Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 28 September 2016

Nasib Cagar Budaya Bergantung Pimpinan Daerah

Quote suaramerdeka.com  :
Nasib sedikitnya 300 cagar budaya yang tersebar di wilayah Banyumas sangat bergantung pada peran pimpinan daerah. Bupati sebagai pengampu kebijakan memiliki peran penting dalam pelestarian peninggalan sejarah.
Pegiat Banjoemas History Heritage Community, Jatmiko Wicaksono, mengemukakan, sejak tahun 1999 hingga sekarang, hanya satu benda cagar budaya (BCB) di Banyumas yang memiliki kekuatan legal formal berdasarkan surat keputusan menteri, yakni Masjid Nursulaiman. Padahal, masih banyak situs, arsitektur, bangunan, dan benda sejarah lain yang terancam.
”Dalam daftar inventarisasi BCB yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, tercatat sekitar 300-an peninggalan bersejarah yang tersebar di Banyumas,” katanya, pada diskusi cagar budaya bersama Tim Ahli Cagar Budaya Banyumas, guru Sejarah, dan pegiat dan tokoh budaya, di RM Pringgading, akhir pekan lalu.
Bukti Kelemahan
Dia mengatakan, cerobong Pabrik Gula Kalibagor yang roboh tahun lalu menjadi bukti kelemahan Pemkab untuk melindungi cagar budaya yang bernilai sejarah nasional.
Seharusnya hal ini bisa dicegah, bila pimpinan daerah memiliki kepedulian. Setelah kejadian tersebut, pegiat komunitas ini mulai berfokus pada kegiatan edukasi. Cagar budaya sejatinya masih bisa dimanfaatkan tanpa mengubah, memindahkan, atau merobohkan.
Melalui laman banjoemas.com, Jatmiko dan rekanrekannya menulis sejumlah catatan cagar budaya. Website ini pun mampu memancing respons beragam dari pembacanya. Pemerhati budaya, Sunardi, menyebutkan, di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, tersimpan puluhan benda sejarah yang sebagian besar belum terdata di BPCB.
Dia meminta, Pemkab dan Tim Ahli Cagar Budaya bergerak lebih cepat. ”Masih banyak kondisi benda cagar budaya yang tak kalah memprihatinkan,” kata dia. Sementara itu, guru Sejarah SMA Sokaraja Tri Muji Lestari mengatakan, literatur tentang sejarah dan cagar budaya di Banyumas sangat minim.
Meski demikian, dengan catatan sejarah yang masih bisa diakses, dia berusaha menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah lokal. ”Saya sering menyampaikan kepada siswa, wilayah Sokaraja ini terkenal sebagai kota yang maju pada masa lalu. Buktinya banyak peninggalan sejarah masa kolonial yang masih berdiri,” kata dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar