Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 30 September 2016

Warga Gunung Tugel Butuh Pelatihan Keterampilan

Quote suaramerdeka.com :
Warga yang tinggal di sekitar kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel RT 4 RW 6 Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja yang tadinya menjadi pemulung sampah, saat ini membutuhkan bekal keterampilan untuk meningkatkan perekonomian mereka. Ini menyusul ditutupnya TPA Gunung Tugel oleh Pemkab Banyumas pada Maret lalu.
Adapun sebagai penggantinya Pemkab membangun TPA Kaliori yang lokasinya agak jauh dari Gunung Tugel. Salah satu warga Kampung Gunung Tugel, Indri mengungkapkan, sebagian besar warga di kampung ini berprofesi sebagai pemulung. Bahkan sebagian dari mereka mengandalkan profesi ini untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga ketika TPA ditutup, mereka tidak bisa beraktivitas lagi.
”Banyak warga sini yang tadinya bekerja sebagai pemulung, kini menganggur. Lihat saja sekarang banyak ibu-ibu yang tadinya setiap hari pergi ke TPA untuk memungut sampah yang bisa dijual, tetapi setelah TPA ditutup, mereka lebih banyak berada di rumah,” terangnya.
Kebutuhan Keluarga
Dia menilai, penghasilan menjadi pemulung cukup membantu kebutuhan keluarga. Bagi ibu-ibu yang berprofesi sebagai pemulung, dalam sepekan mereka bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 100 ribu, sehingga cukup membantu keluarga. Oleh karena itu, agar warga yang tadinya bekerja sebagai pemulung dapat kembali memiliki penghasilan, mereka perlu beralih pekerjaan.
Namun persoalannya, tidak sedikit di antara mereka yang tidak memiliki bekal keterampilan. ”Sebaiknya mereka mendapatkan bekal keterampilan agar bisa berwirausaha sendiri. Maka dari itu, pemerintah daerah sebaiknya bisa memberikan pelatihan bagi mereka,” tambah guru PAUD ini.
Kepala Desa Kedungrandu, Ali Masyhadi, mendukung pemberian pelatihan keterampilan bagi warga Kampung Gunung Tugel yang tadinya berprofesi sebagai pemulung. Dengan begitu, mereka dapat beralih ke pekerjaan yang lebih baik. Kendati demikian, menurutnya, sebagian dari mereka masih ada yang menjadi pemulung. Mereka memulung sampah di TPA Kaliori yang sudah beroperasi sebagai pengganti dari TPA Gunung Tugel.
”Biasanya mereka berangkat secara berombongan dengan naik mobil bak terbuka. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami juga telah koordinasi dengan Pemerintah Desa Kaliori agar mereka diizinkan untuk melakukan aktivitas di TPA Kaliori,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar