Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 17 Mei 2016

Festival Burung Migran Diperingati di Banyumas


 SmCetakSuara Banyumas 
BANYUMAS – Biodiversity Society bersama Banyumas Wildlife Photography bakal menggelar peringatan hari Burung Migrasi Sedunia dalam rangka festival tahunan World Migratory Bird Day (WMBD), di Bukit Tranggulasih, Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas Sabtu-Minggu (14-15/5).
Pegiat Biodiversity Banyumas, Apris Nur Rakhmadani mengatakan, dalam WMBD, semua tempat di dunia yang menjadi persinggahan burung migran diimbau untuk mendaftar dan merayakan kegiatan ini, termasuk di Banyumas. Seluruh masyarakat dunia mengambil bagian dalam aksi kampanye publik. ”Seperti yang kita ketahui burung migran juga menyinggahi Banyumas,” kata Apris, kemarin.
Dia memaparkan di Indonesia sudah ada beberapa daerah yang berkontribusi dalam kegiatan ini. Mulai dari pulau Sumatera ada kegiatan di Medan Sumatera Utara dan Bangka Belitung. Lalu di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, Jakarta, Semarang, Wonorejo (Surabaya), Bima (Nusa Tenggara Timur) dan Banyumas.
Adanya burung migran di suatu daerah menandakan daerah tersebut masih memiliki habitat tempat tinggal burung yang nyaman dan memiliki ketersediaan pakan. Kedatangan mereka juga menjadi atraksi wisata, dengan mengamati perilaku burung, jenis pengembara dari belahan bumi utara yang paling banyak.
Pengembaraan burung ini juga merupakan bahan pembelajaran bagi masyarakat untuk mengetahui respons mereka terhadap perubahan cuaca. Lebih jauh lagi, pengamatan dilakukan untuk mengetahui perjuangan mereka untuk bertahan hidup dari cuaca ekstrem.
”Tahun ini kami mengambil tema ”Stop Berburu Burung” yang bertujuan untuk menyoroti angka yang luar biasa dari burung migran yang hilang setiap tahun sebagai akibat dari pembunuhan, mengambil dan perdagangan ilegal,” ujarnya.
Setiap Bulan Mei
Sementara itu, Hariyawan Agung Wahyudi, pengamat keragaman hayati dari Biodiversity Society Banyumas mengungkapkan, akhir-akhir ini berbagai kasus perdagangan satwa liar, pembunuhan di Indonesia mulai viral di media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp dan sebagainya.
”Penghobi senapan angin yang tidak memperdulikan jenis burung yang mereka buru dan masih sering dijumpai beberapa jenis burung yang diperdagangkan di pasar hewan,” kata dia.
Dia menambahkan, Hari Migrasi Burung Sedunia berlangsung setiap bulan Mei pada minggu kedua yang dimulai sejak 2006 oleh African-Eurasian Migratory Waterbird Agreement (AEWA) yang bekerjasama dengan Convention of Migratory Species of Wild Animals (CMS).
”Adanya kegiatan peringatan ini diharapkan masyarakat sadar pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alamnya dengan mengurangi risiko kehilangan sumber daya berharga yang merupakan bagian dari warisan alam dunia,” tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar