Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Kamis, 18 Mei 2017

Eksotisme Anak Putu Banakeling Makin Lirik Warga Luar



SATU hari jelang ritual adat di Bulan Syakban atau Sadran, wilayah masyarakat adat Banakeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang mulai dikunjungi para tamu. Para tamu mulai dari mahasiswa, warga umum hingga komunitas fotografer itu berdatangan untuk berburu keeksotikan dan keunikan tradisi masyarakat adat yang menyebut dirinya ‘anak putu’ Banakeling.
”Yang dari Jakarta kemarin akan datang sekitar 25 orang. Mereka rencananya akan menginap di sini selama ‘perlon unggah-unggahan dilaksanakan,” jelas Sumitro, juru bicara sekaligus ketua pelestari masyarakat adat Banakeling.
Sesuai rencana sebagaimana perhitungan ‘anak putu’ Banakeling, tradisi unggah-unggahan berupa doa bersama dan ziarah ke makam Eyang Banakeling akan dimulai dari Kamis-Jumat (18-19/5). Kamis (18/5) direncanakan akan menjadi hari di mana ‘anak putu’ Banakeling dari sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap akan berdatangan.
Ya, mereka datang dari rumah mereka untuk berziarah ke Pekuncen yang jaraknya bisa mencapai 20 kilometer dengan berjalan kaki. Sebagaimana tradisi sebelumnya, anak putu Banakeling dari luar Pekuncen yang disebut wilayah ‘adiraja’ tersebut akan dijemput di perbatasan Desa Pekuncen.
Ratusan bahkan ribuan anak putu Banakeling ini biasanya datang dengan menggunakan baju khas Jawa. Bagi pria akan mengenakan ikat kepala, baju hitam dan kain batik dan sebagian bertelanjang kaki. Sementara anak putu Banakeling dari jenis kelamin perempuan akan memakai ‘kemben’ dan baju berwarna gelap.
”Mereka biasanya juga membawa bekal untuk sowan kepada juru kunci atau kepada ‘bedogol’ (pembantu juru kuci, red) masing-masing. Mereka juga ada yang membawa berbagai hal lain mulai dari sayur hingga hewan ternak untuk keperluan perlon,” kata Sumitro.
Jelang perlon unggah-unggahan, para warga Desa Pekuncen yang termasuk anak putu Banakeling juga akan turut serta swadaya biaya, tenaga, pikiran untuk kesuksesan acara tersebut. Sebelum memberikan swadaya dana ataupun tenaga, musyawarah antara anak putu Banakeling dilaksanakan di rumah juru kunci.
”Jadi sebelum mereka melaksanakan kegiatan tradisi, merekapun akan bermusyawarah bersama pimpinan adat yang ada. Dengan musyawarah inilah segala keperluan ditanggung bersama secara gotong royong. Itu sudah menjadi kesadaran bersama sejak dulu,” ujar Warsono, perangkat desa setempat.
Selain mempersiapkan keperluan ritual adat, para warga setempat terutama Sumitro dan sebagainya kini sibuk harus mempersiapkan penyambutan tamu dari luar daerah terutama para mahasiswa, fotografer dan berbagai komunitas lainnya. Warga setempat mengakui jika beberapa tahun terakhir keramaian pengunjung selain komunitas adat semakin terasa.
Terkait dengan banyaknya tamu yang akan datang untuk menyaksikan dan mengabadikan momen Perlon Unggahan jelang Ramadan itulah, masyarakat adat setempat menerapkan sejumlah ‘tata tertib’. Tata tertib itu dibuat untuk mendorong ketertiban, kenyamanan, keamanan anak cucu dalam melakukan ritual adat yagn menuntut kekhusyukan.
”Kami menyambut baik inisiatif dari masyarakat adat yang kini memberikan tata cara aturan hingga batas pemotretan. Kami berharap ini bisa menjadi bagian agar masyarakat adat tetap menjadi subyek dan terganggu eksistensinya,” kata Eko Yulianto, pendamping lokal desa (PLD) Desa Pekuncen, Jatilawang.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar