Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 26 Oktober 2016

Event Festival Baturraden, Festival Kitiran Bakal Dikembalikan

Quote suaramerdeka.com :
Festival Kitiran dan Lomba Balap Badeg bakal dikembalikan dalam rangkaian Festival Baturraden. Kedua ajang itu pernah menjadi atraksi wisata yang dinikmati pengunjung di kawasan Baturraden.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, menuturkan, dua ajang tersebut terakhir digelar tahun 2008. Lantaran jadwal yang berbarengan dengan tradisi Garebeg Suran, maka acara bergabung dalam Festival Baturraden.
”Dulu Festival Baturraden dan Garebeg Suran adalah dua agenda terpisah. Festival Baturraden digelar Juli dan Garebeg Sura mengikuti tanggalan Jawa,” jelasnya, kemarin. Dia mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi usulan untuk menggelar kembali acara tersebut tahun depan. Pasalnya, kegiatan ini berhenti lantaran kekurangan sumber daya panitia.
Baling-baling Bambu
Deskart mengatakan, Festival Kitiran Sawah melombakan kreasi baling-baling bambu berukuran besar, yang biasa dipakai oleh petani di sawah. Alat ini berfungsi untuk mempercepat penyerbukan bibit tanaman. Sementara badeg merupakan minuman tradisional yang diolah dari nira kelapa. Para penderes dan perajin gula diajak tampil, untuk beradu keterampilan dan kecepatan berjalan saat memikul minuman ini.
”Setelah itu, badegnya diminum bersama para pengunjung,” katanya. Pengamat pariwisata dan budaya Unsoed, Chusmeru, mengatakan, selain menyuguhkan tradisi Garebeg Suran yang masih asli, atraksi wisata juga membutuhkan komodifikasi.
Tradisi suran dan festival sebagai bagian dari komoditas pariwisata harus dipisahkan. ”Jangan sampai tradisi sura kehilangan ruh budayanya.
Prosesi wajib justru yang disakralkan, tapi untuk acara pendukung lainnya bisa dimodifikasi,” kata dia. Dia menambahkan, agenda kontemporer perlu diperbanyak di sela-sela ritual sura. Lalu dipromosikan melalui cara yang tepat. Misalnya dengan mengekspos objek dan agenda wisata Banyumas di wilayah luar Jawa Tengah, bahkan luar negeri. 

Daya Tarik Festival Baturraden Berkurang

Salah satu daya tarik Festival Baturraden, yakni Garebeg Sura dinilai semakin berkurang. Pasalnya, partisipasi masyarakat kirab gunungan sangat minim. Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), Supriyono, mengatakan, masyarakat 12 desa hanya ikut ambil bagian pada Lomba Tenong. Mereka tidak menampilkan kelompok kesenian dan kreativitas lainnya.
“Tahun ini hanya dibatasi untuk lomba tenong. Lomba yang terbatas ini mematikan kreativitas masyarakat untuk menyemarakkan Garebeg Sura,” kata dia, di sela perhelatan, Minggu (30/10). Dia mengatakan, sisi sakral yang biasanya tampak pada prosesi arak-arakan hingga garebeg gunungan juga tidak terlihat. Pengawal tidak memakai pakaian adat.
Mereka justru memakai seragam Pramuka. Kirab Garebeg Sura Baturraden tahun ini dimulai dari Terminal Wisata Baturraden menuju ke dalam Lokawisata Baturraden. Ratusan pengunjung berjajar di tepi jalan menyaksikan perhelatan tersebut. Saat proses grebegan, warga yang tidak sabar menyerbu dua buah gunungan hasil bumi. Meski Bupati Achmad Husein belum selesai membuka acara.
Dipisahkan dari Lomba
Sementara itu, pegiat PMPB, Tekad Santoso, mengatakan, seharusnya tradisi Garabek Sura dipisahkan dari unsur perlombaan. Jadi, acara budaya tidak bercampur aduk dengan kegiatan yang bersifat komodifikasi.
“Kalau seperti ini malah menjadi kurang menarik. Seharusnya yang ditonjolkan adalah ciri khas dari tradisi masyarakat di Baturraden, bukan lombanya,” ujarnya. Dia mengatakan, kesederhanaan masyarakat saat bersedekah dan mengucap syukur atas berkah yang melimpah harus diutamakan. Tidak membutuhkan panggung besar untuk kalangan pejabat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengaku akan mempertimbangkan usulan tersebut. Kegiatan tradisi seperti garebeg hasil bumi, wayang ruwatan, dan larung sesaji akan dipisahkan dengan kegiatan lomba. “Kegiatan ini saya evaluasi lagi.
Ke depan perlombaan hanya menjadi rangkaian saja, tidak dimasukkan dalam tradisi Garebeg Sura,” katanya. Dia mengatakan, renovasi lahan parkir dan kios pedagang yang masih berjalan turut memengaruhi hiruk-pikuk acara ini. Seharusnya gelaran bisa digelar di Bukit Bintang yang arenanya lebih luas. 

Kemasan Acara Perlu Diubah Festival Baturraden


 Kemasan Festival Baturraden dinilai perlu diubah. Pasalnya, setiap tahun acara tersebut justru terkesan kurang menarik perhatian pengunjung.
Ketua Paguyuban Kerabat Mataram (Pakem) Banyumas, Yatman S, mengatakan, setiap tahun acara tersebut makin kehilangan nilai sakralnya.
Padahal, potensi budaya masyarakat di Baturraden masih banyak. ”Lantaran dikemas menjadi atraksi wisata, jadi kemasan sakralnya makin menghilang. Ini harus dikembalikan ke tradisi asalnya,” kata dia, kemarin. Menurut Yatman, pengunjung dan masyarakat diberikan penjelasan dari makna tradisi yang merupakan budaya Jawa tersebut.
Jadi, sisi sakralnya tidak dianggap sebagai kemusrikan. Dikatakan Yatman, pada awal mula penyelenggaraan Garebeg Sura masih ada kemasan acara seperti Lomba Balap Badeg, yaitu minuman lokal dari air nira kelapa yang dibawa dengan menggunakan bilah bambu, dan Festival Kitiran Bambu.
Dia menyayangkan kebiasaan masyarakat desa di Baturraden ini justru menghilang dari ajang tersebut. Seharusnya hal ini dimunculkan kembali untuk mengangkat budaya masyarakat. ”Tidak hanya pawai, tapi juga dimunculkan beberapa kegiatan lain yang memang asli dari Baturraden,” katanya.
Rebut Gunungan
Pada Garebeg Suran yang digelar di Lokawisata Baturraden, Minggu (30/10) pagi, masih mempertahankan rangkaian acara yang sama. Di antaranya arak-arakan dimulai dari Terminal Wisata Baturraden menuju ke kompleks situs Baturraden. Dilanjutkan dengan penyembelihan kambing kendhit, larung sesaji, dan rebut gunungan hasil bumi.
Khusus untuk perhelatan tersebut, Pakem menyiapkan 50 pasukan kerajaan yang diisi para pelajar di Banyumas. Tujuannya untuk mengawal prosesi sakral Garebeg Sura. Meski telah dikemas sebagai atraksi wisata, Yatman mengaku ingin mengembalikan nilai tradisi dalam momentum tersebut. Jadi, daya tarik utamanya yakni adat masyarakat Jawa tetap terjaga.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan, Festival Baturraden kali ini masih diisi tradisi larung sesaji dan tebar benih ikan, tumpengan, dan penyembelihan kambing kendhit yang diikuti masyarakat dari 12 desa penyangga Baturraden.
”Setelah prosesi sakral ini, masyarakat dan wisatawan menikmati suguhan wayang ruwat bumi dan pentas wayang semalam suntuk,” ujarnya. Terkait kemasan acara, pihaknya akan mengevaluasi gelaran Festival Baturraden setelah kegiatan usai.

Harus Agenda Kontemporer

FESTIVAL Baturraden sebagai salah satu atraksi wisata andalan Banyumas perlu menambah agenda kontemporer sebagai pendamping acara utama. Meski demikian, tradisi yang diangkat yakni Garebeg Suran tetap perlu dipertahankan. Pengamat pariwisata dan budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Drs Chusmeru MSi, mengatakan, tradisi suran yang sudah berjalan turun-temurun tidak boleh terlalu banyak dikomodifikasi.
Misalnya pelarungan sesaji, pemotongan kambing kendhit, dan gerebeg gunungan. Menurut dia, tradisi suran dan festival sebagai bagian dari komoditas pariwisata harus dipisahkan. Jangan sampai tradisi sura kehilangan ruh budayanya. ”Acara pendukung lain bisa dimodifikasi,” kata dia, kemarin.
Pria berkacamata minus ini mengatakan, bila Pemkab ingin memanfaatkan momentum suran sebagai upaya untuk mendulang pendapatan, maka perlu upaya dan strategi promosi wisata yang baru, inovatif, dan kekinian. Agenda kontemporer perlu diperbanyak di sela-sela ritual sura. Lalu dipromosikan melalui cara yang tepat. Misalnya dengan mengekspos objek dan agenda wisata Banyumas di wilayah luar Jawa Tengah, bahkan luar negeri.
”Tetapi hal ini sulit terwujud, bila anggaran untuk event dan promosinya sangat rendah. Perlu terobosan ‘politik anggaran’, agar Festival Baturraden tidak hanya menjadi investasi sosial budaya, tapi juga memiliki nilai ekonomis.’’ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar