Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 12 November 2015

Pelebaran Jalan Ajibarang Wangon Bagian I





(RRI), Banyumas : Sejak bulan September hingga akhir bulan Desember 2015, jalan nasional penghubung jalur selatan dengan jalan Pantura dilakukan pelebaran. Sedikitnya ada dua segmen pelebaran jalan, yakni di ruas jalan Wangon- Ajibarang, dengan Bumiayu -Prupuk.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)  9  Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Wilayah Slawi- Ajibarang- Wangon Farman Ali mengatakan, pelebaran jalan ini untuk meningkatkan kualitas jalan penghubung. Agar semakin nyaman dan aman, bagi masyarakat yang melewati jalur tersebut.

Karena jalan yang dilakukan pelebaran, merupakan jalur penghubung yang cukup vital,selain itu dapat digunakan untuk jalur alternatif jika ada salah satu ruas mengalami kemacetan atau kerusakan. Seperti saat rusaknya jembatan Comal Pemalang beberapa waktu lalu.

Diterangkan oleh Farman Ali, pelebaran untuk ruas jalan di segmen Ajibarang- Wangon, sejauh 5,5 KM dengan lebar 1,2 meter kanan dan kiri. Karena saat ini jalan nasional ini, hanya mempunyai lebar 6 meter. Sehingga nantinya total lebar menjadi 8,4 meter. Untuk segemen Bumiayu- Prupuk sepanjang 3,5 KM. Dengan total dana mencapai Rp 60 milyar, yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan  Belanja Perubahan.

Dijelaskan oleh Farman untuk pelebaran jalan ini dengan cara melakukan penggalian, untuk melakukan perbaikan pondasi jalan. Kemudian dilakukan penimbunanan dengan bahan pilihan setebal 30 CM, selanjutnya ditimbun dengan lapis dasar, dan terakhir dilakukan pengaspalan.


Farman Ali, juga meminta kepada penguna ruas jalan yang dilakukan pelebaran ini, bersabar khususnya jika terjadi kemacetan. Seperti pantuan RRI di Wilayah Wlahar Kecamatan Wangon Banyumas, kemacetan akibat pelebaran jalan ini sering terjadi, termasuk pada hari Senin (19/10/2015).

Namun kemacetan tidak berlangsung lama, karena ada sejumlah orang yang mengatur arus lalu lintas.

Perbaikan jalur Tengah Ditarget Rampung Desember

( Republika, 20 October 2015) Kemacetan arus lalu lintas yang kerap terjadi di jalur Slawi, Kabupaten Tegal, hingga Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diharapkan sudah tak terjadi lagi tahun mendatang. Pasalnya, sekarang ini tengah berjalan upaya peningatan kualitas jalan penghubung jalur pantai utara (pantura) dan jalur selatan itu.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 9 Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Wilayah Slawi – Ajibarang – Wangon, Farman Ali, mengatakan, pekerjaan peningkatan kualitas jalan ini sudah berjalan sejak September silam. “Ditargetkan pada Desember 2015 pengerjaannya sudah selesai,” kata dia, Senin (19/10).
Untuk proyek tersebut, menurut Farman, dana yang dianggarkan sebesar Rp 60 miliar. Dana tersebut besumber dari APBN Perubahan 2015. Anggaran ini antara lain digunakan untuk pelebaran jalan di ruas antara Wangon hingga Ajibarang, serta pelebaran jalan antara Bumiayu – Prupuk. Menurut dia, ruas jalan tersebut perlu diperlebar karena menjadi jalur penghubung cukup vital. Pada masa liburan hari Raya Idul Fitri, kata dia, di ruas jalan itu sering terjadi kemacetan panjang. “Mudah – mudahan setelah dilakukan pelebaran, arus lalu lintas menjadi lebih lancar,” ujar dia.
Secara teknis, Farman menjelaskan, pelebaran untuk ruas jalan Ajibarang – Wangon meliputi jarak sejauh 5,5 kilometer. Badan jalan yang tadinya hanya memiliki lebar enam meter dilebarkan pada ruas jalan antara Bumiayu – Prupuk yang memiliki panjang 3,5 kilometer. Bahu kanan – kiri jalan masing- masing dilebarkan 1,2 meter, sehingga keseluruhannya bertambah lebar menjadi 1,4 meter.
Selama aktivitas perbaikan jalan ini, Farman mengakui, memang sering menimbulkan kemacetan lalu lintas di ruas jalur tersebut. Terutama pada waktu – waktu sibuk, seperti saat jam berangkat sekolah atau kerja. Pasalnya, ketika melakukan pelebaran, kata dia, haru dilakukan penggalian di bahu jalan sedalam 30 sentimeter untuk kemudian dilakukan penimbunan dengan bahan batu yang lalu ldipadatkan. “Hal itu harus kami lakukan agar kualitas jalan yang kemudian akan diaspal bisa dilalui kendaraan berat tanpa mengalami ambles,” kata dia.
Meski demikian, Farman memohon para pengguna jalan bisa bersabar karena kegiatan perbaikan ini dilakukan agar pengendara kendaraan bisa lebih nyaman ketika melintas jalur tersebut. “Kami mohon maaf bila pengerjaan perbaikan jalan ini mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Namun, hal ini hanya sementara,” ujar dia.

Proyek Yang Sudah Lama Dinantikan 

(Suara Merdeka) Pembenahan infrastruktur jalan dan jembatan di jalur selatan khususnya jalur Slawi-Ajibarang- Wangon, diminta banyak pihak segera direalisasi.
Hal itu dinilai mendesak untuk mengatasi permasalahan transportasi di wilayah Jateng bagian selatan tersebut. Pelaku usaha pariwisata di wilayah Banyumas, Agus Suprihadi, mengatakan pembenahan infrastruktur jalan itu memang sudah mendesak dilaksanakan untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi dan laju pertambahan kendaraan. Di tahun kedua pemerintahan Gubernur Ganjar Pranowo, pertumbuhan ekonomi, investasi dan pendidikan di wilayah Brebes dan Banyumas Raya semakin berkembang dan semakin membutuhkan dukungan infrastruktur jalan yang representatif.
”Selain pelebaran jalan perlu juga dibangun fly over, khususnya di atas perlintasan kereta api Kreteg, Paguyangan, Brebes. Frekuensi lintasan kereta api selama 10 menit sekali sering berdampak antrean panjang kendaraan hingga wilayah Ajibarang,” katanya, kemarin. Sering Terjadi Manajer Pengelola Wisata Dream Land and Spring Water Ajibarang itu mengatakan, kepadatan lalu lintas dari arah Wangon-Ajibarang-Bumiayu sering terjadi. Selain momen arus mudik atau balik lebaran, liburan panjang juga menyebabkan arus kendaraan yang melintas di jalur selatan itu membeludak. Tak jarang selain ketersendatan arus kendaraan, kemacetan juga terjadi termasuk saat liburan panjang Idul Adha lalu. ”Karena itu pembenahan jalur selatan mendesak dilaksanakan. Kami berharap wilayah Banyumas juga menjadi sasaran untuk betonisasi jalan, jembatan hingga pembangunan tol sebagaimana gaung tahun infrastruktur Jateng yang telah berjalan dua tahun,” jelasnya. Chief of Public Relation Semen Bima, Joseph Karkam, mengakui jika infrastruktur jalan dan jembatan menjadi sangat penting bagi urat nadi keberlangsungan investasi. Keberadaan infrastruktur pendukung transportasi dan distribusi sangat mutlak untuk mendukung percepatan ekonomi suatu wilayah yang sedang berkembang, khususnya wilayah Brebes dan Banyumas Raya (Banyumas- Purbalingga-Banjarnegara-Cilacap dan Kebumen). ”Pertumbuhan ekonomi khususnya investasi di wilayah Barlingmascakeb saat ini bergerak positif. Dengan komitmen pemerintahan Presiden Jokowi dan Gubernur Ganjar Pranowo, kami optimistis dan berharap agar infrastruktur jalan dan jembatan yang representatif bisa direalisasikan,” katanya. Secara khusus, Joseph mengatakan pelebaran jalan dari arah Brebes hingga Banyumas Raya memang sudah sangat dibutuhkan. Selain itu, untuk mendukung kelancaran distribusi barang dan jasa, pemerintah juga diharapkan dapat merealisasikan pembangunan jalan tol sebagai sarana pemecah kepadatan lalu lintas kendaraan dan permasalahan transportasi lain. ”Apalagi dari arah Brebes juga telah dibangun tol baru yang secara otomatis dampaknya juga dirasakan oleh wilayah Brebes selatan hingga Banyumas Raya. Tak heran jika pertambahan dan kepadatan kendaraan yang masuk ke jalur selatan terjadi. Konsekuensinya padat merayap hingga kemacetan tak terelakan terutama pada hari-hari tertentu,” jelasnya. Agen Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Rosalia Indah di Ajibarang, Eka Dila Kurniawan, juga berharap rencana pemerintah untuk membenahi jalur selatan khususnya dari wilayah Wangon hingga Brebes dapat direalisasikan. Khusus di wilayah Ajibarang-Bumiayu juga sudah mendesak dilaksanakan, karena sudah seringkali terjadi ketersendatan bahkan kemacetan terutama ketika menghadapi momen tertentu. ”Ketika malam hari sangat terasa sekali ketika melintas dari arah Ajibarang menuju Bumiayu. Jalur yang sempit dan berkelok dilalui banyak kendaraan bermuatan berat dan bus, mengakibatkan waktu tempuh pun bertambah lama,” jelasnya. Dia juga berharap berharap komitmen tahun infrastruktur yang dicanangkan Gubernur Ganjar Pranowo semakin dimantapkan dan direalisasikan. Apalagi saat ini anggaran untuk jalan dan jembatan Pemprov Jateng mencapai Rp 2,1 triliun, tahun sebelumnya hanya Rp 800 miliar- Rp 900 miliar. Diharapkan program infrastruktur dapat juga merata ke wilayah Brebes Selatan hingga wilayah Banyumas. ”Karena kalau terjadi sesuatu di jalur pantura, jalur selatan akan menjadi tumpuan. Seperti kasus jembatan Comal Pemalang yang rusak tahun 2014 lalu, jalur selatan menjadi lintasan kendaraan berat. Sayang, karena infrastruktur jalannya tak memadai, justru yang terjadi adalah kepadatan hingga kemacetan,” katanya. Asekbang Kesra Setda Banyumas, Didi Rudwiyanto, membenarkan jika wacana tol jalur selatan memang sudah semakin menguat seiring dengan kebutuhan akan prasarana transportasi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Wilayah-wilayah yang sering terdampak kemacetan dan kepadatan lalu lintas memang sangat mendukung adanya realisasi wacana ini khususnya wilayah Brebes, Banyumas, Cilacap. Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen Wilayah 9 Slawi-Ajibarang-Wangon, Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, Farman Ali, mengatakan pembenahan infrastruktur jalan dan jembatan di jalur selatan kini terus dilaksanakan secara bertahap. Tahun 2015 ini ada lima bagian jalan dari ruas Prupug hingga Perbatasan Banyumas dan ruas jalan Ajibarang hingga Wangon.
Farman mengatakan proses pelebaran yang telah mulai dilaksanakan oleh perusahaan pemenang tender tersebut ditargetkan akan rampung pada akhir tahun 2015. Ia tak memungkiri proses perbaikan dan pelebaran jalan nasional dan provinsi ini tentunya berdampak pada kelancaran lalu lintas kendaraan di jalur selatan. ”Karena itu kami mengimbau kepada pengguna jalan untuk berhati-hati ketika melintas. Kurangi kecepatan kendaraan dan seandainya memungkinkan, pilihlah jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan atau antrean panjang kendaraan,” katanya.

Warga Pertanyakan Pelebaran Jalan Nasional

(arsip 22 Juni 2015, Suara Merdeka) Makin padatnya jalur Ajibarang-Pekuncen sebagai jalur utama dari Banyumas menuju Pantura, membuat sejumlah warga Desa Ajibarang Kulon, Kecamatan Ajibarang, kembali mempertanyakan realisasi pelebaran jalan nasional yang ada di jalur hijau.
Sebab jelang arus mudik lebaran tahun 2015 ditambah hari pasaran Pasar Hewan Ajibarang, jalur tersebut rawan kecelakaan dan macet.
Warga Ajibarang Kulon, Kurniawan Eka (32) mengatakan, kabar rencana pelebaran jalan nasional tersebut sudah terdengar sampai lingkungan rukun tetangga/rukun warga (RT/RW) mulai dari depan Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Ajibarang hingga arah SPBU Ajibarang. Bahkan pada tahun 2014 lalu, kabar tersebut disampaikan pengurus RT/RW telah memberikan penjelasan terkait dengan wacana pelebaran jalan.
Namun setelah hampir satu tahun kemudian, informasi tersebut tak terdengar lagi. “Dulu sudah santer terdengar tentang masalah pelebaran jalan ini. Katanya sudah masuk dalam musrenbangdes hingga kecamatan namun kini tak terdengar lagi,”jelasnya, Minggu (21/6).
Menurut dia, pengurus RT bahkan telah menyarankan agar warga di sekitar jalan untuk tidak memanfaatkan trotoar jalan untuk dijadikan warung atau lapak dagangan lainnya. Sebab areal trotoar yang nantinya akan mengalami pelebaran seperti jalan menjelang simpang tiga Ajibarang itu, diperuntukan untuk pejalan kaki.
“Informasi dulu, kalau rencana ini jadi dilaksanakan, maka pepohonan peneduh jalan yang sebelumnya ada dari arah UPK Ajibarang hingga SPBU itu akan dipapras untuk pelebaran jalan. Karena dengan banyak kendaraan yang melintas sekarang ini pelebaran jalan ini sudah perlu dilaksanakan,”jelasnya.
Selain di Ajibarang, warga Pekuncen juga mempertanyakan proyek pelebaran ataupun peningkatan jalan di jalur tengah Jawa, khususnya dari arah Wangon-Ajibarang-Bumiayu.
Sebab dengan ramainya kendaraan yang melintas sekarang, sejumlah ruas jalur tengah mendesak untuk dilebarkan. Warga Pekuncen, Yulianto mengatakan, selain perbaikan jalan dan penambalan jalan berlubang, pemerintah perlu melebarkan sejumlah jalur tengah di wilayah Banyumas.
Sebab jika terjadi kerusakan di jalur Pantura dan Selatan, maka jalur tengah menjadi lintasan kendaraan. Padahal jalur tengah ini sangat terbatas volume dan kapasitasnya.
“Pengalaman jalur Comal, Pemalang putus yang menyebabkan peralihan kendaraan berat ke jalur tengah beberapa waktu lalu harus menjadi pembelajaran semua pihak. Kondisi jalur tengah yang terbatas kapasitasnya menjadi banyak yang rusak. Makanya kami berharap wacana pelebaran dan peningkatan jalan yang terdengar sejak dulu dapat direalisasikan,”jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar