Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 26 Juni 2017

Pedestrian Di Kecamatan Jatilawang

foto0772.jpgfoto0768.jpg

Pedestrian atau nama lainnya trotoar adalah salah infrastruktur yang bukan hanya dijumpai di kota atau ibukota kabupaten saja ,  tapi desa tertentu dan semua kota kecamatan pasti memilikinya. Karena pedestrian merupakan area yang tak bisa dipisahkan dari jalan atau merupakan bagian dari jalan umum . Pembangunan daerah kurang dianggap berhasil jika tidak memberi perhatian kepada aspek ini. Karena trotoar merupakan bagian dari wajah kota atau pusat perekonomian setempat selain memiliki fungsi utama sebagai tempat pejalan kaki namun dibanyak tempat banyak terjadi alih fungsi menjadi tempat berjualan PKL yang sebenarnya merupakan bentuk pelanggaran perda.
Pedestrian yang baik adalah yang memiliki sistem drainase yang baik dan tidak banjir atau tersumbat saat hujan dan kualitas tegel atau ubinnya keras dan kuat serta memiliki jalur hijau. Akan lebih baik jika dilengkapi fasilitas tambahan seperti halte, RTH atau ruang terbuka hijau.
Di kabupaten Banyumas ada beberapa pedestrian di kecamatan yang bisa dikatakan baik karena mendapat alokasi dana pembangunan dalam setiap tahunnya. Foto di atas adalah salah satu lokasi pedestrian di kota kecamatan Jatilawang yang direnovasi beberapa tahun lalu. Pantauan saya tidak semua pedestrian yang menjadi tempat berjualan PKL itu melanggar perda karena tidak memakan tempat badan trotoar ini . Jika dilengkapi pohon peneduh tentu suasananya menjadi sejuk dan sangat baik menjadi lokasi bersitirahat temasuk orang -orang yang sedang menunggu keluarganya mudik. 
Itu salah suasana pedestrian di Jatilawang saat sehari menjelang hari raya Idul Fitri 1438 H.

Jelang Lebaran,Warga Kalisari Bedah Kubang

Setiap menjelang lebaran, warga Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok menjalankan tradisi bedah kubang.
Tradisi memanen ikan ini dilaksanakan di selokan air sekitar pemukiman yang difungsikan sebagai kolam ikan. Warga setempat, Guntur mengatakan tradisi ”bedah kubang” ini bermula dari aktivitas warga yang gotong royong memanfaatkan selokan air di sekitar pemukiman.
Dengan memasang bronjong besi di bagian hulu dan hilir selokan tersebut, warga menebar benih di lokasi tersebut dalam kurun waktu tertentu.
”Namun yang ditebar adalah benih ikan dengan ukuran sedang sehingga tidak akan hanyut dari kolam buatan ini. Makanya kamipun bersama menjaganya,” dia, kamis (22/6). Usai ditabur dalam kurun waktu kurang dari setahun, ikan dalam kolam buatan dari selokan tersebut dijaga oleh warga.
Selain memanfaatkan limbah dari produksi industri tahu, warga juga kerap memberikan pakan untuk ikan tersebut. Tak heran jika menjelang lebaran ini mereka bisa memanen ikan bersama. ”Tradisi memanfaatkan selokan air ini sudah diajarkan turun temurun oleh warga di sini.
Setidaknya melalui kegiatan ini, kami tidak perlu harus membeli ikan yang harganya mahal ketika jelang lebaran,” jelasnya. Usai dipanen bersama menggunakan jaring kecil, ikan-ikan hasil budidaya kolam bronjong selokan ini dibagikan rata kepada warga setempat.
Dari kegiatan inilah warga sedikitnya telah mendapatkan bagian dua kilogram ikan gurami dan mujahir yang telah dipelihara enam sampai delapan bulan. ”Dengan adanya ”bedah kubang” ini kami menjadi lebih bisa berhemat dengan tak harus membeli ikan air tawar di pasar. Makanya kami berniat terus melestarikan tradisi ini,” jelas Rustri. 
sumber suara merdeka

Sentra Mireng dan krupuk Desa Kedungwringin Jatilawang Banyumas

Menikmati sroto atau soto memang akan lebih nikmat jika dilengkapi krupuk atau mireng. Berbicara tentang mireng dan krupuk ini di Desa Kedungwringin Kecamatan Jatilawang memiliki sentra UMKM yang memproduksi mireng dan krupuk.
Lokasinya dari pertigaan alun alun Jatilawang ke selatan , sebelum embung situ bemban ada pertigaan ke barat melewati  sekolah TK (Diponegoro) .
Sudah seharusnya sentra makanan khas ini yang merupakan simbol dari ekonomi kerakyatan mendapat perhatian serius dari Pemda Kabupaten Banyumas dari segi pendanaan, promosi dan pemasaran tentu akan bisa turut mengangkat kesejahteraan rakyat disamping melestarikan makanan khas Banyumas . Bisa Juga dengan pendampingan instansi terkait untuk membantu mengeksplorasi dan memperkenalkan aneka olahan baru sehingga harga atau nilai jualnya semakin tinggi .
foto0784.jpg
foto0778-1.jpgfoto0775.jpgfoto0782.jpgfoto0783.jpgfoto0777.jpg

foto0780.jpgfoto0783.jpgfoto0777.jpgfoto0781.jpg

Kamis, 22 Juni 2017

Pertamina Siapkan Kios BBM barat Alun-Alun Jatilawang Antisipasi Kemacatan di Jalur Selatan

 Pertamina Marketing Operation Region IV Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menyiapkan tiga kios bahan bakar minyak (BBM) di jalur selatan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan selama arus mudik dan balik Lebaran 2017.
“Di setiap kios. kami sediakan sejumlah BBM nonsubsidi dalam kemasan, mulai dari 1 liter, 2 liter, dan 10 liter. Secara keseluruhan, di masing- masing kios disiapkan 250 liter,” kata Sales Executive BBM Retail Rayon V Pertamina MOR IV Jateng-DIY, Warih Wibowo, Selasa malam di Purwokerto.
Menurutnya, kios BBM tersebut tersebar, satu titik di jalur utama mudik (jalur selatan) tepatnya di sebelah barat Alun-Alun Jatilawang, Kabupaten Banyumas, dua titik lainnya di Jalan Daendels atau jalur lintas selatan Jateng yang merupakan jalur alternatif, yakni sebelah Kantor Kecamatan Puring dan Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen.
“Kios BBM kemasan tersebut sudah beroperasi sejak tanggal 18 Juni. Dari tiga kios itu yang sudah menjual BBM kemasan baru satu, yakni di Puring sebanyak 10 liter,” terangnya.. Kondisi tersebut, katanya, menunjuukan arusmudik di titik-titik rawan macet hingga Selasa malam masih dalam kondisi normal.
Namun untuk beberapa hari ke depan hingga lebaran belum bisa diprediksi. Selain kios BBM kemasan, katanya, pihaknya juga menyiapkan petugas BBM motoris di 10 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Mereka siap melayani pemudik yang kehabisan BBM di tengah jalan atau saat kejebak kemacaetan.
Mereka disebar di SPBU yang ada di jalur selatan maupun di jalur penghubung antara jalur pantai utara dengan jalur selatan. “Kami berharap petugas BBM motoris ini tidak sampai dioperasikan. Kalau ini tidak berjalan, berarti kondisi arus kendaraan berjalan lancar atau tidak ada kemacetan,” ujarnya.
Terkait pasokan BBM hingga saat ini, Warih mengatakan, di SPBU di jalur selatan mengalami kenaikan rata-rata sebanyak 5 kiloliter per hari. Sedangkan SPBU di luar jalur mudik kenaikannya berkisar 1-2 kiloliter per hari. Sedangkan dalam kondisi normal pasokan BBM di SPBU jalur mudik rata-rata sebanyak 10-15 kiloliter. “Bahkan, kemarin di salah satu SPBU jalur mudik Kebumen, kenaikannya sempat mencapai 6 kiloliter dari kondisi normal,” katanya.
Menurutnya, dari sekitar 99 persen SPBU di wilayah Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen mendapat pasokan dari Terminal BBM Maos. Sesuai data rencana pengiriman dari Terminal BBM Maos Cilacap hingga tanggal 20 Juni lalu, mencapai 2.900 kiloliter. Untuk hari biasa, kata dia, hanya berkisar 2.100-2.200 kiloliter sehingga ada kenaikan sekitar 27-30 persen. 
sumber suara merdeka

Jalan Kabupaten Siap Dilalui Pemudik

Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Banyumas menjamin seluruh jalan kabupaten yang akan digunakan sebagai jalur alternatif, sudah siap dilalui.
“Yang jalan alternatif sudah siap semua (untuk dilalui selama masa arus mudik, dan arus balik,” tutur Kepala DPU Kabupaten Banyumas Irawadi, Rabu (21/6). Menurutnya penanganan pada jalan kabupaten memang belum seluruhnya selesai. Sebab ada yang baru saja tandatangan kontrak.
Ia mengatakan kendati belum seluruhnya selesai, penanganan jalan yang akan dilakukan menurutnya tidak mengganggu kelancaran arus mudik, sebab jalan yang diatangani bukan menjadi jalur mudik. Dikatakan, saat lebaran kegiatan penanganan jalan juga dihentikan sementara. Penghentian kegiatan juga termasuk dengan pengiriman material menuju lokasi penanganan.
“Dihentikan terutama yang bisa mengganggu transportasi masyarakat, material yang ada di jalan juga kita bersihkan,” kata dia. Sementara itu Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan DPU Kabupaten Banyumas Achmad Setiawan, mengatakan semua kegiatan pemeliharaan jalan sudah dihentikan.
Pekerjaan terakhir yang masih dilakukan yakni di Desa Gerduren Kecamatan Purwojati. Namun demikian, pekerjaan itu juga telah diselesaikan kemarin. “Hari ini (kemarin) pekerjaan pemeliharaan jalan sudah dihentikan. Jalan alternatif juga sudah siap,” ucapnya Sebelumnya, jalan kabupaten sepanjang 138,04 kilometer, yang juga menjadi jalur alternatif saat arus mudik dan arus balik lebaran mulai disiapkan.
Achmad Setiawan mengatakan, jalan kabupaten yang mendapat penanganan tersebar sejak dari perbatasan wilayah Kabupaten Banyumas – Kabupaten Brebes, di sebelah barat sampai dengan perbatasan Kabupaten Banyumas – Kabupaten Cilacap di sebelah selatan. “Total jalan kabupaten yang dapat menjadi jalan alternatif saat mudik, ada 24 ruas, panjangnya mencapai 138,04 kilometer,” ungkapnya.
sumber suara merdeka

Akuntansi Pedagang Tradisional

PADA bulan Ramadan kita sering menjumpai bermunculannya pedagang-pedagang dadakan atau baru. Mereka pada umumnya merupakan pedagang kecil, kebanyakan pedagang makanan ringan, yaitu pedagang bermodal kecil yang ingin mendapatkan keuntungan hanya pada bulan baik bagi umat Islam.
Pedagang ini akan berbelanja bahan baku setelah mendapat pesanan dari tetangga atau rekan kerjanya. ”Pedagang tersebut hanya merupakan sebagian dari pedagang kecil yang ada suatu pasar.
Karena di pasar-pasar tradisional kebanyakan pedagangnya merupakan pedagang kecil,” kata Sully Kemala Octisari (25), akuntan yang kini aktif meneliti model pembukuan pedagang musiman. Melihat munculnya pedagang musiman itu, Sully mengajukan pertanyaan, apakah mereka berdagang sesuai proses akutansi.
Kemudian apa keuntungannya jika mereka berdagang secara akutansi. Atas pertanyaan itu, dia menjawab sendiri. ”Wajib. Pedagang kecil itu harus membuat catatan pembukuan untuk kepentingannya sendiri,”ujarnya, belum lama ini. Menurut Sully akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan transaksi keuangan suatu organisasi atau pedagang.
Pencatatan dengan cara tertentu yang sistematis, serta penafsiran terhadap hasilnya. ”Objek kegiatan akuntansi adalah transaksi-transaksi keuangan,” katanya. Jika pedagang kecil sudah menerapkan atau menggunakan proses akutansi, pasti mereka punya laporan keuangan yang tertulis dalam sebuah buku khusus untuk mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan keluar masuknya uang.
Berdasarkan dari pengamatan dan diskusi dengan beberapa pedagang di pasar tradisional di sekitar Purwokerto. ”Hampir 90% pedagang sayur dan bumbu dapur jarang melakukan pencatatan keluar masuknya uang atau barang, mereka hanya melakukan pencatatan terutama nama orang yang punya hutang kepadanya dan jumlah hutangnya,”jelasnya.
Akan tetapi pedagang yang mempunyai kios tetap di pasar seperti pedagang baju, pedagang barang kelontong, pedagang buah sebagian besar sudah melakukan pencatatan. Terutama jumlah barang, harga barang, jumlah uang yang keluar, jumlah uang yang masuk, jumlah uang piutang, dan jumlah uang yang dihutang orang.
Alasan pedagang sayur tidak melakukan pencatatan adalah repot karena begitu dagangan digelar kemudian banyak yang beli, mereka harus melayani dengan cepat dan tidak ada waktu untuk mencatat. Mereka menyatakan masih ingat jumlah uang yang dibelanjakan dan harga barang atau sayur dan selama ini mereka merasa aman-aman saja.
Berbeda dengan pedagang yang sudah mempunyai kios, mereka melakukan pencatatan adalah memudahkan mereka melakukan pengecekan barang yang terjual dan yang belum terjual. Barang yang bisa dikembalikan ke distributor, jumlah uang yang sudah dibayarkan, jumlah piutang, jumlah uang yang masuk dan seterusnya.
Tujuan pencatatan agar mudah pengembangan dagangannya dan tidak akan tercampur dengan uang keluarga. ”Uang jelas keberadaannya dan mudah dalam pengecekan atau pelacakan jika ada uang yang hilang,”tuturnya. Pedagang kecil, walaupun mereka tidak paham arti ataupun keuntungan sistem akutansi,.
Namun berdasarkan kebutuhan proses berdagang mereka secara tidak sengaja sudah melakukan proses akutansi secara sederhana dan sesuai dengan kreasi mereka. Bagi pedagang yang sudah melakukan pencatatan mereka paham manfaatnya. Bagi pedagang yang belum melakukan pencatatan barang dan uang, perlu adanya sosialisasi untuk melakukan pencatatan.
Poses akutansi sederhana perlu dikenalkan kepada pedagang. ”Hal ini untuk membantu pedagang dalam proses berdagangnya, yaitu dengan semakin jelas berapa modal awal, pengeluaran, dan pendapatan harian serta berapa keuntungan yang diperoleh setiap hari,”kata Sully.
sumber suara merdeka

Rabu, 21 Juni 2017

Terminal Bayangan Ajibarang Picu Kemacetan

Terminal bayangan di sekitar depan Pasar Induk Ajibarang dan dekat jalan utama Ajibarang-Wangon makin memicu ketersendatan dan kemacetan. Potensi kemacetan itu semakin terjadi karena kepadatan lalu lintas kendaraan saat jelang lebaran ini pekan ini.
Warga pengunjung Pasar Induk Ajibarang, Agus Fatkhurrohman mengatakan, terminal bayangan berupa parkirnya angkutan pedesaan hingga mikrobus di depan pintu masuk pasar hingga di dekat kompleks Pasar Induk Ajibarang membuat jalan sebagai salah satu ruang publik untuk lalu lintas kendaraan yang lain juga menjadi berkurang.
”Akibatnya ketersendatan dan kemacetan lalu linas setiap saat bisa terjadi, terutama menjelang Lebaran ini juga sudah mulai terjadi. Kalau dibiarkan terus menerus maka bisa merugikan pengguna kendaraan lainnya,” katanya.
Terkait dengan hal itu, Agus meminta kepada petugas dinas perhubungan untuk bisa berlaku lebih tegas menertibkan perilaku awak kendaraan yang menunggu penumpang di sembarang tempat tersebut. Apalagi menjelang Lebaran, kondisi arus lalu lintas kendaraan di jalur Ajibarang Wangon dan Jalan lingkar Ajibarang juga terbilang padat.
”Jangan sampai ini berlarutlarut sehingga mengganggu kenyamanan dan keamanan pengunjung pasar. Kami berharap secepatnya ada penyelesaian yang tuntas bersama dengan permasalahan pasar lainnya,” kata dia. Kepala Pos Pengamanan di Pos Lalu Lintas Ajibarang, Iptu Mujono mengatakan kondisi arus lalu lintas di jalur Ajibarang- Bumiayu sampai dengan kemarin masih ramai lancar.
Tidak ada kejadian yang menonjol terkait dengan arus mudik Lebaran sepekan jelang lebaran ini. Meski demikian, kewaspadaan dan patroli terus digiatkan. ”Enam titik yang rawan tersendat dan macet di Ajibarang terus menjadi perhatian utama bagi petugas. Makanya selain pengaturan lalu lintas, sejumlah petugas juga turun ke lokasi dan memberikan pengarahan kepada pengguna jalan,” katanya.
Kapolsek Ajibarang, AKP Supardi yang juga Kepala Pos Pam Terpadu Ajibarang mengingatkan kepada para pemudik dan pengguna jalan untuk beristirahat ketika kelelahan. Ia menyebutkan di sejumlah titik telah tersedia berbagai pos dan tempat istirahat yang bisa dimanfaatkan.
”Jangan melanjutkan jika mengalami kelelahan, terutama bagi pemudik bersepeda motor. Silakan manfaatkan berbagai rest area atau posko mudik yang disediakan oleh polisi, dinas terkait ataupun perusahaan di sepanjang jalur tengah ini,” katanya. 
sumber Suara Merdeka