Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 03 Februari 2016

Lestarikan Sumber Air Desa Karangsalam


KONFIGURASI Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden berupa pegunungan yang memiliki iklim sejuk dengan sumber mata air yang melimpah. Terdapat 26 mata air yang tersebar di wilayah desa tersebut.
Kekayaan alam tersebut, tentu harus terus dijaga kelestariannya untuk mewujudkan tatanan kehidupan masa depan yang berwawasan lingkungan melalui pengelolaan sumber daya manusia dan penghijauan berbasis masyarakat.
Apalagi, desa itu merupakan daerah tangkapan air yang sangat penting dalam sistem tata air mengingat banyak sekali mata air yang menjadi sumber penghidupan baik masyarakat maupun pertanian. Menurut Ketua Pokdarwis Kamulyan Desa Karangsalam, Sisworo, kerusakan ekosistem di kawasan ini dipastikan akan berakibat fatal terhadap kualitas lingkungan, baik lokal ataupun regional.
Karena itu, ia menjalin kerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk bersama- sama melakukan penanaman tanaman konservasi di lokasi catchment area dengan melibatkan seluruh masyarakat pemilik lahan yang ada di sekitar mata air. Penanaman vegetasi bertujuan untuk melestarikan sumber air dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada 2011, dilakukan penanaman vegetasi di sekitar mata air Curug Telu dengan jenis tanaman aren sebanyak 500 pohon, pala 250 pohon, manggis 500 pohon, trembesi 100 pohon dan kopi arabika 1.000 pohon. Kerja sama dengan pemangku kepentingan ini terus dilanjutkan sampai pada 2013.
Pemilihan jenis tanaman yang dibagikan ke warga untuk ditanam di daerah tangkapan air berupa 60 persen tanaman buah-buahan dan 40 persen tanaman kayu tahun.
Dengan menanam tanaman buah-buahan, maka tanaman tidak ditebang melainkan tetap dipelihara untuk diambil buahnya, dengan demikian kelestarian tanaman akan terjaga. Bahkan kini perbukitan di sekitar mata air yang tadinya tampak gundul sekarang ini terlihat hijau dipadati tanaman keras dan bua-buahan.
“Kami setiap tahun menanam bibit tanaman keras dan buah-buahan. Saat ini jumlah bibit yang ditanam mencapai 7.000 pohon. Awalnya lahan yang ditanaman tanaman seluas 7 hektare, tapi sekarang sudah mencapai 12 hektare,” katanya.
Pada awal 2016, program pembagian bibit tanaman konservasi untuk petani kembali dilakukan. Sedikitnya 2.000 bibit meliputi bibit durian, pala, alpukat, manggis, pete dan jenitri dibagikan secara gratis. “Program penanaman pohon akan terus digulirkan setiap tahunnya,” katanya.
Ia juga mengemukakan potensi alam yang asri dengan tanaman konservasi telah mendorong kesadaran masyarakat untuk menjadikan desa wisata. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga untuk menopang pendapatan asli desa.
“Desa Karangsalam merupakan desa penyangga wisata Baturraden yang memiliki spesifikasi berbasis alam, sehingga kami mencoba mengimplementasikan potensi alam untuk menjadikan desa wisata,” katanya.
Sisworo mengemukakan potensi desa wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan salah satunya eduwisata. Para wisatawan dapat diajak untuk melihat dan melakukan kegiatan konservasi yang diprakarsai oleh Pokdawis Kamulyan. “Konservasi ini untuk mengarah pada keselamatan alam dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.


2 Februari 2016 , Suara Banyumas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar