Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Kamis, 26 Januari 2017

Perlunya Menggarap Destinasi Wisata Baru di Banyumas

Wisata Banyumas Belum Siap


 Pemkab Banyumas dinilai belum siap menghadapi tren kunjungan wisatawan 2017. Pasalnya, sejumlah unsur pariwisata di kawasan ini belum terpenuhi.
Pelaku dan praktisi pariwisata, Bilwan Feriyanto mengemukakan, tren kunjungan wisatawan dalam dua tahun belakangan ini bergeser ke arah wisata alternatif. Pengunjung tidak lagi berlibur dalam grup atau kelompok dalam jumlah banyak.
“Pada 2017 masih demikian. Tetapi, wisata massal belum kehilangan pasarnya di kalangan wisatawan nusantara,” kata dia, di Jakarta, kemarin. Menurut Bilwan, wisatawan cenderung mencari objek atau destinasi baru yang belum dikunjungi.
Mereka akan menelusuri jejak dengan berselancar melalui internet dan media sosial. Beberapa genre wisata minat khusus yang bisa dikembangkan di Banyumas antara lain wisata sejarah dan budaya, alam dan ekowisata, kuliner dan belanja, serta olahraga dan rekreasi. Sementara untuk wisata dalam jumlah grup atau kelompok, bergeser ke kalangan perusahaan dan institusi pendidikan.
Makin banyak korporasi dan sekolah yang mencari tempat untuk berlibur bersama. “Di sinilah, manajemen dan pelayanan yang baik penting. Jangan sampai objek wisata yang dikelola Pemkab membuat kapok pengunjung karena fasilitas yang tidak memadai.
Seperti toilet, tempat parkir Baturraden yang masih kurang dan sebagainya,” terangnya. Bilwan menandaskan, hingga saat ini Banyumas belum memiliki pusat informasi wisata yang dikelola profesional. Pekerjaan rumah ini masih digarap oleh instansi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas yang geraknya terbatas.
Kesulitan Akses
Selain kesulitan itu, Banyumas juga masih bermasalah dengan transportasi. Untuk menuju destinasi utama, pengunjung harus menggunakan jalur darat via kereta api, bus dan kendaraan pribadi. ”Atraksi di objek wisata juga masih minim. Selama ini masih terpaku pada even garapan Pemkab pada kalender wisata.
Padahal masih bisa dikembangkan kantong-kantong budaya atau atraksi alternatif. Tidak melulu harus pentas kesenian, tapi juga kunjungan ke pabrik nopia, gethuk goreng, jenang dan sebagainya,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinporabudpar Banyumas, Suwondo Geni mengatakan, Banyumas masih tertinggal dalam hal konsep pengembangan pariwisata dan akses. Meski demikian tahun ini pengunjung melebihi target yaitu 1 juta pengunjung. ”Akses ke objek wisata di beberapa titik masih jelek. Terutama Banyumas harus ditempuh dengan jalur darat,” kata dia.
Pada 2017 ini, kata dia, masih mengandalkan atraksi wisata yang bersifat promosi. Hal itu sudah dituangkan dalam 21 kegiatan dalam kalender event wisata dan budaya. Pemkab Banyumas juga akan membenahi sejumlah wahana agar pengunjung tidak merasa bosan.
Selain itu masih ada penambahan fasilitas seperti perluasan lahan parkir di Lokawisata Baturraden. ”Strategi lainnya, kami akan mengembangkan aplikasi sebagai portal informasi tentang Banyumas, khusus wisata dan budayanya. Targetnya, penggarapan aplikasi selesai tahun ini,” katanya. 

Garap Destinasi Baru

TREN kunjungan wisatawan pada 2017 dinilai masih cukup tinggi. Meski pada awal tahun ini, jumlahnya cenderung menurun. Demikian pendapat pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Rawuh Edy Priyono. Menurut dia, faktor tingginya curah hujan dan gejolak ekonomi, tidak menjadi halangan bagi wisatawan untuk berkunjung ke destinasi di Banyumas.
“Trennya cenderung positif. Ini dampak dari makin tingginya minat terhadap dunia fotografi di media sosial,” kata Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unsoed ini.
Menurut Rawuh, banyaknya pengguna media sosial dan penetrasi internet harus digarap oleh Pemkab Banyumas. Salah satunya dengan menggarap destinasi baru selain Lokawisata Baturraden. Secara sederhana, tren swafoto merupakan peluang untuk promosi wisata paling mudah dan murah.
Netizen adalah pasar yang potensial untuk menjaring calon pengunjung. “Sediakan saja tempat untuk berfoto. Kalau perlu, objek andalan Banyumas, lokawisata Baturraden juga perlu menyediakan. Tidak terlalu bagus tidak apa-apa, yang penting unik,” kata staf pengajar Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini.
Menurut dia, Pemkab ketinggalan dengan pengelola objek wisata swasta seperti Taman Miniatur Dunia ”Small World”. Setiap pekan, ada ribuan pengunjung yang datang ke objek wisata yang menampilkan beberapa miniatur keajaiban dunia ini hanya untuk berfoto.
Menurut pria asal Purworejo ini, konsep destinasi tersebut memiliki kelemahan, yaitu tingkat kejenuhan yang tinggi. Tetapi, kreativitas tersebut merupakan hal yang positif. “Masyarakat juga perlu diberi ruang untuk menciptakan destinasi baru. Walau setelah itu tidak kembali lagi karena tahu kondisi aslinya seperti apa.
Pengelolanya harus lebih jeli melihat peluang dan menghadirkan sesuatu yang baru lagi sebagai objek foto selfie,” jelasnya. Dari contoh tersebut, kata dia, Pemkab setempat disarankan untuk mendorong detinasi yang baru tumbuh dari kreativitas masyarakat. Misalnya dengan membantu masyarakat menyediakan fasilitas, akses dan mengawasi pengelolanya.
“Pemkab juga butuh data kunjungannya selain untuk mengawasi, tapi juga untuk menganalisa pergeseran tren kunjungan wisata. Nanti juga sama-sama untung. Pemerintah mendapat data kunjungan, masyarakat dapat pemasukan,” katanya.
sumber Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar