Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 18 Agustus 2017

Mengatasi Kekurangan Air di Musim Kemarau


Ketika saya melintasi jalan di Kebasen menyisiri pinggiran kali Serayu saya terpukau pada pemandangan di sekitar bedung gerak Serayu ini. 
Mungkin bisa jadi inspirasi bagaimana cara mengatasi kekurangan air saat musim  kemarau  di beberapa wilayah

1) penghijauan di hulu sungai dan DAS.

2) pembuatan bendungan mini di tiap anak sungai jadi sebelum air dari kalen atau anak sungai mengalir menyatu dengan sungai air tekumpul dulu dibendungan mini bisa dimanfaatkan go pengairan maupun sumber air bersih dengan catatan sepanjang daerah aliran kalen pepohonan harus dijaga jika tandus segera reboisasi .

3) jika point 1 dan 2 sudah terpenuhi bisa dipikirkan dengan membangun talang air dari bendungan terdekat saya terinspirasi bendungan serayu yang dilengkapi sistem pompa dan talang untuk pengairan di Sampang dan sekitarnya yang sangat jauh bahkan hingga kabupaten tetangga .

4) akan lebih efektif lagi jika membangun embung atau waduk mini dan air dari saluran yang berasal dari bendungan yang dipompa ini dialirkan ditampung juga ke embung dan dibuat kebun buah di sekitarnya tentu berpotensi menjadi pusat wisata edukasi, ekologi dan mengangkat perekonomian warga sekitar bisa mendorong pusat kuliner jika pada akhirnya menjadi lokasi pilihan masyarakat luar untuk berwisata.



Rabu, 16 Agustus 2017

Alih Fungsi Pasar Peksi Bacingah Batal




Rencana pengalihan Pasar Burung Peksi Bacingah menjadi pasar umum batal dilakukan. Hal ini menyusul sejumlah pedagang di pasar tersebut, menolak direlokasi ke pasar Pon atau pasar yang dikenal sebagai tempat untuk menjual hewan di Purwokerto. “Itu rencananya tapi pedagangnya pada tidak mau, kemungkinan tidak jadi. Kita pemerintah sifatnya kan hanya memfasiliatsi, ketika yang difasilitasi tidak mau, kita mau gimana lagi,” kata Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyumas, Rojingun, Senin (14/8). 

Dia mengatakan, pihaknya sempat menawarkan kepada sejumlah pedagang untuk pindah di Pasar Pon, namun mereka menolak. Bahkan mereka mengancam akan kembali lagi berjualan di pinggir jalan, seandainya Pasar Peksi Bacingah dialih fungsikan sebagai pasar umum. “Kemarin terakhir waktu kami minta supaya pindah ke Pasar Pon, mereka tidak mau malah mengancam untuk berjualan lagi di jalan. Ya sudah, mungkin mereka sudah nyaman di situ, kita sekarang tinggal pembinaan saja,” terangnya. 

Sementara itu terkait pembangunan tahap II atau tahap akhir Pasar Peksi Bacingah, Rojingun menambahkan, sejauh ini sudah mulai dikerjakan. Pembangunan tersebut, kata dia ditarget selesai pekerjaan jangka waktu 150 hari atau sekitar akhir November mendatang. “Ini tahap akhir. Yang dikerjakan tinggal atap, tembok keliling, los dan pintu gerbang,” katanya. 

Revitalisasi pasar Peksi Bacingah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Saat itu, anggaran pembangunan terbilang minim, sehingga dilanjutkan pada tahun 2017. Pasar tersebut terdiri dari 25 kios dan sekitar 20 los. “Pagu anggaran untuk tahap II sebesar Rp 1 miliar dialokasikan dari APBD 2017, tapi kemarin yang memenangkan kontrak hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp 800 juta,” tambahnya. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

MA Ma’arif Cilongok Borong Gelar Olimpiade Sains dan Ke-NU-an




MA Ma’arif NU Cilongok membuat kejutan. Dalam Olimpiade Sains dan Ke-NU-an (OSKANU) tingkat kabupaten Banyumas, yang diadakan LP Ma’arif NU Kabupaten Banyumas, MA Ma’arif Cilongok sukses memborong sepuluh gelar. Acara dilaksanakan Sabtu (12/8) lalu di komplek MTs Ma’arif NU 01 Kemranjen dan SMA Ma’arif NU Kemranjen. Acara yang mengambil tema “Membangun Akhlak dan Prestasi bersama Ma’arif NU” itu, diikuti ratusan siswa dari tingkat MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK di bawah naungan LP Ma’arif NU se-Kabupaten Banyumas. Para peserta Olimpiade Sains mengikuti upacara pembukaan. 

Ketua panitia OSKANU, M.Hidayaturrohman mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua tahun sekali oleh LP Ma’arif. Selain sebagai ajang silaturrahmi antar warga Maa’rif, sekaligus menjadi ajang seleksi peserta pada ajang yang sama di tingkat provinsi Jawa Tangah. “LP Ma’arif membawahi 132 SD/MI, 40 SMP/MTs dan 18 SLTA. Untuk memacu semangat dan prestasi dan keterampilan akademik khususnya bidang MIPA dan IPS serta Ke NU an, maka lembaga mengadakan olmpiade. 

Selain olimpiade sains dan Ke NU an, sebelumnya Ma’arif juga mengadakan Pekan Olahraga dan seni Ma’arif (PORSEMA) sebagai ajang prestasi di bidang olahraga dan seni,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut dilombakan puluhan cabang. Antara lain olimpiade IPA, Matematika IPS, Ke-NU-an, Cerdas tangkas Aswaja, Majalah Dinding 3D, LKIR IPA, LKIR IPS. Juga olimpiade Fisika, Biologi, Kimia, Geografi, Akuntansi dan sosiologi untuk SMA/MA. Sedangkan untuk ada LKS Otomotif, TKJ dan Akuntansi. Kegiatan dibuka Edi Sungkowo mewakili Ketua LP Ma’arif Kabupaten Banyumas sekitar pukul 07.30 WIB. Acara diakhiri pengumuman pemenang sekaligus pembagian tropy. Tampil sebagai juara pada ajang ini, MI Ma’arif NU Pageraji (Mading 3D dan Ke-NU-an), MIMA Dawuhan Kulon dalam lomba cerdas tepat, MIMA Gumelar lomba IPA, MI Tarbiyatul Ulum lomba MTK dan MIMA 02 Pancasan dalam lomba IPS. 

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Selasa, 15 Agustus 2017

Alun-alun Purwokerto Kembali Dilengkapi Videotron




Alun-alun Purwokerto dalam waktu dekat akan kembali dilengkapi videotron. Berbeda dari videotron sebelumnya, pembangunan tv berukuran 4×8 meter ini merupakan gagasan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Banyumas untuk ruang pemberi informasi kepada masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Kabupaten Banyumas, Drs Santosa Eddy Prabowo mengatakan, pembangunan videotron tersebut masih menunggu usulan anggaran di APBD Perubahan tahun ini. 

Rencanya videotron akan ditempatkan di sisi pojok sebelah timur-selatan ALun-alun Purwokerto atau lokasi yang sama videotron sebelumnya. “Anggaran diusulkan Rp 1,8 miliar di perubahan. Kalau anggaran keluar, bisa langsung dilelang dan dikerjakan. Akhir tahun ini kemungkinan sudah selesai,” kata dia saat ditemui di ruangannya, Senin (14/8). Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Dinkominfo, Purwantoro menambahkan, tujuan pembangunan videotron sebagai sarana informasi kepada masyarakat, dengan konten acara seputar perekonomian, pembangunan, pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan kemasyarakatan. 

Selain itu, juga bakal dimanfaatkan untuk pemutaran film-film sejarah, video tentang potensi tiap desa hingga kecamatan, dan juga bisa digunakan untuk nonton bareng seperti pertandingan sepakbola, bulutangkis dan sejumlah event besar lainnya. “Pembangunan ini sengaja untuk hiburan rakyat dan memang tidak dikomersilkan, sehingga iklannya nanti berupa pemutaran lagu-lagu perjuangan dan lainnya. 

Tayang rencana mulai pukul 08.00 sampai 12.00, kemudian istirahat dan dilanjutkan lagi dari pukul 16.00 sampai 22.00. Operator dari kita sendiri dan akan dibuat menggunakan jaringan, sehingga bisa diganti tayangannya melalui kantor,” jelasnya. Selain pemasangan tv, pembangunan videotron juga akan dilengkapi pilar-pilar bangunan beton dengan total luas bangunan 4×12 meter. 

Pembangunan videotron di Alun-alun Purwokerto, menurutnya uji coba dan ketika berhasil akan diterapkan ditempat lain. “Ini kita uji coba satu dulu, nanti bisa dikembangkan di beberapa tempat. Selain untuk nonton, videotron juga bisa dipakai untuk ajang selfie masyarakat karena juga dibangun pilar-pilar yang iconik,” tambah Eddy. Sebelumnya, Alun-alun Purwokerto sudah pernah ada videotron. Sayang, videotron itu harus dibongkar karena milik swasta dan kontrak telah selesai.

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Senin, 14 Agustus 2017

Bendung Tajum Makin Dangkal




Bendung Tajum yang berada di Desa Tiparkidul Kecamatan Ajibarang, mengalami pendangkalan. Akibatnya, debit air di bendung tersebut mengalami penurunan. Saat ini kedalam air di bendung Tajum hanya tiga meter dari kedalaman awal u enam meter. Kondisi itu membuat pengairan irigasi Tajum untuk 3.200 hektare sawah di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo tidak maksimal. 

Namun yang lebih miris, walaupun berada di Desa Tiparkidul, namun petani di desa tersebut tidak bisa memanfaatkan bendung Tajum. Kepala Desa Tiparkidul, Riyanto mengatakan, walaupun berada di Desa Tiparkidul, keberadaan Bendung Tajum tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat, terlebih bagi petani. Sebab saluran irigasi dan air sungai tidak bisa secara langsung mengairi pesawahan namun harus menggunakan pompa air.

 “Lokasi areal pesawahan berada lebih tinggi dari aliran Sungai Tajum, sehingga petani harus menggunakan pompa air. Namun dengan adanya hama wereng yang sedang ganas, petani memilih untuk menanam palawija walaupun pompa air bantuan juga sudah ada,”jelasnya, Selasa (8/8). Dia menjelaskan, kedalaman Bendung Tajum mengalami pendangakalan sejak beberapa tahun terakhir. Akibatnya, volume air untuk pengairan persawahan di wilayah tiga kecamatan tidak maksimal.

 “Bukan berarti Bendung Tajum berada di Tiparkidul, kami menikmati air. Sama dengan wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo, petani juga tidak bisa menikmati secara maksimal bendung Tajum terutama saat ini ada pendangkalan,”ungkapnya. Dia berharap pemerintah mengeruk lumpur yang ada di bendungan. Kemudian efeknya pengairan irigasi terkendala karena airnya berkurang, terlebih jika musim kemarau. Dengan begitu, debit air di Bendung Tajum bisa lebih banyak lagi serta bisa memaksimalkan pengairan sawah di wilayah Wangon, Jatilawang dan Rawalo.

Sumber: Radarbanyumas.co.id

Sedekah Bumi Desa Gerduren Purwojati



img-20170813-wa0023.jpgimg-20170813-wa0024.jpgimg-20170813-wa0022.jpg
Foto kiriman Umiyati Glempang Geduren kecamatan Purwojati beberapa waktu lalu .  Sedekah bumi pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur dan tidak berkaitan dengan syirik atau menyembah berhala ini yang perlu diluruskan bagi  sebagian orang yang terlalu kaku dan sempit dalam memahami arti bidah dan turunannya. Dalam kalender jawa dikenal dengan bulan Apit  sehingga dikenal juga dengan nama apitan. Bulan Apit itu nama bulan sebelum Aji atau Dzulhijah.
Biasanya masyarakat mendahului acara dengan bersih desa yaitu membersihkan lingkungan umum di sekitar tempat tinggal lalu biasanya setelah memasuki lingsir atau matahari tegelincir para warga beserta keluarga masing masing membawa nasi dan lauk pauk mereka menempatkan diri di sekeliling jalan desa .  Acara di akhiri dengan makan bersama.
Tiap desa ternyata tidak sama waktu pelaksanaannya tegantung keputusan pengurus desa masing masing contoh desa yang melaksanakannya duluan misalnya Sebagian  Tinggarjaya ,  Bantar di kecamatan Jatilawang ,Cikakak kecamatan wangon . Dan hari minggu kemaren 13 Agustus 2017 dilaksanakan di sebagian Gerduren kecamatan Purwojati dan Kedungwringin kecamatan Jatilawang.

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

Kualitas Banyumas Extravagansa Menurun?


Itu kata tulisan di koran jadi  sama sekali bukan pendapat saya . Tapi saya akan memberikan sedikit tanggapan terkait penyebabnya jika itu benar. Tahun ini Banyumas Extravagansa digelar jauh dari hari jadi Banyumas tapi justru mendekati peringatan kemerdekaan RI yang faktanya tiap desa atau kecamatan punya kegitaan dan kesibukan sendiri sehingga ketika BE ini digelar tak jarang berbenturan jadwal dengan acara warga lain di tempat tinggal masing masing otomatis mengurangi  jumlah penonton ini secara kuantitas. Sedangkan secara  kulaitastentu belum bisa menjadi ikon pariwisata yang kuat “ciri khas / lokalal yang ditonjolkan dalam bentuk apa ” meskipun ada atribut Banyumas tapi kurang kuat secara karakter. Itu seharusya digali lagi untuk menciptakan daya tarik dan tentu saja dari hal manajemen penyelenggaraan .
Tema BE kali ini Topeng Kinclong .
Dari plus minus  yang ada berikut adalah beberapa liputan dari sdr T Mahdi atau koleganya dari SSCI Purwokerto

img-20170813-wa0012.jpgimg-20170813-wa0018.jpgimg-20170813-wa0015.jpgimg-20170813-wa0017.jpgimg-20170813-wa0016.jpgimg-20170813-wa0013.jpgimg-20170813-wa0014.jpg

Kualitas Banyumas Extravaganza Menurun

 Meski berlangsung meriah, kualitas ajang Banyumas Extravaganza 2017 yang digelar Minggu (13/8), dinilai menurun. Pasalnya, sejumlah peserta tidak mampu menunjukkan penampilan yang berkarakter Banyumas.
Salah satu penonton, Imelda Angelina (17) mengatakan, atraksi wisata tahunan yang digelar ke delapan kalinya tahun ini selalu ramai pengunjung. Bahkan para penonton rela berdesakan untuk menyaksikan penampilan peserta dari dekat. “Ini sudah penuh sesak, sulit untuk mencari tempat duduk atau berdiri untuk menonton dari dekat,” kata dia, kemarin.
Menurut Imelda, tahun ini perhelatan tersebut sangat meriah. Tetapi masih lebih menarik penampilan peserta pada penyelenggaraan dua atau tiga tahun lalu. Adapun event Banyumas Extravaganza menyuguhkan parade jalanan yang diikuti oleh pelajar SMP, SMA dan SMK, perwakilan kecamatan dan kelompok umum.

Peserta pawai bertema “Topeng Kinclong” ini berjalan dari depan bioskop Rajawali dan berakhir di Jalan Jenderal Soedirman atau depan Alun-alun Purwokerto. Hal itu juga diamini oleh salah satu juri Banyumas Extravaganza, Gondrong Gunarto. Seniman musik asal Institut Surakarta Indonesia ini menyebutkan, event ini harus dievaluasi secara menyeluruh.
Untuk tahun ini parade jalan ini justru semakin kehilangan karakter banyumasan-nya. “Dari segi nama, Banyumas Extravaganza ini sebenarnya istilah yang keren. Tapi menjadi blunder fatal karena diambil dari istilah barat yang tidak menunjukkan karakter Banyumasnya.
Tadi saya juga melihat yang tampil hanya sedikit peserta yang menunjukkan ciri khas Banyumas, baik musik, kostum maupun keseniannya,” kata pria asal Ngawi ini. Menurut Gondrong, semestinya panitia dalam hal ini Pemkab Banyumas harus merangkul orang yang kompeten dalam bidang fesyen, seni, koreografi dan unsur yang akan ditampilkan lainnya. Sebelum gelaran dimulai, mereka diajak berdiskusi bersama untuk mengemas event tersebut.
Meski demikian, dia mengakui nama event ini sejatinya sudah dikenal di luar daerah Banyumas. Artinya, promosi yang dilakukan oleh Pemkab sudah berhasil. “Misalnya dari segi tema, seharusnya panitia bisa menggali yang lebih menonjolkan karakter Banyumas. Misal mengangkat tema tentang cerita rakyat seperti Baturraden atau Babad Kamandaka,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono mengaku, untuk kegiatan tahun ini pihaknya hanya meneruskan agenda wisata yang sudah dianggarkan sejak tahun lalu. Untuk event Banyumas Extravaganza, pihaknya tidak bisa melakukan perubahan program maupun konsep. “Itu kan sudah dianggarkan, seperti tema topeng yang kami juga sebenarnya kurang pas.
Tapi kami, butuh masukan lebih banyak terkait event ini agar ke depannya semakin baik,” kata dia. Tahun ini, sambung Saptono, ada 61 peserta dari tiga kategori yang ikut serta. Kelompok perwakilan kecamatan ditampilkan kembali untuk menyemarakkan perhelatan tersebut.
sumber suara merdeka