Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Senin, 22 Mei 2017

55 Desa Rawan Kekeringan Juni Musim Kemarau

Menjelang musim kemarau, Pemkab Banyumas mulai memetakan wilayah rawan kekeringan.
Dari total 331 desa/kelurahan yang ada di Banyumas, sebanyak 55 desa/kelurahan di 21 kecamatan rawan kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Prasetyo Budi Widodo, mengatakan berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Banyumas akan dimulai Juni nanti.
“Menurut prakiraan BMKG, musim kemarau mulai dasarian II pada bulan Juni nanti, antara tanggal 11 Juni sampai 22 Juni.
Musim kemarau di wilayah Banyumas diperkirakan akan berlangsung selama kurang lebih enam bulan,” katanya, kemarin.
Menurut dia Pemkab telah mengantisipasi bencana kekeringan di wilayah itu dengan menyiapkan persediaan air bersih. Pihaknya juga menyiapkan sejumlah armada truk untuk mengirim air bersih ke daeah rawan kekeringan.
“Kami akan meminta bantuan kendaraan truk tangki air bersih ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), karena kami hanya memiliki dua truk tangki. Untuk menghadapi musim kemarau, kami telah menyiapkan persediaan air bersih yang cukup,” ujar dia.
17sm22e17bms-01aKasi Kedaruratan dan Logistik, mengungkapkan pada peralihan musim ini terdapat satu wilayah yang mulai kekerungan air bersih. Namun secara umum ketersediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan masih mencukupi.
“Kemarin sudah ada permintaan air bersih dari Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, tapi baru secara lisan, belum resmi. Kami belum mengirim ke sana, nanti akan kami cek dulu di lapangan kondisinya seperti apa,” kata dia.
Tahun ini, kata dia, Pemkab menyiapkan sedikitnya 2000 tangki air bersih, dengan kapasitas masing-masing 4.000 liter dan 5.000 liter. Adapun anggaran yang dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan air bersih sebanyak Rp 500 juta.
“Untuk anggaran tidak ada masalah, sudah dialokasikan sebanyak Rp 500 juta. Kalau kebutuhan air bersih melebihi yang kami siapkan, masih ada anggaran belanja tidak terduga yang sewaktu-waktu bisa diambil, masih ada beberapa miliar,” ujar dia.
Dia mengatakan, selain air PDAM, telah menyiapkan dua sumber mata air yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah rawan kekeringan. Sumber mata air itu berada di Pancasan, Ajibarang dan Kali Semak, Purwojati.
“Permintaan air bersih dari desa/kelurahan yang rawan kekeringan biasanya mulai masuk setelah dua bulan sejak awal musim kemarau. Kalau sekarang meski sejak beberapa minggu terkahir tidak turun hujan, namun persediaan sumber air bersih masih mencukupi,” jelas dia.
Dia mengatakan bantuan air bersih juga akan didistribusikan hingga 15 hari setelah datangnya musim hujan. Menurut dia pada awal musim hujan, biasanya sumber air bersih belum dapat digunakan karena masih keruh.
Sementara itu, Camat Sumpiuh, Abdul Kudus, menyatakan beberapa desa/kelurahan di wilayahnya masuk daerah rawan kekeringan. Salah satunya di Desa Nusadadi yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan. “Secara umum belum ada permintaan air bersih.
Di Desa Nusadadi pada musim kemarau memang biasanya terjadi kekeringan. Selain bantuan air bersih, alernatif bagi warga yang mampu biasanya beli galon, banyak tumbuh usaha seperti itu di sana, denga harga murah,” kata dia.
Untuk mengantisipasi bencana kekeringan, kata dia, sejak jauh hari pihaknya telah mengakampanyekan pengehematan penggunaan air. Pihaknya juga menggalakkan penghijauan agar pada saat musim kemarau masih ada simpanan air tanah.
“Untuk daerah rawan kekeringan sudah kami kondisikan agar membuat sumur resapan. Menjelang musim kemarau kemarin kami juga bersih-bersih sungai, karena banyak sampah. Kalau bersih, air tersebut bisa jadi alternatif pada saat musim kemarau,” ujar dia.
Perangkat Desa Klinting, Somagede, Minoto Darmo, mengatakan bencana kekeringan yang terjadi beberapa tahun lalu diharapkan tidak terulang tahun ini. Saat ini warga setempat telah memiliki sumur bor sebagai sumber mata air.
“Sementara masih bisa dikondisikan dengan adanya sumur bor, Semoga nantinya bisa berjalan dengan lancar. Dua sumur bor yang telah dibuat saat ini digunakan sekitar 80 Kepala Keluarga (KK),” kata dia.
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar