Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 11 Januari 2016

Jalan Gatsu Bakal Jadi Pasar Seni, Bagian 1

Jalan Gatsu Bakal Jadi Pasar Seni

7 January 2016, Radar Purwokerto

 PURWOKERTO – Pemkab Banyumas akan menggelar pasar seni di kawasan Jalan Gatot Subroto, Purwokerto. Event tersebut merupakan usulan dari Bupati Banyumas Ir Achmad Husein, yang diutarakan saat penerimaan Anugerah Gatra Budaya Banyumas 2015.
Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Asekbangkesra) Setda Banyumas Didi Rudwiyanto mengatakan, pasar seni membidik ruang publik berupa jalan protokol yang bisa disulap menjadi ruang pameran hingga pementasan seni.
“Prinsipnya seperti car free night. Tidak ada kendaraan yang boleh masuk di area pasar seni. Isinya nanti ada stand tanpa tenda dan panggung yang bisa digunakan untuk pentas. Mulai dari teater, band hingga kesenian tradisi,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat, di Ruang Rapat Setda Banyumas, Rabu (6/1).
Dia mengatakan, rancangan desain even di Jalan Gatot Subroto yang disiapkan oleh Bappeda memakan lahan sepanjang 350 meter dengan lebar 10 meter. Mulai dari Tugu Pancasila hingga depan kantor SDABM yang berada di wilayah Kelurahan Kranji.
Selain pentas seni, Didi juga mengusulkan adanya pameran kuliner khas Banyumas untuk mengangkat potensi makanan tradisional. Di sisi lain, pemkab ingin memunculkan pusat-pusat keramaian baru selain alun-alun Purwokerto yang sudah menjadi pilihan favorit masyarakat.
“Terkait waktu pelaksanaan masih kami pertimbangkan. Mau dibuat setiap akhir pekan, satu atau dua bulan sekali. Tetapi pasar ini rencananya akan dimulai pada 2 April. Nanti dijadwalkan oleh Dinporabudpar. Kami juga masih memikirkan tagline pasar seni ini dengan mempertimbangkan lokasi dan nilai jualnya,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Muntorichin mengatakan, pihaknya akan menyiapkan penjadwalan pementasan kelompok kesenian maupun tema setiap kali perhelatan pasar seni. Pada peluncuran perdana, bidang kebudayaan telah menyiapkan tema khusus.
“Setiap kali perhelatan berbeda-beda tema. Seperti penyelenggaraan pasar seni di kota lain. Kami harap event ini bisa mendorong kehidupan berkesenian sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Subbagian Pengendalian Operasi Polres Banyumas AKP Isfa Indarto yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan, lokasi pasar seni yang berada di jalan raya harus mendapat pengamanan yang baik, agar para pengunjung merasa nyaman.


 DKKB Tolak Pasar Seni di Jalan Protokol
Komisi D dan DKKB Tolak Pasar Seni di Jalan Protokol

 

  suaramerdeka.com -13 Januari 2016 
  Komisi D DPRD Banyumas dan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) menyatakan tidak setuju lokasi Pasar Seni yang digagas dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata(Dinporabudpar) dilaksanakan di kawasan Jl protokol, Jl Gatot Subroto Purwokerto, komplek tugu pembangunan. Hal itu terungkap dalam acara klarifikasi Komisi D kepada pihak Dinporabudpar, Rabu (13/1). Hadir pula Ketua Dewan Kesenian Kebaupaten Banyumas Sadewo Tri Lastiono.
Klarifikasi dipimpin Sekretaris Komisi D Yoga Sugama, didampingi anggota komisi, Andrias Kartikosari dan Eko Purwanto. Yoga menyatakan, hasil rapat komisi memutuskan, jika pelaksanaan Pasar Seni Tugu tetap dilaksanakan di jalan protokol secara kontinyu berpotensi menimbulkan kerawanan sosial. Selain masalah kesemrawutan lalu lintas seperti yang terjadi di Pasar Minggo GOR Satria, di sekitar lokasi ada tempat ibadah, rumah jabatan Danrem 071 dan Dandim 0701 Banyumas. Selain itu, berhadapan dengan perkantoran seperti Bank Indonesia, Kantor Satlantas Polres dan rumah dinas Bakarwil III.
“Pemakai jalan umum itu tidak semua suka seni, jadi tolong diperhatikan mereka juga berhal untuk menggunakan jalan tersebut, apalagi rencananya mau dilaksanakan secara kontinye. Kalau ini terjadi benturan kan bisa menimbulkan konflik sosial. Tolong sampaikan ini ke Bupati sebagai bahan masukan dari Komisi D,” katanya.
Kepala Dinporabudpar, Muntorihin mengatakan, masukan dari Komisi D dan Dewan Kesenian akan dicatat untuk diteruskan ke Bupati, yang memiliki ide awal. Sebelumnya berbagai pihak terkait khususnya dari kalangan pegiat seni sudah sepakat lokasi di Jl Gatot Subroto. Kegiatan yang direncanakan dimulai 2 April mendatang ini, yang sudah dicoret dalam konsepnya adalah keberadaan kuliner. “Ini kan masih dalam rangka menyerap masukan dari berbagai pihak, masukan dari Komisis D dan Dewan Kesenian kita catat dan nanti kita teruskan ke Bupati, karena ini belum keputusan final,” ujarnya.
Kabid Pariwisata, Deskrat Jatmiko mengatakan, memunculkan ide-ide baru sudah wajar muncul berbagi pandangan dan sikap. Termasuk ditentang dan dikecam. Namun setelah berjalan akhirnya juga bisa diterima dengan baik. Dia mencontohkan saat membuat Festival Baturraden, butuh waktu 15 tahun untuk bisa diterima, kemudian Festival Serayu sudah berjalan delapan tahun, extravaganza enam tahun. “Untuk maju memang perlu berevolusi dan hal-hal seperti ini (pertentangan, red) sudah biasa terjadi,” ujarnya.


Panitia Pasar Seni Minta Masukan Seniman

15 Januari 2016, Suara Banyumas

Setelah dipersoalkan oleh Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas, Panitia Pagelaran Pasar Seni Tugu meminta masukan dari kalangan seniman. Saran tersebut akan menjadi bahan pertimbangan Bupati Achmad Husein untuk menyelenggarakan acara di kawasan Jalan Gatot Subroto Purwokerto ini. Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Muntorichin, mengungkapkan, setelah mendengar masukan dari Komisi D, pihaknya segera mengumpulkan seniman dan budayawan. “Ini masih tahap belanja aspirasi dan nanti akan dirapatkan kembali. Usulan yang disampaikan Komisi D akan disampaikan ke Bupati,” ujarnya, kemarin. Dia mengatakan, kegiatan yang merupakan usulan Bupati Achmad Husein ini bertujuan menghadirkan hiburan di pusat kota. Jalan Protokol Sebelumnya, Sekretaris Komisi D DPRD Banyumas Yoga Sugama menilai, acara tersebut dapat mengganggu aktivitas pengguna jalan. Mengingat jalur tersebut merupakan jalan protokol. “Untuk materinya sangat bagus, karena bisa menggali dan menggagas kesenian di Banyumas. Kami sangat setuju, hanya lokasi yang ditentukan dikhawatirkan akan mengganggu pengguna jalan lain, karena itu di jalan protokol,” kata Sekretaris Komisi D DPRD Banyumas, Yoga Sugama, dalam pertemuan yang dihadiri oleh Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) Sadewo, Kepala Dinporabudpar Banyumas Muntorichin, dan Kabid Pariwisata Dinporabudpar Kabupaten Banyumas Deskart Djatmiko, Rabu (13/1). Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan Komisi D adalah yang pertama karena Jalan Gatot Subroto merupakan jalan protokol, sehingga banyak dilalui pengguna jalan, kedua karena di jalur tersebut banyak rumah jabatan, sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas para pejabat, seperti rumah Danrem 071/ WK dan rumah Dandim 0701/Bms. Pertimbangan lain, karena ada Bank Indonesia, dan karena di jalur tersebut terdapat tempat ibadah seperti gereja. “Dikhawatirkan akan mengganggu masyarakat yang akan beribadah. Setiap malam Minggu juga biasanya kan ada orang yang datang ke gereja,” jelasnya. Menurutnya, fungsi jalan tersebut sangat tidak relevan jika digunakan untuk acara Pasar Seni. Karena akan mengganggu pengguna jalan lain. “Mungkin memang baik bagi yang suka seni, tapi bagi yang tidak suka seni bagaimana? Dampaknya bagi yang tidak suka seni, akan menimbulkan konflik horizontal nanti,” ujarnya. Dia menyarankan, acara tersebut diadakan di lokasi-lokasi yang tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan, seperti di Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP). Ketua Paguyuban Kerabat Mataram (Pakem) Yatman S menganjurkan Pasar Seni menggunakan jalan yang memiliki dua jalur. Seperti Jalan Gerilya dan Stadion Mini. “Stadion Mini kan tertutup. Daripada tidak terpakai, lokasi itu bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Konsep Festival Dianggap Ideal
● Pasar Seni Tugu


Konsep festival dianggap paling ideal sebagai kemasan acara seni dan kuliner di Jalan Gatot Subroto Purwokerto. Pasalnya, format ini hanya setahun sekali dan mengedepankan aspek kualitas performing art.
Menurut Kepala SMA 3 Purwokerto, Warmanto, ide perhelatan pasar seni ini sangat brilian. Karena itu, sebaiknya acara tersebut tidak digarap asal-asalan.
”Kalau tujuannya menarik wisatawan, pementasan seninya juga tidak digarap asal-asalan. Perlu ada seleksi,” ujarnya, dalam diskusi bersama seniman dan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, pekan lalu.
Dia mengatakan, kualitas pengisi acara perlu dijaga untuk mengangkat nama Festival Tugu. Perhelatan ini sebaiknya dipersiapkan yang matang. Menurut dia, format festival tidak akan memberatkan para pengguna jalan dan aktivitas perkantoran di sekitar Jalan Gatot Subroto.
Pasalnya, durasinya hanya setahun atau dua tahun sekali. ”Pengisi acara juga harus menonjolkan seni khas banyumasan yang sangat jarang ditampilkan. Ini untuk menjaga wibawa festival. Penggarapan event ini juga sebaiknya ditangani oleh orang yang mampu dan mengerti tentang manajemen event,” kata dia.
Pegiat Teater Tubuh, Bambang Wadhoro, mengatakan, tidak semua seniman di Banyumas memahami manajemen seni. Belum tentu suatu seni tradisional layak untuk ditampilkan pada festival tersebut. ”Kalau kemasannya untuk wisatawan, ya harus dikemas dengan baik dan menarik. Ini perlu ada seleksi pada partisipan acara,” ucapnya.
Sangat Sederhana
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengungkapkan, konsep pasar seni ini sejatinya sangat sederhana. Hanya mengundang beberapa penjual makanan untuk menempati lapak yang sudah disediakan di jalan. Tidak seperti Banyumas Extravaganza atau Festival Kentongan yang kerap menjadi biang kemacetan.
”Lahan yang dipakai hanya sepanjang 350 meter dan lebar 10 meter. Jadi, tidak terlalu besar. Kantongkantong parkirnya disiapkan di sepanjang Jalan Gatot Subroto dan memakai lahan di sekitar perkantoran,” jelasnya. Aktivitas di pasar seni dan kuliner tersebut, sambung dia, menjadi atraksi alternatif di pusat kota.
Harapannya, para wisatawan yang berkunjung ke Purwokerto merasa lebih betah, karena banyak hiburan yang mudah diakses. Meski demikian, usulan para seniman tersebut akan disampaikan kepada Bupati Banyumas Achmad Husein. ”Masukan dari seniman ini akan menjadi salah satu pertimbangan,” ujarnya.


18 Januari 2016, Suara Banyumas


Seniman Dukung Pasar Seni Tugu


16 Januari 2016 1:22 WIB Category:
SmCetak, Suara Banyumas

Sejumlah pelaku seni, kalangan akademisi dan budayawan mendukung perhelatan pasar seni ”Tugu” yang digelar di Jalan Gatot Subroto Purwokerto. Pasalnya, even semacam ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat seni sebagai ruang apresiasi. Hal ini diungkapkan dalam diskusi bersama di kantor Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Jumat (15/1). Kepala SMA 1 Purwokerto, Arif Priadi mengaku sangat menantikan even semacam ini. Menurut dia, para pelajar yang aktif pada kegiatan ekstrakurikuler seni budaya di sekolah dapat dilibatkan. ”Kami justru kecewa ketika even itu tidak boleh digelar di Jalan Gatot Subroto. Padahal ini kesempatan bagi pelajar di sekolah kami untuk tampil,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Padhepokan Cowongsewu Titut Edi Purwanto mengatakan, Tugu Pembangunan yang menjadi ikon pasar seni merupakan magnet yang sangat tepat. Pasalnya, tugu tersebut merupakan simbol Kota Purwokerto di masa lampau. ”Orang-orang yang lahir sekitar 1970-an pasti masih ingat, tugu ini menjadi salah satu tempat untuk nongkrong selain Alun-alun Purwokerto,” ujarnya. Menurut Titut, masalah kemacetan yang dipersoalkan dalam pemberitaan sebelumnya harus menjadi salah satu perhatian. Pasalnya, saat ini hampir di setiap sudut Purwokerto juga macet. Festival Guru Kesenian SMP 5 Purwokerto, Cipto Pratomo menyarankan, Pemkab Banyumas sebaiknya konsisten dengan konsep even yang bakal dimulai pada bulan April 2016 ini. Dia mendukung even di sekitar Tugu Pembangunan ini apabila menggunakan konsep festival. ”Kalau konsepnya pasar seni, sebaiknya tidak digelar di Jalan Gatot Subroto. Pasti mengganggu pengguna jalan dan fasilitas perkantoran karena waktunya rutin setiap pekan atau sebulan sekali. Lebih baik dialihkan ke Jalan S Parman atau di dalam Taman Rekreasi Andhang Pangrenan. Sedangkan festival bisa digelar setahun sekali atau dua tahun sekali,” ujarnya. Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengungkapkan, perhelatan ini bertujuan untuk menghadirkan hiburan bagi wisatawan di pusat kota. Di sisi lain, dia ingin masyarakat dan seniman juga merasakan imbas berupa peningkatan taraf ekonomi. ”Dalam kacamata pariwisata, Festival Tugu ini merupakan atraksi wisata yang dapat menambah lama tinggal wisatawan. Tentunya pusat-pusat keramaian seperti ini harus dikelola dengan baik dan memiliki ciri khas yang menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.

16 Januari 2016 , Suara Banyumas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar