Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 26 September 2016

Kearifan Lokal Basis Mitigasi Bencana

Quote suaramerdeka.com:
UPAYA mencari selamat bagi orang Jawa khususnya di Banyumas yang terepresentasi dalam berbagai kearifan lokal dapat dijadikan menjadi basis mitigasi bencana.
Di tengah ancaman bencana alam yang saat ini mengancam warga, filosofi mencari keselamatan yang sudah masuk dalam pikiran hingga laku keseharian patut digali dan diangkat kembali.
Demikian disampaikan budayawan sekaligus sastrawan Ahmad Tohari. Di masa lampau orang akan sangat tanggap dengan pertanda alam di sekitar mereka.
Gejala alam adalah ‘sasmita’ yang saling terkait dengan kejadian alam lainya termasuk bencana alam. Terkait hal itulah, mereka akan berusaha melaksanakan penyelamatan diri mereka dari bencana.
“Mereka akan waspada terhadap potensi gempa bumi hingga erupsi gunung, yang biasanya ditandai dengan turunnya binatang dari gunung, semut keluar dari sarang hingga gonggongan anjing yang tidak henti yang tak jelas sebabnya,” katanya.
Perilaku marga satwa yang turun dari gunung terutama dari gajah yang berlari hingga batas lokasi tsunami terjadi juga terjadi saat tsunami dari Aceh hingga Thailand saat Desember 2004 lalu. Meskipun sepintas dianggap kurang rasional, namun buktibukti pengetahuan, filosofi dari kearifan lokal terbukti sangat bermanfaat bagi warga.
Terkait hal itu, dengan pemikiran masyarakat modern sekarang sudah seharusnya mereka dapat merasionalisasi berbagai kearifan lokal yang ada di lingkungan mereka untuk mitigasi bencana. “Saya kira ini masih relevan dalam hal untuk mitigasi kebencanaan.
Angkat kembali kearifan lokal, karena di tengah balutan berbau mitologi, banyak hal yang rasional atau masuk akal. Apalagi filosofi orang Jawa adalah mencari selamat,” ujarnya.
Desa Tangguh
Dikatakan, yang patut diperhatikan dan dilestarikan lagi adalah kesiapsiagaan dan ketangguhan warga hingga pemerintah desa di masa lampau terhadap bencana. Keberadaan perangkat desa sebagai jagabaya (penjaga bahaya) terbukti efektif dalam mendorong dan menggerakkan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana di lingkungan desa.
Jagabaya inilah yang disebut sebagai polisi desa. Pemkab Banyumas terus mendorong masyarakat untuk semakin siaga dan tangguh menghadapi berbagai potensi bencana alam di wilayah Banyumas.
Selain pembentukan lima desa tangguh bencana, komunitas masyarakat peduli bencana hingga praktik kearifan lokal terus digali dan dilaksanakan sebagai basis mitigasi bencana di Banyumas.
“Mulai dari dalam diri sendiri, kita dapat membantu keluarga dan komunitas untuk membangun kesiapsiagaan, maupun pada saat menghadapi bencana dan pulih kembali pasca bencana,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Erry Cahyono.
Pemerintah Kecamatan Lumbir juga terus mengainventarisasi berbagai kearifan lokal baik itu berupa nilai, tradisi, pengetahuan, artefak dan budaya yang ada di masyarakat.
Apalagi seperti diketahui mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, seperti yang dipunyai oleh masyarakat Baduy, Banten hingga masyarakat Pulau Nias yang terbukti berhasil meminimalisasi risiko tanah longsor dan tsunami.
“Pantangan menebang pohon tertentu di suatu tempat yang bisa menjadi tanaman konservasi sebagai kearifan lokal patut dikembangkan lagi,” tutur Camat Lumbir, Budi Nugroho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar