Langsung ke konten utama

Trans Purwokerto (Purwokerto BRT / Bus Rapid Transit)






Diam-diam moda transportasi layaknya busway juga bakal hadir di koridor Purwokerto-Purbalingga. Bahkan, pengerjaan sarana dan prasarana pendukungnya diproyeksikan mulai tahun depan.
Kabar ini disampaikan Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah Untung Sirinanto, kemarin. Dia mengatakan, realisasi Bus Rapid Transit (BRT) Purwokerto-Purbalingga perlu mendapat dukungan pemerintah daerah.
Dukungan itu berupa infrastruktur jalan, serta penyediaan tata ruang untuk sarana pendukung seperti tempat pemberhentian.
“Untuk pengembangan BRT memang membutuhkan anggaran yang besar,” kata dia usai kegiatan Sosialisasi Aglomerasi Perkotaan Koridor Purwokerto-Purbalingga di Bakorwil III Jawa Tengah, Rabu (18/11) kemarin.
Untuk pengadaan armada bus, kemungkinan akan dibantu pusat. Dia meminta Pemda fokusk pembenahan infrastruktur dan pengembangan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Dia mengatakan, jika berbicara target pembangunan, seharusnya pengembangan sarana dan prasarana BRT sudah bisa dimulai tahun 2016 mendatang. “Disamping anggaran Pemprov Jateng, diharapkan juga ada dukungan dari pemerintah daerah,” kata dia. “Kita upayakan tahun 2016 bisa mulai dikembangkan sehingga tahun 2017 atau 2018 sudah bisa dioperasikan,” tegasnya.
Untung menambahkan, RT nantinya lebih difungsikan sebagai sarana transportasi antar daerah, khususnya daerah yang memiliki faktor geografi berdekatan. Ini untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat.
“Banyaknya kendaraan roda dua yang melintas antara Purwokerto- Purbalingga menjadi salah satu latar belakang pengembangan transportasi massal di wilayah ini,” ujarnya.
Seperti diketahui, pengembangan angkutan massal berupa BRT tersebut merupakan amanah dari UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ.
Terkait angkutan umum lainnya, khususnya kendaraan yang lebih kecil seperti angkutan kota, angkutan pedesaan, maupun taksi, lanjut Untung, nantinya bisa dijadikan angkutan feeder yang menunjang BRT.
Dia mengingatkan, operasional BRT nantinya hampir serupa dengan TransJakarta ataupun TransYogyakarta. Di mana perlu ada tempat pemberhentian khusus untuk para penumpang. “Jadi angkutan umum lainnya bisa jadi pendukung, yaitu untuk meneruskan penumpang dari BRT ke tujuan mereka,” jelasnya.
Perwakilan Laboratorium Transportasi Unika Sugiya Pranata, Priyotomo Puguh menjelaskan armada bus yang dibutuhkan untuk menempuh jarak Purwokert-Purbalingga mencapai 27 unit. Itu terdiri dari 24 bus utama dan 3 bus cadangan.
Terkait pemilihan armada bus yang akan digunakan, sampai saat ini belum jelas akan menggunakan bus besar atau bus sedang seperti yang banyak dijumpai antar dua daerah tersebut.
“Sampai saat ini masih belum diputuskan, mengingat dari pusat menginginkan bus besar, sedangkan dari provinsi lebih cenderung ke bus sedang, terutama jika melihat kondisi infrastruktur yang ada,” kata dia.
Kabid LLAJ Dishubkominfo BanyumasAgus Sriyono menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu penetapan rute yang nantinya akan digunakan untuk angkutan massal tersebut.
Menurutnya, moda angkutan massal tersebut nantinya akan menggunakan halte khusus (high deck) yang tidak bisa berhenti di sembarang tempat.
Dia menjelaskan, untuk penetapan rute, nantinya juga harus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, sebagai tindak lanjut dari masterplan yang sudah disusun Ditjen Perhubungan Darat.
“Kita harapkan bisa segera direalisasikan, sehingga bisa menjadi alternatif masyarakat dalam memilih angkutan transportasi yang ada,” ujarnya.
Dari analisis yang dilakukan Dishubkominfo Banyumas kepadatan lalu lintas di wilayah Perkotaan Purwokerto masih menjadi perhatian.
Agus mengatakan kondisi lalu lintas di wilayah kota saat ini memang cukup padat. Bahkan jumlah kendaraan yang ada per tahunnya meningkat sekitar 5-15 persen.
“Adanya moda transportasi massal ini diharapkan dapat ikut mengurangi populasi kendaraan pribadi di jalanan. Bukan itu saja, BRT tersebut juga dapat difungsikan sebagai sistem angkutan pendukung moda transportasi lain, seperti kereta api,” katanya.
Lebih lanjut, Agus berharap nantinya rute BRT nantinya bisa menjangkau beberapa jalan utama di Purwokerto seperti Jalan Gerilya, Jalan Veteran, Jalan Jenderal Soedirman, hingga Stasiun Purwokerto.


 Greater Purwokerto  Transportation 


Jalur Purwokerto Purbalingga hanya salah satu koridor dari 4 rencana koridor di kawasan Banyumas raya.
Kajian BSTP Kemenhub Tahun 2014, Direktorat Bisana Sarana Transportasi Perkotaan (BSTP), Ditjen Perhubungan Darat (hubdat), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah melakukan Penyusunan Rencana Induk Transportasi Perkotaan pada Kawasan Barlibngmascakeb.
Hasilnya akan dikembangkan empat rute bus rapit transir (BRT), yakni :
(1) Koridor Mandiraja-Banyumas-Purwokerto,
(2) Koridor Gombong-Sumpyuh-Buntu-Rawalo-Patikraja-Purwokerto,
(3) Koridor Cilacap-Wangon-Ajibarang-Purwojerto, dan
(4) Purbalingga-Purwokerto.

Selain itu, tambah Djoko, rute BRT tersebut juga ada rute feeder, seperti Gumilir-Adipala-Rawalo, Wangon-Rawalo dan Adipala-Kroya-Buntu.

 Meski hanya ibukota Kabupaten tingkat kemacetan di kota Purwokerto termasuk tinggi di Jateng setelah Semarang dan Solo. Hal ini juga terkait pertumbuhan jumlah kendaraan yang tinggi . Secara peringkat pertumbuhan Purwokerto nomer 2 setelah Semarang. Angka pertumbuhan jumlah kendaraan yang tinggi di Purwokerto, membuat Purwokerto termasuk daerah yang diprioritaskan dalam penerapan BRT.

 Segera Ditetapkan ,BRT Jurusan Purwokerto-Purbalingga


Penetapan trayek bus rapid transit (BRT) Trans Purwokerto direncanakan dilakukan dalam waktu dekat. Setelah trayek ditetapkan, Pemkab Banyumas segera membangun halte untuk penunjang operasional BRT tersebut. Menurut Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Banyumas Agus Sriyono, dalam waktu dekat pihaknya diundang untuk membahas penetapan trayek BRT. Penetapan trayek itu, menurutnya, untuk memastikan lokasi yang akan dilintasi BRT yang menghubungkan Purwokerto dan Purbalingga itu. “Minggu depan, menurut rencana ada rapat untuk menetapkan trayek BRT, termasuk mungkin dengan operator BRT tersebut,” ucapnya, Jumat (15/1). Dia mengemukakan, dengan penetapan trayek BRT serta telah ada operator, rencana pengoperasian BRT akan semakin jelas. Dia menekankan, trayek tersebut nanti juga akan menjadi koridor pertama dari BRT Trans Purwokerto. Lebih lanjut dia mengungkapkan, jika trayek BRT telah ditetapkan, menurutnya Dinhubkominfo Banyumas akan melengkapi halte di trayek BRT tersebut. “Kami akan sediakan halte, setelah trayek ditetapkan,” tandasnya. Dia menekankan, berkaitan dengan rencana pengoperasian BRT, tidak menutup kemungkinan akan dibuka koridor lain, selain koridor pertama yang baru akan ditetapkan beberapa waktu mendatang. Hal itu, lanjut dia, terutama terkait dengan rencana pengembangan Bandara Tunggul Wulung di Cilacap. Diberitakan sebelumnya, operasional BRT rute Purbalingga- Purwokerto, direncanakan menggunakan 27 unit bus. Bus tersebut akan melayani rute tersebut dengan rentang waktu satu bus setiap sepuluh menit. Proses Pelayanan Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinhubkominfo Provinsi Jawa Tengah Untung Sirinanto mengemukakan, perbedaan BRT dengan bus antarkota dalam provinsi adalah dalam proses pelayanannya. BRT menurutnya lebih ditujukan kepada penumpang yang bersifat ulang alik (commuter), sehingga dalam pengoperasiannya BRT harus menawarkan kepastian keberangkatan. Bukan itu saja, kata dia, BRT juga didesain hanya dapat menurunkan penumpang di halte khusus. Karena BRT terbilang jenis bus dengan dek tinggi, yang membutuhkan halte dengan ketinggian tertentu agar penumpang dapat turun dengan mudah. “Kalau bus antarkota dalam provinsi bisa turun di mana saja. BRT itu high deck, jadi harus di halte khusus kalau menurunkan penumpang,” ujarnya setelah rapat mengenai rencana operasional BRT di Rumah Dinas Bakorwil III Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Dia mengungkapkan, berdasarkan studi yang dilakukan, BRT tersebut nanti akan melayani rute Purbalingga-Purwokerto dengan rentang waktu satu bus melintas setiap sepuluh menit. Untuk dapat mencapai hal itu, menurutnya, perlu 27 unit bus yang beroperasi di rute tersebut. “Jarak Purwokerto – Purbalingga yang jadi rute BRT sekitar 40 kilometer, sebab dari Purwokerto sampai ke Bukateja,” imbuhnya.

16 Januari 2016 , Suara Banyumas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rencana Jalan TOL Pejagan /Tegal - Wangon - Cilacap Dalam Tahap Penyusunan FS

Up date info :  Ternyata info terbaru diusulkan bukan dari Tegal tapi dari Pejagan, Yaitu Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap dan Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap


Peta Usulan Program Bina Marga Antar WPS Brebes-Cilacap

 Pembangunan jalan tol lanjutan dari pejagan-bumiayu-pekuncen-ajibarang-cilacap Penyusunan FS tol Pejagan-Cilacap



update info berita ini Minggu 12 Feb 2017, 10:59 WIB Tegal Cilacap Bakal Terbangun Jalan TolDana Aditiasari - detikFinance Sisi Selatan Pulau Jawa bakal kehadiran proyek jalan tol, salah satunya adalah proyek jalan tol Tegal-Cilacap. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna.
"Itu kan tol prakarsa, artinya usulan dari pihak swasta. Usulannya sudah masuk ke kami, mudah-mudahan bisa lelang tahun ini," kata dia dihubungi detikFinance, Minggu (12/2/2017).
Jalan tol ini, kata Herry, diprakarsai oleh BUMN jalan tol, PT Jasamarga (Persero). Jalan tol ini bakal menjadi alternati…

Rencana Jalan TOL Ajibarang Wangon

Dalam perkembangannya rencana pembangunan jalan Tol Ajibarang Wangon terakomodasi dengan disetujuinya Rencana Jalan Tol Tegal Cilacap yang aksesnya dipastikan melewati kota kota ini.

Berdasarkan RTRW Jateng 2009-2029, Kabupaten Banyumas akan dilalui jalan tol Tegal-Cilacap. Rutenya dimulai dari Tegal-Prupuk-Bumiayu-Ajibarang-Wangon-Cilacap. Sedangkan untuk Kabupaten Cilacap akna dilalui Jalan tol Cilacap-Yogyakarta, rutenya dimulai dari Cilacap-Buntu-Sumpiuh-Kebumen-Purworejo-Kulon Progo, Yogyakarta.
Meskipun tidak melewati Kota Purwokerto, tapi dengan akses yang memadai terutama ke Wangon yang menurut informasi menjadi lokasi TOL Gate , maka tetap berperan signifikan terhadap mobilitas dari Purwokerto ke luar daerah. 
Ini adalah konsekuensi sebuah perkembangan dimana dampak dibukanya TOl Cipali tenyata semakin membuat kawasan Banyumas padat. bahkan yang menjadi pelajaran bersama adalah kasus rusaknya jembatan Comal Pemalang beberapa tahun lalu, mengakibatkan kemacetan parah di Jalur…

JNE Resmikan Wangon Gateway

Tingkatkan Kecepatan Layanan JNE Resmikan Wangon Gateway
Salah satu perusahaan jasa pengiriman ekspres dan logistik nasional, JNE terus memperkuat berbagai sektor salah satunya infrastruktur dan jaringan. Selain di Bandung, telah mengoperasikan Jakarta Gateway, Surabaya Gateway dan Wangon Gateway. Perluasan infrastruktur pun tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga dilakukan di JNE Medan dan Kantor Perwakilan baru JNE di Batam. Selanjutnya Gateway Makasar .

Peresmian JNE Gateway Wangon (Foto : Edi Romadhon)

















:  Demi meningkatkan kecepatan layanan pengiriman bagi customer, JNE melakukan penambahan infrastruktur. Realisasi dari penambahan infrastruktur tersebut adalah pembangunan Wangon Gateway yang berlokasi Jl Raya Klapagading Rt 04 Rw 08 Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Mohammad Feriadi, selaku Presiden Direktur JNE, dalam sambutannya menyampaikan, setelah peluncuran 7 produk di bulan Februari 2016 yang lalu, pembukaan Gateway Wangon merupakan salah satu wujud pengembangan i…