Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Senin, 22 Mei 2017

Pagelaran Dramatari Kamandaka

Dalang wayang kulit yang sudah kondang Ki Mantheb Sudarsono siap meramaikan pagelaran dramatari Kamandaka yang digelar pada 15 Juli 2017.
Pementasan kolaborasi sejumlah seniman dan budayawan itu digagas oleh Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), di Bukit Bintang Baturraden Banyumas.
Ketua Panitia Sutrisno mengatakan, pekan lalu panitia memastikan kehadiran “dalang oye” ini untuk berperan dalam cerita yang dinukil dari Babad Pasir Luhur tersebut. Ki Mantheb akan bermain bersama pelawak beken Ciblek, kakak beradik Dalang Yakut dan Gandhik.
“Selangkah lagi, kami juga akan memastikan kehadiran Ki Enthus Susmono untuk melengkapi kemeriahan pagelaran ini. Adanya dua dalang beken ini tentu akan mengangkat pentas yang baru pertama digelar ini,” kata dia, kemarin.
Ziarah ke Situs
Dia mengungkapkan, selain menyiapkan pentas, panitia juga berziarah ke sejumlah situs dan peninggalan budaya yang berkaitan dengan sejarah Kamandaka.
Di antaranya Desa Tamansari, Karanggude, situs Watu Sinom, Baturragung, dan lainnya. Sementara untuk latihan digelar di sejumlah tempat seperti Taman Rekreasi Andhang Pangrenan dan Pendapa Si Panji Kabupaten Banyumas.
“Sudah ada empat kali latihan. Tinggal dimatangkan,” tambahnya. Menurut Sutrisno, pelaku seni pertunjukan yang sudah menyatakan untuk bergabung antara lain Sanggar Seni SMK 3 Banyumas, Sanggar Suryakanta, Sanggar Swargaloka, serta gabungan pelaku seni tradisional dan modern.
Selain itu, sejumlah komunitas media sosial Youtubers Banyumas, pegiat senam Zumba, Indonesia Drum and Percussion Purwokerto. Sutradara dramatari ini Muhammad “Bungsu” Ridwan menuturkan, pagelaran tersebut mengambil salah satu dari tiga versi kisah Kamandaka.
Masih bercerita tentang roman antara Dewi Ciptarasa, Kamandaka, dan Prabu Pulebahas. “Kisah Kamandaka yang diangkat dalam pentas ini merupakan versi sejarah Babad Pasir Luhur. Teks tersebut diolah menjadi naskah oleh Satria Setyanugraha,” kata dia.
Bungsu mengatakan, pentas ini sengaja digelar berdekatan dengan libur Lebaran. Tujuannya, agar para pemudik bisa menikmati dan menyaksikan cerita asli daerah asalnya.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar