Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 19 September 2016

Kecap Lokal Tetap Diminati

suaramerdeka.com
Meskipun harus bersaing dengan kecap merek besar, kecap lokal tradisional di Banyumas masih diminati konsumen. Selain rasanya khas, harga terjangkau menjadi pilihan untuk membeli kecap tersebut.
Pemilik toko kelontong di Kecamatan Kemranjen, Yulian Ranto (30) mengatakan, kecap lokal tetap diminati para pembeli meskipun sekarang ini banyak kecap-kecap merek besar beredar di wilayah pinggiran. “Orang kalau sudah mencicipi rasa khaslokal tidak akan berpaling ke merek lain.
Saya juga tidak tahu kenapa, padahal saya juga menjual kecap lain merek besar,” ujar dia, kemarin. Ia menilai, kecap lokal tradisional harganya juga terjangkau.
Hal ini dapat dimanfaatkan konsumen yang memiliki usaha sate, soto, bakso maupun mi ayam. “Kalau membeli kecap botolan, konsumen lebih banyak memilih kecap merek lokal, tapi kalau kecap sachet mereka memilih kecap merek besar,” katanya.
Harga kecap lokal tradisional, kata Ranto, untuk masing-masing merek harganya berbeda, namun masih di bawah Rp 20 ribu per botol. “Harga kecap antara Rp 14.000 hingga Rp 18.000 per botol. Satu botol berisi 625 ml,” katanya.
Pelanggan
Pemilik usaha kecap lokal di Kecamatan Kebasen, Safei Rahmat mengaku rasa dan harga menjadi salah satu pertimbangan konsumen untuk terus mengonsumsi kecap lokal tradisional.
“Saya tidak takut bersaing, karena saya memiliki pelanggan sendiri. Apalagi orang kalau sudah suka pada kecap merek tertentu, ia akan sulit pindah ke merek lain,” ujarnya.
Usaha kecap tradisional warisan dari orang tuanya itu sampai saat ini masih berjalan, bahkan semakin berkembang. Usaha kecap tradisional ini juga sudah dikembangkan oleh anak Safei dengan jangkauan pemasaran di wilayah eks Karesidenan Banyumas.
Sebagian besar produknya di pasarkan ke toko-toko sembako dan pedagang satai ayam dan kambing. Setiap hari jumlah produksinya mencapai 200 botol. Jumlah ini biasanya meningkat saat menjelang Lebaran dan musim hajatan.
“Saya terus menjaga kualitas rasa agar konsumen tidak berpindah ke merek kecap lain,” katanya. Kepala Seksi Industri Hasil Hutan dan Pertanian, Dinperindagkop Banyumas, Sri Gito mengatakan, industri rumahan kecap tradisional di Banyumas jumlahnya mencapai puluhan.
Mereka tersebar di wilayah Kota Purwokerto, Kecamatan Kebasen dan Sumbang. “Jenis kecap yang masih beroperasi antara lain kecap Riboet, kecap Damai, dan kecap Ayam Bentul,” ujar dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar