Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Selasa, 23 Mei 2017

Sadranan Makan Bersama di Jatilawang

SM/Susanto ANAK-CUCU BERZIARAH : Ratusan anak putu Mbah Selagemiwang, Desa Gunungwetan melaksanakan ziarah menuju Makam Mbah Selagemiwang di Grumbul Kaliduren, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. (19)
SM/Susanto
ANAK-CUCU BERZIARAH : Ratusan anak putu Mbah Selagemiwang, Desa Gunungwetan melaksanakan ziarah menuju Makam Mbah Selagemiwang di Grumbul Kaliduren, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. (19)

GELARAN slametan memperingati Bulan Sadran jelang Puasa Ramadan masih hingga kemarin masih dilaksanakan oleh masyarakat dan kelompok adat di Kecamatan Jatilawang. Tak hanya di Desa Pekuncen, prosesi ‘perlon unggahan’ juga dilaksanakan di Grumbul Kaliduren, Desa Gunungwetan.
Ratusan warga mengadakan ziarah atau sowan ke makam tokoh yang menjadi kiblat kepercayaan mereka. Prosesi itu diawali sejak Minggu (21/5) sore dengan mengadakan doa bersama yang disebut dengan ‘muji’ yang berlangsung hingga petang di Balai Malang.
Kegiatan unggahan itu dilaksanakan kembali dengan melakukan ‘rikat’ atau bersih-bersih tempat kubur di makam tokoh yang disebut Mbah Selagemiwang.
Jelang waktu asyar tiba, perempuan ‘anak putu’ (pengikut ajaran) Selagumiwang melaksanakan ziarah dengan naik ke pemakaman dengan dimpimpin oleh Juru Kunci Dipawikarta beserta wakilnya Martaji.
Setelah rampung berziarah para anak putu kembali lagi untuk mengadakan sowan dan membantu para tokoh adat setempat. “Setelah rampung ‘nyarik’ dan ‘nyorog’ (menghadap dan membantu juru kunci.
Setelah ini rampung maka diadakan ‘mbabar’ yaitu slametan sekaligus makan bersama,” ujar Tarsudi (70) salah satu anak putu Selagemiwang.
Dipercaya oleh warga setempat, Mbah Selagemiwang merupakan saudara tua dari Mbah Banakeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Namun jumlah anak putu atau pengikut terbilang lebih sedikit dari anak putu Banakeling yang menyebar hingga wilayah Cilacap.
“Sudah dari dulu kegiatan unggahan di sini juga dilaksanakan. Sebelumnya saya juga ikut unggahan di Desa Pekuncen bersama dengan anak putu lainnya.
Karena ini sudah menjadi keyakinan kami sejak dulu,” kata Arjo (60) warga setempat. Selain di Gunungwetan, anak putu Banakeling di Desa Pekuncen, Senin (22/5) kemarin juga telah melaksanakan tutup ‘perlon unggahan’.
Tutup Perlon Unggahan dilaksanakan dengan melaksanakan ‘rikat’ atau bersih di lokasi tempat pemakaman dan sejumlah tempat lain untuk ritual Unggahan yang dilaksanakan, Kamis-Jumat (18-19/5).
Sementara itu di Grumbul Kalilirip Desa Pekuncen, warga setempat juga melaksanakan upacara sadranan dengan menggelar selamatan di salah satu sudut desa setempat. Mereka melaksanakan doa bersama, bersih makam, ziarah dan makan bersama untuk menyambut datangnya Ramadan. 
sumber suara merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar