Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 06 Januari 2016

Al Quran versi Ngapak, Ibadah Novelis Ronggeng Dukuh Paruk


07 Des 2015 Liputan6.com,

Ahmad Tohari, anggota tim penerjemah Al Quran versi Ngapak, menuturkan anggaran untuk pengerjaan proyek tersebut mandek. Akibatnya, honor bagi anggota penerjemah ikut tersendat.
Walau begitu, budayawan Banyumas itu mengaku tak kecewa. Tohari mengaku sebelum pembentukan tim, mereka sudah diyakinkan bahwa pekerjaan penerjemahan yang mereka lakukan adalah bagian dari ibadah. Maka itu, honor bukan prioritas utama.
"Sedikit boleh, banyak boleh. Enggak ada juga enggak apa-apa," ujar Tohari saat ditemui di rumahnya di Jatilawang, Banyumas, Senin (7/12/2015).
Selain ibadah, novelis Ronggeng Dukuh Paruk itu punya alasan pribadi. Lelaki 64 tahun ini ingin menyeimbangkan karya ciptanya. Selama ini, ia banyak menciptakan karya berbau sekuler. Karenanya, Tohari merasa pengerjaan terjemahan Bahasa Banyumasan sebagai penutup karya yang indah.
"Cukup bermakna lebih," kata Tohari
Tohari berusaha agar terjemahan Ngapak yang dikerjakannya konsisten dengan budaya Banyumas. Selain pemilihan kosakata, pemilihan sampul terjemahan juga memilih gambar gunungan pewayangan yang dipadu dengan kaligrafi.
Gunungan itu merupakan karya dalang Entus Susmono yang kini menjadi Bupati Tegal. Gunungan merupakan ornamen yang selama ini dikenal akrab dengan masyarakat Banyumas.
Terkait kosakata sendiri, penyusunan terjemahan tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kosakata sulit yang dicari padanannya ialah ketika menerjemahkan teks Quran yang menceritakan tentang umat Nabi Lut.
Bahasa Ngapak tidak menemukan padanan kata untuk sebutan homo dan lesbian. Setelah ditelusuri, ia memadankan kata Njambu untuk homo dan Gerus Lumpang untuk lesbian .
Pada akhirnya, Tohari menyatakan terjemahan yang disusunnya tidak mungkin bisa sempurna 100 persen. Dia menyatakan dalam bahasa apapun, semua terjemahan hanyalah alat bantu. Teks terjemahan tak berdiri sendiri, selalu berdampingan dengan teks aslinya dalam Bahasa Arab.
Atas upaya Tohari dan tim, Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan, penerjemahan Al Quran dalam Bahasa Banyumas merupakan terobosan yang cukup bagus.
"Cukup cerdas. Ini memudahkan orang Banyumas mengerti Al Quran," kata Husein.

-------Terkait launching Quran translate versi Banyumasan beberapa waktu lalu .inilah bagian dari proses pembuatannya.------
 

 Meluncur Terjemahan Alquran Versi Ngapak 


07 Des 2015 Liputan6.com,

Kabar gembira bagi penutur Bahasa Banyumasan. Kementerian Agama baru saja meluncurkan terjemahan Alquran dalam bahasa yang kondang disebut bahasa Ngapak itu, pekan lalu. Usaha penerjemahan itu dirintis sejak 3 tahun lalu. Salah satu anggota tim penyusunnya, budayawan Ahmad Tohari (67), mengatakan upaya itu juga untuk lebih mendekatkan Alquran ke komunitas abangan. Selain itu juga sekaligus untuk melestarikan bahasa Ngapak yang disinyalir terancam punah. Tohari mengaku usaha penerjemahan itu bukan hal mudah. Banyak kosakata bahasa Indonesia dan Arab yang sulit dicarikan padanannya dalam Bahasa Banyumasan. Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu mengaku berat badannya sampai turun 1,5 kilogram. "Saya sempat stres, tapi karena niatnya ibadah saya jalani dengan nikmat," ujar Tohari saat ditemui di rumahnya di Jatilawang, Banyumas, Senin (7/12/2015). Tohari terpilih menjadi salah satu dari Tim 11 yang dibentuk Kementerian Agama untuk proyek penerjemahan itu. Ia terpilih karena selama ini dikenal sebagai penyusun kamus Jawa dialek Banyumasan. Dimulai pada 2011, masing-masing anggota berbagi tugas menerjemahkan 1/11 Alquran. Mengingat tak semua anggota tim berasal dari Banyumas, proses penerjemahan terbagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama penerjemahan bisa diselesaikan dalam waktu 1,5 tahun. Sebagai basis terjemahan digunakan Alquran terjemahan Indonesia keluaran Kemenag 2011. Namun, tim tetap kembali ke teks asli untuk bisa mencari akar makna dari teks asli. Selanjutnya, seluruh hasil terjemahan diserahkan ke Tohari untuk diedit. Pada tahap ini, Tohari bisa menyelesaikannya dalam waktu 6 bulan. 

 Padanan Kata 

 Berikutnya ialah tahap validasi. Pada tahap ini, ujar Tohari, ikut dilibatkan ahli bahasa Arab, penghapal, pengasuh pondok pesantren dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) untuk lebih mendekatkan makna sesungguhnya. Terjadi perdebatan saat penyusunan itu meski akhirnya bisa diatasi. "Misalnya, di dalam Alquran, kata ganti Allah itu ada dua, yakni aku dan kami. Dalam terjemahan Banyumasan, semua mendasarkan pada kata ganti aku atau ingsun," ujar Tohari. Selain itu, ada beberapa kosakata bahasa Indonesia yang di dalam bahasa Banyumasan tidak ada. Seperti, kata ganti orang pertama jamak kami dalam bahasa Jawa standar adalah kita . Namun, dalam bahasa Banyumasan tidak mengenal kata kita , mereka lalu menggantinya menjadi Inyong Kabeh. Contoh lainnya, sambung dia, teks Wal Ashri atau yang berarti demi waktu atau demi masa. Di dalam bahasa Banyumasan tidak populer dan tidak ada padanan untuk kata demi. Lalu, mereka memilih kata Sekawit untuk mengganti kata demi walau kata itu saat ini sudah sangat jarang digunakan bahkan nyaris tidak dikenal.

 Tohari menegaskan penerjemahan tersebut memang sejak awal bertujuan untuk mendekatkan Alquran kepada masyarakat abangan. Golongan itu, menurut dia, jumlahnya lebih besar dibanding pengikut NU maupun Muhamadiyah. "Menurut penelitian, jumlah Islam abangan sekitar 62 persen," kata Tohari. Dalam penggunaan kosakata pun, ia lebih memilih kosakata awami atau populer di masyarakat, yang ia sebut kosakata kerakyatan. Tujuannya agar masyarakat lebih mudah untuk memahaminya. Ia menerangkan bahasa Banyumasan aslinya ialah bagian dari bahasa Jawa Kuno yang tidak memakai unggah-ungguh dan tidak ada dominasi vokal O. Namun, bahasa Banyumas saat ini sudah mulai mengenal unggah-ungguh karena lama menjadi daerah kekauasaan Mataram yang masuk dalam kategori Jawa Anyar. Perubahan rasa bahasa itu berpengaruh pada terjemahan Banyumasan. Ia mencontohkan dialog antara Tuhan dengan manusia tetap menggunakan bahasa krama tapi dalam tingkatan yang sederhana. Contoh lainnya, orang Banyumas mempunyai padanan kosakata 'bagaimana ' yang beragam, seperti kepriwe, kepriben, kepimen dan lainnya. Mereka sepakat untuk menggunakan standar kata kepriwe . Lainnya, kata 'dimakan' dalam Banyumasan menggunakan 'depangan ' bukan ' dipangan'. Sebab, kata 'dipangan' merupakan kata yang lazim di daerah Jawa bagian wetan atau Surakartaan. "Kami usahakan pakai bahasa yang khas Banyumas," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar