Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Jumat, 16 September 2016

KB Pertiwi Kampung Gunung Tugel

Pemerintah Desa Siapkan Lahan Gedung KB Pertiwi



suaramerdeka.com 
Pemerintah Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja telah menyiapkan lahan yang akan digunakan untuk lokasi pembangunan gedung Kelompok Bermain (KB) Pertiwi Kampung Gunung Tugel.
Untuk sementara kelompok bermain yang menampung anak-anak balita warga RT 4 RW 6 Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja tersebut masih meminjam bangunan di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel.
Kepala Desa Kedungrandu, Ali Masyhadi, mengatakan sebenarnya pemerintah desa telah melayangkan surat ke Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) terkait peminjaman bangunan yang digunakan untuk kegiatan kelompok bermain tersebut.
Namun kurang mendapat respon dengan alasan kawasan itu merupakan bekas lokasi TPA, sehingga tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar peserta didik karena dapat menganggu kesehatan. Maka dari itu, pemerintah desa berinisiatif mencari lahan milik warga di sekitar kampung tersebut untuk dibeli dan digunakan untuk lokasi pembangunan gedung kelompok bermain.
“Kami hanya membutuhkan lahan kurang lebih 10 ubin untuk membangun gedung kelompok bermain tersebut. Informasinya ada lahan salah satu warga yang tidak jauh dari kampung itu yang bersedia untuk dijual dan dibangun kelompok bermain,” terangnya.
Dia menjelaskan, rencana mendirikan kelompok bermain di kampung Gunung Tugel tersebut sudah masuk dalam program pemerintah desa. Bahkan kegiatan pembangunan gedung itu sudah dianggarkan dalam APBDes Kedungrandu Kecamatan Patikraja.
“Animo masyarakat di wilayah TPA Gunung Tugel untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga PAUD cukup tinggi. Bahkan sebelum ada Kelompok Bermain Pertiwi ada sebagian di antara mereka yang menyekolahkan anaknya ke Desa Notog Patikraja dan Karangklesem Purwokerto Selatan. Makanya kami ingin agar ada kelompok bermain di lokasi itu,” jelas dia.
Indri, guru KB Pertiwi Kampung Gunung Tugel, mengatakan keberadaan bangunan bagi kelompok bermain yang baru dirintis sekitar dua bulan lalu tersebut
cukup besar. Saat ini pemerintah desa mendukung berdirinya kelompok bermain itu dan salah satu bentuk dukungannya dengan mencarikan lokasi untuk dibangun gedung kelompok bermain.


Setiap Berangkat ke Sekolah Cukup Bayar Rp 1.000

suaramerdeka.com
AROMA sampah masih terasa menyengat di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Tugel, Rabu (14/9) pagi lalu, meski sekarang keberadaannya sudah ditutup operasinya. Namun hal tersebut tidak membuat belasan anak-anak balita beranjak dari aktvitasnya mengikuti kegiatan pembelajaran di Kelompok Bermain (KB) Pertiwi RT 4 RW 6 Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja.
Dengan dipandu oleh dua orang guru, yakni Indri dan Ami, belasan anak-anak ini mengikuti kegiatan pembelajaran dengan ditemani orang tuanya yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung sampah. Tetapi sejak kawasan TPA Gunung Tugel tak lagi digunakan sekitar beberapa bulan lalu, praktis ibu-ibu yang tadinya bekerja sebagai pemulung tidak dapat lagi meneruskan aktivitasnya.
Perkembangan Anak
Menurut Indri, keberadaan Kelompok Bermain Pertiwi di kawasan TPA Gunung Tugel ini tidak lepas dari keprihatinan sebagian masyarakat terhadap perkembangan anak-anak usia balita di wilayah tersebut.
Sebelum ada kelompok bermain, mereka tidak mendapatkan penanganan yang tepat terhadap tumbuh kembangnya. ”Sebelum ada KB ini bila ingin mengikutkan anak-anak ke lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) , lokasinya juga cukup jauh, yakni di Kelurahan Karangklesem Kecamatan Purwokerto Selatan.
Di Desa Kedungrandu juga ada, tetapi jaraknya juga sama jauhnya,” tutur dia. Pernah suatu ketika dirinya mencoba untuk memfasilitasi anak-anak kampung yang selama ini dikenal dengan kampung Gunung Tugel itu mengenyam pendidikan di wilayah Notog Patikraja. ”Saya naik motor untuk mengantar anak-anak ke kelompok bermain di Notog. Sekali angkut membawa dua anak bolak-balik.
Tapi lama kelamaan tidak sanggup,” jelas dia. Berawal dari inilah, kemudian masyarakat dengan dibantu oleh Pemerintah Desa Kedungrandu berinisiatif untuk mendirikan kelompok bermain sendiri. Pihak pemerintah desa mendukung gagasan itu, namun dalam praktiknya tidak mudah. Tidak adanya bangunan yang dapat digunakan untuk kegiatan kelompok bermain menjadi batu sandungan saat itu.
Namun melihat adanya salah satu bangunan milik Pemkab dalam hal ini Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) di TPA Gunung Gunung Tugel yang tidak terpakai pasca ditutupnya TPAtersebut, masyarakat bersama dengan pemerintah desa mencoba untuk menggunakan bangunan itu untuk kegiatan kelompok bermain dengan status pinjam pakai.
”Untuk sementara kami menggunakan bangunan ini yang dulunya digunakan untuk kandang alat berat pengeruk sampah. Mudah-mudahan Pemkab dalam hal ini Dinas Cipta Karya tidak keberatan bangunan yang ada di TPAini kami gunakan untuk kegiatan kelompok bermain,” terangnya.
Indri menambahkan, pada dasarnya kegiatan pembelajaran di kelompok bermain ini sama seperti kelompok bermain lainnya. Hanya saja untuk biaya pendidikannya jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan kelompok bermain yang lain pada umumnya.
”Kalau di kelompok bermain lain biasanya biaya yang harus dikeluarkan orang tua anak didik cukup besar, tapi kalau di sini kami tidak menentukan biaya yang besar mengingat sebagian besar orang tua anak-anak yang ada di sini penghasilannya paspasan dan berprofesi sebagai pemulung,” ujar dia.
Untuk kegiatan pembelajaran di KB Pertiwi, lanjut dia, pengelola hanya menarik biaya sebesar Rp 1.000 per anak untuk setiap kali pertemuan. Dana itu hanya digunakan untuk biaya operasional lembaga. ”Jadi kalau anaknya berangkat hanya cukup bayar iuran Rp 1.000.
Tapi kalau tidak berangkat ya tidak perlu membayar,” ungkapnya. Saat ini kelompok bermain yang baru beroperasi sekitar dua bulan lalu tersebut masih membutuhkan bantuan sarana dan prasarana (sarpras) pendukung, terutama meja dan kursi para peserta didik. ”Lihat saja sekarang mereka belajarnya sambil tiduran, sebab memang belum ada tempat duduknya,” tandasnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar