Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 15 Februari 2016

Koleksi Museum Naladipa Terus Ditambah


15 Februari 2016 , Suara Banyumas
Pemerintah Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir terus melengkapi benda koleksi peradaban dan kebudayaan desa di Museum Naladipa. Melalui museum ini diharapkan generasi muda dapat belajar tentang peradaban desa dari masa ke masa. Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho mengatakan, pihaknya terus berusaha untuk melengkapi berbagai benda sejarah dan perabadan desa di museum yang letaknya di lantai dua kantor pelayanan desa. Kunjungan dari warga desa bahkan luar kota menjadi motivasi untuk memperbanyak koleksi museum tersebut. “Kami berharap museum ini bisa menjadi bagian dari pembelajaran tentang budaya masyarakat desa bagi generasi muda. Karena tidak bisa dipungkiri, sejumlah benda yang ada di dalam museum ini tidak lagi ditemukan dan dipakai oleh masyarakat desa,” jelasnya. Bayu berharap, keberadaan museum ini bisa menjadi bagian kecil upaya dokumentasi peradaban desa. Museum yang mengambil nama Lurah pertama desa yang resmi dibuka 17 Juni 2013 silam itu menyimpan benda untuk aktivitas warga sehari-hari. Koleksi museum itu antara lain, alat perlengkapan rumah tangga, bercocok tanam, pertahanan diri, seni budaya hingga alat komunikasi masyarakat desa. Jumlah koleksi museum inipun telah lebih dari 200 macam benda. “Benda-benda koleksi di museum ini hakikatnya bukan benda semata. Mereka bercerita tentang tahapan peradaban dan perkembangan teknologi manusia di masa lalu. Di sana kita bisa selami kearifan lokal masyarakat yang sebagian masih terjaga hingga sekarang,” katanya. Kebudayaan Desa Pengelola Museum Naladipa, Wiyono mengatakan, selain berisi artefak, museum ini juga menyimpan berbagai rekaman dan ulasan tentang kebudayaan desa tersebut seperti: tradisi sunat, upacara jelang panen padi dan gubrag lesung, kesenian kentongan, pengobatan sakit gigi tradisional, dolanan anak umbul, dan berbagai tradisi lainnya. Semau itu didokumentasikan lewat audiovisual. “Pengelolaan museum ini terus diupayakan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Melalui jejaring TIK inilah, berbagai perkembangan desa di perbatasan Banyumas-Cilacap ini dapat disebar secara lebih luas. Bagi mereka yang tak sempat mampir ke sini, berbagai koleksi museum ini juga dapat diketahui lewat website desa kami. Di sana ada foto koleksi, penjelasan hingga fungsi dari alat tersebut. Koleksi ini terus kami tambah dan kami siap menerima sumbangan berupa artefak apapun,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar