di underpass tidak cepat rusak,” katanya.
Tapi upaya penanganan jalan dengan menggunakan konstruksi beton belum bisa dilakukan. Pasalnya masih menunggu penguatan tebing yang akan dilakukan oleh Satker PT KAI.
Menurutnya, pasca longsor beberapa waktu lalu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan PT KAI untuk penanganan jalan. Dia menyebutkan, sudah ada pembagian tanggung jawab terhadap penanganan jalan di underpass Kebocoran.
“Penguatan tebing underpass perlu dilakukan terlebih dahulu, agar penanganan jalan dapat lebih maksimal,” katanya.
Berdasarkan pantauan Radarmas kemarin, ruas jalan masih dilakukan upaya pemeliharaan oleh Dinas SDABM. Untuk kondisi jalan di bawah perlintasan KA, masih tergenang air dan belum mendapat penanganan.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Manager Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto Surono mengaku pihaknya belum bisa memastikan penguatan tebing. Namun akan berupaya untuk berkoordinasi dengan Satker KAI, khususnya untuk pekerjaan penguatan tebing.
“Sepertinya belum dilakukan penguatan tebing. Nanti akan kita koordinasikan lagi dengan Satker saat rapat,” jelasnya. 

Jalur Ajibarang-Wangon & Aliran Air PDAM Mulai Normal


Jalur Ajibarang-Wangon Mulai Normal

28 Februari 2016 23:24 WIB Category: Suara Banyumas Dikunjungi: kali A+ / A-
MELINTAS:Sejumlah kendaraan bermuatan berat melintas dengan pelan di jalur Ajibarang-Wangon di Desa Windunegara Wangon yang sudah mulai rusak sejak Selasa (23/2) lalu.(suaramerdeka.com/ Susanto)
MELINTAS:Sejumlah kendaraan bermuatan berat melintas dengan pelan di jalur Ajibarang-Wangon di Desa Windunegara Wangon yang sudah mulai rusak sejak Selasa (23/2) lalu.(suaramerdeka.com/ Susanto)
BANYUMAS, suaramerdeka.com – Arus lalu lintas di jalur Ajibarang-Wangon khususnya untuk bus dan kendaraan bermuatan telah mulai normal sejak Jumat (27/2) malam. Sebelumnya, jalur tersebut mengalami perbaikan setelah separuh jalan tersebut longsor karena dipicu pecahnya pipa PDAM, Selasa (23/2) siang.
Agen Bus Rosalia Indah, Ajibarang, Eka Kurniawan mengatakan sejak Jumat(27/2) malam, bus dan kendaraan berat sudah mulai melintasi jalur Ajibarang Wangon. Sebelumnya, bus yang biasa melintas ke Yogyakarta melaui jalur tersebut, beralih ke arah Purwokerto sesuai dengan peringatan dari Polres Banyumas dan dinas terkait, pasca longsor sepekan silam.
“Yah sekarang sudah melintas melalui Wangon. Karena memang sudah bisa dilintasi oleh kendaraan bus. Namun demikian pihak kami tetap waspada dan hati-hati ketika melintas di jalur yang sempat longsor beberapa waktu lalu,” katanya.
Pengendara sepeda motor asal Cilongok, Agus Munandar mengatakan meski telah dilintasi oleh kendaraan berat dan bus. Namun pengguna jalan harus hati-hati di jalur Ajibarang Wangon terutama di lokasi longsor, Dusun Kepetek Desa Windunegara, Kecamatan Wangon. Pasalnya jalan nasional di lokasi tersebut banyak berlubang dan rusak. Untuk itulah kenyamanan dan keamanan berkendara juga sangat berkurang.


Aliran Air ke 4000 PDAM Kembali Normal

29 Februari 2016 Suara Banyumas 
DIKERUK:Sebuah alat berat terlihat bekerja mengeruk bagian jalan nasional Ajibarang di Desa Windunegara Wangon yang longsor pekan lalu.(suaramerdeka.com/ Susanto)
DIKERUK:Sebuah alat berat terlihat bekerja mengeruk bagian jalan nasional Ajibarang di Desa Windunegara Wangon yang longsor pekan lalu.(suaramerdeka.com/ Susanto)
BANYUMAS, suaramerdeka.com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma Banyumas Cabang Wangon Minggu-Senin (28-29/2) terus memperlancar aliran air ke 4000 pelanggan di wilayah Wangon dan Jatilawang. Sebelumnya, sejak pipa PDAM itu pecah di jalan nasional Dusun Kepetek Desa Windunegara Wangon pecah akibat lintasan kendaraan berat Selasa (23/2), aliran PDAM terpaksa dihentikan.
Dikonfirmasi Suara Merdeka, Senin (29/2) pagi, Kepala PDAM Cabang Wangon, Sasi menargetkan Senin (29/2) malam seluruh aliran air ke seluruh pelanggan PDAM normal. Hingga kemarin, tersisa aliran air di jaringan 50 pelanggan di Desa Tinggarjaya yang masih belum normal dan terus dalam perbaikan.
“Selain yang 50 pelanggan, aliran air PDAM ini sudah mulai normal sejak Minggu (28/2) lalu. Sementara itu penggantian pipa besi dan perbaikan jaringan di dekat lokasi longsor telah dirampungkan pada Jumat (26/2) lalu. Penanaman pipa kami juga sudah sesuai standar yaitu kedalaman satu setengah meter dari permukaan jalan,” jelasnya.










DILEBARKAN: Pasca diuruk dan ditimbun material, jalan longsor Ajibarang Wangon di Windunegara Wangon dilebarkan ke timur menggunakan dua alat berat kemarin. (suaramerdeka.com/Susanto)
25 Februari 2016, Suara Banyumas

Jalan nasional Ajibarang-Wangon tepatnya di Dusun Kepetek Desa Windunegara Kecamatan Wangon yang longsor Selasa (23/2) terus mendapatkan penanganan dari pemerintah. Selama proses perbaikan tersebut, hingga kemarin (24/2) arus lalu lintas di jalur tersebut belum sepenuhnya normal.
Antrean panjang kendaraan bermuatan berat, bus besar, truk dari arah Ajibarang maupun Wangon terlihat sepanjang hari kemarin. Mereka menunggu proses perbaikan jalan nasional itu hingga selesai dilaksanakan. Lokasi tanah longsor yang sore hari telah dikeruk, kemarin telah diuruk menggunakan pasir, split dan batu. Dua alat berat juga terlihat sibuk bekerja untuk melebarkan jalan di sebelah timur.
Pengawas pekerjaan dari Kementerian Pekerjaan Umum, Amanto di lokasi kejadian menyatakan, penanganan longsornya jalan ini telah dilaksanakan dengan mengeruk dan menguruknya kembali. Sementara penguatan talud jalan nasional termasuk yang berada di dekat lokasi kejadian juga terus dilaksanakan oleh para pekerja.
“Kerusakan segera diperbaiki dan untuk memperlancar arus lalu lintas kendaraan kami juga lebarkan jalan nasional di sebelah timur dengan mengeruk sebagian badan jalan. Hal ini dilaksanakan agar kendaraan dari dua arah bisa melintas,” katanya.
Kepala Dusun II Desa Windunegara, Simanuroto mengatakan, pasca longsornya jalan nasional akibat pipa PDAM yang pecah tak kuat menahan lintasan kendaraan berat itu, kondisi sebagian talud jalan nasional juga terancam longsor. Selain itu jalan desa yang berada di bawah jalan nasional menuju Dusun Kepetek juga rusak dan tak dapat dilintasi kendaraan mobil.
“Padahal di bawah jalan ini ada sekitar 20 rumah yang penghuninya memanfaatkan jalan satu-satunya jalan desa yang terkena dampak longsor ini. Kami berharap pemerintah bisa memberikan bantuan terhadap perbaikan jalan desa yang rusak ini. Apalagi jalan desa ini dulu tahun 2006 juga pernah dibangun dengan menggunakan dana PNPM,” katanya.

 Aliran Air ke 4000 Pelanggan PDAM Wangon Terhenti

 24 Februari 2016,  Suara Banyumas
Sejak pipa PDAM Banyumas di bawah permukaan tepi jalan nasional Ajibarang-Wangon tepatnya di Dusun Kepetek Desa Windunegara Kecamatan Wangon pecah dan membuat jalan setempat longsor Selasa (23/2) pukul 15.00, hingga hari ini, aliran air ke 4000 pelanggan PDAM wilayah Wangon terpaksa dihentikan.
Kepala Cabang PDAM Wangon, Sasi, mengatakan, penanganan pipa pecah segera dilaksanakan setelah proses penanganan jalan longsor selesai. Seluruh material termasuk pipa besi berukuran 10 inch sudah dipersiapkan PDAM untuk mengganti pipa yang pecah tersebut.
“Ditargetkan paling lambat besok (Kamis (25/2)) air sudah mengalir ke pelanggan. Syukur sore ini proses penggantian pipa yang rusak ini akan rampung sehingga tak perlu menunggu sampai besok, air sudah bisa mengalir lagi,” katanya.
Menurutnya lokasi jaringan pipa PDAM Cabang Wangon yang berasal dari wilayah Ajibarang memang sangat rentan terkena dampak bencana. Selain itu keramaian jalan dan banyaknya kendaraan bermuatan berat yang melintas di jalur Ajibarang Wangon yang juga sebagian menjadi jalur air PDAM juga sangat rawan longsor.
Untuk menangani kebutuhan pelanggan yang tidak terjangkau air, PDAM juga telah menyiapkan tangki air sehingga pelanggan yang membutuhkan air bisa mendapatkan kiriman air dari PDAM. Pihak PDAM yang telah menyosialisasikan permasalahan tersebut kepada 4000 pelanggannya juga meminta agar mereka memahami musibah tak terduga tersebut.

Rabu, 24 Februari 2016

jalan lingkar Ajibarang wangon

Masalah ke sekian kali . dan Saya mengusulkan pembangunan jalan lingkar Ajibarang wangon sebagai solusi . selama tidak dibangun jaringan jalan baru masalah mustahil tuntas . kalo bukan jalan Tol dalam jangka panjang harus ada jalan lingkar Ajibarang wangon dalam jangka pendek . kalo Tol Tegal cilacap dibangun sangat significant mengatasi masalah ini . jalan raya khusus kendaraabn domestik saja .



ini domain pusat Sebenarnya . tapi pemkab Banyumas harus cari cara dengan mengoptimalkan jalur yang jadi wewenangnya . nah ini yang belum terlihat . seharusnya melakukan pemetaan wilayah antara wangon dan Ajibarang . buat rencana dengan merancang jarak tempuh terdekat dan aman secara geologis . dari sini dibangun jalan lingkar . ini wewenang pemkab . sayang belum ada terobosan seperti ini . proyek pemkab baru sebatas pengaspalan jalan yang sudah ada .

detikNews
 Jalur Tengah Banyumas Ambles, Akses Menuju Yogyakarta Ditutup


Banyumas - Jalan nasional yang menghubungkan Jakarta arah Yogyakarta di Desa Windunegara, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, ambles setelah diguyur hujan. Peristiwa ini membuat kemacetan panjang di jalur tersebut.
Kepolisian dan dinas terkait melakukan penanganan awal dengan memadatkan sementara jalan agar kendaraan dapat melintas.
"Penanganannya langsung kita kerjakan, mengingat ini akses jalan nasional sehingga kita segera koordinasikan dengan pihak-pihak terkait sehingga malam ini kita kerjakan semua. Mudah-mudahan semua segera selesai dan lalu lintas berjalan normal kembali," kata Kapolsek Wangon, AKP Supriyanto Kepada detikcom di lokasi, Selasa (23/2/2016).
Belum diketahui waktu pengerjaan penanganan jalan ambles ini. Penanganan diharapkan berlangsung cepat.
"Yang penting jalan ini bisa dilewati dulu, untuk penanganan secara maksimal kemungkinan akan dilanjutkan besok pagi. Saat ini kita padatkan dan kita manfaatkan supaya arus lalu lintas bisa normal dulu," jelasnya.
Arus kendaraan dari arah Yogyakarta menuju Jakarta saat ini dialihkan melalui kota Purwokerto.
"Baik dari arah Jakarta mupun dari Bandung sementara kita alihkan dan jalan kita tutup sementara," ujarnya.
Dari pantauan detikcom, saat ini alat berat sedang melakukan pemadatan jalan untuk melancarkan arus lalu lintas yang terhambat amblesnya jalan. Sebagian kendaraan berat sudah dialihkan sementara kendaraan yang sudah terlanjur berada di lokasi harus menunggu hingga pemadatan jalan selesai.


Radar Banyumas
 Jalur nasional nasional Ajibarang-Wangon di Desa Windunegara Kecamatan Wangon terputus, Selasa (23/2) pukul 15.00. Jalan di titik tersebut ambles sampai kedalaman satu meter dengan panjang retakan sampai 65 meter.
Kepala Dusun II Desa Windunegara, Sumanuroto menuturkan, sebelum tanah ambles dan retak, ada mikrobus ukuran 3/4 macet di badan jalan. Sehingga diberlakukan sistem buka tutup bagi kendaraan dari Ajibarang dan Wangon.
Jalan yang dilalui kendaraan itu lalu diduga tidak kuat menahan beban setelah pipa PDAM yang berada di bawah jalan pecah.
“Akibatnya, air PDAM yang mengalir deras membuat jalan yang terus dilalui kendaraan tidak kuat dan lama kelamaan ambles. Air luapan dari pipa yang pecah meresap ke dalam tanah. Tanah sekitar lokasi kemudian ambles dengan retakan mencapai 65 meter dan kedalaman satu meter,”jelasnya.
Selain menimbulkan longsor jalan nasional hingga separuh, semburan air PDAM dari pipa yang pecah tersebut juga membanjiri pemukiman warga . Sekitar sembilan rumah ikut kebanjiran.
“Kami koordinasi dengan PDAM yang kemudian aliran air dimatikan. Dan warga sempat was-was karena airnya makin banyak dan dikhawatirkan akan menggenangi rumah. Sementara jalan masuk ke grumbul tersebut juga terputus, akses warga terganggu,”katanya.

Selasa, 23 Februari 2016

Serbuk Kayu “Disulap” Jadi Barang Kerajinan


foto a
SOMAGEDE-Limbah serbuk kayu yang biasanya terbuang, di tangan Doso Prio (50), warga Desa Somagede, Kecamatan Somagede, menjadi kerajinan yang memiliki daya jual.
Doso mengatakan, di Kecamatan Somagede, antara lain Desa Klinting, Desa Somagede, maupun Desa Kanding, banyak perajin stik es krim.
Dia merasa sayang melihat limbah serbuk kayu yang dibuang begitu saja oleh para perajin. Doso kemudian berinisiatif memanfaatkan limbah serbuk kayu untuk membuat berbagai macam kerajinan, antara lain topeng dan lukisan.
“Daripada dibuang, saya beli untuk membuat kerajinan. Saya memang suka memanfaatkan limbah untuk membuat barang yang punya nilai seni,” ujarnya.
Dia mengaku sengaja membuat berbagai kerajinan yang ramah lingkungan. Dia membuat berbagai macam karakter topeng seperti tokoh pewayangan, punakawan, atau topeng pentul untuk keperluan kesenian kuda kepang atau ebeg.
Dia mulai memanfaatkan limbah serbuk kayu untuk membuat topeng sejak dimintai pertolongan membuat topeng dengan bahan limbah untuk dikenakan penari Jawa Tengah dalam lomba tari di Jawa Timur.
Sebelumnya, dia sudah memanfaatkan limbah serbuk kayu untuk membuat lukisan. Serbuk kayu direkatkan pada kain, kemudian dia lukis. Warna yang dia gunakan untuk melukispun menggunakan bahan-bahan alami ataupun barang bekas. Dia menggunakan kunyit, enjet (biasanya untuk nginang wanita lanjut usia), bahkan menggunakan limbah batu baterai. “Saya lebih suka yang alami maupun barang bekas yang tidak terpakai. Bisa irit cat juga,” ujarnya.
Topeng yang berasal dari limbah serbuk kayu itu dia jual dengan harga Rp 125 ribu. Sedangkan harga lukisan tertinggi yang dia jual Rp 50 juta. “Saya membuat berdasarkan pesanan. Yang beli kebanyakan sesama seniman, yang nantinya untuk dijual lagi,” ungkapnya.
Karena keprihatinannya terhadap lingkungan dengan banyaknya sampah plastik, dia pun membuat daun yang berasal dari tutup botol. Namun pembelinya tak sebanyak pembeli topeng atau lukisan.Menurut dia, di Banyumas apresiasi terhadap seni masih kurang.

Dia berharap pemerintah lebih serius dan mendukung kegiatan ekonomi kreatif. Menurut Doso, seniman Banyumas itu banyak. Namun pemasaran kerajinan masih sulit sehingga banyak yang tidak semangat dan tidak bertahan. “Sejak krisis moneter penjualan kerajinan yang saya buat semakin sepi. Perajin yang membuat masih kalah pembeli. Sebab, mereka menjual lagi ke orang lain dengan harga yang jauh lebih tinggi,” imbuhnya.

Senin, 22 Februari 2016

Jam Operasional PKL Kota Ajibarang Diatur


20 Februari 2016 ,Suara Banyumas


Jam operasional Pedagang Kaki Lima (PKL) Kota Ajibarang diatur secara bergantian. Selain itu mereka juga mendapatkan sosialisasi tentang aturan PKL beserta hak ruang publik.
Kasi Trantibum Kecamatan Ajibarang, Surono mengatakan ada lima zonasi PKL di wilayah Kota Ajibarang. Dari lima zonasi tersebut turut pula diatur jam operasional berdagang mereka. Hal ini dilaksanakan untuk ketentraman dan ketertiban lingkungan dan masyarakat.
“Zonasi itu antara lain dari lampu lalu lintas Simpang Tiga Ajibarang ke barat, ke timur, ke selatan, jalan lingkar Ajibarang dan Taman Kota Ajibarang. Radius PKL yang diperbolehkan untuk berdagang dari lampu lalu lintas adalah minimal 50 meter,” jelasnya dalam sosialisasi kepada PKL Ajibarang di Pendapa Kecamatan Ajibarang.
Surono juga menegaskan PKL diminta menaati apa yang menjadi aturan daerah Kabupaten Banyumas, khususnya larangan penggunaan jalur ruang publik untuk PKL. PKL juga diminta untuk tidak membangun lapak atau tempat berdagang secara permanen. Pasalnya PKL bukanlah pedagang yang menetap selama 24 jam lebih.
“Untuk jam operasionalnya sudah disepakati oleh para pedagang. Jadi mereka tidak ada yang berdagang lebih dari 20 jam. Dengan adanya pergantian jam inilah, diharapkan ruang publik bisa digunakan sebagaimana mestinya,” katanya.
Untuk diketahui, data sementara jumlah PKL di Kota Ajibarang ada sekitar 150 pedagang. Sebagian besar PKL yang berdagang di jalan protokol Ajibarang mulai dari arah Ajibarang-Purwokerto, Ajibarang-Bumiayu, Ajibarang-Wangon, Jalan Lingkar dan Taman Kota Ajibarang merupakan pedagang kuliner.
Salah satu PKL Taman Kota Ajibarang, Agus Setiawan mengatakan siap mengikuti jam dan aturan yang telah disosialisasikan tersebut. Ia juga berharap para pedagang lainnya dapat turut serta mengikuti peraturan perundangan daerah yang berlaku tersebut. Apalagi kesepakatan tentang jam operasional dan juga aturan tersebut bertujuan untuk menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat tersebut.

Tapak Bima Karanggintung Tak Terawat


20 February 2016 | radar Banyumas

Pernah Dilewati Sunan Kalijaga

KEMRANJEN-Tapak Bima yang berada di Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen, sempat tak terawat dan mengalami pendangkalan sehingga jarang dikunjungi. Padahal, tempat tersebut dulunya merupakan lokasi yang banyak dikunjungi dan bisa memunculkan potensi wisata.
Kadus II Desa Karanggintung, Hendri Purwanto mengatakan, Tapak Bima di Desa Karanggintung memiliki cerita sejarah yang berkembang di masyarakat.
Dia menjelaskan, pada zaman dahulu ada Sunan Kalijaga yang lewat, kemudian Mbah Mangut memberi karang di lokasi tersebut, sehingga menjadi gintung atau danau. “Jadilah Karanggintung. Kalau yang saya ketahui dari profil desa seperti itu. Tapak Bima itu banyak airnya,” jelasnya.
Tempat itu dinamakan Tapak Bima karena bentuknya kaki besar. Dalam pewayangan yang besar itu adalah Bima. Sumber mata air yang di sini penuh terus,” ujarnya.
Menurut Hendri, saat ini Tapak Bima dalam tahap renovasi. Dia berharap, di samping untuk tampungan air yang dimanfaatkan warga juga ada sisi wisatanya.
Suatu saat nanti Tapak Bima bisa menjadi lokasi wisata baru di desanya selain Curug Gemawang yang ada di perbatasan Kemawi. Sebab, banyak warga di desa yang memilih menghabiskan waktu liburnya di daerah perkotaan. Selain itu juga bisa menambah Pendapatan Asli Desa (PAD)
Dia menambahkan, Tapak Bima direnovasi dengan anggaran dari Kabupaten. “PSDA Semarang juga kabarnya akan menyalurkan dana, tapi belum goal. Kalau ada bebek-bebekan di Tapak Bima mungkin akan lebih menarik,” imbuhnya.


Warga Wangon Minta Penanganan Sampah Dimaksimalkan

Warga Wangon Minta Penanganan Sampah Dimaksimalkan
21 Februari 2016,  Suara Banyumas 


Warga Kecamatan Wangon berharap Pemkab Banyumas dapat menangani masalah sampah di wilayah Banyumas bagian selatan tersebut secara maksimal. Pasalnya dengan adanya tempat penampungan sampah di tepi jalan, sejumlah titik kota Kecamatan Wangon terlihat kumuh.
Warga Wangon bernama Fitri (30) mengaku, sangat tergangu dengan adanya pemandangan tumpukan sampah ini yang sering ia temui di tepi jalan. Padahal sebagai gerbang masuk wilayah Banyumas di jalur selatan, Wangon harusnya lebih tertata, rapi dan bersih.
“Kami juga sudah mengajukan ke pihak kecamatan dan petugas pemunut sampah agar jangan sampai ada tempat sampah di tepi jalan, namun sampai saat ini, permintaan masyarakat belum juga dipenuhi. Kami juga rutin membayar retribusi sampah tiap bulan,” katanya.
Warga lainnya Trisno mengaku prihatin jika di saat Peringatan Hari Sampah Nasional, Minggu (21/2) kemarin, pemandangan sampah yang belumt terangkut terlihat di sejumlah titik kota Kecamatan Wangon. Salah satu tumpukan sampah terbanyak, berada diutara Perempatan Wangon. Selain itu wilayah barat dan selatan perempatan Wangon juga kerap menjadi tempat pembuangan sampah.
Trisno berharap agar Pemkab Banyumas dua tahun terakhir mendapatkan penghargaan Adipura dapat memperhatikan hal ini. Jangan sampai permasalahan sampah ini berlarut-larut.
“Kami berharap segera ada penanganan terkait hal ini. Jangan sampai kota Wangon terkesan kumuh dan kotor,” katanya.
Kepala Unit Kebersihan dan Pertamanan (UKP) Ajibarang, Catur Hari Susilo membenarkan jika penanganan permasalahan sampah di Kecamatan Wangon belum bisa maksimal. Pasalnya hingga saat ini pengadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang menetap dan representatif sulit direalisasikan karena sering menghadapi penolakan dari warga.
Padahal kata Catur, sesuai dengan manajemen pengelolaan sampah, keberadaan TPS sangat penting. Idealnya memang sampah dari jalan protokol hingga rumah tangga itu diambil dan ditampung dulu di TPS. Baru selanjutnya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir.
“Untuk itulah kami berharap agar kondisi ini tidak terus menerus terjadi. Kami harap masyarakat bisa menyadari kalau permasalahan penanganan sampah adalah tanggungjawab bersama. Makanya idealnya satu desa ada satu TPS sehingga sebelum diangkut ke TPA, bisa tertangani dulu,” katanya.
Catur mengatakan selain di wilayah kecamatan lainnya, volume sampah dari Kota Wangon setiap hari rata-rata berjumlah 80 meter kubik. Sementara itu, TPS sementara yang ada tak pernah lama menetap, karena ada penolakan dari warga sekitarnya.
“Dulu TPS ada wilayah luar terminal Wangon, bagian dalam Pasar Wangon, dekat perempatan Wangon dan tanah eks Kantor Kecamatan Wangon. Kemudian setelah pindah itu kembali lagi ke terminal Wangon. Namun ada yang keberatan kembali jika sampah rumah tangga dimasukan ke situ,” jelasnya.

Pengembangan Bandara Wirasaba Dibangun Mulai Akhir 2016


Rp 250 Miliar untuk Dukung Akses Jalan ke Wirasaba

21 Februari 2016, Suara Banyumas


suaramerdeka.com – Untuk mendukung peningkatan akses jalan menuju Bandara Wirasaba Purbalingga,dari wilayah Kabupaten Banyumas, pemkab setempat akan menyiapkan anggaran antara Rp 200 miliar sampai Rp 250 miliar.
Dukungan anggaran tersebut diberikan menyusul persetujuan Lanud Wirasaba dikembangkan menjadi bandara komersial dari Kementerian Perhubungan.
Rencana dukungan anggaran dan kebijakan tersebut diungkapkan Bupati Achmad Husein saat pertemuan dengan Wakil Gubernur Heru Sujatmoko bersama Bupati Purbalingga Tasdi serta sejumlah instansi lain di Sokaraja.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub memaparkan rancangan pembangunan Bandara Wirasaba dan peninjauan lokasi. Husein mengatakan, dukungan pendanaan tersebut akan dialokasikan dari APBD perubahan tahun 2016 dan APBD induk tahun 2017. Termasuk dukungan anggaran bantuan provinsi maupun pusat.
“Dana tersebut akan digunakan untuk pembebasan tanah milik warga dan pembangunan jalan menuju Bandara Wirasaba dari Banyumas melalui jalur jembatan Linggamas, ” kata Bupati, Minggu (21/2).
Menurutnya, pembebasan tanah milik warga dan pembangunan jalan akan dimulai dari Desa Petir, Pejerukan Kecamatan Kalibagor hingga Desa Sokaraja Kidul, Kecamatan Sokaraja. Rencananya pembebasan tanah akan dimulai tahun 2016.
“Kepada Pak Wagub saya juga sampaikan permohonan agar provinsi bisa membantu anggaran pembangunan, karena kalau mengandalkan dari APBD kabupaten terbatas, apalagi tahun 2017 kita juga harus menyaiapkan anggaran untuk Pilkada 2018,” katanya.
Menanggapi pernyataan Bupati Banyumas, Wagub Heru Sujatmoko menyatakan, menyatakan, pihak provinsi siap untuk memberikan dukungan. Rencana usulan kegiatan anggarannya diminta untuk segera dipaparkan dan dikirimkan ke provinsi dan dia minta diberikan tembusan.
“Kami siap membantu Pemkab Banyumas untuk peningkatan pembangunan, terutama akses menuju Bandara Wirasaba,” katanya.
Terkait pembangunan bandara, Heru mengatakan, akhir tahun 2016 atau maksimal awal tahun 2017, pelaksanaan pembangunan sudah dimulai. Pihaknya telah menugasi Dinhubkominfo provinsi dan Pemkab Purbalingga untuk segera menetapkan waktunya sehingga sehingga pembangunan bandara cepat terlaksana.
Menurutnya, pembangunan bandara dengan landasan atau run way sekitar 1.500 meter, menggunakan tanah milik TNI Angkatan Udara. Pemprov Jateng juga akan berkondinasi secara inten ke Kemenhub untuk ikut membantu mengucurkan dana.
“Kalau ada bandara di sini, maka pertumbuhan ekonomi di Jateng yang selama ini tertinggal dari Jabar dan Jatim bisa segera meningkat, Untuk pertumbuhan ekonomi Jateng selatan bagian barat paling tertinggal. Maka diharapkan dengan adanya Bandara Wirasaba akan cepat berkembang dan meningkat,” katanya.

Asal mula Purwokerto

 Sebelum membahas sejak kapan kota Purwokerto dibangun marilah kita membaca sebuah berita yang sempat heboh tentang rencana pembongkaran situs makam pendiri Purwokerto di hotel Mulia .


Mbah Purwokarta merupakan salah satu pendiri dan penyebar Agama Islam pertama di Purwokerto.




 Merdeka.com - Galian tanah itu masih terlihat jelas. Bongkahan tanah kering menutup liang lahat yang terkesan tak rapi itu. Dari lima makam di kawasan itu, kini terlihat hanya ada dua makam.

"Kami tidak rela makam yang dikeramatkan ini dibongkar," kata Imam Wahyono (30) salah satu pemuda Kelurahan Purwokerto Kulon, Banyumas, Kamis (20/9).
Siang itu, puluhan warga Purwokerto Kulon menggelar aksi penolakan pembongkaran makam Mbah Purwokarta. Makam yang terletak di belakang Hotel Mulia itu, dibongkar untuk keperluan perluasan hotel.
Mereka percaya, Mbah Purwokarta merupakan salah satu pendiri kota yang terkenal dengan mendoannya itu. Dia dulu merupakan penyebar Agama Islam pertama di Purwokerto. Letak makam yang berada di sekitar Pasar Wage meneguhkan penjelasan itu. Pasar Wage sendiri dulunya merupakan pusat perdagangan Banyumas sebelum era penjajahan Belanda.
Sementara Hotel Mulia, merupakan hotel yang pertama kali didirikan di Purwokerto. Hotel itu didirikan tahun 1921 dan hingga kini masih berdiri kokoh.
Untuk mencapai makam Mbah Purwokarta, peziarah harus melewati halaman depan Hotel Mulia. Hotel ini dikelilingi pagar sehingga peziarah tak bisa masuk tanpa seizin pengurus hotel.
Dartum, ketua rukun tetangga setempat mengatakan, setiap malam Jumat Kliwon dan hari besar agama, makam tersebut banyak dikunjungi oleh masyarakat baik lokal maupun dari luar kota. "Sebagai pendiri kota, kami tak ingin jejaknya terhapuskan," kata dia.
Dia mengatakan, sebelum pembongkaran, pengurus hotel belum meminta izin secara resmi ke pengurus RT. Dia sendiri menyayangkan, pemerintah setempat tak melindungi makam yang sudah ada sejak jaman Belanda itu.
Kuasa hukum Hotel Mulia, Fadoli mengatakan, dia saat ini sedang menelusuri ahli waris pemilik makam itu. "Sertifikatnya saja belum jelas," katanya.
Dia mengatakan, sudah meminta izin pembongkaran ke RT setempat. Selain itu, rencananya makam tersebut juga akan dipindah sesuai dengan permintaan warga. "Akan kami buatkan yang lebih bagus dan sesuai permintaan warga setempat," kata dia.
Lurah Purwokerto Kulon, Agus Puji Santoso tak banyak berkomentar soal masalah itu. "Akan kami mediasikan dulu, bagaimana duduk masalah yang sebenarnya," katanya.


Di sini kita tahu pendiri kota Purwokerto sekaligus berperan sebagai penyebar Agama islam di kawasan ini . mendapat julukan Mbah Purwokarta . Siapa itu Mbah Purwokarta ? ada kesesuaian info antara Kyai kartisara sebagai pendiri Desa Paguwan dengan istilah Mbah Purwakerta sebagai penyebar Agama Islam sekaligus mengusulkan nama Purwakerta . Mari Kita telusuri jejak pada tahun 1742 saat terjadi geger pecinan di kraton kartasura .

Ketiga, geger Pacinan, 1742. Buntut penbantaian Tionghoa di Batavia pada 1740. Keraton ditusuk dari belakang oleh Tionghoa yang menganggap Sunan Pakubuwono II (cucu Pakubuwono I) tidak ikut mengecam aksi genosida Tionghoa di Batavia. `Ketika terjadi pemberontakan Cina yang sering discbut geger Pacinan, banyak pembesar Kraton Kartasura lari meninggalkan kraton. Sebagian lari ke arah timur. Konon Sunan Pakubuwono termasuk yang lari ke arah timur.

 Sebagian lagi lari ke arah barat, mencari keselamatan masing-masing. Untuk mencari tempat yang aman, para pengungsi sebagian lari terus ke arah barat. Sekitar dua puluh lima orang telah sampai di daerah Banyumas. Keadaannya waktu itu masih hutan rimba. Merasa sudah sampai daerah yang dianggap aman mereka mulai membabat hutan. Tempat itu dijadikan pekarangan dan ladang serta perkebunan. Rumah-rumah pun dibuat secara gotong royong untuk tempat tinggal mereka. Daerah yang tadinya hutan, banyak dihuni binatang liar dan mahluk-mahluk halus serta menyeramkan, kini menjadi suatu desa yang aman dan makmur. disamping pertanian, sebagian juga ada yang memiliki keahlian lain dagang, pertukangan dan ada yang pandai dalam ilmu kekebalan ataupun ilmu gaib.


Di antara mereka yang dianggap mempunyai ngelmu bernama Kyai Kartisara. Kyai Kartisara sangat disegani dan dihormati orang-orang di tempat itu. Karena itu dia dianggap sebagai "sesepuh"nya. Lama-kelamaan daerah pinggiran gunung Slamet bagian selatan yang tadinya hutan itu menjadi suatu desa yang aman. Namun desa itu belum mempunyai nama. Karena itu Kyai Kartisara mengusulkan agar desa itu diberi nama Purwakerta. Purwa artinya awal mula; Kerta artinya aman atau damai. Jadi Purwakerta artinya awal mula yang damai. Nama itu disepakati oleh semua penduduknya. Rumah-rumah bertambah, hutan-hutan pun banyak berubah, banyak ladang dan sawah. Banyak orang-orang dari kampung lain yang singgah, ada juga yang pindah. Sehingga desa itu semakin ramai dan indah. Kyai Kartisara mempunyai seorang putera bernama Kendang Gumulung. Kendang Gumulung juga menuruni bakat ayahnya. Sehingga, setelah Kyai Kartisara meninggal dia menggantikan kedudukan sang ayah. Kemudian Kendang Gumulung yang me¬miliki ilmu kesaktian seperti ayahnya berpindah tempat. Di tempat ini pun banyak orang yang berguru padanya. Orang-orang yang mau belajar atau berguru ke tempat tinggal Kendang Gumulung me¬nyebutnya kepeguron. Peguron artinya tempat berguru. Dari kata Peguron lama kelamaan menjadi Peguwon. Di kemudian hari tempat ini disebut orang desa Peguwon. Setelah meninggal Kendang Gemulung dimakamkan di desa peguwon. Hingga kini orang menyebutnya makan kyai Kendang Gemulung.

secara kronologis pindah nya pusat pemerintahan yaitu antara kali Logawa dan kali Banjaran


secara wilayah pusat pemerintahan Pasirluhur berada di barat kali Banjaran . Desa Paguwan cikal bakal Kota Purwokerto berpusat di antara kali Banjaran dan kali Kranji Semuanya merupakan anak kali Serayu . Banyumas di selatan kali Serayu .

 Maka Purwokerto secara sah merupakan pengembangan dari Desa Paguwan yang mulai dibangun sekitar tahun 1742 setelah era geger pecinan kraton kartasura .


 Kota Purwakerta (Poerwokerto) info dari http://www.banjoemas.com/
Poerwakerta atau Purwakerta; "Purwa" yang konon diambil dari nama sebuah negara kuna di tepan sungai Serayu "Purwacarita" bermakna "permulaan" dan "Kerta" yang diambil dari nama ibukota kadipaten "Pasir" yaitu "Pasirkertawibawa" yang dalam bahasa Jawa-Kawi bermakna "kesejahteraan" atau lengkapnya menjadi "Permulaan kesejahetraan".

Purwakerta merupakan kota kecil dibandingkan dengan Sokaraja atau Ajibarang, bahkan ketika pada tahun 1831 saat pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan dengan membagi-bagi daerah kota Purwakerta hanya dijadikan ibukota Distrik dibawah Kabupaten Ajibarang. Walaupun kemudian pada tahun 1836 kota Ajibarang terkena musibah angin puting beliung selama 40 hari 40 malam yang akhirnya atas persetujuan Residen Banyumas pusat kota kabupaten Ajibarang di pindah ke desa Paguwan (Paguhan) yaitu desa sebelah barat ibukota distrik Purwakerta oleh bupati Raden Tumenggung Bartadimeja yang bergelar Raden Adipati Mertadireja II dan Asisten Residen Werkevisser. Seperti kota-kota lain yang di bangun oleh , biasanya dibangun di lahan baru yang tidak jauh dari kota asalnya.

Desa Paguwan berada di sebelah barat sungai kranji dan kota Purwakerta, di sebelah timur sungai Banjaran di sebelah utara Pereng (tebing) sungai Kranji. Dan pendopo kabupaten dibangun di atas sendang yang sangat jernih airnya  yang dulu merupakan tempat mandi para santri di pondok pesantren Pekih di Paguwan. Sedangkan rumah Asisten Residen Purwakerta berada di Bantarsoka (Tebing sungai Banjaran) dan kantor landkas berada di sebelah timurnya.




    Taman Kranji Terganjal Lahan


    19 February 2016 |Purwokerto

    Pemprov Minta Tukar Guling


    PURWOKERTO – Pembangunan Taman Edukasi Sumber Daya Air (TESDA) Sungai Kranji masih diupayakan Pemkab Banyumas. Tahun 2016, Pemkab Banyumas menargetkan pembangunan fisik. Terkait hal itu, dalam waktu dekat rencananya akan ada pembahasan antara Pemprov Jawa Tengah dengan Pemkab Banyumas, terutama berkaitan dengan pemanfaatan lahan akan dijadikan lokasi taman.
    Seperti diketahui, status lahan yang akan digunakan saat ini masih milik atau aset Pemprov Jawa Tengah, sehingga perlu dilakukan koordinasi terkait administrasi pemanfaatan lahan tersebut.
    Sekretaris Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) Kabupaten Banyumas Ariono menjelaskan berdasarkan koordinasi yang dilakukan, pihak pemprov menghendaki adanya penggantian lahan dengan lahan yang lain.
    “Minggu depan tim dari provinsi akan ke Banyumas untuk meninjau alternatif lahan penggantinya. Saat ini sudah ada pendataan aset dari pemkab,” katanya.
    Terkait pembangunan taman, Ariono menargetkan pembangunan fisik taman dapat dilakukan tahun ini. Oleh karena itu, administrasi lahan yang akan digunakan harus segera diselesaikan.
    “Harapannya pembangunan bisa direalisasikan dan bisa diselesaikan sekaligus pada tahun ini,” ujarnya.
    Seperti diketahui, realisasi taman edukasi sumber daya air yang rencananya akan dibangun di bantaran Sungai Kranji tertunda hingga awal tahun 2016. Menurut Kepala Dinas SDABM Kabupaten Banyumas Irawadi, pihaknya sudah menandatangani MoU dengan pemerintah provinsi. Namun untuk penggunaan tanah milik pemerintah provinsi, ternyata tidak cukup hanya dengan MoU. Tetapi harus ditindaklanjuti dengan permohonan pinjam pakai atau permohonan pelepasan hak.
    Meski demikian, dia\\\\\\\\\\ menegaskan secara perencanaan baik desain maupun konstruksi, diakui sudah selesai. Irawadi menambahkan, seharusnya realisasi taman edukasi sumber daya air tersebut bisa dilaksanakan pada tahun 2015. Namun karena adanya kendala lahan, pihaknya terpaksa mengundur realisasi kontruksi pembangunan taman tersebut.
    “Namun kita juga harus menunggu keputusan dari pemerintah provinsi terkait penggunaan lahan di Sungai Kranji. Kalau memang disetujui pembangunan bisa segera dilakukan, namun bila tidak disetujui nanti kita akan coba usulkan permohonan pinjam pakai tanah kepada pemerintah provinsi,” jelasnya.
    Diberitakan sebelumnya, untuk pembangunan taman edukasi dialokasikan anggaran sekitar Rp 1 miliar. Berdasarkan perencanaan dan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan Balai Besar Serayu Opak (BBSO) tahun lalu, Pemkab Banyumas hanya akan fokus pada pembangunan taman

    22 Kecamatan Belum Layak Anak


    20 February 2016 | RADARMAS
     LAYAK ANAK : Mayoritas kecamatan yang ada di Kabupaten Banyumas belum layak anak
    PURWOKERTO – Dari 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas, ternyata 22 kecamatan belum menjadi kecamatan layak anak.
    Kepala Sub Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan Dan Anak (PKHPA) Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (Bapermas PKB) Kabupaten Banyumas Sukmawati SE mengatakan, baru lima kecamatan yang sudah menjadi kecamatan layak anak. Yakni Kecamatan Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, Purwokerto Timur, Purwokerto Selatan, dan Karanglewas.
    “Kecamatan layak anak memang baru dilaunching pada 2013. Tahun ini kita akan memfasilitasi Kecamatan Sokaraja, Kembaran dan Banyumas untuk menjadi kecamatan layak anak. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, untuk mewujudkan Kabupaten Banyumas sebagai kabupaten layak anak,” katanya.
    Dituturkan, suatu wilayah disebut menjadi kecamatan layak anak bila hak-hak anak akan terpenuhi. Secara psikis anak tidak akan lagi mengalami ketidakadilan. “Targetnya di tahun 2017, Banyumas sudah menjadi kabupaten layak anak,” ujarnya.
    Sukmawati menambahkan, berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/ Kota Layak Anak, terdapat 31 indikator kabupaten dapat dikatakan sebagai kabupaten layak anak.
    “Untuk dapat memenuhi semua indikator, semua SKPD harus terlibat. Tidak mungkin jika Bapermas PKB hanya bergerak sendirian. Kita juga sudah membentuk kelompok kerja tetap gerakan sayang ibu dan bayi yang diketuai langsung oleh Wakil Bupati Banyumas,” terangnya

    Jumat, 19 Februari 2016

    HUT Banyumas,KIRAB BOYONGAN REPLIKA SAKA SIPANJI


    peringatan HUT Banyumas 
    perpindahan ibukota kabupaten . diperagakan dengan mobil jadul . 
    peragaan pemda pemindahan replika Saka Guru pendapa Sipanji . salah satu tidak boleh lewat atau nyeberang serayu 

    credit to Jaka Jack









    Humas Kabupaten Banyumas

    PERTAMA DIGELAR, KIRAB BOYONGAN REPLIKA SAKA SIPANJI
    Banyumas : Prosesi Kirab Boyongan Replika Saka Sipanji, dari Pendopo Kecamatan Banyumas menuju Pendopo Sipanji Purwokerto, yang berlangsung Kamis (18/2) berlangsung menarik. Semua peraga memakai pakaian adat jawa banyumasan, dari subamanggala, bregada pembawa saka dan peraga lain termasuk Bupati Banyumas beserta istri.
    Keunikan juga terlihat dengan terlibatnya puluhan mobil antik yang dikoordinir Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Korwil Banyumas.
    Prosesi pelepasan dilaksanakan di halaman Pendopo Kantor Kecamatan Banyumas, oleh Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein. Sebelumnya subamanggala yang diperankan oleh AKP Isfa Indarto, Waka Kabagops Polres Banyumas, melaporkan kesiapan memberangkatan boyongan.
    Bupati berpesan agar boyongan saka pendapa, salah satu saka “Sipanji” dilarang melalui Sungai Serayu dan setelah selesai pendirian pendapa agar segera ditanggapkan lengger.
    Selanjutnya pemberangkatan oleh bregada memikul tiga saka, diilustrasikan bahwa saka “Sipanji” sudah berangkat duluan tidak menyebrangi sungai serayu, sehingga saka yang dibawa dari Banyumas hanya tiga saka.
    Selain pembawa bregada juga ada gadis pembawa klasa (tikar) dan bantal, serta pembawa lampu teplok dan sapu lidi sebagai syarat pindahan tradisi orang Jawa.
    Sesampainya di alun-alun dan pendopo Purwokerto, “saka sipanji” bertemu dan dipasang sebagai saka guru yang bertempat di posisi barat daya Pendopo Sipanji Purwokerto sekarang.
    Prosesi pemasangan saka guru, diawali laporan subamanggala bahwasanya bregada pembawa saka, semua telah tiba, selanjutnya dilaksanakan prosesi pemasangan.
    Usai pemasangan, Istri Bupati Ny Erna Husein menerima tikar, bantal serta lampu yang selanjutnya digelar ditengah-tengah pendopo, untuk tempat selamatan/tumpengan.
    Sesuai pesan Bupati saat pemberangkatan, setelah selesai pemasangan saka (pembangunan Pendapa Sipanji) dilaksanakan pagelaran lengger
    Menggunakan Mobil Antik.
    Keunikan dan kemeriahnya prosesi boyongan terlihat dengan hadirnya mobil antik dan kuno yang dinaiki oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan anggota Forkompinda lainya.
    Sugoto Ketua PPMKI Korwil Banyumas, mengatakan hampir 40 mobil kuno dikerahkan. “Ada mobil buatan tahun 1938 yang ikut, untuk mobil pembawa manggalayuda yang berada paling depan adalah Ford buatan tahun 1948.
    Sedangkan mobil yang dinaiki oleh Bupati Banyumas Ir Achmad Husein beserta Istri adalah Mobil Impala buatan Tahun 1962 milik Teguh Warga Karangjambu Purwokerto Utara.
    “Demikian halnya mobil yang dinaiki Wakil Bupati dr Budhi Setiawan beserta istri, sama-sama buatan tahun 1962 tetapi merknya Ford Galaxy” jelas Sugoto