Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Selasa, 27 September 2016

Penggunaan Bahan Tambahan Gula Terus Diminimalkan

Quote suaramerdeka.com:
Untuk mendukung produksi makanan sehat khususnya gula kelapa, sejumah pemerintah desa penghasil gula kelapa terus mendorong para penderes untuk tidak lagi menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) kimia pengeras atau pengawet gula.
Diharapkan, kembalinya produksi gula ke proses organik, maka produk gula akan semakin diminati pasar. Kepala Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen, Herlina Wijayanti terus mendorong peran kelompok petani gula untuk menjadi pelopor terbebasnya penderes dari BTP berupa natrium bisulfit yang selama ini banyak dipakai penderes.
Melalui larutan pengeras dari bahan organik yang ada di lingkungan, diharapkan produk makanan gula yang dihasilkan petani akan semakin sehat. Apalagi seperti diketahui saat ini pasar produk pangan organik makin berkembang. “Kami terus mendorong peran kelompok petani gula khususnya Manggar Jaya dalam mendorong produksi gula sehat organik.
Kami berharap ini dapat mendorong petani lainnya untuk mengikuti sehingga ke depan produk gula kelapa dari Semedo makin diminati pasar dan mendorong kesejahteraan penderes,” katanya, kemarin. Dijelaskan Herlina, di Semedo 707 warganya bekerja sebagai penderes gula kelapa. Jumlah tersebut hampir mencapai 70 prosen dari total penduduk Semedo.
Terkait hal itulah potensi pendapatan warga di desa setempat sangat tergantung pada perkembangan pasar gula. Makanya pemerintah desa terus mendorong pemerintah daerah, pihak swasta ataupun akademisi yang turut mendorong berkembangnya penghidupan penderes agar semakin baik. “Kami berharap ke depan, dengan dukungan dari berbagai pihak kehidupan penderes gula ini dapat semakin baik.
Karena memang di tengah risiko tinggi pekerjaan ini, regenerasi penderes semakin minim. Makanya harga yang berpihak pada penderes sangat dibutuhkan. Kamipun mendorong terbentuknya koperasi yang bisa menjadi penunjang peningkatan posisi tawar dari penderes,” katanya.
Pengembangan Berbasis Riset
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Suwarto MS, Unsoed sebagai perguruan tinggi negeri di Banyumas terus berusaha mengadakan berbagai riset dan teknologi tepat guna untuk mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi penderes di Banyumas.
Terkait dorongan produksi makanan sehat berupa gula organik, Unsoed juga telah memberikan formulasi larutan pengeras dan pengawet gula kristal organik dari bahan alami baik itu daun sirih, kulit manggis, bunga kecombrang dan daun cengkeh. Selain itu riset tentang teknologi tepat guna bagi perajin gula kelapa hingga pemasaran juga terus dilangsungkan.
“Kami mengapresiasi kesadaran para penderes yang telah beralih dari menggunakan natrium bisulfit menuju larutan organik. Penderes sadar kalau menggunakan natrium bisulfit sama artinya membunuh konsumen gula secara pelan-pelan. Karena seperti diketahui natrium bisulfit ini mempunyai efek korosi yang keras bahkan terhadap logam,” ujarnya.
Rektor Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Ahmad Iqbal menyatakan gula kelapa asal Banyumas menjadi produk yang semakin dilirik dunia. Unsoed terus berupaya mendorong pemberdayaan masyarakat termasuk petani penderes di Banyumas. Melalui pengembangan riset dan teknologi, Unsoed terus mendorong pemberdayaan masyarakat petani secara
berkelanjutan baik ekonomi maupun lingkungan. Dengan peran Ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, Unsoed telah berkiprah tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. “Dengan riset terintegrasi dan multidisipliner, Unsoed terus berusaha mendorong terwujudnya masyarakat mandiri dan sejahtera.
Kami berharap melalui Iptek inilah akan muncul desadesa mandiri sejahtera dan kami yakin dengan kekuatan Iptek maka bangsa ini akan bangkit,” katanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar