Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 18 Oktober 2016

Pasar Tapioka Lokal Lesu

Quote suaramerdeka.com  :

  Impor tepung dituding menjadi salah satu penyebab lesunya pemasaran tepung tapioka lokal. Kini sejumlah perajin tapioka di wilayah Kecamatan Gumelar mengurangi hingga menghentikan produksi tepung tapioka. Perajin tepung tapioka asal Samudra Kulon, Kecamatan Gumelar, Darto mengatakan, saat ini harga tepung tak lagi menguntungkan bagi para perajin.
Dengan harga tepung tapioka sekitar Rp 6.000 per kilogram dinilai merugikan perajin. Padahal idealnya minimal harga Rp 7500 per kilogram. “Namun kini harganya anjlok hingga Rp 6.000/kg bahkan bisa lebih rendah lagi. Makanya ini merugikan para perajin. Kalau mereka yang modalnya kecil, lebih baik menghentikan sementara aktivitas produksi,” katanya.
Menurut dia, impor tepung dari Thailand dinilai turut mempengaruhi tata niaga tepung di dalam negeri. Dia berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan yang turut berpihak pada keberlangsungan ekonomi para perajin tepung tapioka di Kecamatan Gumelar. Apalagi wilayah Gumelar sudah terkenal menjadi kecamatan produsen tepung tapioka terbesar di Banyumas.
“Kalau harga dan pasaran tepung tapioka ini lesu seperti ini maka keberlangsungan ekonomi rakyat yang juga menjadi gantungan hidup keluarga pekerja menjadi terancam,” ujarnya. Di tengah lesunya pasar tepung tapioka, saat ini bahan baku tepung tapioka berupa singkong di lapangan melimpah ruah.
Harganya cukup rendah yaitu sekitar Rp 850 perkilogram. Dengan rendahnya harga jual tepung inipun membuat petani juga turut merasakan dampak. “Apalagi harga singkong ini lebih rendah dari sebelumnya yang mencapai Rp 1.700- Rp 1.800,” kata perajin tapioka yang biasa menghabiskan 10 ton singkong setiap hari untuk memproduksi tapioka.
Kepala Desa Gumelar, Kecamatan Gumelar, Susilo Urip Suprapto mengatakan, tepung tapioka menjadi salah satu dari lima produk unggulan desanya. Keberadaan produksi tepung tapioka ini membantu dan menciptakan peluang ekonomi warga. Makanya ketika terjadi kelesuan terhadap tata niaga tepung, perekonomian terpengaruh.
“Makanya terhadap keberadaan tepung tapioka ini kami mendukung dan terus mendorong perkembangannya. Apalagi ini juga menjadi bagian dari salah satu dari lima produk unggulan desa yaitu ternak kambing Peranakan Etawa Gumelar Banyumas (Pegumas), komoditas buah naga, lele dumbo, tebu, pasar desa,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar