Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 03 Oktober 2016

Kenalkan Varian Kopi Banyumasan

Quote suaramerdeka.com :
Peringatan Hari Kopi Internasional
SM/Nugroho Pandhu Sukmono
MENYEDUH KOPI : Puluhan barista menyeduh kopi pada peringatan Hari Kopi Internasional, di depan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsoed, Sabtu (1/10) pagi. (55)
SUASANAJalan HR Bunyamin, tepat di depan kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, mendadak ramai, Sabtu (1/10) pagi. Bukan karena demonstrasi mahasiswa, melainkan puluhan peracik kopi yang menggelar aksi menyeduh kopi secara massal.
Atraksi mereka menggiling biji dan menyeduh, hingga menyajikan kopi menjadi suguhan menarik. Satu per satu, pengendara pun berhenti ingin menjajal kopi racikan para barista muda ini.
Demikian hiruk-pikuk agenda yang diinisiasi Komunitas Juguran Kopi yang terdiri atas petani, penikmat, penjual kopi, hingga pengelola kafe. Dalam acara ini dibagikan 2.000 cup kopi kepada masyarakat pengguna jalan yang melintas di wilayah tersebut.
Ketua Panitia Happy International Coofe Day, Dwiki Okta Pradita, menyebutkan, selain digelar dalam rangka peringatan Hari Kopi Internasional, para barista tersebut mengenalkan varian kopi lokal di sekitar Banyumas. Menurutnya, selama ini masyarakat hanya mengetahui kopi instan pabrikan yang sudah dicampur dengan berbagai macam bahan.
Belum Akrab
“Hari Kopi Internasional yang diperingati tiap 1 Oktober belum terasa akrab dalam masyarakat. Jadi, kami ikut mengampanyekan hari kopi yang digagas untuk mendorong kedaulatan petani kopi dan fair trade kopi,” kata dia.
Dia mengatakan, lewat acara itu, mereka juga mengedukasi masyarakat di Purwokerto dan sekitarnya untuk memberikan satu cup kopi murni tanpa campuran gula dan susu, agar mereka mengetahui kopi asli yang langsung diseduh. Dia menambahkan, banyak warga yang belum mengetahui kopi lokal atau kebiasaan mengopi yang belum terekspos secara luas.
Lewat agenda Hari Kopi Internasional, Dwiki berharap masyarakat bisa melihat secara langsung pengolahan kopi mulai dari kopi biji hingga siap seduh. “Pengenalan kopi fresh, mulai dari biji hingga menyeduhkannya, kita perlihatkan di sini.
Karena kami sadar, kultur di Indonesia tidak semuanya budaya kopi, walau sebenarnya di Banyumas ada satu desa yang memiliki budaya kopi yang kental. Saya pernah ke sana dan mereka mengolah biji kopinya dengan disangrai hingga (warna biji kopi) gelap,” jelasnya.
Dukungan acara yang kali kedua digelar tersebut, Dwiki menjelaskan, sedikitnya terkumpul sebanyak 25 kilogram biji kopi yang berasal dari sumbangan berbagai kedai dan rumah kopi yang ada di eks Karesidenan Banyumas.
Juga menghabiskan 16 galon air. Koordinator Juguran Kopi Banyumas, Benny Indrawan, mengatakan, sebenarnya ada berbagai macam potensi kopi lokal yang berasal dari wilayah Banjarnegara, Banyumas, Wonosobo, dan Purbalingga yang dikenalkan dalam agenda tersebut.
Sejatinya, produk lokal ini bisa dikemas menjadi wisata lidah atau oleh-oleh untuk wisatawan. “Dari Purwokerto ada kopi yang berasal dari wilayah Baturraden, jenis robusta yang ditanam di sekitaran lereng Gunung Slamet.
Kemudian arabika kebanyakan dari wilayah Banjarnegara dan Purbalingga. Kalau dari segi rasa, berbeda antara kopi di Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera dan wilayah lainnya,” katanya. Dia mengungkapkan, kopi dari wilayah Jawa memiliki keunikan, karena ditanam di tanah yang berbeda.
Benny mencontohkan, kopi Penakir dari lereng Gunung Selamet wilayah Pemalang yang rasanya lebih manis dibandingkan dengan kopi lainnya. “Kalau untuk rasanya, kopi penakir lebih manis dan seimbang antara asam dan pahit. Mirip markisa yang dipadu gula aren,” ujarnya

1 komentar: