Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Membany...

Senin, 17 Juli 2017

Menanam Pohon Pucung di Kawasan Hutan


TANAM POHON PUCUNG: Pegiat Forum Pengurangan Risiko (FPRB) Desa Melung menanam pohon pucung di Bukit Igir Langgar, Kedungbanteng, Minggu (16/7). Penanaman pohon tersebut untuk mengurangi risiko longsor dan kekeringan. 

Merawat Bumi, Mencegah Bencana

BENCANA tanah longsor pada musim hujan dan ancaman kekeringan ketika musim kemarau mengintai ribuan jiwa yang tinggal di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas.
Meski di kaki Gunung Slamet bagian selatan yang notabene terdapat banyak sumber mata air, tak membuat mereka luput dari ancaman kekeringan. Kondisi itu disebabkan oleh berkurangnya daerah resapan air sejak beberapa tahun terakhir. Untuk meminimalkan potensi itu, sejak beberapa hari lalu warga RW III Desa Melung secara swadaya menanam pohon di kawasan hutan.
Puncaknya, Minggu (16/7) ratusan warga bersama elemen masyarakat dari berbagai organisasi dan komunitas melakukan hal serupa. Medan yang terjal dengan kemiringan hingga 45 derajat tidak menyurutkan niat mereka untuk naik ke kawasan hutan. Kawasan hutan Igir Langgar di sisi utara permukiman warga menjadi fokus utama kegiatan penghijauan kali ini.
Ketua RW III, Suwarjo, mengatakan, kegiatan itu dilatarbelakangi keprihatinan warga. Setiap musim kemarau persediaan air bersih menurun. Ketika musim hujan, di desa yang berada di ketinggian antara 400-700 dpl ini kerap terjadi tanah longsor. “Kami sangat prihatin, mengingat situasi desa kami yang ketika musim kemarau persediaan air bersih menurun. Kalau musim hujan banyak longsor. Kondisi ini membuat banyak warga resah,” kata dia.
Nilai Ekonomis Tinggi
Bibit pohon pucung menjadi pilihan untuk menghijaukan kawasan hutan di sekitar desa seluas kurang lebih 318 hektare itu. Selain untuk menyimpan cadangan air dan menahan pergerakan tanah, pohon itu memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Pegiat Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Melung, Kusworo, menyampaikan, tahun lalu warga telah berupaya melakukan penghijauan dengan menanam pohon aren. Namun upaya itu tidak berhasil, karena rusak diserang babi hutan. “Kami sekarang memilih menanam bibit pohon pucung, karena daunnya tidak bisa dikonsumsi, mengandung racun, jadi aman dari serangan hama.
Pohonnya juga tidak bisa dijadikan sebagai kayu bakar,” ujar dia. Penggundulan hutan, menurut dia, karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Tidak sedikit, pohon-pohon yang berada di sekitar hutan ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Apabila dibiarkan akan terjadi kerusakan yang lebih parah.
“Mananam bukan untuk orang lain, tapi untuk kita semua. Kalau tanaman habis otomatis kadar oksigen akan menurun, lalu kita akan menghirup apa?” ujar pria yang juga menjadi Komadan Tim Reaksi Cepat Badan penanggulangan Bencana Daerah (TRC-BPBD) Banyumas ini.
tahap awal, kata dia, pihaknya menanaman sedikitnya 1.000 batang bibit pohon pucung. Sebagian bibit berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan dari berbagai instansi dan komunitas yang konsen terhadap kelestarian lingkungan.
Sementara itu, Kepala Desa Melung, Khoerodin, yang turut dalam kegiatan itu, menyampaikan, penanaman pohon merupakan investasi bagi generasi yang akan datang. Kerusakan hutan tidak hanya akan berdampak pada masyarakat di sekitarnya, namun juga di wilayah perkotaan.
Di wilayah yang berpenduduk sekitar 2.265 jiwa pada tahun 2015 ini, terdapat sedikitnya 27 sumber mata air. Namun jumlah itu terus berkurang dan hingga kini tersisa sekitar 15 sumber mata air. “Ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Masyarakat harus berkontribusi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ke depan tanaman ini diharapkan dapat bermanfaat bagi anak cucu kita,” kata dia.
Menurut dia, pohon pucung bisa berumur hingga ratusan tahun. Selama itu pula, warga dapat memanfaatkan buahnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Buah dari pohon pucung dapat diolah menjadi kluwek yang biasa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan rawon. Selain itu, daun yang mengandung racun juga dapat diolah menjadi pestisida alami. Air rebusan daun pucung yang dicampur dengan bratawali, lanjut dia, efektif untuk mengusir hama perusak tanaman.
sumber Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar