Entri yang Diunggulkan

Info Tentang Blog Banyumas Corner

saya mencoba mendeskripsikan sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa populer saat ini yaitu ungkapan Menduniakan Banyumas dan Memb...

Rabu, 09 Agustus 2017

Oktober Dibikin Sumur Bor PLTB Baturaden Kedalaman 3.500 M



EMBUNG : Tempat penampungan air raksasa ada di kawasan hutan lindung yang disiapkan untuk stok pembangkit listrik tenaga panas bumi. 




Hutan lindung di Kawasan Gunung Slamet akan terus dibabat. Pasalnya, proses eksplorasi akan terus berjalan sampai ke pengeboran sumur bor yang akan dilakukan PT Sejahtera Alam energy selaku pelaksana proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di Gunung Slamet. Nantinya, seperti rencana akan ada 22 sumur yang dibor. Padahal, satu sumur bor memiliki luas kawasan sekitar 1,5 hektar dengan kedalaman 3.500 M. Otomatis dengan jumlah 22 sumur, maka hutan lindung akan dibabat seluas 33 hektar. Angka ini pun hanya untuk sumur bor. 

 “Selama tahap eksplorasi ini, ada dua titik dari jumlah 22 titik sumur bor yang akan menjadi dasar pembuatan kembali visibility study. Yakni titik H dan F. Kalau ternyata dua titik itu ternyata tidak ada listrik yang dihasilkan, maka investasi kita selama ini hilang,” kata Direktur PT SAE Bregas H Rochadi, Selasa (8/8) di sela-sela kunjungan ke lokasi proyek dengan seluruh media di wilayah Purwokerto.

 “Bulan Oktober kita upayakan pengeboran di titik H sudah mulai dilakukan, dan titik F diupayakan April mulai dikerjakan. Saat ini pembukaan akses jalan ke titik F masih terus dikerjakan, ada sekitar 3 km lagi,” lanjutnya. Aktivitas pengeboran sendiri, lanjut dia, diperkirakan akan membutuhkan pasokan air yang cukup besar. Oleh karena itu, pihaknya telah membuat embung sebagai tempat penampungan air yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari titik pengeboran H. 

Diketahui, efek dari pembabatan hutan lindung di kawasan Gunung Slamet yang ada di area Kabupaten Banyumas sebelumnya telah membuat aliran sungai Prukut keruh pada awal tahun lalu. Ditanya terkait hal itu, antisipasi dampak lingkungan terus ditekan oleh PT Sejahtera Alam Energy (SAE). PT SAE mengakui akibat pembukaan jalur menuju lokasi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di Gunung Slamet membuat aliran sungai keruh. 

“Di wilayah Cilongok sendiri kami juga membantu membuatkan saluran pipa air bersih sepanjang 6 kilometer diambil dari sumber mata air yang tidak berdampak pekerjaan. Sumber air dialirkan ke lima desa untuk menghadapi kejadian agar tidak terulang. Kita hanya berusaha mencegah,” tandasnya. Diterangkan dia, lokasi hutan lindung yang telah dibuka, juga langsung dilakukan revegetasi atau penanaman kembali dengan tanaman yang menyerap air seperti pucung dan aren. Selain itu, pada bagian tanah yang dibuat terasering juga langsung ditanam rumput untuk menahan tanah supaya tidak terjadi longsor. Tidak hanya itu, lahan yang telah diratakan juga langsung dilakukan pengerasan.



 “Antisipasi yang kami lakukan seperti menutup tumpukan tanah dengan terpal supaya saat hujan tidak terbawa air, kemudian sudah dibuatkan saluran di kanan-kiri jalan dengan dilapisi geotekstil,” kata Sementara itu, terkait dengan pembangunan infastruktur jalan, pembukaan jalan telah dimulai dari pos pertama Pamunduran, Bumiayu sampai ke lokasi titik pengeboran (wellpad) H sekitar 6 kilometer. Saat ini jalan sudah dikeraskan dengan batu dan dilebarkan menjadi sekitar 7 meter dengan lebar jalan 4 meter, bahu jalan masing-masing kiri-kanan 1 meter dan drainase kiri-kanan setengah meter. Disinggung soal kegiatan ekplorasi PLTPB ini, Bregas menjelaskan, kegiatan eksplorasi mulai berlangsung sejak 2011. Ekplorasi meliputi, proses pengajuan izin dan dilanjutkan pembuatan akses jalan hingga ke pengeboran. Terkait lebih lanjut dia mengatakan, untuk biaya ekplorasi dianggarakan biaya sebesar USD 75 juta. Dan sampai dengan saat ini, biaya yang sudah dikeluarkan mencapai USD 32,5 juta atau sekitar 500 miliar. 

Sumber:  Radarbanyumas.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar