Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Jumat, 05 Mei 2017

Tohari : Sejak Dulu, Penderes Selalu Menderita

TINGGINYA angka kecelakaan kerja para penderes gula kelapa di Banyumas hingga April 2017 ini, menuai perhatian dan keprihatian berbagai pihak. Budayawan asal Tinggarjaya, Jatilawang, Ahmad Tohari menyatakan dari dulu hingga sekarang, kehidupan penderes mayoritas masih menderita. Bentuk keprihatinannya antara lain dituangkan dalam cerita novel Bekisar Merah.
Dalam karya sastra itu dengan sangat jelas dan detail, Kang Tohari menggambarkan penderitaan penderes gula kelapa beserta keluarganya. Termasuk risiko tinggi pekerjaan yang tak sebanding dengan fluktuasi harga gula yang tak pasti dan merugikan petani.
“Sampai sekarangpun harga gula sepenuhnya ditentukan oleh pasar. Bahkan harga ini sudah ditentukan sejak di kota besar. Pengepul atau tengkulak di daerah Banyumas hanya sebagai agennya saja. Sehingga tak heran sekarang penderes semakin jarang. Sebenarnya dengan adanya gula semut, gula kristal, harga ekonomi gula semakin bertambah dibandingkan dengan gula cetak tradisional,” jelasnya.
Tumbuh di lingkungan perajin gula kelapa, Tohari sangat menghayati bagaimana kerja keras yang dilakukan oleh keluarga penderes. Kerja keras keluarga penderes untuk mengubah nira menjadi gula ibarat merubah air menjadi batu. Seluruh keluarga harus bekerja keras semua. Meski demikian penghasilan penderes tetap saja minim dan pas-pasan.
Penderitaan Panjang
“Kalau buat gula itu sekeluarga capai semua. Anaknya repek (mencari kayu bakar), bapaknya nderes(mengambil nira kelapa) lalu ibunya indel, memasak nira sampai jadi gula.
Angger indel, wong wadon ayune ilang kalau sedang memasak, wanita hilang cantiknya), karena digarang api seharian,” katanya menggambarkan pekerjaan keluarga penderes. Penderitaan sangat panjang kehidupan penderes pun masih terjadi hingga sekarang. Karena penghasilannya sedikit, para penderes akan mencari bahan bakar dengan harga nol.
Maka mereka biasanya pergi ke hutan jati atau pinus untuk mencari kayu bakar gratis. “Makna sebenarnya keberadaan pabrik gula yang menampung nira dari para penderes ini sangat membantu. Padahal jika itu berjalan, maka ada waktu sampingan bagi penderes untuk mengembangkan pertanian, peternakan dan perikanan,” katanya.
Karena itu, dari keprihatinannya, ia selalu mendorong agar anak dari keluarga penderes bisa mendapatkan bekal pendidikan yang layak. Hal itu penting agar anak penderes jangan jadi penderes lagi. Apalagi terbukti masyarakat dan pemerintah tidak bisa banyak menolong penderes.
Terhadap ikhtiar peningkatan kualitas ekonomi penderes, ia pun mengidealkan adanya koperasi dan pabrik gula kecil di sekitar lokasi masyarakat penderes. “Itu sudah tertuang dalam novel saya, di mana dengan koperasi, penderes bisa menikmati subsidi. Keberadaan pabrik gula mini di Banjarnegara sebenarnya sudah cukup bagus. Sayangnya hancur karena ada kasus korupsi,” katanya.
sumber Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar