Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Selasa, 10 Januari 2017

Albasia Masih Jadi Komoditas Kayu Favorit Petani


Albasia masih menjadi komoditas kayu yang paling favorit bagi petani dan diburu pedagang. Selain bisa menjadi investasi jangka pendek petani, albasia juga menjadi tanaman konservasi lahan kritis.
Hal itu juga diakui oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pengembangan Sumber Daya Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Raharjo saat prosesi Hari Menanam Pohon Indonesia di Lumbir. Ia mengatakan albasia bisa menjadi tanaman pilihan untuk mengurangi lahan kritis. Raharjo mengajak masyarakat untuk terus mengembalikan daya dukung lingkungan bagi konservasi alam melalui tanaman pohon.
Rehabilitasi lahan dan konservasi lingkungan ini bisa dilaksanakan dengan gerakan tanam dengan paradigma agroforestri. Melalui agroforestri inilah masyarakat bisa melaksanakan rehabilitasi lahan sekaligus menanam tanaman yang cepat panen. Pola rehabilitasi lahan ini, harus dilaksanakan dengan daya dukung lingkungan. Jika tanah miring dan berbatu maka yang cocok adalah ditanami pohon saja.
Sementara jika tanah yang agak datar maka bisa ditanami tanaman pangan lainnya seperti ketela dan sebagainya. Selain itu tanaman albasia juga bisa menjadi tanaman pilihan, karena waktu panennya pendek dan laku di pasaran. “Contohnya dengan menanam albasia yang bisa dipanen 5- 6 tahun. Di bawahnya bisa ditanami berbagai tanaman lainnya.
Jika satu hektare lahan bisa ditanami 625 pohon albasia, maka bisa dihitung hasilnya. Apalagi albasia termasuk jenis kayu yang sangat laris untuk kebutuhan industri kayu olahan,” tuturnya. Menurut Raharjo, produksi kayu di Jawa Tengah hingga tahun 2016 masih defisit untuk memenuhi kebutuhan industri kayu olahan.
Jumlah kebutuhan kayu untuk industri kayu olahan di Jawa Tengah telah mencapai 5,1 juta meter kubik per tahun. Sementara itu pasokan kayu dari hutan pemerinth hanya sekitar 300 ribu kubik pertahun sedangkan dari pasokan kayu dari hutan rakyat baru sekitar 3,4 juta meter kubik kayu. “Jadi masih defisit pasokan kayu sekitar 1,4 juta meter kubik.
Untuk menutupi defisit inilah, banyak pabrik menyuplai kayu dari luar Jawa Tengah bahkan dari luar Pulau Jawa,” katanya. Lakunya tanaman albasia saat ini juga menjadikan peluang bisnis tanaman kayu makin dilirik oleh warga termasuk warga di di Dusun Losari Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang. Selain pembeli lokal, sentra penjualan bibit tanaman di jalan Ajibarang- Purwokerto ini sering diburu oleh pembeli dari luar daerah.
Dari Cirebon
“Sering orang dari Cirebon datang ke sini untuk membeli benih albasia. Mereka biasanya membeli dalam jumlah banyak dan langsung membawa mobil sendiri,” tutur Tiwan, salah satu pedagang tanaman.
Penyuluh pertanian wilayah Ajibarang, Arismanto mengatakan prospek penjualan bibit tanaman kayu hutan dan perkebunan di Losari, Banjarsari Ajibarang memang cukup bagus. Datangnya musim penghujan menjadi berkah dan panen tersendiri bagi para pedagang. Meski serangan hama penyakit tanaman kayu cukup tinggi, namun tak mempengaruhi secara signifikan dalam mengurangi pemasaran bibit.
“Omzetnya bisa mencapai miliaran rupiah sekali musim penghujan seperti sekarang ini. Makanya secara prospek bisnis menjadi peluang ekonomi tersendiri bagi warga sekitarnya,” katanya. Arismanto berharap dengan adanya sentra penjualan bibit ini, diharapkan mendorong warga sekitar untuk bisa menghasilkan pembibitan tanaman kayu dan buah.
Pasalnya selama ini pasokan benih kayu hutan dan perkebunan itu masih banyak dipasok dari luar daerah yaitu Purworejo. “Memang belum banyak yang menyemai sendiri makanya diharapkan ke depan, warga dapat membuat benih sendiri. Apalagi secara pemasaran, benih ini juga punya prospek yang cukup bagus,” katanya. 

sumber : Suara Merdeka.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar