Entri yang Diunggulkan

Penataan Kota Kecamatan Wangon & Kemungkinan Perluasan Urban

Wangon adalah sebuah kota kecamatan yang lokasinya cukup strategis karena menjadi persilangan jalur utama lalu lintas di jalur selatan...

Rabu, 11 Januari 2017

Aktivitas Telusur Ngarai Masih Diabaikan Dideklarasikan APNI


Meski dinobatkan sebagai pusat aktivitas telusur ngarai (canyoning) di Indonesia, para pegiat canyoning di wilayah Banyumas masih diabaikan oleh Pemkab Banyumas. Akibatnya, aktivitas olahraga dan hiburan yang memacu adrenalin ini hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.
Koordinator Komunitas Canyoning Indonesia (Canyoning ID), Isro Adi, mengemukakan, upaya untuk memopulerkan aktivitas jelajah ngarai ini sudah dilakukan sejak tahun 2011. Belakangan, sejumlah komunitas dari luar kota ikut merapat untuk mendeklarasikan pembentukan Asosiasi Penelusur Ngarai Indonesia (APNI).
”Dalam musyawarah pembentukan APNI diputuskan Banyumas sebagai pusat canyoning, bukan Jakarta atau kota besar lainnya,” ujarnya, kemarin. Isro berujar, forum itu mempertimbangkan potensi alam telusur ngarai di Banyumas lebih banyak dibandingkan dengan wilayah lainnya. Contohnya Pulau Bali yang sudah terbiasa melayani wisatawan mancanegara untuk melakukan aktivitas yang memacu adrenalin ini.
Terkendala Dana
Pegiat canyoning Bali, sambung Isro, pun sempat menawarkan untuk melatih para pemandu telusur ngarai dari Banyumas. Akan tetapi, lantaran terkendala sumber daya dan dana, para pegiat komunitas mengurungkan niatnya. Menurut dia, potensi pengembangan aktivitas canyoning di wilayah Banyumas baru bisa dilakukan di sekitar Kecamatan Baturraden.
Padahal, dari hasil pemetaan pada 2014, empat kecamatan dinilai memiliki potensi hiburan dan olahraga berbasis penelusuran sungai ini, yakni Pekuncen, Karanglewas, Kedungbanteng, Baturraden, dan Sumbang ”Di lima titik di kecamatan tersebut terdapat aliran mata air dan sungai yang memiliki tebing dan batuan yang cocok untuk aktivitas olahraga alam,” ujarnya.
Adapun telusur ngarai merupakan aktivitas berbasis penelusuran sungai, ngarai/jurang, air terjun yang memadukan berbagai teknik disiplin alam bebas seperti abseiling/rapelling (turun tebing), scrambling (melipir tebing), berenang, lompat tebing, maupun hiking.
Aktivitas yang belakangan umum disebut dengan canyoning tersebut awalnya merupakan aktivitas yang lebih ditujukan untuk penelitian seperti hidrologi, klimatologi, ekologi, dan berbagai penelitian lain.
Adapun beberapa tahun terakhir aktivitas ini telah berkembang menjadi olahraga dan lebih bersifat hiburan. ”Sebenarnya sudah beberapa kali kami meminta perhatian pemerintah setempat bahkan hingga Kementerian.
Tetapi sampai sejauh ini belum ada realisasi,” ujarnya. Pegiat komunitas jelajah ngarai Banyumas, Jaloom Nor, mengatakan, sejauh ini baru Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden yang mengandalkan wisata minat khusus ini. Para pemandu memanfaatkan potensi air terjun di Curug Telu, Sendang Bidadari, dan Curug Moprok untuk akivitasnya.
”Kami mencatat, tahun 2015 ada 154 wisatawan yang melakukan aktivitas canyoning dan pada tahun 2016 ada 326 orang. Pada tahun 2017, kami menargetkan dapat melayani 700 orang,” ujar pemandu 
canyoning ini.

Akhirnya Rute Canyoning di Curug Gumawang Bakal Ditinjau


Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas bakal meninjau kembali rute canyoning (telusur ngarai) di aliran Sungai Gumawang, yang pernah dibuka tahun 2014. Jalur tersebut berada di dalam kompleks Lokawisata Baturraden.
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas Saptono mengatakan, peninjauan ini merupakan upaya untuk memfasilitasi keberadaan Asosiasi Penelusur Ngarai Indonesia (APNI) yang berpusat di Banyumas. Rute yang memanfaatkan pesona Curug Gumawang tersebut sudah diuji coba pada kegiatan ”Baturraden Inyong Ora Papa” tiga tahun silam.
”Aktivitas minat khusus semacam canyoning memang dibutuhkan untuk menambah daya tarik dan menjadi alternatif wisatawan yang berkunjung ke Lokawisata. Sama halnya jalur flying fox yang ada di sekitar area kolam renang,” ujar dia, Kamis (12/1).
Bentuk Promosi
Saptono mengatakan, peninjauan rute ini akan didiskusikan dengan pimpinan dan pengelola UPT Lokawisata Baturraden. Pasalnya, canyoning bisa menjadi salah satu bentuk promosi pariwisata, yaitu untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Lokawisata Baturraden juga bisa dikelola menjadi wisata minat khusus.
Terkait kerja sama poros wisata Bali-Banyumas, Saptono mendukung langkah tersebut. Dalam waktu dekat, pihaknya membangun dialog dengan komunitas canyoning untuk pengembangan pariwisata. ”Saya dengar ada beberapa kendala yang dialami oleh pegiat telusur ngarai. Seperti pengadaan alat dan pemandu.
Nanti bisa dibicarakan lebih lanjut bersama-sama,” ucapnya. Koordinator APNI, Wiwit Yuni, mengatakan, tawaran kerja sama dengan operator canyoning di Bali sudah dirintis sejak tahun 2016. Poros wisata Banyumas-Bali ini dinilai menguntungkan kedua pihak. ”Strategi untuk menempatkan Bali sebagai ujung tombak aktivitas canyoning cukup menjanjikan. Di sana, peminatnya sebagian besar berasal dari mancanegara,” ujarnya.
Menurut Wiwit, wisata minat khusus ini cukup potensial untuk dikembangkan di Banyumas. Pasalnya, kondisi alam dan jumlah rute alternatif menyajikan tantangan yang berbeda. ”Aliran Sungai Gumawang termasuk mudah. Cocok untuk pemula dan awam,” kata dia. 

sumber : Suara Merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar