Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 05 November 2015

Festival Rewanda Bojana Cikakak Wangon

 









 Pict dari bebagai Sumber : visit Purwokerto, Tempo, Banyumasnews, Antara dsg.
versi Video

Ini festival yang langka dan unik. Masih dalam kaitan peringatan tahun baru Islam 1 Muharram atau Suro dalam penanggalan Jawa yang biasa disebut Grebeg Suran, di komplek Masjid Saka Tunggal Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, digelar Festival Memberi Makan Kera atau dalam bahasa Jawa disebut Festival “Rewandha Bojana” . Festival yang diinisiasi oleh Aliansi Pariwisata Banyumas (APB) bersama warga Cikakak itu berlangsung pada Minggu siang, 2 November 2015. Tentang Masjid Saka Tunggal baca: Masjid Saka Tunggal salah satu masjid tertua Apa keunikan Festival Rewandha Bojana ini ? Uniknya dalam grebeg suran ini, gunungan yang berisi buah-buahan, sayur-sayuran, dan hasil bumi yang dikirab, kalau dalam grebeg suran biasa (misalnya di Grebeg Suran Baturraden) gunungan itu akan diperebutkan manusia (mereka yang berkunjung di acara grebeg suran). Nah di Festival Rewandha Bojana, sesuai namanya ‘memberi makan kera’, gunungan itu diperuntukkan pada kawanan kera yang banyak terdapat di hutan sekitar Masjid Saka Tunggal. Prosesi Rewandha Bojana Prosesi Rewadha Bojana dimulai dengan kirab dua gunungan berisi buah-buahan dan sayuran yang mengambil start dari rumah Kepala Desa Cikakak, menuju areal parkir wisata religi Masjid Baitussalam yang dikenal pula sebagai Masjid Saka Tunggal. Di situ gunungan didoakan untuk keberkahan bersama. Bupati Banyumas dalam prosesi Rewandha Bojana Cikakak Wangon (Foto: penadesa.or.id) Setelah didoakan, dua gunungan itu diarak menuju pelataran Masjid Saka Tunggal. Bupati Banyumas Ir Achmad Husein bersama ratusan warga masyarakat ikut dalam arak-arakan itu. Di pelataran masjid dua gunungan itu kemudian diserahkan oleh Deskart Sotyo Jatmiko selaku koordinator APB kepada Sulam, ‘juru kunci’ Masjid Saka Tunggal. Nah rewandha bojana terjadi dalam prosesi ini, dimana Sulam memberikan gunungan itu kepada ratusan kera berekor panjang yang merupakan komunitas kera penghuni hutan di Cikakak yang berada di sekitaran Masjid Saka Tunggal. Tidak lama kemudian, buah dan sayuran yang ada di dua gunungan tersebut akan habis diperebutkan oleh kera-kera ekor panjang itu. Sesi ini seharusnya menarik perhatian pengunjung, yaitu menyaksikan ratusan kera ‘berebut’ menyerbu gunungan berisi buah-buahan dan sayuran itu. Harapannya, ketika gunungan itu diletakkan, kera-kera akan turun dari pepohonan. Namun rupanya pengunjung yang membludak pada Minggu siang itu, menimbulkan ketakutan pada kera-kera untuk turun. Hanya beberapa ekor kera dewasa yang berani mendekat. Akhirnya panitia membawa gunungan itu lebih dekat ke kawanan kera-kera berekor panjang hutan Cikakak itu. Diperkirakan kawanan kera di sekitar Cikakak mencapai 300-an ekor. Akan sangat menarik jika ratusan kera itu mau turun berebut makanan buah-buahan dan sayuran yang ‘tersaji’ khusus untuk mereka sesuai nama festival “Rewandha Bojana” atau memberi makan kera. Menurut Koordinator APB Deskart Sotyo Jatmiko yang juga Kabid Pariwisata Disporbudpar Banyumas, diharapkan adanya Festival “Rewandha Bojana” ini akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata religi Masjid Saka Tunggal. Kera berekor panjang di Cikakak (ilustrasi) Sedangkan menurut Kepala Desa Cikakak Suyitno festival itu digelar sebagai bagian dari tradisi Suran dimana memberi makan kera juga merupakan bagian dari tradisi warga Cikakak di musim kemarau, karena terbatasnya sumber makanan untuk kawanan kera akibat kekeringan. Sebuah harmoni alam yang indah dan inspiratif dari Cikakak, dimana kawanan primata yang hidup di sekitar Masjid Saka Tuggal ikut ‘diistimewakan’ dan menjadi bagian dari kehidupan warga setempat. ( Banyumas-news)

Humas Pemkab banyumas

Rewandha Bojana Tradisi Grebeg Suran Warga Cikakak Wangon
BANYUMAS – Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas bersama Aliansi Pariwisata Banyumas (APB) dan warga Desa Cikakak, menggelar Festival Rewandha Bojana atau memberi makan kera, Minggu (1/11) di Komplek Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak Kecamatan Wangon.
Festival diawali dengan kirab dua gunungan berisi buah-buahan dan sayuran dari rumah Kepala Desa, menuju areal parkir objek wisata religi Masjid Saka Tunggal (Masjid Baitussalam) untuk didoakan.
Gunungan itu diarak menuju pelataran Masjid Saka Tunggal oleh ratusan warga, termasuk Bupati Banyumas Achmad Husein dan Kabid Parisiwata Deskart Sotyo Jatmiko untuk diserahkan kepada juru kunci Masjid Saka Tunggal Sulam.
Selanjutnya, gunungan sayur dan buah itu diberikan untuk ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang menghuni hutan di sekitar masjid. Tidak berapa lama, sayur dan buah pun habis dimakan kera-kera.
Kabid Parisiwata Dinporabudpar Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan, jumlah kera ekor panjang yang menghuni hutan di sekitar Masjid Saka Tunggal hampir mencapai 300 ekor.
"Selain memperoleh makanan alami dari hutan, kera-kera itu juga mendapat jatah makanan dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar Banyumas)," kata Soytyo yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pariwisata Disporabudpar Banyumas.
Saat musim kemarau seperti saat ini, kata dia, bahan makanan di hutan menjadi berkurang sehingga kera-kera bergantung pada makanan yang diberikan oleh pengunjung Masjid Saka Tunggal.
Sementara itu, Kepala Desa Cikakak Suyitno mengatakan, festival digelar sebagai bagian dari tradisi Suran atau perayaan bulan pertama Tahun Jawa, serta untuk promosi wisata. Festival Rewandha Bojana diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke Masjid Saka Tunggal.
"Kami berharap Festival Rewandha Bojana dapat meningkatkan pamor Cikakak sebagai salah satu tempat wisata budaya dan konservasi sehingga lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia," katanya.
Menurut dia, festival juga menjadi salah satu upaya konservasi untuk melestarikan keberadaan ratusan kera ekor panjang di Cikakak.
"Ini sebagai bagian tradisi kami memberi makan kepada ratusan kera yang ada dan saat ini bulan Sura, kebetulan sedang musim kemarau sehingga bisa bermanfaat kepada binatang. Selama ini Grebeg Sura diperebutkan oleh manusia tapi di sini diperebutkan kera, sekaligus promosi wisata," katanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar