Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 10 Maret 2016

Gerhana Matahari Sabit Bukit Tranggulasih


Meski Hanya Sabit, Tetap Memesona

FOTO A 2...ratusan masyarakat sikatar Purwokerto menanti fenomena gerhana Matahari dari Bukit Tranggulasi  (1)Ratusan Warga  Padati Tranggulasih
PURWOKERTO- Wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen (Barlingmascakeb) memang tak masuk lintasan Gerhana Matahari Total (GMT), 9 Maret kemarin. Namun, itu tak menyurutkan antusiasme warga untuk menikmati “atraksi” Tuhan  tersebut.
Ratusan  warga terbukti mendaki Bukit Tranggulasih, Desa Windujaya Kedungbanteng, Banyumas sejak Selasa malam. Mereka ingin menjadi bagian dari sejarah  menyaksikan dan mengabadikan gerhana matahari.
Mereka yang berasal dari Banyumas dan luar Banyumas itu sengaja menginap di bukit setinggi 400 meter dpl, yang yang berada di Selatan Gunung Slamet tersebut.
Ginanjar (27), warga asal Purbalingga mengaku sengaja datang ke Bukit Tranggulasih lantaran ingin menyaksikan fenomena langka itu. Dirinya bersama teman-temannya datang sejak pukul 21.00 WIB. “Memang sudah direncana akan liat gerhana dari sini (tranggulasih, red),” katanya.
“Menakjubkan. Meski hanya sebagian, hasilnya malah luar biasa seperti bulan sabi,” imbuhnya. Seperti pengunjung lain, dia  menyiapkan amunisi sebelum memotret. Ia menggunakan kamera DSLR dengan tambahan tiga keping filter lensa tipe ND8 dan ND3.
“Biasanya saya pakai buat motret sunrise dan sunset,” ungkapnya yang berhasil memotret setiap detik momen gerhana dari  pukul  06.33 WIB hingga membentuk mirip bulan sabit pukul 07.30 WIB.
Sementara Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Banjarnegara menjadi pusat pengamatan gerhana di Jawa Tengah. Pada saat gerhana kemarin, stasiun yang terletak di Desa Kalilunjar Kecamatan Banjarmangu ini menyelenggarakan kegiatan nonton bareng bersama siswa SMP.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Teguh Rahayu mengatakan di Jawa Tengah, gerhana hanya sebagian. Sehingga saat gerhana, suasana tidak sampai gelap. Hanya meredup beberapa saat.
Dijelaskannya, untuk Banjarnegara dan sekitarnya, gerhana teramati mulai pukul 06.20WIB. Puncak gerhana terjadi pada pukul 07.23  WIB dan berakhir pada pukul 08.34. Durasi gerhana 2 jam 14 menit 16,9 detik.     Dengan magnetido gerhana 0,862. Magnetido merupakan perbandingan antara diameter matahari yang tergerhanai bulan dan diameter matahari secara keseluruhan saat puncak gerhana terjadi.
Durasi terpendek teramati di Cilacap yakni 2 jam 13 menit 9,3 detik. Sedangkan durasi gerhana terlama teramati di Rembang yakni 2 jam 17 menit 0,9 detik.
Dari Kroya Kabupaten Colacap,  warga punya cara tersendiri untuk menikmati gerhana. Mereka memanfaatkan negatif film yang masih dimiliki  serta hasil foto rotngen bekas keluarganya yang sakit.
Namun ternyata tidak mudah juga. Sebab jika menggunakan satu lembar negatif film pancaran sinar matahri masih terasa silau. Begitu juga untuk negatif foto rotngen yang masih tembus pancaran sinar matahari yang menilaukan.
“Kalau cuma satu lapis memang masih tembus. Baru setelah dilapisi dua atau tiga lapis proses matahari tertutup oleh bulan bisa dilihat dengan nyaman,”kata Andi Riyanto (37) salah seorang warga.
Hal itu banyak dilakukan oleh warga setelah mendapatkan informasi beruntun g untuk dapat melihat gerhana matahari total. Meski tidak 100 persen namun warga bisa melihat secara kasat mata dengan menggunakan alat seadanya.
Di Purwokero, tak kurang seribu jamaah  mengikuti shalat gerhana matahari yang digelar tahmir Masjid Agung Baitussalam.
Koordinator Lapangan, H Sudarman S.Ag  mengatakan bahwa pada salat gerhana matahari kali ini, bertindak sebagai imam yaitu Ustad Amrullah S.Sos dan khotib Dr H Hizbul Muflihin M.Pd. ” Alhamdulillah animo masyarakat cukup baik. Sekitar 1000  lebih jemaah yang memadati masjid. Mereka telah datang sejak pukul 06.00 WIB. Bahkan ada juga musafir dari Jakarta dan Bandung,” katanya.
u, Dr H. Hizbul Muflihin M.Pd dalam khutbahnya mengajak dan mengingatkan seluruh jemaah yang hadir agar menjadikan fenomena alam gerhana matahari tahun ini sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Tidak salah jika kita melihat mitos yang ada, tetapi bukan berarti mitos itu yang kita ikuti. Gerhana baik matahari atau bulan pada dasarnya merupakan peristiwa alam biasa yang dapat dihitung kapan terjadinya dengan ilmu hisab atau astronomi. Gerhana tidak terkait dengan peristiwa kematian atau kelahiran seseorang,” terangnya.
Di akhir khutbahnya, Hizbul berpesan agar setiap jemaah setidaknya dapat merenungkan dan mempelajari 3 hal dari shalat gerhana matahari. Yang pertama memberikan suatu bentuk pembelajaran bahwa Allah SWT menjadikan siang dan malam dengan sistem tata surya, kedua membuktikan bahwa seluruh firman ALLAH SWT yang terkandung di dalam Al-Quran benar-benar terjadi dan ketiga hendaknya dengan mengikuti shalat gerhana dapat dijadikan sebagai moment untuk senantiasa bermuhasabah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar