Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Jumat, 18 November 2016

Libatkan SMK, Hitung Tingkat Kerusakan Ketiadaan Tenaga Teknis



Quote suaramerdeka.com :

Lantaran sekolah di Kabupaten Banyumas tidak memiliki tenaga teknis yang menguasai penghitungan tingkat kerusakan bangunan ruang kelas, Dinas Pendidikan setempat melibatkan keberadaan tim dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam melakukan penghitungan.
Kabid Dikdas Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Edy Rahardjo, mengatakan pemerintah pusat telah menunjuk dua sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Banyumas untuk membantu sekolah, khususnya jenjang SD dalam melakukan estimasi tingkat kerusakan sekolah.
Kedua sekolah itu adalah SMK 2 Purwokerto dan SMK Tujuh Lima 2 Purwokerto. Dua sekolah tersebut sama-sama memiliki program keahlian di bidang teknik bangunan, sehingga sangat tepat bila dilibatkan dalam proses pendataan tingkat kerusakan bangunan sekolah.
Tim tersebut akan terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk melakukan penghitungan dan hasilnya akan diserahkan ke Dinas Pendidikan. Selain itu, guna memberikan bekal kemampuan bagi pihak sekolah dalam melakukan penghitungan tingkat kerusakan, Dinas Pendidikan telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan yang diikuti oleh Kepala SD inti dan tenaga operator sekolah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto.
Lebih Valid
Dalam kegiatan pelatihan tersebut, masing-masing peserta juga telah diberi rumus untuk menghitung tingkat kerusakan sesuai juknis analisa tingkat kerusakan bangunan ruang kelas.
Dengan menggunakan petunjuk teknis tersebut, diharapkan dalam melakukan penghitungan tingkat kerusakan bangunan, hasil yang diperoleh akan lebih valid sesuai dengan kondisi yang ada dan bisa dipertanggungjawabkan. ”Bila sekolah dalam melakukan penghitungan tingkat kerusakan menggunakan acuan itu, kemungkinan hasilnya akan mendekati dengan kondisi yang sebenarnya,” jelas Edy.
Dalam juknis sudah dijelaskan tentang bagaimana menganalisa tingkat kerusakan pada seluruh komponen dan sub komponen bangunan, seperti komponen atap, plafon, dinding, pintu dan jendela, lantai, fondasi dan utilitas. Dari masing-masing komponen itu kemudian dibagi menjadi sub-sub komponen.
Setelah dilakukan penghitungan berdasarkan panduan, lanjut dia, maka akan diperoleh kesimpulan berupa persentase tingkat kerusakan, jenis perawatan yang perlu dilakukan hingga luas bangunannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar