Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 20 September 2017

Konsep Penataan PKL Dalam Perda RDTRK

PKL Menjamur, Selter Terbatas

  • Tersebar di Jalan Kota

 Pedagang kaki lima (PKL) di Banyumas makin menjamur. Berdasarkan pendataan terakhir pada awal 2017 ini, tercatat sedikitnya 2.071 PKL, di mana lebih dari 1.500 PKL berada di wilayah perkotaan. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, PKL tersebar di sejumlah jalan di wilayah perkotaan.
Antara lain di Jalan Jenderal Soedirman, tepatnya di depan SMP 1 Purwokerto, Jalan Kombas, Jalan S Parman, Jalan dr Suharso dan Jalan HR Bunyamin dan jalan-jalan lainnya. Kabid Pasar dan PKL Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Banyumas, Rojingun yang didampingi Kasi Penataan PKL, Sarikin, mengatakan peningkatan jumlah PKL setiap tahunnya rata-rata sebanyak 5 persen.
”Setiap tahun jumlah PKL terus mengalami peningkatan, yang namanya PKL merupakan usaha perseorangan, kita tidak bisa membatasi jumlahnya. Tugas kami adalah melakukan pembinaan dan pengawasan, idealnya seluruh jalan bersih dari PKL,” katanya, kemarin.
Dia mengatakan secara bertahap akan membangun selter PKL untuk menambah jumlah selter yang sudah ada. Namun diakui, penambahan selter PKL yang akan dilakukan tidak akan mampu menampung seluruh PKL yang ada di wilayah perkotaan.
Menurut rencana pemkab akan membangun selter PKL di sekitar GOR Satria Purwokerto, Pasar Situmpur, kemudian di sebuah lahan di Purwokerto Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat dan di kompleks lapangan Rejasari, Purwokerto Barat. ”DED-nya sudah ada, tahun depan untuk selter PKL GOR akan mulai dibangun secara bertahap. Selter PKL GOR bisa menampung sekitar 50 pedagang, di Purwokerto Kidul dan Rejasari sekitar 25, kemudian Pasar Situmpur untuk menampung PKL di situ dan di sekitar S Parman,” jelas dia.
Pembangunan selter PKL, kata dia, akan dilakukan secara bertahap karena memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pembangunan akan menyesuaikan dengan kemampaun anggaran yang dimilik pemkab. Dia mengusulkan untuk mengendalikan pertumbuhan PKL, ke depan perlu adanya revisi Peraturan Bupati (Perbup) No 14 Tahun 2011 tentang Lokasi, Waktu, Ukuran, Bentuk Sarana, dan Tatacara Permohonan Surat Penempatan PKL. ”Peraturan perlu diubah, ketika ada selter PKL harus dilarang.
Misalnya jalan mana yang diperbolehkan dan dilarang untuk berjualan PKL, karena tidak mungkin semua PKLyang ada tertampung di selter yang kami sediakan,” ujar dia. Sementara itu, Kasi Pengedalian dan Operasi Satpol PP Banyumas, Kasmo, mengatakan tengah menggencarkan operasi penertiban PKL di sejumlah titik. Anggota Satpol PP menyita barang atau perlengkapan berjualan mereka.
”Dalam minggu ini kami menyasar PKL di sejumlah lokasi. Kami telah menyita beberapa dagangan mereka. Mereka kami minta mengambilnya di kantor dan membuat surat pernyataan tidak akan berjualan di lokasi tersebut,” kata dia. Dia mengatakan apabila pedagang kedapatan berjualan kembali di lokasi yang sama, pihaknya akan menyita barang dagangannya.
Pedagang juga terancam sanksi pidana dengan ancaman hukuman penjara tiga bulan dan denda Rp 3 juta. ”Setelah ini kami akan lakukan patroli rutin setiap hari. Kalau masih berjualan di tempat yang sama kami akan menyita barangnya. Sejauh ini kami belum mengenakan pidana kepada para PKLdengan p e r t i m b a n g a n kemanusiaan,” ujar dia.

Perlu Perencanaan Matang

RENCANA penataan PKL memerlukan konsep yang matang. Konsep penataan PKL harus dimasukkan dalam rencana peraturan daerah (Raperda) tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Wilayah Perkotaan Purwokerto. Menurut Pengamat Tata Kota, Sunardi, pertumbuhan PKL dapat diprediksi hingga 10 tahun ke depan. Jumlah itu sebagai dasar perhitungan untuk menentukan jumlah lahan yang diperlukan untuk menampung para PKL.
”Pertumbuhan PKL sudah bisa dihitung, diprediksi 10 tahun ke depan, ada berapa PKL. Sehingga nanti ada prioritas jumlah selter PKL yang diperlukan ada berapa. Nanti bisa dimasukkan di rencana tata kota,” kata dia. ”Dalam pembahasan RDTRK kemarin kelihatannya belum sampai ke situ, saya pribadi belum melihat.
Dengan dimasukkan ke dalam perda nanti bisa ditentukan lokasi-lokasi mana yang diperuntukkan bagi PKL,” sambung dia. Menurut dia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi PKL. Lokasi PKL hendaknya berada di pusat keramaian, seperti di pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan atau di tempat-tempat umum lainnya.
Dia mengatakan sudah menjadi hukum alam bahwa di dunia ini kehidupan saling berpasangan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat formal akan diikuti dengan munculnya sektor informal, di mana salah satunya adalah PKL. ”Dengan menerapkan teori ada gula, ada semu, maka kemunculan PKL pada suatu tempat dapat diprediksi sebelumnya dan dapat diantisipasi kemungkinan timbulnya permasalahan di kemudian hari,” kata dia.
sumber suara merdeka

Selasa, 19 September 2017

Pembongkaran Tugu Jam Perempatan Tamara Purwokerto



Seberapa pentingkah peran sebuah Tugu bai suatu kota ? Tugu bisa menjadi ikon yang identik dengan suatu daerah yang mana sangat berkatan erat dengan suatu kejadian atau kebijakan pada suatu waktu tertentu . Ketika suatu Tugu dibongkar dan dibangun suatu bangunan lain bisa jadi ada sebagian kenangan yang ikut hilang. Oleh karena itu ada baiknya Pemerintah mengakomodir saran dan masukan dari masyarakat melalui forum apapun dan berbagai saluran yang bisa mengkomunikasikan berbagai program termasuk barangkali sebuah proyek kecil pembangunan atau pembkongkaran tugu.
Kali ini yang sedang rama di masyarakat yaitu pembangunan air mancur yang informasinya dari sumber yang belum resmi tapi fakta dilapangan menunjukkan keterkatan dengan pembongkaran tugu jam di perempatan Tamara Plaza Purwokerto . 

Saya tidak tahu tugu itu masuk kateori cagar budaya atau bukan . Namun, tugu itu menurut informasi dari salah satu warga bahwa sangat disayangkan terjadinya pembongkaran karena bisa menghilangkan jejak yang berharga pada suatu masa saat tugu itu sangat membantu karyawan pemerintah daerah saat masih berkantor di eks Wali Kota Administratif Purwokerto. Yang mana dari masing-masing sisi bisa terlihat angka dan jarum jam sebagai petunjuk waktu. Itu bagian dari rutinitas masa itu terlepas dari kapan dan pada masa pemerintahan bupati siapa tugu itu dibangun.
Pro kontra tentunya ada mengingat keterbukaan informasi yang semakin mudah dan cepat dengan semakin meningkatnya peran medsos untuk menjadikan suatu kejadian sebaga sesuatu yang viral karena mendapat reaksi yang luas dari masyarakat.

Saat ini pembongkaran Tugu tamara plaza tentu tak lepas dari tanggapan beragam . Dan kita yang termasuk dari  masyarakat yang ikut berpendapat hendaknya teap berpegang pada aturan yang ada agar jangan sampai menimbulkan suatu hate speech atau perkataan kasar karena itu sudah menyimpang dari aturan dalam bermedsos.

RTH Mersi Purwokerto



Sejak beberapa tahun lalu Pemda Banyumas sudah memperkenalkan program kota hijau atau pembangunan berbasis konsep  green city . Memang pembangunan dituntut agar selaras dengan perkembangan zaman . Saat ini dengan kondisi alam yang semakin berkurang kelestariannya di berbagai tempat maka dengan pembangunan berbasis hijau ini setidaknya bisa mengerem degradasi lingkungan. Cuaca yang panas baik akibat pemanasan global , efek rumah kaca atau industri yang teusberkembang dan pada saat yang sama jumlah hutan semakin berkurang maka pembanguna RTH di perkotaan menjadi sangat penting.

Pembangunan RTH atau green open space menjadi sumber paru-paru kota . Terkat dengan hal tersebut, Pemda Banyumas saat ini telah membangun beberapa RTH baru dan merenovasi beberapa RTH lama antara lain Taman Andang Pangrenan dan Bale kemambang. RTH lama yang direnovasi atau menambah fasilitas misalnya Taman Berkoh.

Dan saat ini dengan pembangunan RTH Mersi menambah jumlah RTH di Purwokerto yang setidaknya semakin mendekati angka 20 persen. 
RTH Mersi berlokasi tidak jauh dari pasar mersi sehingga sangat cocok untuk tempat bersantai yang murah karena kita bisa sambil makan makanan ringan yang bisa dibeli dari pasar terdekat. 

LEGENDA NYI RANTAN SARI DAN CIKAL BAKAL TAMAN TIRTA ALAMI


Pada jaman sebelum datangnya penjajahan Hindia Belanda, daerah ini sudah dihuni dan dikenal sebagai daerah pemukiman yang letaknya berdekatan / berbatasan dengan Kadipaten Pakis Aji yang merupakan mitra Kadipaten Pasir Luhur. Adipati yang terkenal pada saat itu bernama Raden Adipati Harya Taman yang merupakan menantu Adipati Pasir luhur.
Alkisah pada suatu hari Kadipaten Pakis Aji kedatangan salah satu pangeran muda dari kerajaan di Tanah Jawa dengan tujuan utamanya meminang salah satu putri Adipati Harya Taman yang bernama Dewi Rantansari ( Sang Putri ). Dengaan rasa hormat dan takut sang adipati langsung menerima pinangan dari Sang Pangeran Muda , namun ternyata Sang Putri menolak dan meninggalkan kadipaten Pakis Aji, maka marahlah sang Pangeran Muda.
Sang Pangeran muda dengan didampingi oleh sesepuh / Penasehat Adipati yang bernama Ki Sela Brani dan disertai prajurit secukupnya bermaksud mencari keberadaan Sang Putri. Pada saat pencarian kehabisan perbekalan khususnya air minum. Sang Pangeran merasa kehausan maka ditugaskan prajurit utuk mencari air minum kerumah penduduk terdekat tetapi tak satupun yang berhasil mendapatkan air sehingga sambil menahan marah dan haus Sang Pangeran muda berucap “ Ajining banyu ajining barang” maka terjadilah nama Ajibarang sebagai pengganti Kadipaten Pakis Aji.
Sang pangeran Muda meneruskan perjalanannya kearah selatan kurang lebih berjarak 1 (satu) km dari Ajibarang. Sang Pangran Muda menugaskan kembali prajuritnya untuk mencari air minun ke rumah penduduk namun penduduk ketakutan dan lari. Para prajurit merasa kesal hatinya sehingga memporak porandakan pohon-pohon yang ada disekitar rumah penduduk. Pada saat itu terjadilah keajaiban alam, hampir semua pepohonan yang ditebang mengeluarkan air yang jernih ,hal ini segera dilaporkan kepada Sang Pangeran Muda. 
Lapopran tersebut menumbuhkan rasa penasaranya sehingga Sang Pangeran Muda membuktikan dengan memangkas / memancas sebuah pohon bambo kuning dan batang pohon pisang, ternyata benarlah apa yang dikatakan prajurit. Sang Pangeran Muda pun berucap “di pancas ana – di pancas ana”. Akhirnya dengan disaksikan sesepuh Kadipaten, daerah ini dinamakan PANCASAN dari asal kata Pancas-ana yang sebelumnya bernama KARANG DADAP. 
Air jernih hasil memancas tersebut keluar terus dan menjadi sumber mata air yang pada jaman Belanda sekitar tahun 1897 dibangun menjadi kolam renang yang dinamakan TAMAN TIRTA ALAMI. Menurut kepercayaan masyarakat dengan mandi di air tersebut dapat membuat orang awet muda,sampai sekarang Desa Pancasan terkenal dengan sumber mata airnya.
Hari menjelang malam, maka atas saran Ki Sela Brani beristirahatlah Sang Pangeran Muda beserta rombonganya di Desa Pancasan. Pada malam harinya mengadakan sarasehan untuk membahas pencarian Dewi Rantansari sekaligus memohon petunjuk kepada Sang Maha Kuasa mengenai keberadaan Sang Putri. Firasat yang diterima oleh Ki Sela Brani mengatakan bahwa Dewi Rantasari berada di sebelah Timur Selatan Desa Pancasan dan berada di sebuah hutan. Daerah tersebut sampai sekarang dinamakan Gunung Putri. Untuk mengenang keberhasilan petunjuk yang diperoleh Ki Sela Brani, maka tempat sarasehan dinamakan Padepokan Sela Brani yang sampai saat ini masih dikeramatkan oleh sebagian Penduduk Desa Pancasan.

DI AMBIL DARI PORTAL DESA PANCASAN DAN WIKIPEDIA

sumber Fb 
Bumdesa Pancasan di Banyumas dalam info

Jumat, 15 September 2017

Penambang Pasir Diarahkan Alih Profesi


Pemerintah Kecamatan Kebasen mengarahkan agar para penambang pasir beralih profesi. Pasalnya, penambangan pasir di Sungai Serayu akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Camat Kebasen, Agus Supriyanto, mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Di wilayahnya banyak warga yang mengandalkan penambangan pasir sebagai mata pencaharian. "Kita dengan pihak provinsi dan pemkab akan bareng-bareng mencarikan solusi, jadi tidak hanya menambang. Kita akan berupaya menampung para penambang pasir, kita prioritaskan itu," katanya, kemarin. Menurut dia, ada beberapa alternatif profesi yang memungkinkan dilakukan para penambang pasir. Antara lain pekerjaan di bidang pariwisata air, karena wilayah tersebut dilintasi aliran Sungai Serayu yang mengalir dari Wonosobo sampai Cilacap.
Diinisiasi Warga
"Kita akan berupaya mencarikan tempat penambangan yang tidak membahayakan, tapi kalau tidak memungkinkan kita carikan solusi yang lain. Alternatifnya bisa beralih ke wisata air, tapi konsepnya nanti kita godok dulu," ujar dia.
Konsep wisata air sangat memungkinkan dilakukan seperti yang telah diinisiasi warga Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen bersama warga Desa Notog, Kecamatan Patikraja dan Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo yang juga sedang berupaya alif profesi. "Kami akan menjembatani antara warga dengan pemerintah. Kami akan mendata terlebih dahulu, kemudian nanti akan diserahkan ke dinas terkait.
Saat ini jumlah penambang pasir di wilayah Kebasen ada ratusan," kata dia. Seperti diberitakan, tim gabungan menggerebek dua lokasi penambangan pasir ilegal di aliran Sungai Serayu, Selasa (12/9). Masing-masing di Grumbul Poncot, Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen dan di Grumbul Gandulekor, Desa Notog, Kecamatan Patikraja. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO), Bambang Sumadyo, meminta aktivitas penambangan tradisonal di Cindaga dihentikan.
Pasalnya, aktivitas itu mengancam konstruksi jembatan Soeharto yang menghubungkan Bandung-Yogyakarta. Sementara kegiatan penambangan di lokasi kedua, kata dia, juga tidak diperbolehkan menggunakan mesin sedot. Penambangan pasir boleh dilakukan pada jarak setidak-tidaknya 5 km di hulu bangunan Bendung Gerak Serayu.
sumber suara merdeka

Kamis, 14 September 2017

Indahnya Situ di Gunung Lurah Cilongok

Gunung Lurah merupakan sebuah desa di kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas . Desa ini memiliki potensi wisata yang besar karena keindahan alam yang dimiliki . Akan lebih baik jika dikelola dan oleh instansi tekat dengan memberdayakan masyarakat lokal dan dipromosikan lagi agar lebih dikenal secara luas.
Berikut adalah beberapa potret oleh Try Bayern

Selasa, 12 September 2017

Arsip Dokumentasi Kota Lama Banyumas Sebelum Revitalisasi

Dokumentasi berikut menjadi sesuatu yang penting karena menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan kota lama Banyumas yang telah sekian lama hening dan jauh dari sentuhan pembangunan. Revitalisasi menjadi tahapan penting realisasi rencana pengembangan wisata kota pusaka atau warisan Banyumas sebagaimana tercantum dalam Perda RTRW Kabupaten Banyumas.





Arsip Suara Merdeka

Sejumlah tokoh Banyumas mengikuti diskusi mengenai pengembangan kota lama Banyumas di ruang pertemuan Kantor Kecamatan Banyumas, Minggu (17/7) yang dikemas dalam Dopokan Rembug Banyumas. Kegiatan yang diprakarsai beberapa tokoh putra daerah itu dihadiri beberapa anggota DPRD Banyumas seperti Yoga Sugama dan Didi Rudianto (Komisi D), Bambang Puji ( Komisi B), Wakil Sekjen DPR RI, Ahmad Juned, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Pudjo Sumedi.

Dalam sambutannya, Ahmad Djuned yang merupakan putra daerah Banyumas mengatakan bahwa acara bincang – bincang yang dipandu oleh budayawan Banyumas Bambang “Dodit” Widodo merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam upaya menemukan konsep pengembangan kota lama ke depan.”Tujuan awal dopokan ini untuk mengumpulkan pendapat dan ide dari peserta
untuk dijadikan rekomendasi kepada dinas terkait dan pemerintah Kabupaten Banyumas,” kata dia.


Dalam diskusi itu mencuat usulan pengembangan kota lama yang memiliki benda-benda cagar budaya yang masuk dalam daftar cagar budaya. Kawasan kota lama diusulkan menjadi kantong kebuidayaan dan pendidikan.


Pemerintah Kecamatan Banyumas menyambut positif rencana pengembangan wisata di kawasan Kota Lama Banyumas. Rencana pengembangan itu diharapkan dapat membawa dampak positif bagi masyarakat setempat. “Kalau bisa digarap betul (pengembangan wisata kota lama), akan menciptakan multiefek untuk masyarakat sekitar.
Perekonomian masyarakat akan ikut meningkat,” kata Camat Banyumas, Achmad Suryanto, kemarin. Dia mengatakan di kawasan kota lama terdapat sejumlah gedung tua yang memiliki nilai sejarah. Kemudian terdapat Museum Wayang, perajin batik tradisional.
Terbaru sedang dibangun Taman Sari untuk mendukung pengembangan wisata. “Di sekitar sini ada daya tarik berupa bangunan-bangunan tua. Wisatawan bisa jalan-jalan mengunjungi museum wayang, kemudian berjalan kaki ke taman sari, selanjutnya berjalan ke arah utara mengunjungi perajin batik, atau sebaliknya,” ujar dia.
Menurutnya di sekitar wilayah tersebut juga bisa dijadikan kampung wisata. Kampung wisata dapat memanfaatkan keberadaan bangunan- bangunan tua untuk tempat penginapan. “Bangunan-bangunan tua bisa dijadikan sebagai penginapan untuk para wisatawan,” ujar dia.
Wisata budaya, lanjut dia, bisa dipadukan dengan wisata religi. Seperti diketahui di Banyumas terdapat makam tokoh-tokoh Banyumas yang berada di Desa Dawuhan. “Di samping wisata budaya, ada juga wisata religi,” kata dia. Seperti diberitakan, Pemkab Banyumas merevitalisasi Taman Sari di belakang kompleks pendapa duplikat Si Panji Banyumas.
Selain revitalasi taman sari, tahun ini juga sedang dilakukan revitalisasi alunalun tahap kedua. Revitalisasi itu merupakan salah satu bagian dari rencana pengembangan wisata di Kota Lama Banyumas. Di sekitar situ banyak bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Nur Sulaiman, komplek pangeranan, dan kompleks kepatihan.