Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 07 November 2016

Bom Waktu Sampah Plastik

Quote suaramerdeka.com :

Makin Diabaikan, Makin Mengancam

Produksi sampah plastik di perkotaan hingga pedesaan di wilayah Banyumas yang tak terkendali saat ini makin mengkhawatirkan.
Dipastikan tanpa pengurangan dan penanganan yang jelas, tersistem, terpadu dan menyeluruh, sampah plastik akan menjadi bom waktu yang mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan Kepala Unit Kebersihan dan Pertamanan Ajibarang, Catur Hari Susilo membenarkan jumlah produksi sampah anorganik oleh masyarakat saat ini terbilang terus mengalami peningkatan.
Hal ini disebabkan karena meningkatkan penggunaan plastik, styrofoam dan berbagai bahan anorganik lain di masyarakat termasuk untuk para pedagang di pasar dan kuliner.
Perilaku membuang sampah plastik sembarang juga menjadi pemicu banjir dan masalah lainnya. “Selain mengancam kesehatan tubuh manusia, sampah plastik ini yang sulit terurai ini menjadi masalah tersendiri meski telah sampai di tempat pembuangan akhir sampah.
Di musim kering, gunungan sampah plastik dan anorganik lain berpotensi mengandung gas metan hingga sehingga rawan terjadi kebakaran,” katanya. Menurut Catur, dari wilayah kerja UKP Ajibarang di sembilan kecamatan di wilayah Banyumas barat dan selatan, sedikitnya setiap hari 850 meter kubik sampah dibuang ke TPAAjibarang. Selama Ramadan, pertambahan volume sampah bahkan terjadi mencapai 10 persen.
Sampah tersebut juga didominasi oleh sampah an organik yang sulit terurai dan busuk. Sayangnya, kesadaran warga untuk mengolah sampah an organik baik berupa dimanfaatkan ulang, didaur ulang hingga dijual untuk menghasilkan nilai ekonoi dan fungsi lainnya masih sangat minim.
“Padahal pengelolaan sampah adalah tanggung jawab semua pihak tak hanya pemerintah. Sayangnya, banyak masyarakat memandang sampah sebagai masalah, namun acuh dalam persoalan penangannya,” kata dia yang tak kenal lelah mendorong masyarakat untuk membuat Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di sejumlah wilayah.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Banyumas, diwakili Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, Djoko Setyono mengimbau masyarakat untuk mengurangi menggunakan styrofoam karena memiliki dampak negatif baik untuk kesehatan maupun lingkungan. Dampak negatif terhadap lingkungan dari sampah tersebut menganggu estetika lingkungan serta berpotensi menjadi penyebab banjir.
Djoko Setyono mengatakan, sampah dari styrofoam dapat menyumbat selokan-selokan, hal ini dapat menyebabkan banjir. “Jangka panjangnya dampak negatif bagi lingkungan, styrofoam tidak dapat diurai atau melebur, bahkan lebih lama daripada sampah plastik,” ujar dia.
Meskipun demikian, pemerintah daerah belum bisa menerapkan pelarangan menggunakan styrofoam. Upaya yang dilakukan dengan cara mengedukasi agar masyarakat maupun pelaku usaha mengurangi menggunakan plastik dan styrofoam, serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Upaya lain dari pemerintah daerah dengan melakukan pengelolaan sampah, seperti membuat bank sampah agar sampah yang diproduksi rumah tangga dapat dipilah dengan benar sesuai jenisnya. “Kami mengedukasi kepada masyarakat agar mereka bijak mengelola sampah, seperti Membuang sampah pada tempatnya,” katanya.
Data Dinas Cipta Karya Kebersihan dan Tata Ruang (DCKKTR) Banyumas (2014), mencatat produksi sampah rumah tangga di eks Kotip Purwoketo rata-rata mencapai 1.136 meter kubik per hari. Dari volume sampah tersebut hanya sekitar 600 meter kubik yang terangkut ke TPA. Adapun sisanya sekitar 536 meter kubik belum dikelola secara baik. Jumlah tersebut dipastikan lebih banyak jika digabungkan dengan pengelolaan sampah secara keseluruhan di Kabupaten Banyumas.
Pasalnya, pengelolaan sampah di sebagian besar wilayah pedesaan belum tercover pemkab. Adapun persentase jenis sampah Kota Purwokerto paling tinggi (2013) adalah organik (63,99%), disusul plastik (12,5%), sampah kertas (4,6%), karet/kulit (4,5%), gelas/kaca (3,8%), kayu (2,63%), kain (2,78%), metal/logam (3,5%) dan sampah jenis lain-lain (1,70%).
Sementara itu, kenyataan ironis harus terus terjadi di masyarakat. Karena alasan praktis dan instan, banyak warga menggunakan plastik dan stereofoam tanpa mengetahui dan sering terbilang dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan.
Tak sedikit pedagang makanan menggunakan styrofoam untuk tempat makanan. Mereka lebih mengedepankan kepraktisannya sebagai tempat makanan daripada ancaman gangguan kesehatan yang bakal dialami oleh para konsumen. Ade (26), pedagang nasi goreng di Kecamatan Cilongok mengaku sudah beberapa tahun terakhir menggunakan styrofoam untuk tempat daganganya. Dia menyediakan styrofoam karena permintaan dari konsumen. Padahal dari keterangan konsumen dan ia sendiri merasakan rasa makanan yang berwadah styrofoam akan berkurang kelezatannya.
“Saya mengikuti permintaan konsumen. Tapi ada juga konsumen yang tidak mau menggunakan styrofoam, dia memilih menggunakan kerta. Saya juga melayani karena saya menyediakan styrofoam dan kertas untuk bungkus nasi goreng,” katanya. Warga Ajibarang, Fitri menambahi sebagian masyarakat tidak mengetahui dampak negatif penggunaan styrofoam. Selama ini mereka menilai styrofoam sebagai bahan alternatif untuk tempat makanan maupun minuman.
Dia berharap pemerintah daerah semakin banyak memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak buruk penggunaan plastik ataupun styrofoam tersebut. “Saya sebenarnya risih melihat orang membuang sampah di sungai, tapi orang itu seperti merasa tidak bersalah. Kami berharap pemkab bisa menggandeng pemerintah desa untuk mengatasi persoalan sampah yang telah merata hingga wilayah pedesaan ini,” katanya.

Edukasi dan Aksi Nyata Jadi Solusi

PEGIAT lingkungan Purwokerto, Apris Nur Rakhmadani mengatakan, di Banyumas sampah yang dihasilkan dari bersih- bersih sungai sebagian besar dari plastik, kemudian kain, botol plastik dan styrofoam. “Paling dominan sampah plastik yang dibuang ke sungai.
Kami saat bersih-bersih sungai hanya dua jam saja mampu menghasilkan sampah sekitar lima kantong beras,” katanya. Dia mengatakan, banyaknya masyarakat membuang sampah ke sungai karena minimnya kesadaran terhadap lingkungan. Bahkan, sekarang ini banyak rumah yang di tepi sungai bangunannya membelakangi sungai agar mudah untuk sanitasi dan membuang sampah.
“Ini menjadi PR bersama untuk mengubah sistem agar masyarakat tidak membuang sampah di sungai,” katanya. Edukasi yang dilakukan Apris bersama dengan tim peduli lingkungan dengan langsung melakukan aksi kegiatan bersih-bersih sungai di daerah yang kotor. Hal ini dilakukan untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar peduli kebersihan sungai.
“Kami mengajak warga untuk bergabung membersihkan lingkungannya. Informasi bersih-bersih sungai dengan cara memanfaatkan media sosial. Kami harap gerakan kecil ini dapat mengubah perilaku masyarakat untuk mencintai lingkungannya,” kata dia.

Warga Diminta Kurangi Sampah Plastik

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh pada Sabtu (5/11) diperingati warga Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang bersama Komunitas Wong Apa Banyumas dengan menanam ratusan pohon langka nusantara dan tebar benih ikan di Sungai Lingga.
Koordinator Komunitas Wong Apa, Kusno menyatakan, dalam peringatan HCPSN itu ditanam sejumlah tanaman hutan dan kebun langka antara lain, manglit, salam, kayu manis, kepak anjing, manggis, aren, pring gading, pohon kelapa gading, kecapi, nagasari, menteng.
Sementara itu untuk menambah populasi ikan di sungai di wilayah desa setempat juga ditebar benih ikan nila merah dan ikan mas. “Ini menjadi ikhtiar kami bersama warga di sini untuk menjaga dan mencintai alam.
Mencintai alam itu tidak hanya mengambil saja, tetapi juga memberi dan melestarikan apa yang ada di alam. Kami berterima kasih kepada pemilik lahan yang rela menyediakan lahan untuk ditanami berbagai varietas tanaman nusantara ini,” katanya. Kusno yang juga kader lingkungan nasional, juga turut mendorong pengurangan sampah plastik dan stereofoam di masyarakat.
Dalam peringatan HCPSN itulah, mereka makan bersama dengan menggunakan alas daun pisang dan berbagai jenis makanan yang telah disediakan di alam. Komunitas Wong Apa sebagai bagian dari komunitas pecinta alam sekaligus peduli lingkungan terus berupaya untuk melaksanakan aksi-aksi nyata mengurangi dan mencegah kerusakan alam.
“Seperti diketahui sebelum ini kami juga laksanakan tanam sekitar 300 benih aren di wilayah Pegalongan. Kami berharap agar berbagai upaya dapat menjadi motivasi dan inspirasi dari berbagai pihak untuk melakukan aksi yang serupa untuk penyelamatan alam,” jelasnya.
Warga Desa Limpakuwus, Ristam mengatakan, baru mengetahui adanya HCPSN setelah ada kegiatan tanam pohon dan tebar benih ikan oleh Komunitas Wong Apa Banyumas. Dia berharap kegiatan serupa dapat diteruskan kembali di kesempatan lain dengan melibatkan semakin banyak masyarakat beserta anakanak. Hal ini penting agar ketersediaan air di wilayah desa setempat ini semakin terjaga.
“Kalau seluruh lahan di kaki Gunung Slamet ini digunakan sebagai lahan tanam sayur mayur saja, sementara tanaman keras semakin banyak ditebang, kami khawatir banyak mata air hilang. Makanya ke depan kami berharap aksi serupa dapat dilaksanakan lagi,” ujarnya.

Kiat SMPN 1 Baturraden Ikut Mengurangi Timbunan Limbah Plastik


Quote Radarbanyumas.co.id :


Siswa dan Guru Wajib Bawa Alat Makan dan Minum Sendiri Untuk mengurangi jumlah sampah plastik, SMP Negeri 1 Baturraden menerapkan kebijakan larangan menggunakan plastik di sekolah. Larangan berlaku untuk pedagang, siswa maupun guru. —————————————- MAULIDIN WAHYU SETIYA PUTRA, Purwokerto —————————————- Meski baru diterapkan sekitar sebulan lalu, kebijakan itu terbukti ampuh mengurangi jumlah sampah plastik. Kebijakan itu, perlu diapresiasi dan dicontoh oleh sekolah lain. Apalagi volume sampah plastik di Banyumas setiap hari semakin bertambah. Jika tidak segera diatasi, persoalan itu bisa menjadi petaka bagi semua orang. Persoalan ini, memang perlu disikapi secara serius. Tidak hanya oleh pemerintaha, namun seluruh masyarakat juga memiliki andil guna mengurangi peredaran sampah plastik. Itulah yang mendasari SMPN 1 Baturraden membuat kebijakan larangan penggunaan plastik. Hampir sebulan, sekolah melarang pedagang di kantin menggunakan plastik sebagai bungkus. Namun dampak dari kebijakan tersebut sudah sangat terasa. Tumpukan sampah plastik, yang biasanya mendominasi tempat-tempat sampah, hampir 95 persen berkurang. Kepala SMPN 1 Baturraden, Herry Nuryanto Widodo mengatakan, kebijakan ini untuk mengurangi sampah plastik. “Pedagang di kantin sekolah, tidak menggunakan plastik. Sebagai gantinyam siswa maupun guru membawa alat makan dan minum sendiri. Itu berjalan baik dan terbukti efektif,” ujarnya. Semua warga sekolah baik siswa maupun guru, jika ingin membeli makanan dan minuman di kantin sekolah, mereka menggunakan piring dan gelas sendiri. “Sekarang guru pun tidak malu membeli makanan dan minuman dengan membawa alat sendiri. Jika mereka tidak membawa alat makan dan minum, pedagang menyediakan piring dan gelas dan hanya bisa dimakan di kantin,” jelasnya Menurutnya banyak keuntungan yang diperoleh dari kebijakan ini. selain sukses mengurangi sampah plastik, para pedagang juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli plastik. “Yang lebih penting anak-anak mempunyai kebiasaan baik, setelah makan dan minum mencuci alat sendiri, berhati-hati dengan penggunaan plastik, dan kami berharap kebiasaan ini akan dibawa dirumah,” tambahnya. Salah satu dewan penggalang, Sandi Oktavian, menyatakan sangat mendukung program sekolah. Menurutnya, kebijakan itu merupakan bagian dari progam kegiatan Pramuka dalam hal lingkungan. Salah satu pedagang, Wanto, juga mengaku beruntung dengan kebijakan ini. “Selain mengurangi biaya untuk membeli plastik, juga kebersihan kantin lebih terjaga,” ujarnya. Di Kantin Sehat selain dilarang menggunaan plastik, pedagang juga dilarang menggunakan perasa, pewarna dan pengawet. Kebijakan ini untuk menjamin agar makanan yang dijual, sehat untuk dikonsumsi.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar