Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 28 September 2016

Banyumas Akan Terapkan Kota Cerdas

Quote suaramerdeka.com :
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menginisiasi konsep smart city atau kota cerdas di Kabupaten Banyumas. Tahap awal menuju perwujudan smart city dengan mengimplementasikan smart economy yang merupakan salah satu elemen penting dalam pengembangan smart city.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan, smart economy merupakan salah satu pendekatan dalam memberikan solusi terhadap permasalahan ekonomi di daerah yang salah satu caranya adalah memaksimalkan fungsi teknologi.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, pada Oktober-Desember 2016 akan dijadikan momentum untuk menuju smart economy-smart city dengan me-launching beberapa program elektronifikasi di Banyumas. Beberapa pihak yang terlibat dalam inisiasi ini antara lain, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto, BPMPD Banyumas, Pemkab Banyumas dan perbankan Banyumas.
”Kami akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menerapkan transaksi nontunai di tempat-tempat wisata. Kami juga akan mempelopori transaksi nontunai di Pasar Manis Purwokerto,” katanya kemarin. Dia menambahkan, untuk kesiapan pelaksanaan tersebut, pihaknya telah melatih sekitar 30 pedagang Pasar Manis yang bekerja sama dengan perbankan.
Para pedagang itu dilatih melakukan transaksi nontunai dengan menggunakan mesin EDC atau (electronic data capture). ”Jadi nantinya para pedagang itu menerapkan transaksi nontunai, kemudian akan diikuti oleh pedagang lainnya di pasar itu,” ujarnya.
Pelatihan
Dikatakan, perwujudan smart city menjadi sesuatu yang perlu disegerakan dan mutlak dibutuhkan. Apalagi sekarang ini, arah di dunia termasuk di Indonesia mengarah ke smart city yang berlandaskan dengan teknologi informasi.
”Kalau kota-kota lain sudah menerapkan konsep smart city, sementara kita belum maka kita akan semakin ketinggalan,” ujar Denny. Kabid Pasar dan PKL Dinperindagkop Banyumas, Amrin Ma’ruf mengakui para pedagang memang telah mendapat pelatihan transaksi nontunai dari BRI, bahkan mereka akan memiliki mesin EDC.
”Tapi kami berharap tidak hanya satu bank yang andil, karena masyarakat yang berbelanja di pasar itu merupakan nasabah dari beberapa bank lain,” katanya. Dia mengatakan, penerapan transaksi nontunai selain dapat menekan uang beredar di pasar, keuntungan untuk pengelola pasar adalah dapat mempromosikan pasar rakyat semi modern kepada masyarakat luas.
”Apabila tingkat pengunjung ke pasar rakyat semakin banyak, harapannya kesejahteraan pedagang meningkat. Untuk itu, supaya konsep ini bisa berjalan lancar dibutuhkan dukungan semua pihak,” katanya. Ramdan Denny Prakoso kembali mengatakan, untuk menyukseskan konsep ini pihaknya akan menyosialisasikan tentang manfaat transaksi nontunai kepada masyarakat, di pasar tradisional maupun desadesa.
”Perlu ada sosialisasi, imbauan serta penerapan setengah memaksa untuk mengubah transaksi dari metode pembayaran tunai ke nontunai, serta dari ekslusif ke infklusif. Ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT),” katanya menjelaskan. Denny berharap setelah konsep ini teralisasi, para pedagang ini dapat menggalakkan pasar online.
Pemasaran ini menggunakan layanan sistem informasi manajemen berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi. Terpisah, Wakil Ketua Kadin Banyumas, M Arsad Dalimunte mengatakan, kemudahan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi semacam ini dapat mendorong setiap orang untuk berkarya dan mengembangkan kreativitasnya.
Pada gilirannya mendorong pertumbuhan laju industri kreatif yang mendatangkan multy effect dalam arti positif. ”Kemajuan teknologi telah banyak merubah tata kelola industri yang tadinya manual menjadi serbamodern dan mendatangkan kecepatan yang lebih, serta pembiayaan yang lebih efisien,” katanya.
Namun, untuk mengarah ke sana dibutuhkan proses panjang. Sebab, mengubah budaya masyarakat dari konvensional ke online. ”Terobosan konsep ini bagus, tapi butuh tahapan agar masyarakat terbiasa dengan transaksi nontunai,” katanya. 

Literasi Keuangan Perlu Ditingkatkan

METODE – metode pembayaran nontunai sebagai langkah awal dalam implementasi smart citysmart economy memberi manfaat besar, seperti transaksinya menjadi mudah, aman, efisien dan terhindar dari pemalsuan uang.
Namun demikian, untuk memasyarakatkan layanan transaksi nontunai di pasar tradisional maupun pusat-pusat belanja, Bank Indonesia Purwokerto maupun perbankan harus meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan, karena sebagian besar masyarakat saat ini masih menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.
”Memang manfaatnya sangat besar, tapi kendalanya sebagian masyarakat Banyumas belum memiliki rekening. Padahal, rekening mutlak dibutuhkan untuk bertransaksi nontunai,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Purwokerto, Suliyanto.
Belum lagi, apabila konsep ini diterapkan di pasar tradisional, maka edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terus digalakkan. Sebab, seperti diketahui para pengunjung atau pembeli yang berbelanja di pasar tradisional mayoritas adalah masyarakat menengah ke bawah. Artinya, tingkat literasi keuangan pengunjung pasar tradisional lebih rendah daripada pasar modern.
”Di pasar modern saja masih banyak yang menggunakan transaksi tunai, apalagi di pasar tradisional. Untuk itu, perlu keseriusan dalam mengedukasi kepada masyarakat yang melibatkan pihakpihak terkait,” katanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar