Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Jumat, 28 Oktober 2016

Kongres Basa Panginyongan Hasilkan Tujuh Rekomendasi

Quote suaramerdeka.com :
Kongres Basa Penginyongan I di Hotel Moro Seneng Baturraden, Banyumas, menghasilkan tujuh rekomendasi. Ketetapan yang disusun tim perumus itu diharapkan menjadi langkah maju pengembangan dan pelestarian bahasa yang dipakai oleh lima kabupaten di Jawa Tengah.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Rustin Harwanti, mengemukakan, ketujuh rekomendasi itu antara lain basa panginyongan menjadi sebutan bahasa yang ditandai kata inyong disertai upaya penguatan sosialisasi identitas di berbagai ruang publik.
Selain itu, peserta kongres juga memandang perlu ada langkah pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan basa panginyongan secara akademik, terlembagakan, dan terarah.
”Di sisi lain, dibutuhkan panduan penggunaan bahasa panginyongan berupa kamus dan unggah-ungguh, operasional, pelestarian pengembangan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh tim kecil. Setiap kabupaten juga disarankan membentuk UPT teknis kebahasaan untuk mengawal pelaksanaan perbup atau pergub,” ujarnya, saat membacakan rekomendasi Kongres Basa Penginyongan I, kemarin.
Digelar Rutin
Selain itu, sambung dia, peserta juga memutuskan Kongres Basa Panginyongan ini akan dilaksanakan secara periodik dalam waktu dua tahun sekali.
Sebagai bentuk dukungan dari kabupaten yang hadir, seperti Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Kebumen, dan tuan rumah Banyumas, setiap kabupaten yang menggunakan rumpun bahasa panginyongan dibolehkan menggelar kegiatan pengembangan dan pelestarian bahasa mendahului rumusan tim komite kongres.
Sementara itu, salah satu pemrakarsa kongres, Hadi Supeno, mengatakan, rekomendasi ini harus diikuti ikhtiar untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa banyumasan. Hal itu merupakan gerakan yang masif. ”Harapannya, penggunaan bahasa panginyongan tidak hanya dilakukan di lembaga pendidikan, tapi juga di lingkungan masyarakat dan keluarga,” kata dia.
Pemilik Grafika Group, Liem Kuswintoro, mengemukakan, para peserta kongres ini membentuk Paguyuban Penginyongan yang akan mengawal hasil kongres. ”Saya harap hasil dari kongres ini menjadi langkah untuk andil dalam pembentukan karakter bangsa,” ujarnya .

Berita sebelumnya,

”Aja Isin Nganggo Basane Dhewek”
Hari Ini Lomba Lukis Topeng Penginyongan Digelar


Bupati Banyumas, Achmad Husein meminta generasi muda tidak malu menggunakan bahasa Banyumas. Bahasa daerah ini harus ditempatkan sebagai kebanggaan masyarakat.
”Aja isin nganggo basane dhewek. Ben tetap lestari,” ucapnya saat membuka Kongres Basa Penginyongan I di Pendapa Si Panji Kabupaten Banyumas, yang diikuti perwakilan pejabat pemerintahan, tokoh, pemerhati budaya dan bahasa, serta seniman budayawan kemarin.
Dia juga mengimbau orang tua untuk membiasakan anaknya menggunakan bahasa Banyumas. Pasalnya, selama ini bahasa ibu tersebut hanya diajarkan di sekolah. Menurut Achmad, ada satu polemik istilah yang tak kunjung usai untuk menyebutkan bahasa tlatah penginyongan ini, yakni ”ngapak” dan ”penginyongan”. Ngapak populer digunakan orang Jawa wetandalam konotasi negatif.
Muatan Lokal
”Saya melihat perlu ada kesepatakan. Kalau orang banyumasan merasa tidak ada masalah disebut berbahasa ngapak ya tidak apaapa. Sebaliknya, kalau dianggap bermasalah yang harus diluruskan pada kongres kali ini,” tambahnya.
Sementara itu, steering committee kongres, Bambang Widodo mengatakan, kongres ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dalam bentuk paket kebijakan pemerintah mengenai pelestarian dan pengembangan bahasa Banyumasan.
”Kebijakannya bisa dalam bentuk mewajibkan sekolah memasukkan Bahasa Banyumas sebagai mata pelajaran muatan lokal. Hari-hari tertentu baik di kantor pelayanan maupun pemerintahan wajib menggunakan bahasa lokal ini,” kata dia.
Selain pemaparan materi dari narasumber, di Hotel Moro Seneng, Baturraden 25-27 Oktober, peserta kongres dari Kabupaten Kebumen, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara dan tuan rumah Banyumas akan dihibur pementasan kesenian ebeg dan cowongan.
Selain itu, masih ada lomba lukis topeng penginyongan pada saat famrip ke Kampoeng Agro Karang Penginyongan di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok. ”Ada lebih dari 150 pelajar SD dan SMP yang akan ikut dalam lomba lukis ini,” kata panitia kongres, Titut Edi Purwanto.

Sering Dikritik


GEMPITA Kongres Basa Penginyongan baru saja usai. Banyak lapisan masyarakat yang menaruh harapan yang terselip pada momentum itu. Tak terkecuali Sarti (53), yang terlihat lincah dan aktif untuk bersuara pada gelaran perdana kongres yang diikuti oleh lima kabupaten di Tlatah Penginyongan.
Guru mata pelajaran Bahasa Jawa ini menuturkan keluh kesahnya saat mengajar para siswanya. Bagi perempuan kelahiran Cilacap, 14 Juli 1963 ini menyampaikan materi dalam bahasa banyumasan lebih sulit ketimbangan bahasa Jawa wetan. Tak jarang, dia mendapatkan kritikan dari kalangan guru lainnya.
“Ngajar sing mandhan alus, dening koh gemradak temen. Ora nana krama inggile acan,” ujarnya menirukan kritik yang disampaikan teman-temannya. Sindiran itu pun dijawab dengan santai oleh Sarti. Menurut dia, bahasa banyumasan memang diucapkan demikian. Akan tetapi tetap memiliki tata krama atau unggah-ungguh dalam penyampaian seharihari.
Guru SMP 6 Purwokerto ini mengemukakan, pembedanya hanyalah faktor percaya diri menggunakan bahasa ibu. Rasa raguragu justru membuat orang memilih menggunakan bahasa bahasa Jawa wetan saat forum resmi maupun santai. “Anak-anak lebih senang menggunakan bahasa banyumasan tanpa merendahkan orang lain,” ujarnya.
Dia mengatakan, bahasa banyumasan tidak terbiasa digunakan oleh masyarakat baik dalam forum, pertemuan di lingkungan maupun pergaulan. Apabila tidak terbiasa, maka lama kelamaan bahasa daerah bisa saja punah. Istri dari Yulio Achmad ini menuturkan, perdebatan juga muncul pada lomba pidato banyumasan.
Pasalnya, masih banyak peserta yang menggunakan krama inggil saat menyampaikan materi. “Harusnya ada kesepakatan, bahasa banyumasan itu seperti apa, ada tata kramanya atau tidak. Tidak perlu terstandarisasi, tapi ada panduan untuk para pengajar,” katanya.
Terkait Kongres Basa Penginyongan, ibu dari Mekar Sartika dan Bintang Handaru ini mengemukakan, hasil rekomendasi kongres belum memenuhi ekspetasinya terhadap pengembangan dan pelestarian bahasa banyumasan.
Dia merasa, keputusan yang dihasilkan tim perumus rekomendasi belum bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kongres ini belum ada manfaatnya secara konkret. Perlu ada pembicaraan lebih lanjut terkait pelestarian bahasa daerah serta sosialisasi melalu berbagai media,” tandasnya.

Quote Radarbanyumas.co.id :

Bahasa Jawa Jadi Mapel Tersulit Radar Banyumas 


Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan terobosan-terobosan, sebelum nantinya bahasa daerah (Bahasa Jawa, red) benar-benar terlupakan. Sebab berdasarkan survei di institusi pendidikan, Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran muatan lokal yang dinilai paling sulit bagi siswa. Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Pardi Suratno mengatakan, jika hal tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin generasi selanjutnya akan lupa atau bahkan tidak mengenal bahasa ibu yaitu bahasa Jawa. Menurutnya, surat edaran bupati maupun Gubernur untuk menggunakan bahasa daerah pada hari tertentu, dinilai belum cukup untuk meningkatkan martabat bahasa daerah. “Bahasa merupakan wadah kebudayaan. Apabila bahasa Jawa menghilang, maka budayanya pun turut lenyap. Demikian pula dengan Bahasa Penginyongan,” ujarnya dalam Kongres Basa Penginyongan I di Pendopo Si Panji, Selasa (25/10) kemarin. Menurutnya, dari penyelenggaraan kongres Bahasa Jawa yang saat ini sudah hampir mencapai enam kali, masih belum mampu membuat bahasa Jawa menjadi bahasa yang bermartabat. Artinya, bahasa yang dipakai dalam hati nurani. Meski banyak anggapan yang menyebut bahasa tidak akan hilang selama masyarakat penginyongan masih ada, menurutnya hal itu hanya isapan jempol. Sebab meski masyarakat penginyongan masih ada, tanpa berbuat apa-apa atau tidak melestarikan penggunaan bahasa Jawa pada kehidupan sehari-hari, maka lama kelamaan bahasa juga akan terkikis. “Bahasa itu sama dengan tumbuhan sama seperti tubuh kita, kalau tidak dirawat maka semakin layu dan bisa mati lalu hilang,” ujarnya. Pardi mengungkapkan, karakter Bahasa Penginyongan yang cablaka harus terus digali dan dipertahankan. Menurutnya, bila ada pengembangan-pengembangan atau penyesuaian dengan era saat ini, bukan tidak mungkin bahasa daerah ini bisa andil memperbaiki situasi negara saat ini. Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekda Provinsi Jawa Tengah, Budi Wibowo saat membacakan pidato Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan, penggunaan bahasa Jawa, khususnya bahasa Banyumasan. juga perlu dilakukukan oleh masyarakat, tidak hanya di lingkungan pemerintah. “Harapannya masyarakat dari luar daerah yang bekerja di Jawa Tengah juga harus bisa menggunakan bahasa Jawa,” ungkapnya. Di sisi lain, bahasa Jawa harus menjadi mata pelajaran muatan lokal di setiap sekolah. Hal itu menurutnya dapat menunjang upaya pelestarian bahasa ibu. Tokoh Paguyuban Seruan Eling Banyumas (Serulingmas) Yogyakarta, Yani Saptohudoyo mengatakan, kongres semacam ini harus digelar secara rutin. Sebab hasil forum ini dapat menjadi dasar upaya pelestarian bahasa Banyumasan. “Kami yang terpencar di berbagai daerah merindukan hal semacam ini. Di perantauan kami membentuk komunitas Banyumasan, berkumpul dan menggunakan bahasa Banyumas. ‘Dadi ora kelalen karo daerahe dhewek’,” pungkasnya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar